Home / Zaman Kuno / Takdir sang Nona Pewaris / Bab 3 Suran yang Berbeda

Share

Bab 3 Suran yang Berbeda

Author: Nadira Dewy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-21 23:31:47

Setelah Luderin kembali dengan tangan yang masih agak basah, semua hidangan sudah tersedia, khusus untuk menyambut pria itu.

Suran tersenyum, “Makanan sudah siap, cepat duduk dan nikmati dengan nyaman.”

Linira tersenyum begitu lembut. “Kak, semoga hidangan kali ini membuatmu puas ya?”

Luderin menganggukkan kepalanya.

Mereka semua pun menikmati hidangan itu.

Sepanjang acara penyambutan itu yang lebih banyak bicara pada Luderin adalah Linira, sementara Suran hanya mengamati tanpa bicara.

“Sial. Kenapa aku dulu begitu buta hingga tidak bisa melihat dengan jelas semua ini?”

Hingga akhirnya Linira bangkit, menuangkan teh yang masih hangat, menyodorkan pada Suran. Dengan senyuman yang nampak begitu perhatian Linira berkata, “Kak, sebentar lagi kau akan menikah dengan Kak Luderin, anggap saja ini sedikit bukti baktiku padamu.”

Suran mencengkram jemarinya sendiri. Di kehidupan sebelumnya, gara-gara teh itu kesucian Suran ternodai oleh seorang gelandangan yang datang entah dari mana.

Namun, dia tidak mungkin merusak permainan ini.

Suran menerima cangkir itu.

Seketika Wulien bereaksi karena menyadari ada hal yang membuatnya tidak nyaman. “Nona, tunggu!”

Semua orang menoleh pada Wulien, di saat itu pula dengan gerakan yang cepat Suran membuang separuh teh itu.

“Wulien, jangan buat ribut!” peringat Linira, lalu ia pun kembali menatap Suran.

Wulien langsung terdiam.

Suran mengambil gesture meminum teh itu.

Linira dan Luderin tersenyum puas.

Beberapa saat kemudian, Suran mulai merasa gelisah. Linira dan Luderin menyadari hal itu, mereka sempat saling menatap dan melempar senyum.

“Linira, kau bantu ambilkan air hangat untuk Kak Suran,” ucap Linira yang seolah begitu peduli pada kondisi Suran.

Wulien mengerutkan keningnya, dia nampak keberatannya. Tetapi, sebelum sempat membuka mulut, Linira justru membentaknya, “Kau ini tidak peduli dengan Kak Suran, ya? Cepat ambil sana!”

Wulien terpaksa pergi. Saat sudah akan sampai ke dapur keluarga Hideria, tiba-tiba saja ‘buggg!’ ada yang memukul dari belakang hingga ia jatuh pingsan.

Suran yang terlihat semakin gelisah itu pun membuat Linira semakin senang. Gegas ia berjalan mendekat, meraih tangan Suran dengan tatapan yang seolah dia begitu khawatir.

“Kak,” panggilnya lembut. “Aku minta pelayan untuk bantu ke kamar ya? Aku tidak bisa meninggalkan Kak Luderin dan yang lain di sini, tidak malah, kan?”

Sambil memegangi dadanya, Suran pun menganggukkan kepalanya. “Iya. Cepat, aku tidak sanggup lagi.”

Linira tersenyum. “Ah, iya.”

Suran dibantu berjalan oleh pelayan pribadinya Linira. Tepat di kamar yang biasa digunakan untuk istirahat tamu, tiba-tiba pelayan itu mendorong Suran msuk ke sana.

Suran terkejut. Pintu langsung ditutup membuat Siran memukul pintu terus menerus sambil meminta tolong.

“Tolong! Lepaskan aku! Buka pintunya, tolong!!”

Tiba-tiba saja seorang pria muncul, memeluk Suran dari belakang.

“Ah! Tolonggg!!!”

Pelayan itu tersenyum. Begitu memastikan Suran tidak bisa keluar, pelayanan itu pun pergi.

Beberapa saat kemudian.

