Home / Zaman Kuno / Takdir sang Nona Pewaris / Bab 7 Keinginan Terjelas

Share

Bab 7 Keinginan Terjelas

Author: Nadira Dewy
last update publish date: 2026-06-26 21:16:19

Suran tersenyum, “Hadiah ini...” ia mengedarkan pandangannya, menikmati momen di mana Luderin benar-benar berpikir barang semahal itu hanya untuk dirinya saja.

“Suran, berikan padaku, aku janji akan menjaga pemberian darimu,” ucap Luderin.

Pria itu bahkan tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. Matanya seolah silau oleh kilau benda itu, bahkan sudah mulai membayangkan bagaimana tatapan iri dan pujian dari pada pejabat istana lain jika melihat dia menggunakan set alat tulis dengan harga yang sangat fantastis.

Namun, sayang sekali karena semua gambaran indah di kepalanya seketika lenyap saat Suran kembali membuka mulutnya.

“Untuk anda, Tuan bertopeng.”

Luderin dan semua orang yang ada di sana benar-benar sangat terkejut mendengarnya.

Benar saja, di ujung ruangan ada seorang pria menggunakan topeng di wajahnya. Pria itu duduk dengan santai, sedangkan matanya sejak tadi hanya mengamati tanpa bicara sedikitpun.

“Suran, kau ini sedang bicara apa? Kau sedang bercanda, kan?” tanya Luderin, dia terus menatap Suran, berharap wanita itu segera berhenti main-main karena perasaan dipermalukan itu adalah sesuatu yang sangat tidak nyaman.

Pria bertopeng itu menoleh ke kanan dan ke kiri, jelas tidak ada orang lain di sekitarnya, dia hanya sendiri di sana karena sejak tadi orang-orang terus berkumpul untuk menjilat Suran demi keuntungan pribadi.

“Suran,” panggil Luderin lagi, kali ini smpai menggoyang lengannya.

Dengan santai Suran menarik lengannya, tidak ingin menatap Luderin lebih lama, hanya saat dia bicara saja. “Maaf. Aku sengaja membeli barang ini sebagai hadiah kejutan untuk tamu yang hadir, jadi di pertemuan keluarga lain kali mereka akan datang lebih bersemangat lagi.”

Luderin ingin membuka mulut, tapi tidak jadi mengatakan apapun karena Suran lebih dulu melangkahkan kakinya menuju tempat pria bertopeng itu berada.

Semua mata mengikuti langkah Suran tanpa berani menghentikan wanita itu.

Begitu sampai di hadapan pria itu, Sudah mengulurkan hadiah tersebut dengan senyuman yang nampak manis. “Tuan, sudi kah anda menerima hadiah yang tidak seberapa berharga ini?”

Pria itu terdiam untuk beberapa detik hingga akhirnya dia mulai tersenyum tipis, penuh makna.

“Nona Hideria, kau pasti salah orang. Aku bukan pria yang akan menggunakan benda itu, tidak akan menganggapnya spesial juga. Aku selalu bermain dengan pedang. Kau sungguh salah orang,” ucap Pria itu, suaranya benar-benar datar tapi anehnya terasa dingin, menekan, penuh dengan perhitungan.

Namun, Suran tidak akan membuat Luderin menerima semua itu.

Suran tersenyum. Ia meraih tangan pria itu, membuat pria itu menatap tajam kaget, namun sebelum bicara Suran justru sudah mendahuluinya.

“Tuan, tidak ada pemberian yang akan salah alamat. Anggap saja ini bukan sesuatu yang spesial sekarang, mungkin lain waktu anggapan tentang benda ini tidak akan sama lagi.” Suran menyerahkan kotak hadiah tersebut di tangan pria itu.

Pria itu terdiam. Tangannya benar-benar kaku, tidak bisa menolak lagi.

Suran tersenyum, melepaskan tangannya dari pria itu. “Tuan, semoga nanti benda itu akan ada manfaatnya bagi anda.”

