LOGINSetelah Luderin kembali dengan tangan yang masih agak basah, semua hidangan sudah tersedia, khusus untuk menyambut pria itu.
Suran tersenyum, “Makanan sudah siap, cepat duduk dan nikmati dengan nyaman.” Linira tersenyum begitu lembut. “Kak, semoga hidangan kali ini membuatmu puas ya?” Luderin menganggukkan kepalanya. Mereka semua pun menikmati hidangan itu. Sepanjang acara penyambutan itu yang lebih banyak bicara pada Luderin adalah Linira, sementara Suran hanya mengamati tanpa bicara. “Sial. Kenapa aku dulu begitu buta hingga tidak bisa melihat dengan jelas semua ini?” Hingga akhirnya Linira bangkit, menuangkan teh yang masih hangat, menyodorkan pada Suran. Dengan senyuman yang nampak begitu perhatian Linira berkata, “Kak, sebentar lagi kau akan menikah dengan Kak Luderin, anggap saja ini sedikit bukti baktiku padamu.” Suran mencengkram jemarinya sendiri. Di kehidupan sebelumnya, gara-gara teh itu kesucian Suran ternodai oleh seorang gelandangan yang datang entah dari mana. Namun, dia tidak mungkin merusak permainan ini. Suran menerima cangkir itu. Seketika Wulien bereaksi karena menyadari ada hal yang membuatnya tidak nyaman. “Nona, tunggu!” Semua orang menoleh pada Wulien, di saat itu pula dengan gerakan yang cepat Suran membuang separuh teh itu. “Wulien, jangan buat ribut!” peringat Linira, lalu ia pun kembali menatap Suran. Wulien langsung terdiam. Suran mengambil gesture meminum teh itu. Linira dan Luderin tersenyum puas. Beberapa saat kemudian, Suran mulai merasa gelisah. Linira dan Luderin menyadari hal itu, mereka sempat saling menatap dan melempar senyum. “Linira, kau bantu ambilkan air hangat untuk Kak Suran,” ucap Linira yang seolah begitu peduli pada kondisi Suran. Wulien mengerutkan keningnya, dia nampak keberatannya. Tetapi, sebelum sempat membuka mulut, Linira justru membentaknya, “Kau ini tidak peduli dengan Kak Suran, ya? Cepat ambil sana!” Wulien terpaksa pergi. Saat sudah akan sampai ke dapur keluarga Hideria, tiba-tiba saja ‘buggg!’ ada yang memukul dari belakang hingga ia jatuh pingsan. Suran yang terlihat semakin gelisah itu pun membuat Linira semakin senang. Gegas ia berjalan mendekat, meraih tangan Suran dengan tatapan yang seolah dia begitu khawatir. “Kak,” panggilnya lembut. “Aku minta pelayan untuk bantu ke kamar ya? Aku tidak bisa meninggalkan Kak Luderin dan yang lain di sini, tidak malah, kan?” Sambil memegangi dadanya, Suran pun menganggukkan kepalanya. “Iya. Cepat, aku tidak sanggup lagi.” Linira tersenyum. “Ah, iya.” Suran dibantu berjalan oleh pelayan pribadinya Linira. Tepat di kamar yang biasa digunakan untuk istirahat tamu, tiba-tiba pelayan itu mendorong Suran msuk ke sana. Suran terkejut. Pintu langsung ditutup membuat Siran memukul pintu terus menerus sambil meminta tolong. “Tolong! Lepaskan aku! Buka pintunya, tolong!!” Tiba-tiba saja seorang pria muncul, memeluk Suran dari belakang. “Ah! Tolonggg!!!” Pelayan itu tersenyum. Begitu memastikan Suran tidak bisa keluar, pelayanan itu pun pergi. Beberapa saat kemudian. Linira dan yang lain datang ke sana setelah mendapatkan laporan bahwa ada yang melihat Suran masuk ke kamar itu bersama seorang pria. “Ah... ah... ah... ah..” suara desahan dari dalam ruangan itu terdengar jelas. Linira berpura-pura