Teilen

Vonis Penyakit Vimala

last update Veröffentlichungsdatum: 29.07.2026 07:45:00

Pintu ruang konsultasi tertutup rapat.

Dokter Zara berdiri di depan jendela cukup lama sebelum akhirnya kembali ke meja kerjanya.

Beliau membuka sebuah map tebal berisi hasil pemeriksaan Vimala.

Ekspresinya jauh berbeda dibanding tadi.

Tak ada lagi senyum hangat.

“Tante….” Zyandru jadi was-was.

“Duduk dulu, Zyan.”

Nada suaranya berubah serius.

Zyandru langsung duduk.

Entah mengapa dadanya mendadak terasa sesak.

Tante Zara menggeser beberapa le
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (2)
goodnovel comment avatar
eLLy aprilia
Mangat zyann
goodnovel comment avatar
Ria Nur
hiks hiks hiks,,, mengandung bawang 🧅... mengsedih,,,kuat lah Zyan,,,
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Tante Yang Baik

    Vimala mengerjapkan mata sebelum akhirnya menggeliat pelan.Dia mengingat-ngingat kejadian tadi malam setelah pulang dari bertemu ketiga sahabatnya.Namun tidak ada ingatan tentang dia sampai di rumah, mengganti pakaian, mencuci wajah dan tidur.Yang Vimala ingat, mereka berdebat dalam perjalanan pulang lalu dia tertidur.Tangan Vimala terangkat memijat pelipisnya, lantas menunduk melihat apa yang dia kenakan.Dia telah mengenakan baju tidur, perlahan kepalanya menoleh ke nakas samping tempat tidur. Ada tiga buah kapas kotor bekas menghapus make up.Vimala tidak mungkin menghapus make up di atas ranjang lalu tidak membuang tissuenya.Ini semua pasti kerjaan Zyandru.Ia memutar tubuh.Tangannya meraba sisi ranjang.Kosong.“Zyan?” Tak ada jawaban.Vimala duduk sambil mengucek mata.Suara samar dari balkon membuatnya bangkit.Ia membuka pintu kaca perlahan.Di sana, Zyandru berdiri membelakanginya. Ponsel masih

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Janji

    Mobil sport hitam milik Zyandru melaju meninggalkan pelataran Rumah Sakit milik tante Zara.Beberapa kali Vimala melirik ke arah Zyandru. Sejak keluar dari ruang rawat, suaminya itu tampak lebih pendiam daripada biasanya.“Kamu kenapa?” tanya Vimala memecah keheningan.“Hm?” Zyandru menoleh sekilas.“Kok diem terus?” tanya Vimala lagi.Zyandru hanya tersenyum.“Capek ya nungguin aku seharian?”Pria itu pun terkekeh sembari mengulurkan tangan mengusap kepala Vimala membuatnya menegang.“Enggak kok … aku lagi fokus mengemudi saja.”Vimala mengangguk pelan. Ia lalu kembali menatap jalanan Jakarta yang mulai dipadati kendaraan.“Kenapa sih dia harus puk-pukin kepala gue? Terus kenapa juga ini jantung malah deg-degan?” Vimala bicara sendiri di dalam hati.Beberapa menit kemudian, rasa penasarannya kembali muncul.“Zyan.”“Iya?”“Hasil pemeriksaanku gimana?”Tangan Zyandru yang sedang menggenggam setir mengencang tanpa disadari.Ia teringat pesan tante Zara, jangan membuat V

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Vonis Penyakit Vimala

    Pintu ruang konsultasi tertutup rapat.Dokter Zara berdiri di depan jendela cukup lama sebelum akhirnya kembali ke meja kerjanya.Beliau membuka sebuah map tebal berisi hasil pemeriksaan Vimala.Ekspresinya jauh berbeda dibanding tadi.Tak ada lagi senyum hangat.“Tante….” Zyandru jadi was-was.“Duduk dulu, Zyan.”Nada suaranya berubah serius.Zyandru langsung duduk.Entah mengapa dadanya mendadak terasa sesak.Tante Zara menggeser beberapa lembar hasil laboratorium.“Lihat ini.”Zyandru memperhatikan deretan angka yang sebagian besar diberi tanda merah.“Aku enggak ngerti.”Tante Zara membuka hasil pemeriksaan darah.“Nilai penanda inflamasi Vimala cukup tinggi.”Kemudian membuka hasil USG.“Lalu ada penebalan pada beberapa bagian usus.”Berikutnya hasil endoskopi.Di layar monitor tampak saluran cerna yang dipenuhi bercak kemerahan.Dokter Zara menunjuk salah satu bagian. “Lihat ini

