ANMELDENJulian membanting pintu mobilnya dengan begitu keras hingga supir pribadinya tersentak kaget di kursi depan. Tanpa memperdulikannya, Julian melonggarkan dasinya dengan kasar, napasnya memburu menahan amarah yang sejak tadi ia pendam di hadapan Victor.Ia merogoh ponselnya, menekan nomor satu-satunya orang yang bisa ia jadikan alat sekaligus tempat pelampiasan saat ini."Kenapa kau begitu lama memberikan keputusan?!" bentak Julian tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung.Di ujung sana, suara Evelyn terdengar histeris dan begitu frustasi. "Sudah kubilang aku tidak bisa keluar dari rumah ini! Ibuku mengurungku di rumah ini!“Carilah cara, sialan!” bentak Julian “Sebelum aku yang datang ke sana dan menyeretmu keluar!""Kau kira aku sedang tidak berusaha mencari cara, hah?!" pekik Evelyn, suaranya melengking menyakitkan telinga. "Kau kira aku bisa tenang ketika tahu jalang itu dengan santainya berada di rumahku?! Memakai barang-barangku dan tidur di kamar Ayahku?!"Napas Evelyn terdeng
Tepat pukul dua siang, pintu ruang kerja Victor terbuka.Sekretaris baru Victor, yang dipilih dengan cepat setelah kepergian Adriana membuka pintu. Mempersilahkan masuk Julian yang kali ini hanya datang sendiri.Julian melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu terang yang kontras dengan nuansa ruangan Victor yang gelap dan mengintimidasi. Senyum di wajah Julian terlihat santai, namun matanya menyapu sekeliling ruangan seolah sedang mencari sesuatu."Tuan Sterling," sapa Julian, mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah meluangkan waktu ditengah jadwal Anda yang padat."Victor tidak langsung berdiri. Ia membiarkan Julian menunggu beberapa detik dengan tangan terulur di udara, menatap pria muda itu dengan tatapan datar. Sebelum akhirnya membalas jabatan tangan itu."Vance," balas Victor singkat. Ia memberi isyarat agar Julian duduk di kursi hadapannya.Julian duduk, dan menyilangkan kakinya dengan gaya arogan seolah ia adalah pemilik tempat itu. Saat June, sekretaris Victor yang baru men
Victor perlahan menarik diri, menyudahi ciuman yang memabukkan itu. Namun, ia tidak benar-benar menjauh. Wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Adriana, membiarkan napas mereka yang sama-sama memburu saling beradu.Mata tajam pria itu menelusuri wajah Adriana dengan begitu intens. Ia memperhatikan bagaimana dada wanita itu naik-turun dengan cepat, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin untuk menenangkan jantungnya yang berpacu liar. Bibir Adriana yang kini sedikit bengkak dan memerah tampak begitu jelas, menjadi bukti atas apa yang baru saja terjadi."Untuk seseorang yang mengaku membenciku..." gumam Victor. Ibu jarinya bergerak pelan, mengusap sudut bibir Adriana yang basah. "...kau membalas ciumanku dengan sangat baik, Adriana."Wajah Adriana seketika memerah hebat, seolah seluruh darah di tubuhnya naik ke kepala. Rasa malu dan panas menjalar hingga ke telinganya yang ikut memerah saat menyadari betapa mudahnya ia luluh pada sentuhan pria itu."Itu... itu..." Adriana tergagap,
Keesokan paginya, Adriana sibuk membongkar kotak kardus yang sebelumnya diserahkan Davian pada kepala pelayan di ruang tamu kediaman Sterling.Tidak ada yang kurang. Semua barang penting miliknya berada di sana, tertata cukup rapi, kecuali beberapa pakaian lusuh yang sepertinya dianggap Davian tidak layak masuk ke rumah mewah ini.Semua terlihat aman, kecuali satu hal. Ponselnya tidak ada di sana.Adriana membongkar kotak itu sekali lagi, membalik tumpukan baju, meraba bagian dasar kotak dengan panik, tapi tetap tidak menemukannya."Apa ada yang kurang?"Suara berat itu membuat Adriana menoleh cepat. Victor muncul di ruang tamu, sudah rapi dengan setelan kerjanya yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Ia terlihat segar, dan siap berangkat bekerja."Di mana ponselku?" tanya Adriana langsung dengan nada kesal, tanpa basa-basi.Jika benda itu tidak ada di kotak dan tidak ada di tasnya, maka jawabannya hanya satu. Benda itu ada pada Victor.Tanpa membantah, pria itu merogoh saku ja
Adriana membeku, tubuhnya kaku dalam dekapan pria itu. Kalimat Victor barusan berdengung di telinganya, menimbulkan ribuan pertanyaan yang menakutkan.Apa yang harus kulakukan padamu?Apa maksudnya? Apakah karena Adriana telah mengacaukan segalanya? Apakah Victor menyesal telah membawanya masuk ke dalam kehidupannya yang rumit, atau apakah pria itu sedang bergulat dengan fakta bahwa ia mulai peduli pada wanita yang seharusnya hanya menjadi sekadar "hiburan"?Adriana menimbang sesaat, ingin mengatakan sesuatu. Namun, sebelum satu kata pun keluar, Victor mengecup puncak kepala Adriana. Lalu perlahan, napasnya yang tadi berat kini berubah menjadi lebih tenang. Dada bidang yang menempel di tubuh Adriana naik turun dengan lembut. Dia benar-benar sudah tidur.Dalam kegelapan kamar itu, tangan Adriana terangkat dengan ragu. Jari-jarinya ragu selama beberapa detik, bimbang antara mendorong pria itu menjauh atau membiarkan dirinya tetap berada dalam rengkuhan pria itu.Tapi kehangatan tubuh V
Suasana di kamar tidur utama penthouse itu hening, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan. Adriana tersentak bangun, matanya menyapu sekeliling ruangan yang remang-remang, namun rasa hangat yang memeluknya tadi sudah menghilang.Victor sudah tidak ada di sampingnya. Sisi tempat tidur di sebelahnya kosong dan begitu dingin di bawah telapak tangannya. Kepanikan seketika menjalar di dada Adriana, membuat rasa kantuknya hilang begitu saja.Kemana perginya pria itu?Pikiran buruk langsung membanjiri kepala Adriana. Ketakutan terbesar Adriana bukan ditinggal sendirian, melainkan apa yang mungkin dilakukan Victor saat ia lengah. Bagaimana jika Victor menghubungi Julian saat ini juga?"Tidak, tidak..." bisik Adriana lirih. Ia memaksakan kakinya yang masih terasa lemas untuk turun dari ranjang besar itu.Ia berlari kecil menuju pintu keluar, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara gemerisik samar dari arah Walk in Closet yang terhubung langsung ke kamar mandi.Pintu closet itu sed