Linira dan yang lain datang ke sana setelah mendapatkan laporan bahwa ada yang melihat Suran masuk ke kamar itu bersama seorang pria.

“Ah... ah... ah... ah..” suara desahan dari dalam ruangan itu terdengar jelas.

Linira berpura-pura sedih. “Kak Suran, bagaimana dia melakukan semua ini?”

Luderin pun berakting seolah dia marah sekali, merasa dikhianati. “Suran, betapa kejamnya kau melakukan semua ini padaku?”

“Jangan buang waktu, dobrak saja pintunya!” ucap salah satu tamu yang datang.

Linira dan Luderin tidak mengatakan apapun, itu adalah reaksi yang mereka inginkan.

Brak!

Begitu pintu terbuka dengan kasar, pria dan wanita yang tengah bergumul dia atas tempat tidur itu terkejut, kompak membenahi pakaian mereka.

Meski wajah wanita itu belum terlihat, Linira justru langsung mendramatisir keadaan.

“Kakak, kenapa kakak melakukan ini? Apa kakak tidak merasa bersalah kepada Kak Luderin? Kalian akan segera menikah, bagaimana kita menjelaskan semua ini?” dilanjutkan dengan adegan Linira yang menangis terisak-isak.

Luderin pun ikut mengambil peran. “Suran, aku sangat mencintaimu, kau tahu benar soal itu. Kalau kau mengkhianati ku begini bagiamana aku akan menjelaskan kepada orang tuaku yang sudah menyiapkan mahar untuk pernikahan kita?”

Ailin pun tersenyum, ia tak mau ketinggalan. “Suran, sikap memalukan apa ini? Kau memang tidak pantas untuk menjadi Nyonya Hideria selanjutnya.”

Mereka sudah bersiap menyambut jalan hidup mereka yang akan makin mudah, makin cemerlang karena bisa memanfaatkan Suran hingga perlahan-lahan mereka bisa menguasai harta keluarga Hideria sepenuhnya.

Namun, begitu wanita itu membalikkan badannya dan nampak jelas seperti apa wajahnya, mereka bertiga pun terkejut bukan main.

“Kau—”

“Nona... Nona..., tolong maafkan saya. Tidak tahu kenapa semuanya jadi seperti ini, saya tidak sengaja,” ucapl pelayan itu dengan ekspresi dan nada bicara yang begitu memohon.

Wanita itu ternyata bukan suran, melainkan pelayan pribadi Linira.

Linira benar-benar terlihat sangat marah. Rencana yang sudah dia siapkan matang-matang ternyata gagal.

“Kenapa malah pelayan pribadimu, Linira? Tadi kau salah menaruh obat atau bagaimana?” tanya Luderin berbisik.

Linira menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin, jelas-jelas tadi Sudah juga sudah merasakan efek obatnya.”

Ailin menghela napas, dia memijat pelipisnya yang terasa sangat berdenyut nyeri. “Linira, hal semacam ini kenapa kau sangat ceroboh?”

Linira kembali menggelengkan kepalanya, ingin menjelaskan bahwa dia sudah melakukan yang terbaik tapi kesalahan ini juga tidak tahu siapa yang membuatnya.

Tiba-tiba saja Suran muncul di belakang mereka.

“Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Aku dengar beberapa kali kalian menyebut namaku, ya?”

Semua orang yang ada di sana terperanjat. Begitu menyadari kalau Suran datang, mereka semua kompak memasang ekspresi yang pura-pura.

“Ah, kak Suran...” Linira tersenyum. Ia gegas memeluk lengan Suran lalu berkata, “Kak, kami semua cuma khawatir karena tadi tiba-tiba saja Kau menghilang. Tapi begitu membuka pintu, wanita yang ada di dalam sini ternyata bukan kau, kami jadi semakin khawatir dan terus mencoba mencari tahu ada di mana kau sekarang. Tapi, melihatmu dalam keadaan baik-baik saja kami juga jadi lega.”

Suran tersenyum. Sebenarnya, bisa saja dia menjebak Linira dan Luderin sekarang, tapi sayangnya waktu masih belum tepat, banyak hal yang harus mereka bayar darinya.