sedih. “Kak Suran, bagaimana dia melakukan semua ini?” Luderin pun berakting seolah dia marah sekali, merasa dikhianati. “Suran, betapa kejamnya kau melakukan semua ini padaku?” “Jangan buang waktu, dobrak saja pintunya!” ucap salah satu tamu yang datang. Linira dan Luderin tidak mengatakan apapun, itu adalah reaksi yang mereka inginkan. Brak! Begitu pintu terbuka dengan kasar, pria dan wanita yang tengah bergumul dia atas tempat tidur itu terkejut, kompak membenahi pakaian mereka. Meski wajah wanita itu belum terlihat, Linira justru langsung mendramatisir keadaan. “Kakak, kenapa kakak melakukan ini? Apa kakak tidak merasa bersalah kepada Kak Luderin? Kalian akan segera menikah, bagaimana kita menjelaskan semua ini?” dilanjutkan dengan adegan Linira yang menangis terisak-isak. Luderin pun ikut mengambil peran. “Suran, aku sangat mencintaimu, kau tahu benar soal itu. Kalau kau mengkhianati ku begini bagiamana aku akan menjelaskan kepada orang tuaku yang sudah menyiapkan mahar untuk pernikahan kita?” Ailin pun tersenyum, ia tak mau ketinggalan. “Suran, sikap memalukan apa ini? Kau memang tidak pantas untuk menjadi Nyonya Hideria selanjutnya.” Mereka sudah bersiap menyambut jalan hidup mereka yang akan makin mudah, makin cemerlang karena bisa memanfaatkan Suran hingga perlahan-lahan mereka bisa menguasai harta keluarga Hideria sepenuhnya. Namun, begitu wanita itu membalikkan badannya dan nampak jelas seperti apa wajahnya, mereka bertiga pun terkejut bukan main. “Kau—” “Nona... Nona..., tolong maafkan saya. Tidak tahu kenapa semuanya jadi seperti ini, saya tidak sengaja,” ucapl pelayan itu dengan ekspresi dan nada bicara yang begitu memohon. Wanita itu ternyata bukan suran, melainkan pelayan pribadi Linira. Linira benar-benar terlihat sangat marah. Rencana yang sudah dia siapkan matang-matang ternyata gagal. “Kenapa malah pelayan pribadimu, Linira? Tadi kau salah menaruh obat atau bagaimana?” tanya Luderin berbisik. Linira menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin, jelas-jelas tadi Sudah juga sudah merasakan efek obatnya.” Ailin menghela napas, dia memijat pelipisnya yang terasa sangat berdenyut nyeri. “Linira, hal semacam ini kenapa kau sangat ceroboh?” Linira kembali menggelengkan kepalanya, ingin menjelaskan bahwa dia sudah melakukan yang terbaik tapi kesalahan ini juga tidak tahu siapa yang membuatnya. Tiba-tiba saja Suran muncul di belakang mereka. “Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Aku dengar beberapa kali kalian menyebut namaku, ya?” Semua orang yang ada di sana terperanjat. Begitu menyadari kalau Suran datang, mereka semua kompak memasang ekspresi yang pura-pura. “Ah, kak Suran...” Linira tersenyum. Ia gegas memeluk lengan Suran lalu berkata, “Kak, kami semua cuma khawatir karena tadi tiba-tiba saja Kau menghilang. Tapi begitu membuka pintu, wanita yang ada di dalam sini ternyata bukan kau, kami jadi semakin khawatir dan terus mencoba mencari tahu ada di mana kau sekarang. Tapi, melihatmu dalam keadaan baik-baik saja kami juga jadi lega.” Suran tersenyum. Sebenarnya, bisa saja dia menjebak Linira dan Luderin sekarang, tapi sayangnya waktu masih belum tepat, banyak hal yang harus mereka bayar darinya. “Eh? Itu kan pelayan pribadimu, kenapa dia ada di