Home / Romansa / Takdir Kedua Istri Sang Kapten / 2. Titik Balik Semuanya Part 2

Share

2. Titik Balik Semuanya Part 2

Author: Min Ye-Rin
last update publish date: 2026-03-11 05:19:32

Proses administrasi selesai lebih cepat dari yang diperkirakan. Beberapa menit kemudian, orang-orang mulai meninggalkan ruangan.

Hanya tersisa dua orang yang masih berdiri di tempat yang sama. Aluna dan Raka. Keduanya masih tidak bersuara. Membuat suasana menjadi jauh lebih sunyi tanpa para petugas. Aluna hampir bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Langkah sepatu militer terdengar pelan ketika Raka berjalan mendekat. Pria itu berhenti tepat di depannya. Aura dinginnya terasa sangat jelas. Membuat Aluna mengangkat sedikit kepalanya dan langsung bertemu dengan tatapan mata Raka yang gelap dan tajam.

Beberapa detik berlalu tanpa adanya percakapan. Tatapan Raka semakin tajam. Seolah dia sedang berusaha membaca sesuatu yang tersembunyi yang sedang Aluna rencanakan. “Kenapa?”

Raka menatapnya beberapa detik tanpa bicara. Sebelum akhirnya menaik napas lelah. “Permainan apa lagi ini?” tanya Raka. "Apa sebenarnya yang sedang kamu mainkan?"

“Aku tidak bermain apa pun.”

Raka tersenyum tipis. Senyum yang bahkan lebih menyakitkan dari sebuah cacian.

“Bukankah kamu yang paling ingin bercerai?” Raka benar-benar berbicara dengan suara yang datar. Seolah topik yang kini mereka bahas bukanlah topik penting baginya. Namun Aluna tahu, pria di depannya hanya tidak suka dipermainkan.

Aluna mengangguk tanpa membantah. “Dulu iya.”

“Sekarang?” tanya Raka dengan mata yang sedikit menyipit.

Aluna menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum kecil. Senyum tulus yang jelas berbeda jauh dari Aluna yang asli.

“Sekarang aku tidak ingin bercerai lagi," sahutnya. "Apa yang aku katakan tadi belum jelas?"

Raka hanya menarik napas berat. Dia tidak berniat lagi untuk melanjutkan perbincangan melelahkan ini.

Aluna membeku beberapa saat. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya. Dia juga tidak mungkin memakai alasan kalau dia bercerai sekarang, maka dia akan mati beberapa bulan lagi. Alih-alih percaya, Raka justru semakin mengutuknya dan menganggapnya orang gila.

Aluna hanya mengangkat bahu pelan. “Tidak ada alasan khusus.”

Kalimat itu yang terlintas di benaknya. Dia tahu, ini sudah seperi lelucon. Sampai membuat Raka tertawa pendek. Tawa yang jelas-jelas bukan karena terhibur, melainkan karena lelah oleh kepalsuan yang selalu dia berikan sebelumnya.

“Tidak ada alasan?” Raka menunduk sedikit, membuat bayangan wajahnya jatuh ke arah Aluna. “Aluna Rengganis yang kukenal tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan.”

Aluna kembali memejamkan mata. Dia terus berusaha memutar isi kepalanya dalam situasi setegang ini. Dengan memantapkan hati, Aluna mengangkat wajahnya. Dia menatap Raka dengan sangat tenang.

Walau hatinya terus berkata sesuatu yang sama sekali tidak bisa dia katakana dengan jujur: ‘Karena aku menyukaimu. Dan karena aku ingin hidup lama bersamamu.’

Namun yang keluar dari bibirnya hanya kalimat sederhana. “Aku hanya berubah pikiran.”

Raka masih menatap istrinya cukup lama. Sebelum akhirnya dia kembali menegakkan tubuhnya.

“Baik,” katanya. “Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Aku juga tidak peduli. Dan kita tetap menikah.” Suaranya kembali dingin seperti biasa.