“Eh? Itu kan pelayan pribadimu, kenapa dia ada di sana?” tanya Suran yang sengaja mengungkit hal itu agar membuat para pengkhianat di keluarganya sedikit panik.

Linira memaksakan senyumnya, tidak mungkin terus mengelak karena dia pikir itu psti akan membuat Suran makin mencurigainya.

Ia langsung mendekati pelayanannya yang kini bersimpuh memohon ampun.

“Dasar tidak tahu malu!” ucap Linira, nadanya membentak.

Pelayan pribadi Linira menggelengkan kepalanya, memohon dengan air mata yang jatuh berlinang. “Mohon ampuni saya, Nona kedua. Saya tidak tahu kenapa jagi begini, padahal saya yakin tdi saja sudah—”

Plak!

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 153 Protes Kirina

    “Apa kau tahu arti tiga hari itu juga bisa seperti tiga detik?! Kenapa kau buru-buru sekali ingin menikah?” Greyson tersenyum, tapi hal pertama yang dilakukan adalah memeluk Suran dari belakang. “Menikah bulan depan atau tahun akan sama saja, kenapa harus buang banyak waktu?” Suran menghela napas. “Aku tidak memiliki persiapan sejauh itu, Greyson. Menikah bukan sesuatu yang bisa digunakan untuk main-main.” Mendengar itu, Greyson pun mengeratkan pelukannya. “Aku tahu. Tapi aku sudah meminta orang kepercayaan ku untuk mengurus semua, kita hanya perlu melakukan sumpah pernikahan.” “Apa harus secepat ini? Greyson, apa kau tidak takut akan menyesal nantinya?” tanya Suran, meski tahu pernikahan itu dilakukan nanti atau sekarang pasti akan sama saja. Greyson tersenyum. “Menyesal? Maka karena itu, aku takut kau akan menyesal nantinya jadi aku putuskan untuk segera menikahi mu. Kalau sudah masa menyesal mu itu datang, kau tentu tidak bisa berbuat apa-apa karena kita sudah terikat hubunga

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 152 Tiga Hari = Tiga Detik

    Greyson tersenyum, dia bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Pangeran kedua, begitu juga dengan pangeran lain yang terobsesi menjadi Raja berikutnya. “Saya mencintai wanita itu lebih dari apapun, bahkan sudah menunggunya lama sekali. Yang Mulia, saya harap kali ini berikan saya kewenangan untuk menentukan siapa yang akan saya nikahi,” ucap Greyson yang makin membuat Pengaran kedua puas meski tidak ada ekspresi jelas yang ditunjukkan. Pangeran ke-6 juga merasakan kepuasan itu. Dia hanya tahu kalau Greyson adalah pria payah yang sebenarnya hanya memiliki sedikit kelebihan dan kepintaran. Raja pun menghela napas. Greyson tidak pernah menuntut apapun, permintaan kali ini juga tidak bisa dengan mudah ditolak oleh Raja. Awalnya, Raja pikir karena Greyson tidak pernah protes akan semua keputusan yang dia ambil, maka itulah yang jadi alasan Raja memutuskan menikahkan Greyson dengan Kirina. Greyson memang memiliki kemampuan untuk menjadi Raja, tapi karena Raja ingin Greyson

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 151 Menolak Perjodohan

    Suran menghela napas, menggeleng heran dengan Greyson yang mengirimkan hadiah Banyaka sekali. Wulien menatap kotak-kotak perhiasan dan peti uang yang melimpah di hadapannya dengan sorot mata yang berbinar. “Nona, pangeran ke-9 benar-benar mengirimkan semua ini untuk anda? Dia... sudah gila atau bagaimana? Mengirimkan hadiah sebanyak ini apa bedanya mengalihkan seluruh hartanya untuk anda?” Pada akhirnya, perlahan bibir Suran tertarik membentuk senyuman. Rasanya ingin sekali ia menahan dan tidak tersenyum, tapi sungguh sulit untuk melakukannya. “Dia sedang menunjukkan padaku bahwa dia tidak main-main,” ucap Suran pelan. Wulien pun tersenyum lega. Dia tahu kalau pangeran ke-9 yang selama ini menyamar sebagai Rey adalah orang yang bicara tanpa dipikirkan dulu, tapi dia memang adalah orang baik. “Nona, Pangeran Greyson banyak membantu anda secara diam-diam, saya harap dia benar-benar tulus seperti yang saya pikirkan,” ujar Wulien. Suran tidak mengatakan apapun, tapi kali ini d

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 150 Kemana Pangeran Greyson?