sana?” tanya Suran yang sengaja mengungkit hal itu agar membuat para pengkhianat di keluarganya sedikit panik. Linira memaksakan senyumnya, tidak mungkin terus mengelak karena dia pikir itu psti akan membuat Suran makin mencurigainya. Ia langsung mendekati pelayanannya yang kini bersimpuh memohon ampun. “Dasar tidak tahu malu!” ucap Linira, nadanya membentak. Pelayan pribadi Linira menggelengkan kepalanya, memohon dengan air mata yang jatuh berlinang. “Mohon ampuni saya, Nona kedua. Saya tidak tahu kenapa jagi begini, padahal saya yakin tdi saja sudah—” Plak!Satu bulan sudah berlalu sejak kejadian mengerikan di kediaman keluarga Jude. Sejak saat itu, tidak ada lagi kabar apapun tentang Linira. Sampai pada suatu sore, seorang pedagang yang sedang melewati jalan utama melihat sosok perempuan berjalan tanpa arah di pinggir jalan. Rambutnya berantakan, pakaiannya sudah kotor, kakinya bahkan tidak mengenakan alas yang layak untuk seorang gadis. Perempuan itu tiba-tiba saja berlari sambil tertawa. “Hahaha!” Beberapa orang yang sedang berjalan di sana langsung menyingkir. Linira berhenti tepat di tengah jalan. Ia menatap sebuah pohon lalu tertawa sendiri. “Lihat! Banyak sekali koin emas yang aku dapat!” Tangannya bergerak mengais tanah di bawah pohon, namun yang ditemukannya hanya daun-daun kering yang sebagian bahkan membusuk. Linira menggenggamnya erat. “Ini semua milikku!” Seorang anak kecil yang melihatnya pun tertawa. Linira tiba-tiba menoleh dan berteriak, “Jangan ambil! Jangan ambil koinku!!” Anak itu langsung
“Akhhh... sakit. Tolong!!!!” teriakan Linira menggema di ruang bawah tanah. Tubuhnya terjatuh ke lantai. Kedua tangannya segera memeluk perutnya yang terasa seperti diremas dari dalam. Napasnya tersengal-sengal berantakan. “Tolong.... kumohon...” Keringat dingin membasahi wajah dan lehernya, namun rasa sakit itu semakin hebat menghantam ke seluruh tubuhnya. Ketika Linira melihat darah yang terus mengalir, seluruh tubuhnya pun membeku. “Tidak, tidak...” Tangannya gemetar. “Tidak, anakku...” Ia berusaha bangkit, tetapi kedua kakinya tidak lagi memiliki tenaga sedikitpun. Darah terus membasahi pakaian dan lantai di bawahnya, Linira semakin menangis ketakutan. “Tolong... tolong aku...” Sayangnya, tidak ada yang menjawab. Beberapa saat sebelumnya, dua penjaga telah memperlakukannya dengan kejam. Pelecehan dengan kasar, peristiwa itu membuat Linira berada dalam kondisi sangat lemah, dan kini tubuhnya mulai menunjukkan tanda bahaya. “Jangan lakukan itu...” Linira meme
“Tuan Jude, tolong bantu aku keluar dari sini. Aku janji tidak akan menganggu hidupmu lagi, aku akan pergi. Tolong... tolong biarkan aku pergi, aku harus merawat anak ini dengan baik.” Jude menatap dingin lalu menjawab, “Anak itu tidak boleh lahir!” Linira menatap kosong untuk beberapa saat setelah mendengar ucapan Jude barusan. Perlahan matanya mulai tertuju pada pria itu dengan ekspresi yang nampak begitu kecewa. “Apa? Tuan Jude, kau benar-benar...” “Iya. Anak itu tidak boleh sampai lahir. Kalau Nanti orang di luar tahu anak itu adalah anakku, aku bisa malu. Aku tidak mau punya anak dari perempuan sepertimu, banyak orang yang akan jijik padaku nantinya.” Seluruh tubuh Linira rasanya seperti terhimpit besi panas. Sakit, sakit sekali sampai ingin banyak bicara juga sudah tidak sanggup lagi. “Kenapa kau jadi seperti ini? Aku sudah melakukan apa yang aku bisa, Kenapa kau memperlakukanku dengan sangat buruk padahal anak yang aku kandung juga anakmu?!” protes Linira. Jude melir
