Share

BAB 7

Author: Rainina
last update Last Updated: 2025-11-28 16:57:08

Adriana memegang pipinya yang baru saja di tampar oleh Clara. Wajahnya perlahan terangkat, matanya menatap kesal ke arah wanita itu.

Cukup sudah. Adriana sudah harus menghadapi sikap Evelyn yang tidak tahu malu, dan ia juga harus menghadapi sikap dingin Victor. Dan sekarang dia harus menghadapi satu wanita gila lagi?

Tangan Adriana yang tidak memegang pipinya mengepal dengan keras.

“Kau…” Clara baru saja akan membuka mulutnya lagi untuk memaki, tapi Adriana tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan perkataannya. 

Adriana menjatuhkan tas kerjanya ke lantai basement dengan kasar, dan tanpa peringatan, tangannya mendarat di pipi Clara.

PLAK!

Suara tamparan itu terdengar lebih kuat dari yang Clara lakukan sebelumnya. Wanita itu melotot tidak percaya, jika tatapannya bisa membunuh mungkin Adriana sudah terkapar di lantai basement ini sekarang.

“Kau menamparku?!” pekik Clara, suaranya melengking memenuhi basement yang sunyi.

“Itu untuk menyadarkanmu dari delusi gila hormatmu, Nona Clara,” desis Adriana tajam. “Aku bukan samsak tinju untuk melampiaskan kekesalanmu karena ditolak pria.”

“Dasar jalang!”

Clara yang sudah kehilangan akal sehatnya menerjang maju ke arah Adriana. Adriana yang tidak menduga apa yang akan dilakukan oleh Clara terjatuh ke belakang.

Clara menjambak rambut Adriana dengan brutal, menarik kepalanya ke belakang hingga Adriana meringis kesakitan.

“Lepaskan!” Adriana berteriak, rasa sakit di kulit kepalanya membuat tangan Adriana meraih rambut Clara yang tertata rapi, mencengkeramnya kuat-kuat.

“Aaaakh! Lepaskan rambutku! Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk menatanya!” jerit Clara tidak terima.

“Kau duluan yang lepaskan aku!” balas Adriana tidak ingin kalah. Ia tidak akan mengalah pada wanita di hadapannya ini.

Mereka berdua saling dorong dan tarik, melupakan semua citra yang coba mereka bangun dan pertahankan selama ini.

“Wanita gila!” umpat Clara kesal.  Ia tidak pernah bertemu wanita yang begitu berniat membalasnya sebelum ini.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Clara menghentakkan tubuhnya sekuat tenaga. Dan mendorong Adriana dengan bahunya.

Adriana yang kehilangan keseimbangan, berakhir terjatuh sepenuhnya.

“Akh!”

Tubuh Adriana menghantam lantai beton yang keras. Siku dan lulutnya bergesekan dengan permukaan kasar, menimbulkan rasa perih yang menyengat. Saat ia melihatnya sekilas, memar sudah mulai terbentuk di sana.

Napas Adriana tersengal-sengal. Rambutnya berantakan menutupi sebagian wajahnya.

“Itu tempat yang pantas untukmu,” hina Clara, yang sudah berdiri, bersiap untuk melangkah maju lagi, mungkin untuk menendang atau menjambak Adriana sekali lagi.

Adriana menggeram dalam hati. Wanita ini benar-benar sama buruknya dengan Evelyn. batinnya

Adriana berniat berdiri dan membalas Clara hingga tiba-tiba telinganya mendengar suara lift yang mulai bergerak terbuka dari arah lift eksekutif.

Langkah kaki tegap dan pati yang menyusul setelahnya membuat Adriana terkesiap. Itu Victor.

Rencana Adriana untuk membalas serangan fisik dari Clara menguap begitu saja, digantikan rencana lainnya.

Jika dia bangkit dan membalas Clara sekarang, dia hanya akan terlihat sama gilanya dengan wanita itu di mata Victor. Tapi, jika dia tetap di bawah sini...