    Brak! Pangeran ke-6 memukul meja, melampiaskan emosi yang tidak bisa dia tahan. “Kenapa aku selalu gagal untuk melumpuhkan Suran? Dia seperti bisa memprediksi apa saja yang akan aku lakukan. Perempuan itu ternyata orang yang sangat sulit dihadapi. Kalau begini terus... makin sulit untuk bisa menikah dengannya,” ucap pangeran ke-6 begitu mendengar kabar dari salah satu pengawal pribadinya yang mengatakan kalau rencana mereka untuk menjebak Suran gagal total, bahkan sebelum rencana itu sampai dipertengahan jalan. Pengawal itu pun tertunduk, merasa gagal tapi kali ini gagal yang dirasakan seperti sangat aneh. “Pangeran, menurut saya, Nona Suran pasti memiliki mata-mata di istana ini. Entah kenapa saya merasa setiap gerakan dan rencana yang kita susun begitu cepat untuk diketahui,” ucap pengawal pangeran. Mendengar itu, Pangeran ke-6 pun mengepalkan tangannya. Tidak ada yang tidak mungkin, bagaimanapun pengaruh yang dimiliki oleh keluarga Hideria memang sangat besar di istana

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 149 Sepenggal Cerita

    Wulien ingin mendorong pintu, tapi dia justru lebih dulu mendengar suara aneh dari orang yang ada di dalam sana. “Ahhhh...” Seketika membeku, Wulien bahkan sempat lupa bernapas untuk beberapa saat. Ia pun menggigit bibir bawahnya, mencoba menguping lebih dalam lagi suara siapa yang ada di dalam. Tidak berani masuk, bagaimanapun jelas kalau Suran tidak sedang mengeluarkan suara kesakitan. Terlalu aneh bagi Wulien sampai gadis itu hanya bisa diam membeku. “Greyson, jangan menjilat di sana! Ahhhh... hen... hentikan... ahhh...” Wulien merasakan tubuhnya merinding hebat, bahkan sampai panas dingin tak tentu. Glek... Beberapa kali ia menelan ludah hingga akhirnya menggelengkan kepalanya, lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. “Gila... apa yang dilakukan Nona Suran dan pangeran ke-9 di dalam sana? Aku... kenapa wajahku panas sekali?” Beberapa saat kemudian, Suran tengah mengatur nafasnya yang memburu, begitupun dengan Greyson. Pria itu masih di atasnya, enggan untuk

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 148 Sesuatu Terjadi

    Suran ingin melepaskan ciuman itu, menjauhkan Greyson darinya, tapi pria itu justru mencengkram erat tu ibunya, enggan untuk melepaskan. “Ugh...!” keluh Suran karena merasa sesak. Saat itulah Greyson mulai tersadar bahwa dia tidak boleh kelewatan. Dengan cepat ia melepaskan tubuh Suran, membiarkan Suran selamat dari rasa haus yang keterlaluan itu. “Maaf, maafkan aku... aku...” Greyson melepaskan pakaian luarnya, kali ini dia benar-benar berharap hal itu bisa mengurangi rasa panas yang terus muncul dari tubuhnya. Meskipun saat ini cuaca cukup dingin, hal itu sama sekali tidak bisa lagi Greyson rasakan. Suran benar-benar tercengang melihat bagaimana keadaan Greyson. Sebenarnya, yang ingin dia lakukan tadi begitu Greyson bisa sadar dan melepaskannya adalah langsung memaki pria itu, tetapi melihat bagaimana kondisinya sekarang tentu saja mustahil untuk dia lakukan. “Kau kenapa?” tanya Suran. Greyson terengah-engah, wajahnya semakin merah, matanya bahkan sampai berair.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status