Meski nampak enggan menerima pada awalnya, tapi pria itu pun tersenyum. “Karena Nona Hideria memaksa, aku juga tidak akan menolak lagi.”

Suran tertegun. Dia sama sekali tidak terpesona, tapi senyuman dan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu rasanya benar-benar aneh. Entah ini perasaannya saja atau bukan, tapi pria yang menyembunyikan wajahnya di balik topeng itu sepertinya orang yang tidak bisa dia sentuh sembarangan.

Meski kaki, Suran mencoba untuk tetap tersenyum. “Baiklah, Tuan. Semoga anda nyaman di sini, mohon untuk lanjutkan aktivitas anda.”

Begitu membalikkan badannya, Suran kini harus melihat bagaimana tatapan mata Luderin yang begitu marah, wajahnya merah padam, tarikan napasnya juga tidak stabil.

Diam-diam Suran tersenyum. Dia tahu sekali kalau sekarang Luderin pasti merasa sangat malu, kecewa, dan marah yang meluap-luap.

Semua anggota keluarga saling melemparkan tatapan mata yang aneh dan penuh makna, bisik-bisik di antara mereka tidak terdengar jelas, tapi sepertinya cukup untuk Suran artikan maksudnya.

“Tidak masuk akal. Kenapa hadiah seperti itu tidak diberikan pada Luderin? Dibanding siapapun yang ada di sini, harusnya cuma Luderin yang akan lebih sering menggunakan benda itu, kan?”

Luderin langsung menghampiri Suran. Mencengkram kedua lengan gadis cantik itu, menatap dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa disembunyikan bagaimana perasaannya saat ini. Nadanya berbisik karena tidak ingin ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. “Kenapa kau melakukan ini padaku, Suran? Hadiah seperti itu kenapa kau berikan pada Greyson? Apa kau tidak peduli bagaimana orang-orang itu akan menuduh hubungan kita tidak baik?”

Mendengar itu, Suran pun mengerutkan keningnya. “Greyson?”

“Iya. Dulu aku pernah menceritakan ini padamu, dia adalah orang yang pernah menolongku dari perampok. Aku memang sudah berteman dengannya sejak itu, tapi bukan berarti kau bisa memberikan hadiah yang harusnya kau berikan padaku padanya.”

Meski tidak menunjukkan secara jelas senyum di wajahnya, Suran kini benar-benar semakin menyukai tindakannya.

“Jadi... dia orangnya?” gumam Suran. Di dalam hatinya berpikir, bagus juga kalau bisa membuat mereka berdua berselisih paham.

Suran pun mengingat, di kehidupan sebelumnya dia tidak terlalu peduli dengan orang yang menolong Luderin, menganggap hal lain tidak sepenting Luderin.

Namun, Suran juga ingat kalau sampai dia mati mengenaskan saat itu, kabar tentang si penolong Luderin tidak pernah lagi terdengar, bahkan pria itu seperti menghilang tanpa jejak.

“Suran, minta kembali benda itu darinya. Kau bilang saja tadi sedang salah paham padaku jadi melakukan semua itu untuk membuatku cemburu. Ayo cepat, bantu aku untuk menyelamatkan mukaku,” pinta Luderin, tapi itu jelas perintah untuk Suran.

Suran menghela napas. “Luderin, kau tidak berpikir kalau sahabatmu itu adalah orang yang bisa dipermainkan begitu saja, kan?”

Semakin tidak sabaran, Luderin sampai mencengkram lengan Suran kuat membuat Suran mendesis menahan sakit.

“Lepaskan!” ucap Suran sambil menyingkirkan tangan Luderin dengan kasar.

Luderin terkejut. Ini kali pertama Suran membentak dirinya. Sadar tidak boleh membuat Suran kesal, ia langsung mengeluarkan bujuk rayunya.

“Ayolah Suran ku sayang... aku sangat ingin hadiah itu,” ucapnya.

Suran tersenyum. Tanpa mengatakan apapun, dia berbalik dan berjalan menuju tempat di mana pria bernama Gresyon itu berada.

