Share

Bab 44 - Lamaran

Author: Sofia Saarah
last update Last Updated: 2025-07-25 21:18:14
Shaz menarik napas lega... tapi hanya sedetik. Hinggga tiba seseorang lewat—seorang tetangga wanita berusia sekitar empat puluhan, membawa tas plastik berisi sayuran. Ia menatap mobil-mobil itu dan berseru dengan suara cukup keras.

“Wah, udah dateng ya? Banyak banget mobilnya. Lamaran besar, ya, Bu Sari?”

Ibu warung—Bu Sari—menoleh cepat.

“Lamaran?”

“Iya, katanya calon mantu Pak Ardan datang hari ini. Dari Kota Bandung, atau mana, saya lupa.”

Shaz tak mengerti semua kata itu, hanya frasa: “lamaran”.

Tapi cukup. Itu kata yang menghantam kepalanya seperti batu.

Ia langsung membuka G****e Translate dan mengetik dengan cepat.

“Maaf, ini hari lamaran? Lamaran siapa?”

Ibu Sari membaca, ragu sejenak… lalu menatap Shaz lebih lama. Kerutan di wajahnya tampak berubah jadi empati yang dalam.

“Kata tetangga barusan sih… anak Pak Ardan yang mau dilamar. Cantik sekali lho. Rombongan mobil mewah itu ternyata rombongan calon pengantin pria"

Shaz menunduk. Udara terasa tipis. Botol air mineral dalam ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mencari Istriku di Masa Lalu   Bab 60 - Ke Rumah Orang Tuamu

    Roda mobil membedah jalanan aspal Bandung yang berkelok, namun dinginnya udara pegunungan tak mampu menembus kabut tebal yang menyelimuti kabin. Shaz mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Sesekali, ia melirik kursi di sebelahnya. Di sana, Alyssa tampak seperti bayangan; matanya kosong, menatap deretan pohon pinus yang berlalu tanpa benar-benar melihatnya."Alyssa," bisik Shaz, suaranya parau, pecah oleh keheningan yang menyesakkan. "Katakan sesuatu. Marahi aku, pukul aku... tapi jangan diam seperti ini."Alyssa tidak menoleh. Ia hanya menarik napas panjang, sebuah helaan yang terdengar seperti patahan ranting kering. Shaz merasakan dadanya berdenyut perih. Rasa bersalah itu merayap seperti racun, mengingatkannya bahwa wanita di sampingnya ini kini hanyalah raga yang ia ikat dengan paksa."Kita hampir sampai," lanjut Shaz, suaranya gemetar. "Aku akan melakukan segalanya dengan benar hari ini. Aku berjanji."Tetap tidak ada jawaban. Alyssa hanya mengeratkan pelukan pada

  • Mencari Istriku di Masa Lalu   Bab 59 - Miliku Selamanya

    Cahaya subuh merayap masuk, membelai kamar dengan warna madu keemasan. Alyssa terbangun bukan oleh suara, melainkan oleh sensasi—sebuah kesadaran hangat dan dalam yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia menyadari Shaz telah memulai upacara paginya; ia mengklaim tubuhnya yang masih terombang-ambing antara mimpi dan realitas.Sebuah desahan panjang terlepas dari jiwanya saat Shaz, merasakan bahwa wanitanya telah berlayar dari tidur, memperdalam sentuhannya. Shaz memandang Alyssa dari atas, matanya memancarkan api pengabdian dan kerakusan, seolah ia sedang menatap sebuah peta harta karun yang baru ia kuasai.Perlahan, Shaz bergerak turun, meninggalkan area hatinya. Ia membentangkan jalur baru di tubuh Alyssa, lalu, dalam keintiman yang sakral, menenggelamkan wajahnya di tempat yang paling tersembunyi. Sentuhan hidungnya yang tajam di atas permata terlarang itu memicu getaran yang tak tertahankan.Alyssa tersentak, dan sebuah luapan pelepasan emosi yang hangat mengalir darinya, diikuti desa

  • Mencari Istriku di Masa Lalu   Bab 58 - Menikah atau Hamil

    “Mau apa kau ke rumahku?”Suara Alysaa bergetar—bukan lemah, tapi menahan amarah yang sudah mencapai batas.Shaz menatapnya tanpa berkedip. Wajahnya keras, rahangnya mengeras, seolah seluruh dunia telah berkonspirasi melawan satu-satunya hal yang ingin ia genggam.“Pergi,” ucap Alysaa tegas. “Sekarang.”Shaz tidak menjawab."Pergi! Aku bilang, pergi sekarang!" Suaranya bergetar, memecah kesunyian tebal di antara mereka.Shaz berdiri terpaku, rahangnya mengeras, seolah kata-kata itu menembus pertahanannya. Namun, alih-alih berbalik, ia perlahan melangkah mundur, matanya tak lepas dari wajah Alyssa yang memerah.Alyssa mengira ia menang, mengira pertempuran emosional ini akan usai. Namun, saat Shaz mencapai pintu, gerakannya berubah cepat dan tegas.Sebuah bunyi klik yang dingin dan mematikan memenuhi ruangan. Shaz telah mengunci pintu.Napas Alyssa tercekat. "Apa yang kau—"Sebelum ia selesai bicara, Shaz mengeluarkan kunci pintu itu dan dengan gerakan ringan yang mengerikan, melempark

