LOGINBelum pula selesai menghabisi siluman serigala, ada juga siluman semut dan kini ditambah siluman banteng. Situasi kini menjadi lebih tegang, lebih lagi para prajurit tidak pernah menghadapi tiga jenis siluman secara bersaaman.Kini, mereka mulai kehabisan anak panah. Satu persatu prajurit terpaksa melepaskan busur di tangannya, mengganti dengan senjata jarak dekat seperti tombak, pedang atau pula kapak.Sementara itu, Wayang Sari, Satrio Pamungkas yang berada di luar benteng pertahanan tampaknya hanya bisa pasrah saat gelombang siluman banteng bergerak semakin dekat.Menyadari teman-temannya dalam bahaya, Talang Mayan meminta Putri Intan Selake untuk membantu yang lain, sementara dia akan menghadapi siluman semut seorang diri.“Mereka lebih membutuhkanmu,” kata Talang Mayan.Meskipun berat hati meninggalkan Talang Mayan sendirian, pada akhirnya Putri Intan Selake kembali mundur ke barisan belakang, dan bergabung bersama dengan yang lain.Sampai akhirnya, terdengar suara teriakan dari
Dua pendekar Parasura kini berada di luar Benteng Pertahanan, Talang Mayan dan Putri Intan Selake. Sungguh hal nekad yang membuat semua prajurit merasa ngeri melihat keduanya dengan gagah berani menantang maut.Namun, Wayang Sari juga memutuskan untuk terjun langsung ke medan perang. Dengan tombaknya, dia menghadapi gerombolan siluman semut yang menyerang mereka seperti tiada habisnya.“Tunggu aku!” Satrio Pamungkas sudah membulatkan tekadnya, dan akhirnya memutuskan untuk terjun langsung ke medan perang. Tindakan pemuda itu akhirnya diikuti oleh seluruh pendekar Parasura yang lain.Bom. Saat Satrio Pamungkas mendarat di belakang Wayang Sari, untuk sejenak nafasnya terhenti, dan jantungnya berdetak tidak karuan. Dia merasakan bahaya mengintainya dari segala arah, menciutkan nyalinya untuk sesaat.Namun, nasi sudah menjadi bubur. Setelah terjun ke medan perang, satu-satunya yang bisa dilakukan olehnya hanyalah betarung habis-habisan.“Kalian semua, pertahankan pondasi benteng!” perinta
Di hari berikutnya, para pekerja mulai menggabungkan setiap komponen alat. Namun masalah tiba-tiba muncul, ratusan siluman berusia lebih dari 500 tahun mendadak mendatangi Benteng Utara. Seolah, mereka berniat menggagalkan rencana yang sudah dibangun Talang Mayan dan teman-temannya.“Semua pasukan berada di posisi!” teriak Senopati Mandra, sembari bergegas memakai zirah perang, mengambil busur panahnya dan berdiri di atas menara.Di hadapan mereka, gerombolan siluman serigala bermata tiga dengan taring panjang sejengkal, berlari bak melihat makanan ketika perut sedang kosong.Bukan hanya para prajurit, para Pendekar Parasura kini berada di posisi mereka masing-masing. Putri Intan Selake berdiri di sebelah Talang Mayan, dengan ekspresi wajah serius menatap mahluk-mahluk mengerikan itu.“Bersiap membidik!” Senopati Mandra kembali berteriak di atas menara pengintai.Semua prajurit panah menarik busur panah mereka, mengarahkannya ke langit, dan mulai menghitung jarak antara benteng dengan
Daripada tidak melakukan apapun, Talang Mayan memutuskan pergi menemui kepala pekerja yang sedang sibuk mengatur beberapa bawahannya. Di tangannya, Talang Mayan membawa gulungan kerta, kemudian menyerahkan nya kepada Kepala pekerja itu.“Tuan, apa kau bisa membangun benda semacam ini?” tanya Talang Mayan.Pria gendut dengan pakaian yang sempit, sehingga perutnya nyaris tidak tertutup oleh bajunya, mulai melihat gulungan kertas yang diserahkan Talang Mayan. Sejenak dia terdiam, perutnya yang buncit berguncang kala dia bernafas panjang, kemudian pria yang dikenal bernama Riwon mengernyitkan keningnya sembari menatap Talang Mayan.“Apa kau berasal dari Sekte Empu?” tanya Riwon dengan mimik wajah yang serius.Talang Mayan mengangguk.“Kau yang membuat rancangan senjata ini?” Riwon tersenyum lebar, dan mulai memanggil beberapa temannya untuk membahas rancangan senjata yang diserahkan Talang Mayan barusan.Sekitar lima orang mengamati bentuk gambar di dalam kertas itu. Semuanya sama-sama me
