MasukSuasana kamar tidur utama di lantai atas kediaman Vance begitu tenang, hanya dihiasi dengkur halus dari pendingin udara yang berhembus lembut.Jam dinding digital di atas meja rias menunjukkan pukul dua dini hari lewat sedikit, membingkai kegelapan malam dengan pendar cahaya biru yang samar. Ethan terlelap rapat dengan lengan kekarnya yang berotot melingkar protektif di atas perut Tiffany yang mulai sedikit membuncit hangat. Tiba-tiba, sebuah siku kecil menyenggol lambungnya secara berulang, menghancurkan tidur lelap sang penguasa dunia bawah dalam hitungan detik.Mata tajam Ethan seketika terbuka lebar, berkilat waspada di dalam kegelapan kamar seolah-olah bahaya maut baru saja mengintai di balik jendela.Insting bertahannya yang sudah terlatih bertahun-tahun di medan pertempuran membuat seluruh otot tubuhnya menegang sigap. Tangan kanannya secara refleks meraba balik bantal, siap menyambar gagang pistol rakitan khusus yang selalu ia simpan di sana. Namun, bukannya letupan senjat
"Maksudmu bagaimana, Chloe? Pria seperti apa lagi yang sedang kamu incar sekarang?" pancing Beatrice penuh rasa penasaran yang meluap.Chloe mengangkat majalah bisnis di tangannya, mengarahkan telunjuknya yang bermaniatur rapi tepat di atas dada tegap Ethan Vance di dalam foto."Aku menginginkan pria yang punya kekuatan mutlak, pria yang tidak akan pernah bisa dijatuhkan oleh siapa pun di kota ini," jawab Chloe tegas tanpa ada keraguan."Pria yang bisa membuat Papa berlutut ketakutan dan membungkam semua mulut orang-orang yang sudah berani menghinaku sebagai janda miskin!" seru Chloe berapi-api.Beatrice terperanjat kaget, sepasang matanya membelalak lebar sewaktu menyadari ke arah mana pandangan dan tujuan putrinya itu tertuju saat ini."Chloe! Kamu jangan gila!" tegur Beatrice dengan suara tertahan penuh kecemasan mendalam."Itu Ethan Vance! Ketua kelompok paling berbahaya yang tidak segan-segan menghabisi nyawa orang yang berani mengusik keluarganya!" seru Beatrice mengingat
Keheningan malam merayap lambat di dalam kamar tidur Chloe yang luas dan serba mewah di lantai dua kediaman Sinclair.Pantulan sinar rembulan merobos masuk dari balik tirai sutra yang tersingkap separuh, menimpa sosok Chloe yang masih setia berdiri mematung di depan cermin rias raksasa berpintu tiga. Ia melepaskan gaun malam hitamnya perlahan, membiarkan kain mahal itu jatuh menumpuk di atas karpet bulu yang tebal tanpa peduli. Sepasang matanya menatap tajam pada lekuk tubuh yang terpantul sempurna di atas kaca bening yang sangat jernih.Setiap lekuk badannya yang mulus, kulit putih tanpa cela, hingga paras cantiknya yang rupawan ia amati dengan ketelitian yang luar biasa.Rasa puas mengalir perlahan mengisi seluk-beluk dadanya yang tadinya sempat terguncang akibat makian keras dari Arthur Sinclair beberapa jam yang lalu. Bagi Chloe, semua aset fisik yang melekat pada dirinya adalah senjata paling mematikan yang tak pernah gagal melumpuhkan pria mana pun yang ia incar. Kemampuanny
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang santai lantai dua kediaman Sinclair beberapa jam setelah kemurkaan Arthur meledak di depan pintu utama.Chloe duduk meringkuk di atas sofa beludru merah, mencengkeram erat guling kecil sambil menatap kosong ke arah deretan pintu kamar yang terkunci rapat. Bentakan tajam dan cemoohan Arthur yang membandingkan dirinya dengan Tiffany masih terus bergema liar di dalam kepalanya, membakar sisa-sisa harga diri yang berusaha ia pertahankan. Hawa dingin dari pendingin udara terasa menyengat kulitnya, namun rasa panas akibat rasa malu yang membakar dadanya jauh lebih menyiksa dari apa pun.Beatrice melangkah mendekat dengan wajah muram, meletakkan secangkir teh herbal yang asapnya masih mengepul halus di atas meja kaca."Minumlah dulu, Chloe. Jangan dimasukkan ke dalam hati ucapan Papa Arthur-mu itu," bisik Beatrice dengan nada suara yang terdengar sangat lelah dan cemas.Chloe tidak menyentuh cangkir teh itu sedikit pun, ia justru menyipitkan ma
Pintu gerbang besi tempa menjulang tinggi berukir rumit terbuka perlahan, menyambut kedatangan mobil sedan mewah yang meluncur mulus memasuki halaman luas kediaman Sinclair.Deretan pohon pelindung yang terawat rapi dan pancuran air kristal di tengah halaman menyebarkan aura kemewahan yang menenangkan. Chloe menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit yang empuk, menikmati hembusan pendingin udara sejuk yang mengusap lembut kulit wajahnya. Bayangan lorong pengadilan yang dingin dan ingatan tentang Christian yang melarat seketika menguap, terbilas oleh keagungan istana tempat ia kini kembali menumpang.Sopir berjas rapi membukakan pintu mobil dengan gerakan sangat hormat begitu kendaraan berhenti sempurna di depan tangga porselen.Chloe melangkah keluar dengan gaya anggun, mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau sebelum membetulkan letak kacamata hitam di hidungnya. Beatrice menyusul di sampingnya, mengaitkan lengannya pada lengan sang putri dengan senyum puas yang memancar da
Ketukan palu hakim bergema nyaring sebanyak tiga kali, memantul keras di antara dinding-dinding ruang sidang yang dingin.Suara ketukan kayu tebal itu seolah menjadi garis pemisah yang meremukkan seluruh sisa hubungan pernikahan Chloe dan Christian Ashford. Suasana ruangan mendadak lengang, meninggalkan keheningan singkat sebelum suara berat hakim ketua kembali memenuhi setiap sudut ruangan persidangan."Memutuskan, mengabulkan gugatan penggugat seluruhnya secara verstek," tegas hakim ketua sambil merapikan posisi kacamata di hidungnya."Menjatuhkan talak satu dengan tergugat, Christian Ashford, terhadap penggugat, Chloe," lanjut hakim tanpa ragu-ragu.Kata-kata tegas itu mengalir begitu mulus, merobek lembaran ikatan suci yang selama ini mengikat hidup Chloe dalam lingkaran neraka kekerasan.Ketidakhadiran Christian selama tiga kali panggilan resmi pengadilan mempermudah jalannya proses hukum tanpa hambatan berarti. Majelis hakim menganggap pria itu sengaja melepaskan hak pembe
Kegelapan abadi yang pekat dan menyesakkan menyelimutinya setelah letusan pistol kedua menggema di ruang kerja Christian Ashford. Suara itu seolah merobek ruang dan waktu, meninggalkan keheningan total yang membekukan jiwa Tiffany Sinclair. Dia merasakan kesadaran dirinya perlahan memudar, hancur
Mata Tiffany melekat pada laras pistol dingin yang sekarang tertaut kencang di genggamannya. Di kehidupan ini, laras itulah yang baru saja meletupkan nyawa suaminya. Dia menarik napas, dadanya terasa sesak saat dia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada secarik kertas di meja yang kini t
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas







