เข้าสู่ระบบSuran tersenyum, “Hadiah ini...” ia mengedarkan pandangannya, menikmati momen di mana Luderin benar-benar berpikir barang semahal itu hanya untuk dirinya saja.
“Suran, berikan padaku, aku janji akan menjaga pemberian darimu,” ucap Luderin. Pria itu bahkan tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. Matanya seolah silau oleh kilau benda itu, bahkan sudah mulai membayangkan bagaimana tatapan iri dan pujian dari pada pejabat istana lain jika melihat dia menggunakan set alat tulis dengan harga yang sangat fantastis. Namun, sayang sekali karena semua gambaran indah di kepalanya seketika lenyap saat Suran kembali membuka mulutnya. “Untuk anda, Tuan bertopeng.” Luderin dan semua orang yang ada di sana benar-benar sangat terkejut mendengarnya. Benar saja, di ujung ruangan ada seorang pria menggunakan topeng di wajahnya. Pria itu duduk dengan santai, sedangkan matanya sejak tadi hanya mengamati tanpa bicara sedikitpun. “Suran, kau ini sedang bicara apa? Kau sedang bercanda, kan?” tanya Luderin, dia terus menatap Suran, berharap wanita itu segera berhenti main-main karena perasaan dipermalukan itu adalah sesuatu yang sangat tidak nyaman. Pria bertopeng itu menoleh ke kanan dan ke kiri, jelas tidak ada orang lain di sekitarnya, dia hanya sendiri di sana karena sejak tadi orang-orang terus berkumpul untuk menjilat Suran demi keuntungan pribadi. “Suran,” panggil Luderin lagi, kali ini smpai menggoyang lengannya. Dengan santai Suran menarik lengannya, tidak ingin menatap Luderin lebih lama, hanya saat dia bicara saja. “Maaf. Aku sengaja membeli barang ini sebagai hadiah kejutan untuk tamu yang hadir, jadi di pertemuan keluarga lain kali mereka akan datang lebih bersemangat lagi.” Luderin ingin membuka mulut, tapi tidak jadi mengatakan apapun karena Suran lebih dulu melangkahkan kakinya menuju tempat pria bertopeng itu berada. Semua mata mengikuti langkah Suran tanpa berani menghentikan wanita itu. Begitu sampai di hadapan pria itu, Sudah mengulurkan hadiah tersebut dengan senyuman yang nampak manis. “Tuan, sudi kah anda menerima hadiah yang tidak seberapa berharga ini?” Pria itu terdiam untuk beberapa detik hingga akhirnya dia mulai tersenyum tipis, penuh makna. “Nona Hideria, kau pasti salah orang. Aku bukan pria yang akan menggunakan benda itu, tidak akan menganggapnya spesial juga. Aku selalu bermain dengan pedang. Kau sungguh salah orang,” ucap Pria itu, suaranya benar-benar datar tapi anehnya terasa dingin, menekan, penuh dengan perhitungan. Namun, Suran tidak akan membuat Luderin menerima semua itu. Suran tersenyum. Ia meraih tangan pria itu, membuat pria itu menatap tajam kaget, namun sebelum bicara Suran justru sudah mendahuluinya. “Tuan, tidak ada pemberian yang akan salah alamat. Anggap saja ini bukan sesuatu yang spesial sekarang, mungkin lain waktu anggapan tentang benda ini tidak akan sama lagi.” Suran menyerahkan kotak hadiah tersebut di tangan pria itu. Pria itu terdiam. Tangannya benar-benar kaku, tidak bisa menolak lagi. Suran tersenyum, melepaskan tangannya dari pria itu. “Tuan, semoga nanti benda itu akan ada manfaatnya bagi anda.” Meski nampak enggan menerima pada awalnya, tapi pria itu pun tersenyum. “Karena Nona Hideria memaksa, aku juga tidak akan menolak lagi.” Suran tertegun. Dia sama sekali tidak terpesona, tapi senyuman dan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu rasanya benar-benar aneh. Entah ini perasaannya saja atau bukan, tapi pria yang menyembunyikan wajahnya di balik topeng itu sepertinya orang yang tidak bisa dia sentuh sembarangan. Meski kaki, Suran mencoba untuk tetap tersenyum. “Baiklah, Tuan. Semoga anda nyaman di sini, mohon untuk lanjutkan aktivitas anda.” Begitu membalikkan badannya, Suran kini harus melihat bagaimana tatapan mata Luderin yang begitu marah, wajahnya merah padam, tarikan napasnya juga tidak stabil. Diam-diam Suran tersenyum. Dia tahu sekali kalau sekarang Luderin pasti merasa sangat malu, kecewa, dan marah yang meluap-luap. Semua anggota keluarga saling melemparkan tatapan mata yang aneh dan penuh makna, bisik-bisik di antara mereka tidak terdengar jelas, tapi sepertinya cukup untuk Suran artikan maksudnya. “Tidak masuk akal. Kenapa hadiah seperti itu tidak diberikan pada Luderin? Dibanding siapapun yang ada di sini, harusnya cuma Luderin yang akan lebih sering menggunakan