Aluna sempat merasa lega beberapa saat. Namun kalimat terakhir dari Raka, langsung membuat dadanya menegang.

"A—" Baru saja dia hendak membuka mulut, Raka tiba-tiba berdecih pelan. Ekspresinya tidak enak dilihat sama sekali.

“Jangan salah paham,” katanya. “Pernikahan ini tidak akan berubah hanya karena kamu mencabut gugatan itu. Dan jangan pernah berharap aku akan mencintaimu.”

Aluna menatap Raka dengan mata yang tak berkedip. Kalimat yang Raka ucapkan sangatlah tajam dan menyakitkan. Namun anehnya, dia sama sekali tidak merasa terluka. Mungkin karena dia sudah tahu sejak awal kalau Raka tidak benar-benar membencinya.

Aluna hanya tersenyum kecil, kemudian mengangguk samar. “Tentu saja,” katanya. “Aku juga tidak berharap sebanyak itu.”

Belum sempat Raka menyahut, Aluna sudah langsung berbalik dan berjalan menuju pintu dengan langkah yang cukup tenang. Tenang karena akhirnya dia bisa sedikit mengubah alur cerita yang heroik itu.

Walaupun jauh di dalam hatinya, pikirannya sedang berputar cepat. Karena dia tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu. Dan dalam cerita asli, setelah hari ini, hidup Aluna akan mulai menuju akhirnya yang tragis.

Tepat ketika tangannya menyentuh gagang pintu, sebuah perasaan aneh tiba-tiba muncul. Seolah seseorang sedang memperhatikannya dari jauh. Aluna menoleh refleks. Di ujung koridor pengadilan yang panjang, seorang pria berdiri di sana.

Dia mengenakan pakaian sipil. Wajahnya tidak terlihat jelas karena jarak mereka yang cukup jauh, tapi Aluna bisa merasakan tatapannya yang sangat tajam. Pria itu seperti sedang mengamatinya dengan teliti. Membuat jantung Aluna berdegup lebih cepat.

"Orang itu ngikutin aku?" gumamnya pelan, tapi kemudian dia menggeleng samar. "Nggak. Mana ada. Aku juga nggak kenal dia."

Karena dalam ingatannya tentang cerita novel, pria itu tidak seharusnya muncul. Kini Aluna kembali menyadari satu hal yang mengerikan tentang kematian tokoh Aluna di novel yang mungkin tidak dimulai dari kecelakaan mobil. Dan mungkin semuanya sudah dimulai sejak hari ini.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Scorpio_san
Oke lanjut baca!!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 189. Akhir Cerita Ini

    “Arga,” gumam Raka pelan. Arga hanya mengulas senyum. Dia mengulurkan tangannya dengan begitu ramah. “Pasti Kapten Raka ya?” tanya Arga pelan. Namun Raka tidak langsung menjawab. Matanya terus menatap Arga dengan tajam. “Saya Arga, editor yang membantu Bu Aluna.” raka buru-buru menoleh pada Aluna yang masih bergeming. “Editor?” tanya Raka dengan suara tercekat. “Maksudnya?” Arga menarik kembali uluran tangannya. “Sudah lama, Bu Aluna tidak memberi kabar,” katanya ringan. “Katanya mau ngajuin naskah baru, tapi saya hubungi tidak bisa.” “Aku?” tanya Aluna, nyaris berteriak. Arga mengangguk samar. “Bukankah setelah kisah Kapten Raka berakhir, Bu Aluna berencana mengajukan naskah baru?” tanya Arga lagi. “Dulu sempat membahas tentang cerita yang berjudul Diary Penulis Fiksi.” “A-aku penulis?” tanya Aluna pelan. Arga tidak langsung menjawab. Matanya menyipit tanpa sadar. Perlahan tangannya meraih sesuatu di dalam tasnya. Sebuah buku bercetak tebal dengan judul Kapten Raka karya Al

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 188. Kembali Ke Dunia Nyata