Walaupun dia tidak tahu tentang kehidupan dan mengenal Greyson, tapi dia harap pria itu tidak bersikap mengecewakan.

Begitu sampai di hadapan pria itu, Suran langsung bicara tanpa basa basi. “Tuan Greyson, sahabatmu memintaku untuk mengambil kembali hadiah itu. Bagaimana menurutmu?”

Pria bernama Greyson tersenyum. Sejenak melihat pada Luderin yang tengah tersenyum penuh harap, ia pun menjawab, “Karena Luderin itu memang temanku, maka aku pasti...”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 168 Keberuntungan

    Tiba-tiba saja Ratu mulai membuka pembicaraan untuk Amera. “Sudah bertahun-tahun kau pergi, apakah kau memutuskan tinggal di istana lagi mulai sekarang?” Mendengar pertanyaan itu, Amera pun tersenyum. “Istana ini bukan milikku, bagaimana bisa aku datang dan pergi sesuka hati, Yang mulia Ratu? Aku akan pergi ketika apa yang menjadi urusanku dan putraku selesai.” Mendengar itu, Ratu nampak diam, tapi Suran bisa melihat tatapan matanya yang berbeda. “Aku tahu Ratu memang cerdik, tapi aku tidak tahu kalau dia memang sangat licik,” pikir Suran. Greyson menggenggam tangan Suran, kini tangan mereka ada di bawah meja, saling bertautan dengan hangat. “Istriku, matamu yang cerdik itu pasti sudah melihat sesuatu, kan?” bisik Greyson pada Suran. Suran menghela napas, sejenak menatap Greyson dan membalas dengan suara yang pelan, “Sama sepertimu, di mataku kalian semua sama, bahkan aku juga memiliki kelicikan ku sendiri.” Ucapan Suran barusan membuat Greyson ingin tertawa. “Jan

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 167 Kembalinya Amera

    Ibunya Greyson pun terlihat serius kali ini. “Ibu sudah kembali, sekarang tidak akan ada lagi penyiksaan untuk siapapun dari kita.” Suran mengerutkan keningnya, bingung. “Maksud anda apa, Ibu?”Ibunya Greyson yang bernama Amera itu menatap Suran lalu tersenyum dan menjawab, “Selama ini, aku dan Greyson hidup dengan penyamaran untuk menyelamatkan nyawa. Kami diam-diam membangun kekuatan untuk membalikkan keadaan. Ini sudah waktunya, kita harus mengakhiri semua ini.”Greyson tersenyum sambil merangkul Suran. “Ibuku juga sudah sembuh, aku pastikan wajahnya sangat cantik, terlihat jauh lebih muda dibandingkan usianya yang sekarang. Karena kami sudah punya kekuatan, maka kami tidak akan diam lagi.”Suran masih tidak mengerti. Ia menatap Greyson seolah ingin menuntut lebih banyak lagi informasi. “Apa maksudnya?”Amera meraih tangan Suran lalu berkata dengan pelan, “Membalas semua yang telah menyakiti aku dan Greyson selama ini dan mengambil apa yang sudah istana ini ambil dari kami.”Grey

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 166 Tidak Akan Ada Lagi

    Setelah kejadian mencurigakan saat sarapan, Suran dan Greyson memutuskan untuk tidak menyentuh hidangan apa pun yang disiapkan oleh dapur istana untuk sementara waktu. Mereka hanya menikmati buah-buahan segar yang telah diperiksa oleh pengawal kepercayaan Greyson. Meski sarapan mereka jauh lebih sederhana daripada biasanya, keduanya tidak mempermasalahkannya. Setelah selesai makan, seorang pengawal datang menyampaikan kabar bahwa ibu Greyson telah tiba di balai utama istana. “Ibumu sudah datang?” Suran menoleh kepada Greyson. Greyson mengangguk. “Benar. Sepertinya beliau tiba lebih cepat daripada yang diperkirakan.” Suran spontan merapikan pakaian yang dikenakannya. Ia memeriksa rambutnya sekilas, kemudian kembali duduk sejenak seolah-olah baru teringat sesuatu. Greyson memperhatikannya dengan heran. “Sayang, kau kenapa?” “Tidak, tidak ada.” “Tapi kau terlihat gugup.” Suran meliriknya. “Aku... aku sama sekali tidak gugup.” “Benarkah?” Greyson menahan senyumnya. “