benda itu, kan?” Luderin langsung menghampiri Suran. Mencengkram kedua lengan gadis cantik itu, menatap dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa disembunyikan bagaimana perasaannya saat ini. Nadanya berbisik karena tidak ingin ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. “Kenapa kau melakukan ini padaku, Suran? Hadiah seperti itu kenapa kau berikan pada Greyson? Apa kau tidak peduli bagaimana orang-orang itu akan menuduh hubungan kita tidak baik?” Mendengar itu, Suran pun mengerutkan keningnya. “Greyson?” “Iya. Dulu aku pernah menceritakan ini padamu, dia adalah orang yang pernah menolongku dari perampok. Aku memang sudah berteman dengannya sejak itu, tapi bukan berarti kau bisa memberikan hadiah yang harusnya kau berikan padaku padanya.” Meski tidak menunjukkan secara jelas senyum di wajahnya, Suran kini benar-benar semakin menyukai tindakannya. “Jadi... dia orangnya?” gumam Suran. Di dalam hatinya berpikir, bagus juga kalau bisa membuat mereka berdua berselisih paham. Suran pun mengingat, di kehidupan sebelumnya dia tidak terlalu peduli dengan orang yang menolong Luderin, menganggap hal lain tidak sepenting Luderin. Namun, Suran juga ingat kalau sampai dia mati mengenaskan saat itu, kabar tentang si penolong Luderin tidak pernah lagi terdengar, bahkan pria itu seperti menghilang tanpa jejak. “Suran, minta kembali benda itu darinya. Kau bilang saja tadi sedang salah paham padaku jadi melakukan semua itu untuk membuatku cemburu. Ayo cepat, bantu aku untuk menyelamatkan mukaku,” pinta Luderin, tapi itu jelas perintah untuk Suran. Suran menghela napas. “Luderin, kau tidak berpikir kalau sahabatmu itu adalah orang yang bisa dipermainkan begitu saja, kan?” Semakin tidak sabaran, Luderin sampai mencengkram lengan Suran kuat membuat Suran mendesis menahan sakit. “Lepaskan!” ucap Suran sambil menyingkirkan tangan Luderin dengan kasar. Luderin terkejut. Ini kali pertama Suran membentak dirinya. Sadar tidak boleh membuat Suran kesal, ia langsung mengeluarkan bujuk rayunya. “Ayolah Suran ku sayang... aku sangat ingin hadiah itu,” ucapnya. Suran tersenyum. Tanpa mengatakan apapun, dia berbalik dan berjalan menuju tempat di mana pria bernama Gresyon itu berada. Walaupun dia tidak tahu tentang kehidupan dan mengenal Greyson, tapi dia harap pria itu tidak bersikap mengecewakan. Begitu sampai di hadapan pria itu, Suran langsung bicara tanpa basa basi. “Tuan Greyson, sahabatmu memintaku untuk mengambil kembali hadiah itu. Bagaimana menurutmu?” Pria bernama Greyson tersenyum. Sejenak melihat pada Luderin yang tengah tersenyum penuh harap, ia pun menjawab, “Karena Luderin itu memang temanku, maka aku pasti...”Sejak Greyson mengutarakan keinginannya untuk menikah, pikirannya terus dipenuhi berbagai pertanyaan. Pria itu bahkan sudah memintanya memberikan jawaban. Namun Suran belum mampu mengatakannya. Ia masih membutuhkan waktu. Bukan karena dirinya membenci Greyson, justru sebaliknya, Suran mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap pria itu sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Hanya saja, bayangan masa lalu masih terlalu kuat. Pernikahan. Kata itu saja sudah cukup membuat hati Suran terasa berat. Di kehidupan sebelumnya, pernikahan justru menjadi awal dari kehancurannya, ia pernah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada seseorang, dan sebagai balasannya, ia mendapatkan pengkhianatan. Suran menghela napas. “Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.” Namun kali ini ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Greyson. Suran kemudian mulai mencari tahu lebih banyak tentang Pangeran Kesembilan. Ia meminta orang kepercayaannya mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Ha
Suran mengerutkan keningnya. “Kau... kau... bocah yang tinggal di bilik terpencil istana? Kau yang selalu diam di atas pohon dan hanya melihat dari atas sana?”Greyson tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Iya, itu aku. Hari itu adalah hari paling mengejutkan dan berkesan bagiku. Pertama kali akua melihat wajah gadis kecil yang sangat cantik, tapi senyumnya juga jauh lebih cantik. Saat itu, matamu benar-benar memiliki binar yang cerah seolah tidak akan ada kegelapan di hidup mu.”Suran tidak mengatakan apapun, saat itu dia masih anak-anak, tentu saja semua yang dia ekspresikan adalah nyata, dan polos. “Sejak saat itu aku selalu berusaha untuk melihatmu walaupun harus dari jarak kejauhan.”Kali ini, Suran pun mulai merasa penasaran. “Lalu, semua yang terjadi belakangan ini... apa kau juga yang sengaja merencanakannya? Maksudku... pertemuan kita dan bagaimana kita akhirnya bisa dibilang agak akrab.”Greyson tertawa ringan, namun dia menjawab dengan serius. “Iya. Aku sengaja menjadi
