Partager

BAB 21 - KONTRIBUSI OLIVIA

last update Date de publication: 2026-10-05 10:38:40

"Halo, Kak Sarah? Aku mau tanya soal Bab 18 sampai Bab 20 yang baru saja terbit kemarin dan lusa," ucap sang penulis langsung to the point begitu panggilannya tersambung.

Dari ujung telepon, terdengar hela napas panjang dan suara kertas yang dibolak-balik. "Ada apa lagi, Maya? Jangan bilang kamu mau minta revisi besar-besaran lagi. Batas waktu terbit kita sudah sangat ketat."

"Bukannya minta revisi, justru anehnya... isi bab itu berubah sendiri," protes Maya dengan nada frustrasi. "Karakter Oli
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 23 - JEBAKAN DI HULU SUNGAI

    "Kumpulkan seluruh ksatria yang ada sekarang juga!" perintah Julian tegas. Suaranya yang berat bergema menembus kepanikan warga yang mulai berhamburan mencari perlindungan.Brandon langsung mengangguk tangkas, tangannya sigap menggenggam hulu pedang di pinggangnya. "Bagaimana dengan warga desa, Tuan? Jika musuh sampai menerobos ke area perkemahan ini...""Amankan mereka di dalam benteng lumbung tua di ujung lapangan. Sisakan sepuluh prajurit berpengalaman untuk berjaga di perimeter luar," potong Julian cepat tanpa ragu. Matanya yang tajam mendadak melirik ke arah Olivia yang masih berdiri terpaku di dekat kuali sup hangat yang asapnya kian tipis. "Brandon, pastikan Olivia masuk ke tempat paling aman bersama para warga.""Saya tidak akan masuk ke lumbung, Tuan Baron," pangkas Olivia sembari melangkah maju mendatangi Julian. Wajahnya yang berjelaga tampak sangat serius.Julian memutar tubuhnya, menatap Olivia dengan alis terangkat tinggi. "Ini bukan saatnya untuk bersikap keras kepala,

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 22 - PERBATASAN BARAT VANCE

    Olivia menghela napas pendek begitu barisan gerobak logistik berat akhirnya berhasil menembus celah terakhir Pegunungan Angin Hitam. Angin dingin yang berembus dari arah lembah membawa aroma tanah tandus dan keputusasaan yang begitu pekat. Di hadapan mereka, bentangan tanah perbatasan Barat Vance yang dulunya dikenal sebagai lumbung gandum yang subur dan hijau kini tampak mati, kering, serta diselimuti lapisan abu sisa gagal panen yang berkepanjangan.Puluhan penduduk yang kelaparan berdiri berjejer di pinggir jalan berbatu. Pandangan mereka kosong, dengan tubuh yang terbalut kain compang-camping dan melambai ditiup angin malam. Mereka menyambut kedatangan rombongan bangsawan itu tanpa secercah pun binar harapan di mata mereka; pengalaman pahit berkali-kali ditinggalkan oleh para penguasa sebelumnya telah mengikis habis rasa percaya mereka terhadap siapa pun yang berbusana mewah."Bongkar muatan sekarang juga! Bagikan gandum dan jatah air bersih secara adil kepada setiap kepala keluar

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 21 - KONTRIBUSI OLIVIA

    "Halo, Kak Sarah? Aku mau tanya soal Bab 18 sampai Bab 20 yang baru saja terbit kemarin dan lusa," ucap sang penulis langsung to the point begitu panggilannya tersambung.Dari ujung telepon, terdengar hela napas panjang dan suara kertas yang dibolak-balik. "Ada apa lagi, Maya? Jangan bilang kamu mau minta revisi besar-besaran lagi. Batas waktu terbit kita sudah sangat ketat.""Bukannya minta revisi, justru anehnya... isi bab itu berubah sendiri," protes Maya dengan nada frustrasi. "Karakter Olivia, pelayan figuran di awal cerita itu, kenapa mendadak mendapat porsi interaksi yang begitu dominan dengan Julian Vance? Padahal di naskah asli yang aku kirim, dia cuma lewat sekilas lalu menghilang."Sarah terdiam sejenak, lalu terdengar suara ketukan kuku di atas meja kerjanya. "Tunggu, aku cek sistem dulu... Ah, tidak ada perubahan apa pun dari pihak redaksi. Naskah yang masuk ke sistem persis seperti yang kamu kirim, Maya.""Mana mungkin?!" seru Maya tidak percaya. "Baca sendiri komentar p