Alih-alih bangkit, Adriana membiarkan tubuhnya terkulai. Ia menundukkan wajahnya, dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Kenapa...” suara Adriana terdengar lirih, bergetar, seolah ia sedang menahan tangis. “Kenapa Anda melakukan ini... saya hanya menjalankan tugas saya sebagai seorang sekretaris...”

Clara, yang tidak menyadari kehadiran Victor di belakangnya, tertawa sinis. “Berhenti berakting, sialan! Bangun dan lawan aku!”

Clara melangkah maju, tangannya terangkat, hampir menyakiti Adriana lagi, hingga suara itu terdengar.

“Clara!”

Suara berat itu memenuhi basement. Clara membeku. Tangannya masih melayang di udara, wajahnya pucat pasi saat ia menoleh perlahan ke belakang. Sementara Adriana menampung Senyuman di kedua tangannya.

Victor Sterling berdiri di sana. Aura di sekelilingnya begitu dingin dan mencekam, jauh lebih menakutkan daripada saat di ruangannya tadi siang. Matanya menatap Clara dengan sorot kemarahan, sebelum beralih perlahan ke sosok Adriana yang tergeletak tak berdaya di lantai beton yang dingin.

Adriana melepaskan tangannya dari wajahnya dan menatap Victor, membiarkan setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang merah akibat bekas tamparan dari Clara sebelumnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 222

    Beberapa hari kemudian, di sebuah ruang private viewing butik perhiasan paling eksklusif di kota.Berbagai macam kotak beludru berisi kalung berlian, cincin, dan tiara bernilai jutaan dolar terhampar di atas meja kaca. Di sebelahnya, tumpukan katalog venue pernikahan dan sample dekorasi bunga dari wedding organizer kelas atas ikut memenuhi ruangan.Adriana duduk bersandar di sofa kulit yang empuk, menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya pelan. Merencanakan pesta pernikahan dengan Victor ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada yang ia bayangkan, apalagi dengan Victor yang bersikeras memberikan semua hal terbaik yang bisa dibeli dengan uang.Padahal ini bukan pertama kalinya Adriana merencanakan pesta pernikahan jika ia menghitung persiapan pernikahannya dengan Darren waktu itu.Melihat istrinya yang tampak kelelahan, Victor memberi isyarat tangan. Para staf butik dan perwakilan wedding organizer yang sejak tadi berdiri di ruangan itu langsung menunduk hormat dan bergegas

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 221

    "Bukannya... bukannya kau bilang kau mendapatkan penawaran kerja dari ayahku lagi?" tuntut Evelyn dengan suara bergetar, menatap lurus ke mata pria itu.Davian menatapnya dengan raut tak terbaca. "Ya.""Lalu? Apa kau tidak mengambilnya?" desak Evelyn. Langkah kakinya tanpa sadar maju mendekati Davian.Matanya memancarkan permohonan yang menyedihkan. "Kau sudah mendapatkan dokumennya waktu itu, kan? Kenapa kau harus repot-repot mencari pekerjaan di luar kota kalau posisimu di sini sudah aman?"Mendengar rentetan pertanyaan putus asa itu, Davian terdiam. Pria itu menatap wajah istrinya yang pucat pasi cukup lama, sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang dan berat.Rasa lelah perlahan menyapu raut wajah Davian yang selalu kaku. Mengingat tenggat waktu mereka yang tinggal menghitung hari, Davian sadar kebohongan impulsif yang ia ciptakan malam itu sudah tidak ada gunanya lagi untuk dipertahankan."Ah..." gumam Davian pelan. "Itu."Tanpa mengatakan apa-apa lagi untuk menjelaskan, Davia

