LOGINShen Mo kembali merentangkan tali busurnya. Di hadapannya, lima kendi tanah liat yang tergantung pada tali tampak masih bergoyang pelan diterpa angin sore. Xiwu yang berdiri tidak jauh dari sana hanya tersenyum kecil. Ia sudah terlalu sering menyaksikan ketangkasan Shen Mo dalam memainkan pedang atau belati, tetapi dalam hal memanah, ia belum bisa dikalahkan. Sebuah anak panah melesat cepat dari busur yang dilepaskan Shen Mo. Dalam satu tarikan napas saja, kelima kendi itu pecah berkeping-keping secara hampir bersamaan, jatuh berserakan di atas tanah. Shen Mo menurunkan busurnya dengan gerakan tenang. Xiwu mengangguk-angguk. "Sudah lebih baik." Shen Mo menoleh, menatap istrinya dengan sebelah alis terangkat. "Hanya lebih baik?" "Kalau aku bilang sempurna, nanti kau jadi terlalu bangga," sahut Xiwu. Senyum tipis yang sarat akan kehangatan mengembang di sudut bibir Shen Mo. Xiwu melangkah menuju
“Hamba berjanji, kali ini akan lebih pelan. Tahan sebentar, Yang Mulia.”Yuze tidak menjawab. Kedua tangannya terkepal erat-erat di atas lutut, sementara pandangannya menatap lurus ke depan.“Yang Mulia, lukanya sudah dibersihkan. Hamba akan mengoleskan salepnya.”Yuze masih tidak bersuara.Yun Que yang berdiri di hadapannya menarik napas panjang. Tangannya yang memegang kain bersih dan sebuah botol porselen kecil tampak terhenti di udara.“Yang Mulia, lukanya kembali terbuka. Kalau tidak segera diobati, lukanya bisa makin parah,” bujuk Yun Que sabar.Yuze tetap bergeming, pura-pura tidak mendengar.Yun Que meletakkan kembali kain dan botol di atas baki lalu meraih tangan Yuze.Yuze terdiam menatap Yun Que ketika gadis itu meletakkan lima potong manisan di atas telapak tangannya.“Hamba tahu Yang Mulia tidak menyukai salep ini, tapi luka di wajah Yang Mulia tetap harus diobati.”“Kau—”Yun Que meraih satu manisan dari telapak tangan lalu membuka bungkusnya.Belum sempat Yuze protes, Y
“Apa yang sedang Yang Mulia lakukan?” Suara yang tiba-tiba terdengar dari belakang membuat Yuze tersentak kaget. Ia segera berbalik dan mendapati Shan Liang berdiri di belakangnya. Tanpa menjawab, Yuze langsung meraih lengan Shan Liang. Menariknya paksa hingga lelaki itu ikut berjongkok di balik tiang besar. “Diamlah,” bisik Yuze panik. “Nanti kita ketahuan.” Dahi Shan Liang mengerut. “Ketahuan melakukan apa?” “Jangan banyak bertanya!” Shan Liang akhirnya mengikuti arah pandangan Yuze. Dari kejauhan, Yun Que tampak berjalan menyusuri lorong sambil membawa sebuah baki kayu. Beberapa kali gadis itu menoleh ke kanan dan kiri dengan dahi berkerut, seolah sedang mencari seseorang. Shan Liang menatap sosok itu beberapa saat sebelum kembali menoleh pada Yuze. “Yang Mulia sedang bersembunyi dari Nona Yun?” Yuze diam sejenak. “Tidak.” Kali ini Shan Liang terdiam sejenak. “Kenapa Yang Mulia bersembunyi di sini?” Di kejauhan, Yun Que kembali mengedarkan pandangan. Tatapannya menyapu
Xiwu duduk di depan meja rias dengan rambut terurai melewati punggungnya. Di belakangnya, Yun Que berdiri sambil menyisir rambutnya perlahan, memastikan tidak ada satu helai pun yang kusut. “Yang Mulia, seharian ini aku belum bertemu dengan Yang Mulia Pangeran Kedua Shen Yuze, apa Yang Mulia tahu dimana Pangeran Kedua berada?” Xiwu menatap bayangan Yun Que melalui cermin. “Yuze? Tidak? Kenapa?” Yun Que menarik napas dalam-dalam. “Hari ini Yang Mulia Pangeran Kedua belum aku obati. Bagaimana kalau lukanya terbuka lagi?” Xiwu berbalik menatap Yun Que. “Apa kau mengobatinya dengan salep itu?” Yun Que diam, coba menebak jenis salep yang disebut Xiwu sampai tiba-tiba pupil matanya melebar. “Ah, iya, salep itu.” Xiwu tertawa pelan. “Bagaimana reaksi Yuze? Apa dia meringis sepertiku?” Yun Que melepas napas panjang. “Pangeran itu menjerit-jerit sampai hamba harus menutup telinga.” Yun Que meraih kotak di atas meja lalu mengarahkannya kepada Xiwu. “Yang Mulia, pilihlah. Hari ini Yang