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 20 - HANYA KARAKTER FIGURAN

    Kamar berkanopi itu kosong. Langkah kaki Julian terhenti di ambang pintu, menyisakan keheningan yang mendadak terasa pekat. Pria itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, mencari sisa keberadaan gadis yang baru saja menguras pikirannya sepanjang persidangan keluarga. Tidak ada suara, tidak ada jejak, selain aroma samar ramuan herbal yang mulai memudar.Julian berbalik dengan rahang mengeras, lalu melangkah keluar lorong mansion dengan tergesa-gesa. Ia melewati barisan pelayan yang menunduk hormat, hingga langkahnya membawa pria itu mendekati sayap belakang bangunan utama.Cekit.Pintu kayu berat menuju dapur utama terdorong terbuka. Di sana, di tengah kesibukan para asisten koki yang berlalu-lalang menyiapkan hidangan malam, sesosok tubuh ramping berdiri di depan meja marmer panjang. Olivia tampak mengenakan apron katun sederhana yang sedikit kebesaran di tubuhnya, sedang fokus mengamati jajaran rempah-rempah dan mangkuk keramik berisi kaldu mengepul.Baron menghentikan la

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 19 - SIDANG KELUARGA VANCE

    Sinar matahari pagi yang menembus kaca patri tinggi ruang sidang utama mansion Vance tak mampu mencairkan udara dingin yang mengendap di sana. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang berpelitur kelam menjadi pembatas tegas antara kekuasaan, keadilan, dan persidangan.Tetua Catherine duduk tegak dengan kipas lipat sutra bermotif keemasan di genggamannya, sementara Tetua Roderick sesekali mengelus janggut putih panjangnya seraya menatap dingin ke satu titik. Di ujung meja yang berseberangan, Julian berdiri tegap dengan jubah hitam kebesarannya, memegang map tebal bersampul kulit. Sementara itu, di tengah ruangan, Lady Margaret berdiri diapit dua pengawal berzirah baja tegap, wajah cantiknya mengeras tanpa penyesalan."Julian, apa sebenarnya arti dari semua pementasan drama pagi ini?" tegur Tetua Catherine dengan suara tinggi yang bergema di langit-langit batu. "Menahan pengawas mansion di kamarnya sendiri dan memanggil seluruh pekerja dari sayap dapur hingga kebun?""Ini bukan drama, Tet

  • Takdir Novel Ada di Tangan Celemekku   BAB 18 - KELEMBUTAN SANG BARON

    Julian masih menggenggam kain kasa basah. Jemarinya bergerak amat pelan, mengusap sisa noda karat dan bercak darah kering di pelipis Olivia. Setiap kali jari ramping sang Baron tak sengaja menyentuh kulit halus itu, napas Olivia mendadak tertahan.Kamar di sebelah ruangan pribadi Julian ini amat hening. Udara dingin malam tertahan di luar kaca jendela yang tebal, tergantikan oleh wangi lembut minyak kayu cendana dan aroma rosemary yang samar dari perapian."Tuan... Baron..." bisik Olivia parau. Tenggorokannya terasa seperti tergores pasir kasar."Jangan banyak bergerak dulu," potong Julian cepat. Suaranya rendah, jauh dari nada menggelegar yang beberapa menit lalu meruntuhkan pintu besi di ruang bawah tanah. "Dokter Smith sedang mengambil ramuan penawar nyeri yang lebih kuat di ruang medis."Olivia memalingkan wajahnya sedikit, mencoba menatap langit-langit berukir rumit. Tempat tidur berkanopi ini terlalu mewah. Kasurnya begitu empuk, amat berbanding terbalik dengan dinginnya lantai b

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status