  • Mencari Istriku di Masa Lalu   Bab 57 - Bertemu di Rumah Alysaa

    Shaz tidak perlu membuka peta.Kakinya—lebih tepatnya, ingatannya—menuntunnya dengan sendirinya menuju sebuah kompleks perumahan yang tenang di sudut kota Bandung. Jalanannya tidak terlalu lebar, dipagari pepohonan kecil yang ditanam rapi, rumah-rumah minimalis berjajar dengan desain yang serupa namun tetap menyimpan keunikan masing-masing.Sebuah papan kecil di tepi jalan bertuliskan:Komplek Aruna Pratama Residence.Shaz memperlambat laju mobilnya.Ia tahu tempat ini. Terlalu tahu.Hari itu Sabtu. Langit Bandung cerah, udara sejuk—hari yang sempurna untuk tinggal di rumah. Dan Shaz tahu satu hal tentang Alysaa: ia tidak suka keluar jika tidak perlu. Akhir pekan baginya adalah waktu paling setia untuk rumah, buku, dan keheningan.Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah bercat krem muda dengan pagar hitam sederhana. Tidak besar. Tidak mewah. Namun bersih, rapi, dan hangat—seperti pemiliknya.Shaz mematikan mesin.Dadanya terasa mengencang saat pandangannya menyapu halaman kecil

  • Mencari Istriku di Masa Lalu   Bab 56 - Menemukanmu

    “Alysaa…”Nama itu keluar begitu saja, nyaris seperti refleks. Begitu suara Shaz terdengar di seberang, dunia Alysaa seakan berhenti berputar. Ia tidak menjawab. Napasnya tertahan di dada, jari-jarinya membeku di layar ponsel.Di sisi lain, Shaz menelan ludah.Diamnya terlalu sunyi. Terlalu menusuk.“Sayang…” suaranya bergetar, lebih pelan dari yang ia rencanakan. “Aku tahu kamu pasti kaget. Aku—”Tak ada jawaban.Namun Shaz tetap bicara, seolah takut jika ia berhenti, kesempatan itu akan lenyap selamanya.“Aku akan ke Bandung malam ini,” katanya cepat, nyaris terburu-buru. “Aku akan ke rumahmu. Aku perlu bicara langsung sama kamu.”Alysaa masih diam.Diam yang bukan karena tak mendengar—melainkan karena terlalu banyak yang ia dengar.“Sayang, aku nggak bisa hidup—”Klik.Nada sambung terputus.Shaz terpaku. Layar ponsel kembali gelap, memantulkan wajahnya sendiri—pucat, mata berkabut, seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu untuk kedua, atau mungkin ketiga kalinya.“Al…?”

  • Mencari Istriku di Masa Lalu   Bab 55 - Tersambung

    Ingatan sering kali bekerja seperti kompas yang rusak—tak selalu menunjukkan arah, tapi cukup memberi keyakinan untuk melangkah. Dengan keyakinan itulah Shaz meninggalkan apartemennya sore itu, berjalan menyusuri trotoar Jakarta Pusat yang masih basah oleh sisa hujan tadi siang.Ia berhenti di depan sebuah bangunan cukup besar dengan kaca lebar dan papan nama sederhana:Senja Raya Rent Car.Tidak mencolok. Tapi tenang. Seperti tempat yang tepat untuk memulai perjalanan panjang.Begitu pintu dibuka, suara bel kecil berdenting pelan. Di balik meja resepsionis, seorang perempuan berhijab krem mendongak. Wajahnya bersih, sorot matanya hangat—jenis tatapan yang membuat seseorang merasa diperhatikan, bukan dinilai.“Selamat sore, Mr,” ucapnya ramah.Shaz mengangguk. “Sore.” Shaz membalasnya dengan bahasa inggris yang cukup membuat perempuan itu mengerti bahwa ia harus menggunakan bahasa inggris saat berbicara dengan Shaz.Perempuan itu berdiri, mengambil tablet dari meja. “Mau sewa mobil?”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status