Mereka mulai meninggalkan Ibu Kota Indraprasta. Hanya berjalan kaki, bergerak beriring-iringan yang dipimpin oleh Talang Mayan. Di belakang pemuda itu, Putri Intan Selake berjalan lebih dekat daripada Wayang Sari.Sesekali Talang Mayan memberikan perintah untuk berhenti, hanya untuk beristirahat sejenak, minum dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.Tidak ada kuda yang akan membawa mereka ke arah utara. Tidak ada! Jikapun mereka memiliki uang untuk menyewa keretaka, tapi tidak ada satupun kusir yang mau mengangntar para pendekar ini.Warga yang bisanya menjual jasa angkutan, lebih memilih untuk melakukan pekerjaan lain dibandingkan pergi ke Utara yang kin terkenal sangat berbahaya.Sampai beberapa hari kemudian, dengan rasa letih rombongan ini akhirnya tiba di cabang pertahanan Utara. Benteng raksasa setengah jadi menyambut kedatangan rombongan ini, dan terlihat para prajurit masih sibuk mengangkat batu, menyusun struktur benteng yang setengah jadi.Seorang pria kekar menyambut ke
“Wayang Sari, tetap bersamaku ..,” ucap Talang Mayan. Dalam pembagian kelompok ini, Patih Wira tidak memberikan aturan khusus, setiap peserta boleh memilih jumlah anggota kelompok berdasarkan keinginan mereka.Hal ini dilakukan, agar regu tercipta dengan landasan hubungan emosi di antara para peserta itu sendiri. Jadi, karena itulah, Talang Mayan meminta Wayang Sari agar tetap bersama dengannya, karena pemuda itu tidak yakin, akan ada orang yang cukup mampu untuk melindungi gadis tersebut selain dirinya.Tentu saja, Wayang Sari begitu senang. Bersama dengan Talang Mayan membuat persentasi hidupnya meningkat berkali-kali lipat daripada bergabung bersama dengan regu lain.Putri Intan Selake yang biasanya tidak banyak bicara, tiba-tiba mendekati Talang Mayan, dan mengajak pemuda itu untuk bekerja sama dengannya. Tentu saja, ucapan gadis itu menarik perhatian semua orang di tempat itu, termasuk Patih Wira yang tidak mengenali Talang Mayan dengan baik.“Jika kita berdua bekerja sama, silum
“Maaf Patih Wira,” ucap Wayang Sari, mengangkat jari telunjuk dari kursinya, “sebelum itu, apa aku boleh tahu berapa besar gaji yang akan kami dapatkan?”“Pertanyaan bagus, meskipun sedikit tidak sopan,” gumam beberapa pendekar yang lain, “jika gajinya lebih kecil dari pada tinggal di Sekte, aku ti
“Tu tu tuan, kau adalah Ayah Rindu Ati?! Dan kau, saudara laki-lakinya?” Satrio Pamungkas rasanya ingin melarikan diri ke ujung dunia dan bersembunyi di lubang semut karena merasa malu.Pemuda kurang ajar ini, bagaimana bisa dia tidak memiliki adab sama sekali di hadapan orang tua dari gadis yang d
Setibanya di pusat Ibu Kota, Talang Mayan menyarankan untuk pergi ke Toko Rancak Manggareh yang berada tidak jauh dari Istana. Menurutnya, makanan di sana sangat lezat, dan arak yang mereka jual hampir tidak ada duanya.“Kau pernah ke Toko Rancak Manggareh? Memang benar, mereka menyediakan makanan
Talang Mayan tersenyum sinis, mulai berjalan mendekati para pendekar aliran hitam itu. Dia memegang belati di tangan kanannya, dan dalam hitungan detik yang sangat singkat, pemuda itu mendadak meluncur seperti anak panah, lalu berhenti di antara musuh-musuhnya.Namun, belati itu sudah berdarah.Ket