    Suasana hening dalam sekejap. Tangan Aluna masih memegang tangan Raka. Bahkan jauh lebih erat dari sebelumnya. Lampu jalan yang bersinar temaram, menyorot tepat di wajah Aluna. Dia sedikit mengerjap. Mereka kini sudah berada di depan rumah sakit tempat Aluna bekerja. “Ini—” kalimat itu menggantung. Matanya mengedar memperhatikan setiap sisi. Aluna melirik Raka yang juga belum sepenuhnya sadar. “Raka… kita udah bener-bener keluar dari dunia itu?” Raka tidak langsung menjawab. Dia melepaskan tangan Aluna, lalu maju beberapa langkah. Dunia yang sama seperti yang ia tinggali sebelumnya. “Aku nggak tahu, Luna,” katanya nyaris seperti bisikan. “Semuanya sama. Aku nggak bisa membedakanya.” Aluna ikut melangkah maju. Angin malam menyentuh wajahnya pelan. Tidak ada retakan di langit, tidak ada kalimat-kalimat aneh yang muncul tiba-tiba, dan tidak ada juga perasaan seperti sedang diawasi. Semuanya terlalu normal. Aluna menggenggam tangan Raka, membuat pria itu menoleh ke arahnya. “Raka,

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 187. Perpisahan

    Tidak ada yang langsung menjawab. Baik Aluna ataupun Raka, mereka justru saling bertemu tatap dan tak percaya apa yang Rengganis katakan. “Dr. Aluna,” ujar Rengganis. Gadis itu maju satu langkah. Dia meraih kedua tangan Aluna. “Bahagia, ya…” katanya. Aluna menggeleng tanpa sadar. Dia melepaskan tangan Rengganis dari tangannya. “Jangan ngomong kayak orang yang mau pergi,” bisiknya lirih. Kedua matanya sudah memanas. “Aku nggak suka. Kita bisa pikirin jalan keluar lain.” Senyum Rengganis perlahan memudar. Namun gadis itu tidak terlihat terkejut. Seolah dia memang sudah menduga Aluna akan mengatakan hal itu. “Aku cuma pengen lihat akhir cerita ini,” katanya pelan. “Aku udah banyak bikin kalian menderita. Sekarang, aku bakal nepatin janji aku—” “Nggak!” potong Aluna tegas. Dadanya sudah naik turun dengan sangat cepat. Dia mundur satu langkah. “Kamu pikir semuanya sesederhana itu? Lihat! Sindi, orang tua aku bahkan ada di dunia ini. Terus kamu minta aku balik ke dunia sama Raka,

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 186. Aku suka Dunia ini

    Aluna mengangguk samar. Walau sulit, dia berusaha mengulas senyum.Keduanya langsung menuju UGD—dimana orang bernama Rengganis ada di sana. “Aluna!” Sindi langsung menarik tangan Aluna yang baru saja masuk ke dalam lobi. “Lama banget datangnya. Ayo buruan. Dia nunggu kamu di ruang istirahat staf.” Aluna mengernyit. Dia menahan dirinya. Membuat Sindi refleks ikut mundur selangkah. “Kenapa jadi di ruang istirahat?” tanya Aluna heran. Kedua alisnya sudah saling bertaut. “Bukannya dia sakit?” Sindi tidak langsung menjawab. Dia bahkan masih bingung dengan apa yang dia lihat. “Kenapa malah ngelamun?” suara berat Raka membuat Sindi mengerjap pelan. Dia melirik Raka yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu bilang tadi dia kritis, terus kenapa bukan di UGD atau ICU, malah di ruang istirahat staf.”“Aneh,” ujar Sindi pelan. “Aneh banget pokoknya. Pertama kali dia datang, mukanya pucat kayak nggak ada darah yang mengalir di tubuhnya. Tapi pas aku… pas aku…” Sindi menggantung

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten    Bab 185. Dunia yang kembali berubah