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 165 Gagal Lagi

    Pagi hari setelah malam pengantin mereka, kediaman Greyson nampak sedikit berbeda, Suran yang terus merengut sebal karena pinggangnya yang terasa nyeri. Greyson hanya bisa membalasnya dengan senyuman, tapi dia juga sudah berusaha memberikan pijatan agar istrinya itu nyaman. Ibunya Greyson akan datang sebentar lagi, maka itu mereka juga harus segera bergegas. Suran duduk di salah satu kursi, sementara Greyson baru saja memasuki ruang makan setelah menyelesaikan urusannya dengan para pengawal.“Sudah selesai?” Greyson menganggukkan kepalanya sambil menarik kursi di sampingnya. “Selamat pagi, istriku. Bagaimana tidurmu semalam? Maaf aku sudah pergi sebelum kau bangun.” “Tidak masalah, kau pergi cepat juga membuatku tidur nyenyak.” Greyson terkekeh pelan. “Kalau begitu, malam nanti aku akan lebih bekerja keras. Istriku nampak kurang puas sepertinya.”Suran melotot kaget dan marah. “Dasar mesum gila!” “Hahaha....!” tawa Greyson. Seorang pelayan mendekat dan mulai menyajikan

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 164 Kebencian Semakin Menjadi

    Belum sempat Suran bicara setelah membuka mulut, Greyson sudah lebih dulu bergerak untuk mencium bibirnya. “Emmm...” Suran melenguh. Terlalu buru-buru, tidak ada persiapan untuk Suran menghadapi semua itu. Ciuman yang semula hangat dan penuh perasaan pun makin lama makin membara. Malam pertama pernikahan ini terlalu spesial walaupun melakukan hubungan intim bukanlah hanya pertama untuk mereka. Namun, pertama kali untuk mereka terlalu rancu, semuanya terjadi bukan karena mereka sendiri yang benar-benar mau. Tidak, tidak akan Greyson lewatkan malam ini meskipun dia tahu masih banyak malam berikutnya. Tangan Greyson bergerak lincah, menyentuh bagian-bagian terlarang pada tubuh Suran. Tidak bisa menolak perasaan itu, Suran hanya bisa pasrah menikmatinya hingga lupa apa itu rasa malu. Beberapa saat kemudian, hanya suara desahan yang saling bersahutan dari bibir keduanya. Wulien yang sempat ingin masuk membawa handuk dan lainnya terpaksa mundur, menjauh agar tid

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 163 Sudah Terencana

    Malam itu, ketika sebagian besar penghuni istana telah terlelap, beberapa sosok berpakaian hitam bergerak diam-diam melewati lorong-lorong gelap menuju kediaman Pangeran Kesembilan. Mereka adalah orang-orang yang dikirim oleh Pangeran Keenam. Perintah yang mereka terima sangat jelas, melenyapkan Greyson dan Suran sebelum fajar menyingsing. Tidak boleh ada seorang pun yang selamat untuk menceritakan apa yang terjadi, dan tidak boleh ada bukti yang mengarah kepada sang pangeran. Bagi Pangeran Keenam, malam pengantin itu merupakan kesempatan terbaik. Ia mengira Greyson dan Suran akan terlena dalam kebahagiaan pernikahan mereka, tidak menyadari bahwa bahaya sedang mendekat. Namun, ia telah membuat kesalahan besar. Jauh sebelum para penyusup meninggalkan tempat persembunyian mereka, Greyson sudah mengetahui rencana tersebut. Di salah satu ruangan tersembunyi di kediamannya, seorang pria berpakaian gelap berlutut di hadapan Greyson. “Pangeran, orang-orang itu sudah bergerak. M

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status