Di ambang pintu Rey tersenyum. Pria itu sudah percaya diri tidak menggunakan topeng di hadapan Suran lagi. “Aku hanya merindukan mu, jadi aku tidak tahan lagi, dan memutuskan untuk segera datang,” jawab Rey. Suran membuang napas berat, bola matanya berputar jengah. “Omong kosong mu sudah selesai? Aku benar-benar tidak menyangka kalau kediaman Hideria bisa membuat mu keluar masuk sesuka hati.”Tidak nampak menyesal, Rey justru tersenyum lebar klau berjalan mendekati Suran. Ia duduk nyaman di seberang meja, menatap gadis itu dengan perasaan nyaman. “Beberapa waktu terakhir ini aku sibuk dengan berbagai macam hal, terutama melindungi mu dari pangeran ke 6. Kau benar-benar akan bersikap sinis seperti ini setelah apa yang aku lakukan untuk mu?”Sejenak Suran terdiam. Memang benar belakangan ini dia mengetahui pergerakan pangeran ke-6, mulai dari ingin memfitnah Suran, menyebarkan gosip tentang hubungan mereka, dan berbagai macam cara yang bahkan sampai mengarah pada kekerasan secara men
Meski Linira menolak hukuman itu, nyatanya tak ada satupun yang bisa menolongnya. Dulu, Ibunya yang selalu mencari cara untuk menyelematkan dirinya, namun sekarang dang Ibu telah tiada, bahkan penyebabnya adalah dia yang sebagai anak kandung. LInira pun menangis. Tiba-tiba ia mulai tersadar kalau ia salah telah membunuh Ibunya, ia salah karena hanya memikirkan diri sendiri, ia salah karena terbawa obsesi bodoh hingga tega mengakhiri hidup Ibunya sendiri. “Ibu, aku minta maaf... aku tidak mau begini, aku mau dengan Ibu di sini. Ibu... aku benar-benar menyesal.” Sayangnya, penyesalan itu tidak memiliki arti apapun. Sebesar gunung penyesalan itu bahkan tidak akan membawa kembali Ibunya yang sudah tiada. Akhirnya, Linira dipaksa mengambil posisi hingga tali kokoh dipasang di lehernya setelah kepalanya di tutup. Dia tidak bisa mengatakan apapun lagi karena mulutnya disumpal kain hingga penuh. Air matanya terus mengalir hingga kain penutup kepalanya ikut tekena bercak air mata
Linira terduduk di sudut sel dengan tubuh gemetar. Air matanya tidak berhenti mengalir. “Biarkan aku keluar...” Suaranya serak. “Aku tidak membunuh ibuku.” Ia merangkak mendekati jeruji ketika mendengar langkah petugas. “Tolong...” Petugas yang berjaga hanya melirik sekilas. “Aku benar-benar tidak bersalah!” Tidak ada jawaban, Linira menggenggam jeruji dengan kedua tangannya. “Kalian harus percaya kepadaku!” Petugas tetap diam, tidak ada minat membantu Linira keluar. “Bukti sudah diperiksa di balai keadilan. Putusan sudah dijatuhkan.” “Tidak!” Linira menggeleng keras. “Itu semua salah!” Ia mulai menangis semakin hebat. “Ada seseorang yang menjebak ku!” Petugas menatapnya datar. “Kalau begitu sampaikan kepada pengadilan saja kemarin.” “Aku sudah mencoba!” Linira terisak. “Tidak ada yang mau mendengarkan!” Petugas menghela napas. “Karena semua bukti yang ada mengarah padamu. Mereka juga tidak akan mungkin acuh kalau menemukan kejanggalan.” Linira membeku. Beberapa detik kemud
Linira dibawa ke Balai Keadilan menjelang siang. Kedua tangannya terikat, sementara beberapa penjaga berjalan di belakangnya. Sepanjang perjalanan, Linira terus menatap kosong ke depan. Ia masih tidak percaya semuanya berubah secepat ini. Beberapa hari lalu ia masih tinggal di kediaman Tuan Ken. Sekarang dirinya justru menjadi tersangka pembunuhan. Begitu memasuki ruang persidangan, Linira melihat beberapa orang sudah menunggu. Hakim utama duduk di tempatnya. Para pejabat pencatat berada di sisi ruangan. Beberapa saksi juga telah dipanggil dan di atas meja panjang di hadapan hakim, sejumlah bukti sudah disusun. “Sidang dimulai.” Suasana langsung hening. Hakim membuka dokumen pertama. “Tersangka Linira diduga terlibat dalam kematian Nyonya Ailin.” Linira segera membantah. “Aku tidak membunuh ibuku!” Hakim mengangkat tangan. “Kau akan mendapatkan kesempatan untuk memberikan kesaksian. Jangan menyela.” Linira terpaksa diam. Satu demi satu bukti diperiksa







