LOGINLangit senja menggantung redup ketika Gu Han melangkah memasuki aula utama Kediaman Gu. Begitu melewati ambang pintu, langkahnya berhenti.
Kepala pelayan membungkuk hormat. “Jenderal Gu, Tuan Besar, Nyonya dan Nona Gu sudah menunggu di aula makan.”Gu Han hanya mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah kepala pelayan.Begitu memasuki aula, aroma hidangan bercampur harum kayu gaharu memenuhi ruangan. Ayah, ibu dan adik perempuan Gu Han sudah duduk di kursi masing-masiMenjelang malam, Xiwu kembali dari Paviliun Suyin. Langkahnya melambat hingga akhirnya berhenti sepenuhnya di tengah lorong panjang yang menghubungkan kediaman utama dan istana dalam. Keheningan mulai merayap. Angin dingin berembus perlahan, menggoyangkan jajaran lampion kertas berlapis kain sutra merah yang tergantung di sepanjang atap kayu koridor. Pendar kemerahan itu membentang, memantulkan bayangan samar-samar di atas lantai batu pualam yang dingin. Dari kejauhan terdengar suara gemericik air dari kolam teratai dan sesekali suara burung yang kembali ke sarangnya. “Aku sangat yakin tidak pernah melihat perhiasan dengan motif seperti itu di Liyang. Apa benar… Yuze membelinya di Liyang?” Xiwu menunggu jawaban dari Yun Que. Namun, beberapa saat berlalu tanpa sepatah kata pun. Ia akhirnya berbalik dan menatap pelayan yang berdiri di belakangnya. “A’Que, Yuze dan Shan Liang beberapa kali pergi ke pasar raya bersamamu. Apa dia memang membeli tusuk konde itu di sana? Apa kau tahu s
Aroma teh bunga memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi samar dupa yang baru saja padam.Suyin duduk di dekat jendela, menikmati cahaya matahari yang menembus sela-sela tirai sambil memeriksa beberapa kain sulaman yang baru dikirim dari gudang kerajaan.Di hadapannya, Qiao Xi duduk dengan sikap tenang. Tangannya sibuk menuangkan teh untuk Suyin sebelum menuangkan secangkir untuk dirinya sendiri.“Teh ini semakin lama semakin pahit,” keluh Suyin setelah menyesap sedikit.Qiao Xi tertawa kecil. “Itu karena Jiejie sudah terlalu terbiasa meminum teh yang lebih manis.”“Shen Yuze yang membawakan teh itu. Dia mengatakan rasanya sangat enak dan sangat terkenal di Liyang.”“Kalau begitu, biar teh ini untukku saja.”Suyin mendengus. “Kenapa? Yuze mengatakan kalau teh ini bagus untuk kesehatan. Dia sedang memperhatikanku.”“Tapi ini pahit.”Keduanya saling pandang sebelum tertawa kecil.Sudah lama mereka tidak duduk seperti ini tanpa membicarakan urusan negara, keluarga kerajaan, atau masalah
“Kau yakin bisa menutupi tanda merah di leherku?” Xiwu berkaca pada cermin perunggu di hadapannya, jemarinya mengusap pelan kulit lehernya yang memerah. Yun Que yang berdiri di belakangnya menghentikan gerakan jemarinya yang sedang memoles bedak halus. Wajah pelayan setia itu mendadak memerah padam, mengalihkan pandangannya seraya terbatuk canggung. “Y-Yang Mulia... bedak istana ini cukup tebal,” cicit Yun Que polos, berusaha sekuat tenaga mempertahankan profesionalitasnya sebagai pelayan pribadi. “Tetapi... mungkin kita juga perlu menaikkan lipatan kerah jubah Yang Mulia sedikit lebih tinggi.” Xiwu memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang. Wajahnya terasa panas bukan hanya karena rasa malu, tetapi juga karena sisa-sisa kelelahan fisik yang masih menjalar di seluruh persendiannya. Pinggangnya terasa pegal luar biasa, dan setiap kali ia mencoba bergerak agak cepat, rasa lemas di kakinya mengingatkan betapa tidak berdayanya ia di bawah dominasi Shen Mo. “Lakukan saja
