تسجيل الدخولSuran mengarahkan tatapan matanya ke arah lurus, tempat di mana sepasang manusia yang sepertinya habis melakukan sesuatu yang tidak biasa. “Kalian... apa yang kalian lakukan di kamarku?!” Semua orang menjadi tegang, sementara Linira merasakan tubuhnya yang gemetar. Sepasang manusia yang ada di sana itu adalah Ailin dan pria gelandangan. Merasa malu dan bingung, Ailin yang sudah merapihkan pakaiannya itu mencoba untuk terlihat seolah tidak tahu apa yang terjadi, memang seperti itulah kenyataannya. Luderin menatap semakin tajam, merasa kesal karena rencana kali ini pun gagal. Linira menggelengkan kepalanya, masih tidak bisa percaya dengan apa yang dia lihat. “Tidak mungkin. Kenapa bisa Ibu ada di sini. Harusnya kan...” Suran tersenyum tipis, tidak menyangka kalau adegan selanjutnya akan sangat seru seperti ini. Ailin mengelak dengan tegas, “Ibu juga tidak tahu kenapa bisa jadi begini. Ibu ingat kalau tadi Ibu ada di kamar, tidak tahu kenapa sekarang Ibu ada di sini.
Mendengar itu, Suran pun mengepalkan tangannya. “Seberapa parah anjloknya bisnis keluarga Hideria?” “Itu... hampir tidak mungkin bertahan satu tahun kemudian,” jawab Wulien sedih. Suran mengencangkan tangannya mengepal kuat. Di kehidupan sebelumnya, yang dia tahu bisnis keluarga hancur karena nama baiknya yang runtuh karena skandal memalukan sebelum menikah dengan Luderin. Dia mulai tidak peduli dengan bisnis karena dia tahu harta Hideria jelas cukup menopang hidupnya sampai setidaknya tiga generasi. Parahnya lagi, dulu Suran menyerahkan sepenuhnya bisnis keluarga Hideria pada keluarga Luderin. Terlihat maju dan berkembang pesat dari waktu ke waktu, tapi siapa sangka bisnis Hideria nyatanya sudah dipindah tangankan, dan mereka semua berakting seolah mereka telah banyak berjasa. Meski dalam amarah yang mengguncang, Suran mencoba untuk tenang dan berpikir agar mendapatkan jalan keluar yang paling aman dan tepat. “Biarkan saja begitu adanya,” ucap Suran, kini dia nampak se
Pria bernama Greyson tersenyum. Sejenak melihat pada Luderin yang tengah tersenyum penuh harap, ia pun menjawab, “Karena Luderin itu memang temanku, maka aku pasti...” Semakin lebar senyum Luderin, semakin Suran menantikan tanggapan dari pria itu meskipun dia tidak berharap banyak. Luderin berjalan cepat, mulai mengulurkan tangan untuk menerima hadiah itu dengan ekspresi yang makin tidak sabaran. Greyson tersenyum, “Maka aku pasti... tidak akan memberikannya.” Luderin terdiam dalam keterkejutannya. Senyum yang mengembang penuh harapan sebelumnya benar-benar lenyap. “Apa kau bilang?” Suran tersenyum tipis, puas dengan reaksi Greyson yang jauh dari perkiraannya. Santai, Greyson sama sekali tidak terlihat bersalah telah mengatakan itu. “Bagaimana lagi, Luderin? Kau dan aku adalah teman, tidak mungkin kita memperebutkan barang. Lagi pula, kau yang terhormat ini tidak mungkin mau mengambil sesuatu yang sudah diberikan pada temanmu ini, kan?” Hanya bisa terdiam menahan kesal
Suran tersenyum, “Hadiah ini...” ia mengedarkan pandangannya, menikmati momen di mana Luderin benar-benar berpikir barang semahal itu hanya untuk dirinya saja. “Suran, berikan padaku, aku janji akan menjaga pemberian darimu,” ucap Luderin. Pria itu bahkan tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. Matanya seolah silau oleh kilau benda itu, bahkan sudah mulai membayangkan bagaimana tatapan iri dan pujian dari pada pejabat istana lain jika melihat dia menggunakan set alat tulis dengan harga yang sangat fantastis.Namun, sayang sekali karena semua gambaran indah di kepalanya seketika lenyap saat Suran kembali membuka mulutnya. “Untuk anda, Tuan bertopeng.”Luderin dan semua orang yang ada di sana benar-benar sangat terkejut mendengarnya. Benar saja, di ujung ruangan ada seorang pria menggunakan topeng di wajahnya. Pria itu duduk dengan santai, sedangkan matanya sejak tadi hanya mengamati tanpa bicara sedikitpun. “Suran, kau ini sedang bicara apa? Kau sedang bercanda, kan?” tanya
“Huek...” Suran tidak tahan, ia mual, namun beruntung suara para tamu di sana tidak akan membuat ada yang menyadari hal itu kecuali Wulien yang ada di belakangnya. “Nona, apa anda baik-baik saja?” tanya Wulien panik. Suran mengangkat tangannya, meminta agar Wulien tidak perlu khawatir dengan kondisinya. “Tenang saja, aku baik. Aku cuma... seperti melihat anjing betina yang sedang birahi sampai terus mengibaskan ekornya.” Wulien benar-benar tidak memahaminya, tapi dia juga tidak bertanya. Suran akhirnya masuk ke dalam. Begitu sosoknya bisa dilihat dengan jelas oleh para tamu, sorotan pun langusng tertuju padanya seakan keberadaan Linira sudah tidak ada lagi artinya. Pakaian Suran tentu lebih terlihat elegan, bahan pakaian yang dia gunakan juga terbuat dari bahan khusus yang semua produknya hanya diperuntukkan pada Suran seorang saja. Riasan wajahnya sederhana karena wajah Suran memang tidak membutuhkan terlalu banyak tambahan riasan. Begitu Suran berdiri, tersenyum pada pa
Plak! Belum sempat pelayanan itu melanjutkan ucapannya, Linira langsung menamparnya. Ya. Tidak boleh sampai mengungkit hal tadi, Suran tidak boleh mencurigainya. Linira melotot pada pelayanan, mengancam tanpa mengatakan apapun. Seketika itu pelayan pribadi Linira terdiam. Meski jelas terlihat dari sorot matanya yang memohon bantuan agar dia tidak dihukum, sayangnya Linira hanya fokus menyelamatkan dirinya. Apapun itu resikonya, akan Linira limpahkan kepada pelayan karena tanggung jawab terburuk tidak boleh datang padanya. Tahu kalau nanti akan jadi masalah besar jika membuka mulut lebih banyak lagi, pelayan pribadi Linira itu pun terdiam. Tangisnya masih terdengar, tapi dia benar-benar pasrah sekarang. “Pengawal, pukul pelayan tidak tahu malu ini, dan buat hukuman juga yang pantas untuk pria liat kurang ajar ini!” titah Linira pada pelayan yang memang selalu ada di sudut kediaman Hideria. Luderin dan Ailin nampak pasrah. Menghukum pelayan itu memang bukan jala







