Share

54. Tanggung Jawab Besar

Author: Pancur Lidi
last update Last Updated: 2026-03-07 09:08:18

Keinginan Talang Mayan untuk menggulingkan kekuasaan Kepala Keluarga Pedang, akhirnya terdengar oleh Nyi Loro Ati. Hari itu juga, dia pergi menuju rumah Ki Pamanahan untuk bertemu dengan muridnya.

Setelah dia bertemu dengan Talang Mayan, Nyi Loro Ati meyakinkan Talang Mayan untuk tidak melakukan tindakan yang gegabah terhadap Keluarga Pedang. “Menantang kepala keluarga itu, bukan tindakan yang tepat. Tunggulah waktu beberapa tahun lagi, sampai kau memiliki energi spiritual setara pendekar tanpa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   55. Ujian Besar

    “Guru, kau sudah berjanji untuk mengajariku menggunakan jimat lebah nirvana setelah aku mendapatkan 45 cakra spiritual, aku menagih janjimu!” kata Talang Mayan.“Kau ini, kenapa terlalu buru-buru? Kau sudah mengganggu waktu tidurku, dan kini...”“Aku akan bertarung hidup dan mati dua minggu lagi,” ucap Talang Mayan, “aku membutuhkan bantuanmu, Guru!”“Hidup dan mati, memangnya siapa yang akan kau hadapi?!”“Kepala keluarga pedang,” jawab Talang Mayan dengan suara mantap.Dewa Semaranta menggaruk kepala botaknya berulang kali, padahal tidak ada kutu dan tidak ada rambut di kepalanya. Kemudian dia tertawa kecil, lalu meminta Talang Mayan untuk menutup matanya.Tepat saat Talang Mayan menutup mata, Dewa Semaranta mengetuk kening Talang Mayan dengan jari telunjuknya. Seketika, kesadaran Talang Mayan mendadak ditarik paksa oleh kekuatan yang sangat besar.Sampai akhirnya, dia tiba di sebuah tempat. Tempat yang di kelilingi oleh warna emas, dan terletak begitu tinggi hingga melampaui awan.

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   54. Tanggung Jawab Besar

    Keinginan Talang Mayan untuk menggulingkan kekuasaan Kepala Keluarga Pedang, akhirnya terdengar oleh Nyi Loro Ati. Hari itu juga, dia pergi menuju rumah Ki Pamanahan untuk bertemu dengan muridnya.Setelah dia bertemu dengan Talang Mayan, Nyi Loro Ati meyakinkan Talang Mayan untuk tidak melakukan tindakan yang gegabah terhadap Keluarga Pedang. “Menantang kepala keluarga itu, bukan tindakan yang tepat. Tunggulah waktu beberapa tahun lagi, sampai kau memiliki energi spiritual setara pendekar tanpa tanding.”“Jika mereka mengetahui aku masih hidup, apakah kesempatan seperti itu akan datang lagi?” tanya Talang Mayan, “Kepala keluarga pedang bukan sosok yang bisa ditemui setiap saat, penjagaan keluarga itu sangat ketat. Jika mereka tahu aku masih hidup, seluruh anggota keluarganya akan diam-diam memburuku.”Talang Mayan tidak ingin hidup di bawah tekanan seperti beberapa tahun yang lalu. Dengan cakram sudra di tangannya, Talang Mayan memiliki potensi kemenangan sekitar 30%, melawan seorang

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   53. Niat Membunuh

    Hari itu juga, Ki Paraswara kembali ke hutan barat Indraprasta, berharap menemukan siluman burung hantu yang masih tersisa di sana.Dia bahkan tidak dibantu oleh muridnya, dia melakukannya sendiri, hanya untuk satu tujuan, menghancurkan jalan buntu yang terpampang besar menghadang langkahnya.Sementara itu, Talang Mayan sendiri tidak mempermasalahkan hal itu. Dia tidak memiliki konflik dengan Ki Paraswara, tidak pula pria itu pernah membahayakannya. Meskipun pria itu pernah menyinggung dirinya, tapi semua itu dapat dilupakan dengan mudah oleh Talang Mayan.Namun tidak dengan Kuncoro dan Pelisik. Luka yang dibuat oleh dua orang itu masih membekas di dalam hati Talang Mayan. Mereka berulang kali merendahkan Ayahnya, itu masalah yang tidak mudah untuk dimaafkan.Namun, saat ini, Talang Mayan tidak ingin berurusan dengan keduanya. Bukan karena tidak bisa, tapi karena jika dia mau, membunuh keduanya semudah membalikan telapak tangan.Sekarang, Talang Mayan fokus membantu Ki Pamanahan untuk