Matahari baru saja naik ketika Shen Yuze melangkah terburu-buru menyusuri koridor. Namun, langkahnya mendadak terhenti beberapa meter dari pintu utama kamar Shen Mo.Di sana, Shan Liang dan Yu Hao berdiri tegak. Wajah kedua pengawal setia itu tampak tegang. Seolah-olah mereka sedang berjaga di area peperangan.Bahkan dua hari yang berlalu, terasa seperti puluhan tahun.Sejak hari pertama, suasana di sekitar kamar itu sudah menjadi bahan bisik-bisik terselubung di antara para pelayan.Keduanya tidak mengizinkan siapapun mendekati pintu kamar. Baki makanan dan nampan air minum hanya boleh diantarkan jauh dari depan pintu luar, itu pun langsung diambil oleh Shan Liang.Suara desahan yang tidak kunjung terputus, erangan rendah, serta keheningan yang sesekali disusul ketegangan dari dalam kamar Shen Mo membuat tak seorang pun perlu bertanya apa yang sedang dilakukan pasangan suami-istri itu.Yuze menghentikan langkahnya di depan Shan Liang dan Yu Hao, mengerutkan kening heran melihat raut
Di sisi lain istana, kabar mengenai keputusan Kaisar Shen Guowei akhirnya sampai ke telinga Yan Qingrong. Ia berdiri di depan jendela, memandang halaman istana yang diselimuti cahaya pagi. Di belakangnya, tiga orang pejabat yang selama ini berdiri di pihak Klan Yan menunggu dengan sikap penuh hormat. Menteri Personalia Zhang Wenru, Menteri Pendapatan Liu Zheng, dan Wakil Menteri Ritus Han Qisheng. Tatapan Yan Qingrong tetap tertuju ke luar jendela ketika ia akhirnya bertanya, “Jadi, belum ada keputusan untuk mengangkat selir?” “Belum, Yang Mulia,” jawab Zhang Wenru. “Dan Kaisar masih mengizinkan para klan mengajukan nama?” “Benar,” sahut Liu Zheng. Yan Qingrong terdiam. Jemarinya perlahan mengetuk kusen jendela. Keputusan Guowei memang tidak menutup jalan bagi mereka, tetapi juga tidak memberikan kesempatan untuk segera memasukkan seorang wanita ke kediaman Putra Mahkota. Yan Qingrong tersenyum tipis. Setidaknya satu hal berjalan sesuai dugaan. Namun, senyum itu tidak bertaha
Sejak matahari mulai naik di balik atap-atap istana, para pejabat yang datang untuk menghadiri sidang pagi dapat merasakan bahwa Kaisar Shen Guowei sedang menyiapkan sesuatu. Beberapa kepala klan yang sebelumnya paling keras menyuarakan persoalan penerus kerajaan telah dipanggil lebih awal. Mereka berdiri di dalam aula utama dengan sikap penuh hormat, tetapi tidak satu pun yang menyembunyikan harapan di balik tatapan mereka. Mereka datang untuk satu hal. Memastikan bahwa permintaan mereka mengenai selir untuk Putra Mahkota tidak akan kembali ditunda. Di atas singgasana, Guowei memandang seluruh pejabat yang hadir. Wajahnya tenang seperti biasa, tetapi sorot matanya membuat tidak seorang pun berani memotong pembicaraan sebelum ia selesai. Pandangannya sempat berhenti pada satu celah kosong di samping Shen Yuze. Tempat di mana seharusnya Shen Mo berdiri. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bicara. “Beberapa hari terakhir, aku telah mendengar banyak pendapat mengenai mas
“Gege!”Suara Shen Yuze memecah kebisingan, tetapi Shen Mo tidak menyahut. Lelaki itu bergerak dalam keheningan yang mematikan.Setiap ayunan pedangnya presisi, menjatuhkan lawan dengan satu tebasan tanpa satu pun gerakan sia-sia. Medan pertempuran seolah terbelah secara alami s
Debu halus terangkat ke udara setiap kali roda kereta menyapu tanah tandus perbatasan yang retak.Di belakang, barisan pasukan Liyang berdiri kaku bagai monumen bisu, sementara di sisi lain, bendera Beishan berkibar tajam. Suaranya seperti cambuk yang membelah angin gersang.Kereta Xiwu berhenti. S
Langkah mereka terdengar teratur di sepanjang koridor istana yang panjang, gema sepatu mereka berbalas dengan dinding batu yang dingin. Tirai sutra tergantung di antara pilar-pilar merah, bergoyang pelan tertiup angin sore.Roulan berjalan di samping Gu Han, sedikit di depan, suaranya mengalir ring
Yun Que masuk dengan langkah cepat, peluh membasahi dahinya meski udara paviliun masih sejuk oleh dupa yang baru dinyalakan.“Yang Mulia!”Ia berhenti di tengah ruangan, napasnya belum sepenuhnya stabil, seolah ragu apakah kabar itu layak diucapkan.Xiwu mengangkat pandangan, tenang seperti biasa k