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Serangkaian Tes Kesehatan Vimala

    Vimala merasakan berat di bagian perutnya, dia pun membuka mata dan mendapati wajah tampan itu begitu dekat.Wajah tampan yang tampak tenang.Vimala tersenyum, ada rasa syukur menyelinap di hatinya karena memilih Zyandru.Tidak mendatangi para pria Gunadhya yang lain yang belum tentu sebaik Zyandru.Karena tadi malam … mungkin keperawanannya tidak akan selamat jika bukan Zyandru.Dan bisa jadi mereka akan bertengkar hebat berujung pembatalan pernikahan dan Vimala tidak akan mendapatkan apapun.Lantas, dari mana Zyandru tahu kalau dirinya sebenarnya belum siap?Vimala hendak menyentuh rahang Zyandru namun seketika berhenti ketika mendengar suara berat tercetus. “Mau ngapain?” Pria itupun membuka matanya.Menatap Vimala datar.“Mau … bangunin kamu.” Vimala menjawab jujur.Zyandru masih menatapnya Vimala. “Kirain mau aku cium kaya tadi malam.” Pipi Vimala seketika memerah mengingat apa yang Zyandru lakukan padanya tadi malam.Bibir sialan itu telah menikmati tubuhnya. Ah,

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Tidak Ingin Memaksa

    “Zyaaann!!!!” Vimala yang sedang mengancingkan piyama dressnya memekik diselingi gelak tawa. Zyandru menggendongnya lalu berlari keluar walk in closet.Dia lantas menjatuhkan Vimala pelan ke atas ranjang hingga tubuh gadis itu memantul didorong pegas dari dalam kasur.Di luar sana, ketika sedang mematikan lampu lantai dua—Tina tersenyum mendengar suara tawa itu dari dalam kamar Vimala.Dia lantas turun ke lantai satu untuk menyelesaikan tugasnya malam ini.Sementara itu di dalam kamar, tawa sepasang pengantin baru itu perlahan mereda, Vimala dan Zyandru berbaring menatap langit-langit kamar.Vimala mulai keringat dingin mengingat ini adalah malam pertamanya.Yang mana itu berarti dia dan Zyandru akan melakukan hubungan suami istri.Tapi Vimala belum siap, bagaimana kalau dia pura-pura sakit perut?Vimala menggeleng pelan, selama ini Zyandru selalu kooperatif dan memberikan yang terbaik untuknya.Tiba-tiba Zyandru bergerak mengubah posisi berbaring miring menghadap Vimala, kep

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Suami Aneh

    Lima belas menit kemudian…Mobil sport milik Zyandru berhenti di depan sebuah rumah es krim premium yang masih cukup ramai meski malam mulai larut.Zyandru turun lebih dulu.Ia berjalan memutar membuka pintu untuk Vimala.“Ayo.”Vimala masih tampak lesu tapi ketika melihat papan bertuliskan berbagai rasa es krim favoritnya, matanya sedikit berbinar.“Masih kuat jalan, kan?”“Masih donk.” Dia berusaha terlihat sehat.Zyandru tetap mengulurkan tangan.“Buat apa?” Vimala bertanya.“Pegangan.”“Aku enggak akan jatuh.”“Aku tahu.”“Terus?”“Enggak boleh ya seorang suami menggenggam tangan istrinya?” Vimala mendelik. “Dasar.”Meski begitu, tangannya tetap diletakkan di atas telapak tangan Zyandru.Jari-jari mereka saling menyelip membentuk sebuah genggaman.Diam-diam hati Vimala mulai lega karena Zyandru sudah kembali seperti biasa.Mereka memilih duduk di sudut dekat jendela.Tak lama kem

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status