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   52. Senjata Sayap Lebah

    “Ketua, karena tidak ada bahan untuk aku kerjakan, apakah aku boleh meminjam tungku perapianmu?” tanya Talang Mayan.“Apa kau ingin membuat senjata?” jawab Ki Pamanahan.“Tungku perapian milikku rusak saat melawan siluman kepiting?”Ki Pamanahan tertawa gelak-gelak, “Memangnya kau panggang siluman itu ke dalam tungku?”“Dia menyerangku habis-habisan, aku tidak punya pilihan lain untuk bertahan kecuali menggunakan tungku perapian.” Talang Mayan begitu menyayangkan tungku perapiannya hancur karena ulah siluman itu.Bagi ahli tempa senjata seperti dirinya, tungku perapian merupakan harta yang tidak ternilai harganya. Itu sama seperti kuali bagi para tabib atau pendekar obat-obatan.“Jadi kau ingin mencetak tungkumu?”Talang Mayan hanya bisa menarik nafas panjang, sebelum kemudian mengeluarkan pecahan tungku dari dalam telapak tangannya. Tungku seberat satu ton itu,kini menjadi kepingan kecil yang bahkan membutuhkan waktu tahunan untuk diperbaiki.Menurut Talang Mayan, biayaya untuk meper

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   51. Perintah Yang Menyakitkan

    Setelah Nyi Loro Ati pergi, Talang Mayan langsung melihat gambar rancangan busur panah yang ada di dinding ruangan tersebut. Rupa-rupanya, Ki Pamanahan berniat menciptakan sebuah busur yang dapat digunakan untuk pertarungan jarak dekat. Pria tua itu tahu betul kelemahan dari busur panah adalah pertarungan jarak dekat. Jika seseorang berhasil menjaga jaraknya, busur panah kehilangan setengah dari kemampuannya.“Bagaimana menurutmu?” tanya Ki Pamanahan.“Tetua,” ucap Talang Mayan, “kau tidak akan menjual busur panah ini kepada orang lain,kan? Busur panah ini akan lebih berbahaya jika digunakan dalam medan perang terbuka.”Bagaimana tidak, dari rancangannya saja, busur panah ini dilengkapi dengan belati di ujungnya untuk menusuk atau menebas. Selain itu, tua bangka ini berniat menciptakan prisai tipis yang dapat melindungi pemilik busur panah jika pertarungan jarak dekat tidak dapat dihindari.Dua komponen tambahan ini, pasti akan membut busur menjadi lebih berat, tapi Ki Pamanahan ber

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   50. Tawar menawar

    “Mayan, hentikan!” Nyi Loro Ati berusaha menenangkan Talang Mayan, tapi pemuda itu tidak tahan dengan ejekan yang menghina keluarganya.Tepat ketika segel ruang dan waktu terbuka, Cakram Sudra keluar dari telapak tangan pemuda itu, melayang di udara dan menciptakan suara yang mirip seperti ratusan lebah. Senjata pusaka dengan roh senjata.Melihat cakram sudra yang besarnya hanya seukuran telapak tangan, membuat Paraswara mendadak menjadi takut setengah mati. Dia bisa merasakan aura siluman kepiting yang menyeruak keluar dari dalam senjata tersebut, dapat membunuhnya tidak kurang dari lima tarikan nafas saja.“Ini adalah Cakram Sudra yang aku ciptakan. Hasil rancangan dari ayahku yang kau sebut sebagai orang bodoh!” kata Talang Mayan, “Manusia hanya dikatakan mati jika dia tidak mewariskan apapun, tapi Ayahku akan selalu hidup selama cakram sudra di tanganku masih berputar. Apa kau mengerti itu, Paraswara!!!”Talang Mayan menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian dengan kekuatan indra spi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status