Partager

Bab 55. Tertuduh.

Auteur: Ine Time
last update Date de publication: 2026-06-26 12:00:35

Langkah Xiwu melambat saat aroma tajam menusuk indranya di depan paviliun Permaisuri.

Krisan.

Bunga yang biasanya melambangkan umur panjang, kini aromanya terasa mencekik.

Xiwu refleks menutupi hidung dengan punggung tangan, mempercepat langkah melewati koridor panjang yang berbau harum menyengat itu.

Di dalam, Suyin tampak jauh dari kata sehat. Ia bersandar lemah, tangan pelayan memijat pundaknya, sementara tangannya sendiri menekan
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 164. Tusuk Konde Dari Liyang.

    Aroma teh bunga memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi samar dupa yang baru saja padam.Suyin duduk di dekat jendela, menikmati cahaya matahari yang menembus sela-sela tirai sambil memeriksa beberapa kain sulaman yang baru dikirim dari gudang kerajaan.Di hadapannya, Qiao Xi duduk dengan sikap tenang. Tangannya sibuk menuangkan teh untuk Suyin sebelum menuangkan secangkir untuk dirinya sendiri.“Teh ini semakin lama semakin pahit,” keluh Suyin setelah menyesap sedikit.Qiao Xi tertawa kecil. “Itu karena Jiejie sudah terlalu terbiasa meminum teh yang lebih manis.”“Shen Yuze yang membawakan teh itu. Dia mengatakan rasanya sangat enak dan sangat terkenal di Liyang.”“Kalau begitu, biar teh ini untukku saja.”Suyin mendengus. “Kenapa? Yuze mengatakan kalau teh ini bagus untuk kesehatan. Dia sedang memperhatikanku.”“Tapi ini pahit.”Keduanya saling pandang sebelum tertawa kecil.Sudah lama mereka tidak duduk seperti ini tanpa membicarakan urusan negara, keluarga kerajaan, atau masalah

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 163. Zhang Fengyin.

    “Kau yakin bisa menutupi tanda merah di leherku?” Xiwu berkaca pada cermin perunggu di hadapannya, jemarinya mengusap pelan kulit lehernya yang memerah. Yun Que yang berdiri di belakangnya menghentikan gerakan jemarinya yang sedang memoles bedak halus. Wajah pelayan setia itu mendadak memerah padam, mengalihkan pandangannya seraya terbatuk canggung. “Y-Yang Mulia... bedak istana ini cukup tebal,” cicit Yun Que polos, berusaha sekuat tenaga mempertahankan profesionalitasnya sebagai pelayan pribadi. “Tetapi... mungkin kita juga perlu menaikkan lipatan kerah jubah Yang Mulia sedikit lebih tinggi.” Xiwu memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang. Wajahnya terasa panas bukan hanya karena rasa malu, tetapi juga karena sisa-sisa kelelahan fisik yang masih menjalar di seluruh persendiannya. Pinggangnya terasa pegal luar biasa, dan setiap kali ia mencoba bergerak agak cepat, rasa lemas di kakinya mengingatkan betapa tidak berdayanya ia di bawah dominasi Shen Mo. “Lakukan saja

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 162. Kendalikan, Jangan Dikendalikan.

    Matahari baru saja naik ketika Shen Yuze melangkah terburu-buru menyusuri koridor. Namun, langkahnya mendadak terhenti beberapa meter dari pintu utama kamar Shen Mo.Di sana, Shan Liang dan Yu Hao berdiri tegak. Wajah kedua pengawal setia itu tampak tegang. Seolah-olah mereka sedang berjaga di area peperangan.Bahkan dua hari yang berlalu, terasa seperti puluhan tahun.Sejak hari pertama, suasana di sekitar kamar itu sudah menjadi bahan bisik-bisik terselubung di antara para pelayan.Keduanya tidak mengizinkan siapapun mendekati pintu kamar. Baki makanan dan nampan air minum hanya boleh diantarkan jauh dari depan pintu luar, itu pun langsung diambil oleh Shan Liang.Suara desahan yang tidak kunjung terputus, erangan rendah, serta keheningan yang sesekali disusul ketegangan dari dalam kamar Shen Mo membuat tak seorang pun perlu bertanya apa yang sedang dilakukan pasangan suami-istri itu.Yuze menghentikan langkahnya di depan Shan Liang dan Yu Hao, mengerutkan kening heran melihat raut

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 161. Malam yang Sangat Panjang.