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 220

    Adriana membuka pintu ruang kerja suaminya dengan perlahan. Pikirannya masih tertinggal pada satu kata lirih yang baru saja menyapa telinganya di lorong tadi. Victor mendongak dari balik tumpukan dokumennya. Melihat raut wajah istrinya yang tampak sedikit tertegun, pria paruh baya itu segera meletakkan penanya."Ada apa, Sayang? Kau berpapasan dengannya di luar?" tanya Victor. Suara baritonnya mengalun tenang, menyambut kedatangan Adriana.Adriana mengangguk pelan. Ia melangkah mendekati meja kerja Victor dan duduk di kursi tepat di hadapan suaminya. Mengingat sejarah panjang permusuhan dan kebencian Evelyn padanya, wajar jika Adriana merasa khawatir rencana pesta pernikahan ini akan kembali memicu amukan dari putri tirinya itu."Apa Evelyn bisa menerimanya?" tanya Adriana langsung pada intinya.Victor menyandarkan punggung tegapnya ke kursi kulit kebesarannya. Ekspresi wajahnya menunjukkan keheranan yang sama persis dengan yang dirasakan istrinya saat ini."Ya" jawab Victor pelan.

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 219

    "Aku dan Adriana akan mengadakan pesta pernikahan."Itu adalah kalimat pertama yang menyambut Evelyn begitu ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Tidak ada basa-basi ataupun sapaan hangat yang diberikan Ayah Evekyn itu.Pagi tadi, Victor tiba-tiba memanggilnya datang ke rumah utama. Panggilan itu sempat membuat Evelyn bertanya-tanya dengan dada berdebar. Apa yang membuat ayahnya mendadak mengundangnya setelah berhari-hari membiarkannya ‘diasingkan’ di paviliun tanpa gangguan apa pun? Apakah ayahnya tahu tentang kekacauan di dapur tadi pagi? Ataukah tentang kontrak pernikahannya dengan Davian?Ternyata, dugaannya salah. Ini tentang Adriana."Oh." gumam Evelyn pelan.Hanya satu kata itu yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Memangnya, apa lagi yang harus Evelyn bilang? Ia tidak terkejut. Wanita itu sudah tahu soal status mereka sejak ia memergoki Davian mengerjakan rancangan pernikahan waktu itu.Melihat respons putrinya yang luar biasa datar, Victor menautkan alisnya.

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 218

    Jeritan tertahan meluncur dari bibir Evelyn. Wanita itu menarik tangannya secepat kilat. Rasa panas yang menyengat langsung menjalar dari kulit telapak tangannya yang melepuh.Evelyn menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Nyeri yang tajam membuat matanya seketika memanas. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Evelyn, Tapi, Nona Sterling itu menolak menyerah. Ia menahan isak tangis di tenggorokannya, memaksakan diri meraih spatula itu kembali dengan tangannya yang gemetar, berniat melanjutkan membalik sosis yang mulai mengeluarkan asap hitam."Kenapa anda berteriak?" Sebuah suara bariton yang berat dan serak khas orang bangun tidur tiba-tiba terdengar dari arah pintu kamar.Evelyn tersentak hebat hingga spatulanya kembali terlepas. Ia menoleh dengan panik. Di ambang pintu, Davian berdiri dengan rambut yang sedikit berantakan dan kaus tidur yang melekat di tubuh tegapnya. Pria itu menatap lurus ke arah Evelyn, lalu tatapannya beralih menyapu pemandangan dapur yang hancur berantakan

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 217

    Adriana tersenyum manis, hatinya menghangat mendengar pujian suaminya yang selalu berhasil meruntuhkan segala keraguannya. Matanya kembali menatap lembaran sketsa di atas map coklat itu. Setelah menimbang-nimbang sejenak, jari telunjuknya akhirnya berhenti pada salah satu desain.Gaun itu berpotongan A-line dengan kerah off-shoulder berenda klasik. Siluetnya jatuh dengan sangat elegan, tidak terlalu ketat di bagian perut, memberikan kesan mewah tanpa terlihat berlebihan."Aku suka yang ini." bisik Adriana lembut. "Sederhana, tapi sangat cantik."Victor menunduk, menatap sekilas sketsa yang ditunjuk istrinya sebelum pandangannya kembali terkunci pada bibir Adriana."Pilihan yang sempurna." puji Victor dengan suara serak yang berat. "Sama sempurnanya dengan wanita yang akan memakainya."Sebelum Adriana sempat merespons gombalan maut itu, tangan Victor yang berada di tengkuk istrinya memberikan tarikan lembut. Pria itu menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam. Map coklat d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status