“Yang Mulia!” Derap langkah serta panggilan Kasim Gao tidak hanya membuat Zhenyuan menoleh. Lianhua yang berada di sampingnya ikut mengangkat pandangan. Begitu sampai di depan meja, Kasim Gao membungkuk dalam. “Ampun Yang Mulia, sekarang Putri Roulan sedang berada di depan pintu. Meminta Yang Mulia untuk menemui beliau.” Begitu Kasim Gao selesai bicara, Zhenyuan kembali menatap laporan yang dibentangkan Lianhua seolah kabar itu hanyalah angin lalu. “Yang Mulia,” panggil Kasim Gao setelah beberapa saat Zhenyuan tidak bersuara. Zhenyuan sedikit mengangkat pandangannya. “Katakan padanya untuk kembali. Aku tidak ingin menemui siapapun.” Tanpa sadar Kasim Gao melirik ke arah Lianhua yang ternyata masih menatapnya. Meski hanya sesaat, Lianhua tahu urusan yang dibawa Roulan bukan hal sepele. “Suamiku, kita bisa menunda pembicaraan tentang rencana festival untuk Xiwu sampai urusan Roulan selesai. Mintalah Kasim Gao mengajaknya masuk.” Zhenyuan menarik napas dalam-dalam. “Setelah apa y
Belum sampai tengah hari, tetapi kabar tentang penahanan Gu Han menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kerajaan Liyang. Di kediaman keluarga Gu, Su Xueyi dan putrinya Gu Ning tidak bisa duduk dengan tenang. Sebelum matahari terbit, Gu Zhenwei sudah pergi, tetapi hingga detik ini belum ada tanda akan kembali. “Ibu, kenapa ayah belum kembali? Apa… mereka tidak mau—” “Jaga bicaramu Gu Ning!” potong Xueyi, “selama ini keluarga Gu banyak membantu pejabat-pejabat. Mereka tidak mungkin mencampakkan kita begitu saja!” Gu Ning kembali berdiri lalu berjalan ke ambang pintu. Pandangannya tertuju pada gerbang yang tertutup. “Ibu, mungkin Roulan Jiejie bisa membantu kita membebaskan Han Gege.” “Apa?” pekik Xuenyi. “Wanita itu? Sudahlah Ning’er, jangan menambah beban ibumu!” Gu Ning kembali mendekati ibunya. “Ibu, bagaimanapun dia adalah putri kaisar. Aku yakin pasti kaisar akan mendengarkan.” Xueyi memijat pelipisnya. “Ning’er, kalau memang begitu, saat ini kakakmu pasti sudah menikah de
“Yang Mulia.”Suara itu cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa menegang. Kasim yang berjaga di dalam mundur beberapa langkah. Gao De yang berada di sisi ruangan pun menunduk lebih dalam dari biasanya.Tangan Kaisar Li Zhenyuan masih berada di atas gulungan laporan yang belum selesai dibaca, te
“Yang Mulia Putri Mahkota tiba.”Tanpa menunggu izin lebih lanjut, Xiwu melangkah masuk. Di dalam, Roulan sudah berdiri. Gadis itu tampak sedikit terkejut, tetapi dengan cepat menenangkan diri.Ia segera menunduk hormat, gerakannya halus, hampir seperti kebiasaan yang telah melekat sejak lama. “Ham
Langkahnya tenang ketika keluar dari aula utama. Dadanya pun terasa lebih longgar.Langit yang sejak pagi kelabu akhirnya runtuh, mengguyur halaman istana dengan deras. Menemani keputusan yang diambil Xiwu dengan penuh kesadaran.Di sampingnya, Yun Que segera membuka payung, menyesuaikan langkah ag
‘Ketika aku kecil, ayahku berkata tidak pernah menyesali kehendak para dewa karena tidak memiliki anak lelaki. Baginya, aku adalah penerus yang dipilih langit. Tidak akan pernah menyengsarakan rakyat.’***“Xiwu.”Suara sang kaisar hampir tersapu angin yang menyusup masuk dari celah jendela.Sejak