    Raka tidak memberi Aluna kesempatan untuk berpikir terlalu lama. Pria itu segera mengambil kunci mobil dan jaketnya. Wajahnya masih tegang. Bahkan sejak mendengar nama Rengganis beberapa menit yang lalu, Raka belum benar-benar bisa berpikir jernih. Mobil melaju dengan cepat tanpa banyak bicara. Raka sesekali melirik Aluna yang sudah pucat pasi. “Luna…” Raka menggenggam tangan Aluna yang sudah dingin. Wanita itu menoleh perlahan. “Tenang, ya. Kita kan belum tahu dia Rengganis yang kamu kenal atau bukan.” Aluna tidak langsung menjawab. Namun matanya tiba-tiba memicing saat melihat jalanan di depan mereka yang tampak transparan. “Ra-Raka…” tangan Aluna menunjuk ke arah depan dengan gemetar. “Itu apa? Kenapa jalannya jadi gitu?” Raka buru-buru memalingkan wajahnya. Alih-alih menghentikan laju mobil, dia justru menancap gas semakin dalam. “Pegangan, Aluna!” seru Raka. Aluna refleks mencengkeram dashboard mobil. Napasnya tercekat ketika jalan raya di depan mereka mulai berubah. A

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 184. Orang Yang Ingin Berkorban

    Raka menatap Aluna dengan mata yang sudah merah. Rasa bersalah yang ia tanggung akibat melenyapkan Aisar masih menghantui. Dia tidak ingin menambah lagi, dengan mengorbankan Rengganis. “Apa lagi dia manusia dari awal,” ujar Raka lirih. Kening yang berkerut, kini mulai mengendur. Raka menunduk dalam. “Mana mungkin aku tega mengurungnya di tempat ini.” Aluna tidak langsung menjawab. Rencana Rengganis memang gila. Dia bahkan sempat menolaknya, tapi saat bertemu dengan Raka lagi, perasaannya untuk ingin tetap bersamanya semakin besar. “Aku tahu,” gumam Aluna lirih. “Aku juga tahu ini salah, Raka. Tapi mau sampai kapan? Mau sampai kapan kita terus dihantui rasa takut?”Belum sempat Raka menjawab, tiba-tiba ponsel Aluna berdering. Keduanya refleks menoleh ke arah nakas, dimana ponsel itu tergeletak dengan layar menyala. “Sindi,” ujar Aluna sambil memperlihatkan layar ponselnya. “Kayaknya penting, udah ada banyak panggilan masuk dari dia ternyata.”Raka mengangguk. “Angkat aja,” katanya.

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   6. Diam-diam Memperhatikan

    Aluna menatap tangga itu beberapa saat sebelum akhirnya tertawa pelan. “Dia benar-benar dingin.” Aluna memainkan jemarinya. Dia senang karena fakta bahwa Raka yang masih memperlakukannya seperti orang asing, berarti alur ceritanya belum berubah terlalu jauh. Dan itu bagus. Karena jika Raka tiba-t

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   5. Kapten Raka

    Malam turun perlahan di kota itu. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning redup di aspal yang sedikit basah oleh hujan sore tadi. Di dalam rumah dinas militer, suasana terasa jauh lebih sunyi daripada di luar. Rumah besar itu memiliki ruang tamu luas dengan jendela tinggi, la

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   4. Tanggal Kematian Part 2

    Penyesalkan macam apa yang sedang menggerogoti kepercayaan diri ya sekarang? Kenapa dia harus berada di dalam novel ini? Jika memang harus berpindah ke novel, kenapa dia tidak berpindah ke novel romantis dengan nuansa indah dipenuhi bunga-bunga mekar. "Aku emang suka novel ini, tapi nggak ada ni

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   3. Tanggal Kematian

    Belum senpat melangkah, Aluna kembali teringat ucapan Raka sebelumnya. "Dia beneran nggak bisa percaya sama aku," keluhnya, seraya meremas jemarinya lalu kembali melangkah. "Ah, sudah lah. Kayak nggak kenal aja deh tokoh Raka gimana dinginnya." Udara di luar gedung pengadilan militer terasa jau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status