    Di sisi lain istana, kabar mengenai keputusan Kaisar Shen Guowei akhirnya sampai ke telinga Yan Qingrong. Ia berdiri di depan jendela, memandang halaman istana yang diselimuti cahaya pagi. Di belakangnya, tiga orang pejabat yang selama ini berdiri di pihak Klan Yan menunggu dengan sikap penuh hormat. Menteri Personalia Zhang Wenru, Menteri Pendapatan Liu Zheng, dan Wakil Menteri Ritus Han Qisheng. Tatapan Yan Qingrong tetap tertuju ke luar jendela ketika ia akhirnya bertanya, “Jadi, belum ada keputusan untuk mengangkat selir?” “Belum, Yang Mulia,” jawab Zhang Wenru. “Dan Kaisar masih mengizinkan para klan mengajukan nama?” “Benar,” sahut Liu Zheng. Yan Qingrong terdiam. Jemarinya perlahan mengetuk kusen jendela. Keputusan Guowei memang tidak menutup jalan bagi mereka, tetapi juga tidak memberikan kesempatan untuk segera memasukkan seorang wanita ke kediaman Putra Mahkota. Yan Qingrong tersenyum tipis. Setidaknya satu hal berjalan sesuai dugaan. Namun, senyum itu tidak bertaha

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 160. Di Balik Siasat.

    Sejak matahari mulai naik di balik atap-atap istana, para pejabat yang datang untuk menghadiri sidang pagi dapat merasakan bahwa Kaisar Shen Guowei sedang menyiapkan sesuatu. Beberapa kepala klan yang sebelumnya paling keras menyuarakan persoalan penerus kerajaan telah dipanggil lebih awal. Mereka berdiri di dalam aula utama dengan sikap penuh hormat, tetapi tidak satu pun yang menyembunyikan harapan di balik tatapan mereka. Mereka datang untuk satu hal. Memastikan bahwa permintaan mereka mengenai selir untuk Putra Mahkota tidak akan kembali ditunda. Di atas singgasana, Guowei memandang seluruh pejabat yang hadir. Wajahnya tenang seperti biasa, tetapi sorot matanya membuat tidak seorang pun berani memotong pembicaraan sebelum ia selesai. Pandangannya sempat berhenti pada satu celah kosong di samping Shen Yuze. Tempat di mana seharusnya Shen Mo berdiri. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bicara. “Beberapa hari terakhir, aku telah mendengar banyak pendapat mengenai mas

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 159. Yang Harus Dilindungi.

    Shen Mo terdiam cukup lama. Tatapannya jatuh pada wajah Xiwu yang basah oleh air mata, seolah sedang berusaha memahami kalimat yang baru saja didengarnya.“Jadi, kalau aku bukan lagi putra mahkota, kau tidak bisa tinggal di sisiku?”Xiwu menunduk, tetapi Shen Mo mengangkat dagunya perlahan.“Lihat aku, Xiwu.”Tatapan mereka bertemu.“Siapa yang coba kau lindungi, Shen Mo?”“Aku melepaskan kedudukan itu karena mereka ingin menggunakannya untuk mengambil sesuatu yang paling berharga bagiku.”“Shen Mo,” Xiwu kembali menyeka air matanya. “Lalu bagaimana dengan ayah dan ibu? Lalu… Yuze? Apa kau akan mengorbankan mereka?”“Kau adalah satu-satunya yang aku—”Sontak Xiwu menutup kedua telinganya. “Aku tidak mau kehadiranku menjadi alasan kesengsaraan orang lain lagi, Shen Mo! Aku tidak mau!!”Shen Mo menarik kedua tangan Xiwu. “Xiwu!”“Kita sudah melewati banyak hal bahkan kembali dari kematian. Sekarang kau mengatakan ingin menyerahkan segalanya tanpa memikirkan orang lain yang tulus menyaya

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 05. Yang Dikembalikan.

    “Hati-hati, turunkan semuanya,” titah Gao De memperhatikan satu per satu kotak diturunkan dari kereta. Ia melongok ke dalam kereta, lalu mendekati Gu Han yang berdiri mematung.“Jenderal Gu, semua kotak sudah hamba turunkan sesuai dengan permintaan Putri Mahkota Li Xiwu.”Gu Han diam. Matanya mena

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 04. Aku Adalah Putri Mahkota Liyang.

    “Yang Mulia.”Suara itu cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa menegang. Kasim yang berjaga di dalam mundur beberapa langkah. Gao De yang berada di sisi ruangan pun menunduk lebih dalam dari biasanya.Tangan Kaisar Li Zhenyuan masih berada di atas gulungan laporan yang belum selesai dibaca, te

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 03. Dekret Yang Ditetapkan.

    “Yang Mulia Putri Mahkota tiba.”Tanpa menunggu izin lebih lanjut, Xiwu melangkah masuk. Di dalam, Roulan sudah berdiri. Gadis itu tampak sedikit terkejut, tetapi dengan cepat menenangkan diri.Ia segera menunduk hormat, gerakannya halus, hampir seperti kebiasaan yang telah melekat sejak lama. “Ham

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 02. Dekret di Bawah Hujan.

    Langkahnya tenang ketika keluar dari aula utama. Dadanya pun terasa lebih longgar.Langit yang sejak pagi kelabu akhirnya runtuh, mengguyur halaman istana dengan deras. Menemani keputusan yang diambil Xiwu dengan penuh kesadaran.Di sampingnya, Yun Que segera membuka payung, menyesuaikan langkah ag

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status