Di ruang bawah tanah yang lembap itu, Linira menangis tanpa henti. Tubuhnya gemetar setelah diperlakukan dengan kejam oleh penjaga yang sebelumnya datang. Tangannya terus melindungi perutnya. Bagaimanapun, bayi itu hanya akan ada sekali dalam hidupnya. “Anakku... anakku...” Air mata mengalir di wajahnya. “Tolong jangan apa-apakan anakku. Ini kehamilan pertama dan mungkin juga terakhir. Aku mohon...” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab. Linira tidak tahu bahwa semua yang terjadi malam itu bukan kebetulan. Jauh sebelum semua ini terjadi, Suran sudah mengetahui bahwa hubungan Linira dengan Jude akan berakhir seperti ini, bahkan drama ini dia juga lah yang mengaturnya. Kabar mengenai penggerebekan penginapan, pengakuan Linira sebagai calon istri Jude, hingga perselisihan dengan kedelapan istrinya, sebagian besar telah masuk ke dalam perhitungan Suran. Suran hanya perlu mendorong beberapa keadaan, sisanya akan dilakukan oleh sifat serakah dan ambisi Linira sendiri. N
Ruangan itu mendadak sunyi setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kini Linira. Dokter menatap hasil pemeriksaannya beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Dia benar-benar hamil, para Nyonya.” Linira yang sejak tadi duduk dengan wajah tegang langsung mengangkat kepala. “Apa? Apa yang aku katakan barusan?” Dokter mengangguk lalu melanjutkan, “Usia kehamilannya masih sangat muda, kira-kira dua minggu. Di usia ini, kondisi sangat rawan sehingga perlu dijaga dengan baik.” Kedelapan istri Jude saling berpandangan, tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka akan mendengar kabar seperti itu meskipun kehamilan itu sudah mereka dengar. Linira justru terlihat sangat bahagia. Tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri. “Aku benar-benar hamil...” Senyumnya muncul. “Anak Tuan Jude.” wajah Linira terlihat benar-benar bahagia, merasa yakin kalau keberadaan anak itu akan menyelamatkan dirinya. Ia menatap para istri Jude dengan keyakinan yang mulai tumbuh k
Linira menatap Jude dengan wajah kosong. “Jadi... sejak awal kau hanya sok baik? Kau cuma ingin bermain denganku?” Jude kembali menatap sinis dan berkata, “Memangnya perempuan sepertu pantasnya dianggap apa? Sejak awal kau memang sudah menargetkan ku, Kenapa pura-pura jadi korban sekarang? Kau tidak pikir aku ini bodoh sampai tidak tahu niatmu sejak awal?” Seluruh tubuh Linira limbung. Tangannya terkepal erat gemetar, baru menyadari kalau sejak awal dialah yang begitu banyak berhalusinasi. Sudah tidak ada lagi yang bisa dia katakan, apapun yang keluar dari mulut Jude selalu memojokkan dirinya. Linira akhirnya keluar dari balai keadilan dengan langkah yang terasa begitu berat. Di tangannya terdapat surat peringatan yang baru saja diberikan kepadanya, sudah ada tanda tangannya juga. Satu lembar kertas saja, namun bagi Linira, benda itu terasa begitu berat. Namanya kini tercatat dalam daftar pelanggaran dan perbuatan tidak baik yang pernah dilakukannya, bukan cuma sekali s







