Mag-log inTalang Mayan menggunakan bakat alaminya, indra spiritual dan mengirim ketakutan kepada Dasakala yang sombong dan angkuh. Mahluk buas itu jatuh berlutut di hadapan Talang Mayan, bahkan sebelum dia sempat menyadari bahwa belati pemuda itu sudah berada di lehernya.Rasa takut itu menyelimutinya, berkali-kali lipat dari biasanya.Agaknya Talang Mayan sudah memikirkan hal ini sejak tadi. Dia baru saja bertaruh, dan menghasilkan kemenangan.“Tubuhmu tidak lengkap,” kata Talang Mayan, mendorong tubuh Dasakala hingga mahluk itu jatuh telentang, “Dengan tubuh ini, pertahanan jiwamu jauh lebih mudah ditembus oleh kekuatanku.”Pada hakikatnya, Dasakala hanyalah jiwa tanpa tubuh yang berkeliaran setelah terbebas dari jurus Rantai Jiwa yang digunakan Cakra Buana. Dia tidak memiliki tubuh aslinya, maka karena itulah para pendekar Jantung Iblis mempersembahkan darah untuknya untuk menciptakan tubuh baru.Energi alam yang mengalir ke tempat ini, bukan hanya untuk melemahkan kepompong penjara, tapi ju
“Dewa Semaranta!!!” tiba-tiba suara Dasakala terdengar menggelegar dari dalam penjara kepompong miliknya. “Sudah berapa ratus tahun tidak bertemu denganmu, meskipun kau hanyalah avatarnya saja, setiap kali melihatmu aku selalu ingin membunuhmu.”Mata Dasakala yang tertutup tiba-tiba terbuka, mengeluarkan kekuatan tak kasat mata yang mendorong tubuh Talang Mayan hingga beberapa langkah ke belakang. Tekanan energi spiritualnya yang sangat pekat, hampir membuat Talang Mayan muntah darah saat itu juga.Tidak, ini bukan energi spiritual biasa. Talang Mayan tidak pernah merasakan energi spiritual seperti ini. Jauh lebih dingin, lebih murni seolah energi itu sudah mengalami peleburan beruang kali hingga mendapatkan kemurnian yang sangat tinggi.“Energi apa ini?” gumam Talang Mayan.“Manusia lemah, kau murid Dewa Semaranta?” kemudian Dasakala tertawa terbahak-bahak, sembari mengejek Talang Mayan yang dianggap tidak memiliki kualifikiasi apapun untuk menjadi murid seorang Dewa. Bagi Dasakala,
Cakram Sudra tidak hanya menghancurkan serangan lawan, tapi juga hampir membunuh pendekar itu hingga tercabik-cabik, jika bukan salah satu dari tetua Jantung Iblis segera menyambar tubuh muridnya.Namun di saat yang sama pula, senjata pusaka itu malah mengincar beberapa pendekar yang berada dekat dengan Talang Mayan. “Senjata itu berbahaya!” seorang tetua berseru kepada teman-temannya, selang beberapa saat kemudian, mereka menggabungkan kekuatan untuk menghentikan cakram sudra.Sayangnya, cakram sudra sulit untuk dihentikan. Dia akan berputar terus menerus sampai energi roh senjatanya terkuras habis. Jadi saat ini, para tetua mulai berusaha menghancurkan senjata itu hingga berkeping-keping.Mereka menggunakan teknik dan jurus jurus level tinggi, menghantam cakram sudra dengan serangkaian serangan yang membuat Talang Mayan harus merubah rencananya. 9 pendekar tanpa tanding sangat sulit untuk dihadapi bahkan meskipun dengan senjata pusaka sekalipun.Sementara itu pula, tubuh Talang May
Cakram Sudra tidak hanya menghancurkan serangan lawan, tapi juga hampir membunuh pendekar itu hingga tercabik-cabik, jika bukan salah satu dari tetua Jantung Iblis segera menyambar tubuh muridnya.Namun di saat yang sama pula, senjata pusaka itu malah mengincar beberapa pendekar yang berada dekat dengan Talang Mayan. “Senjata itu berbahaya!” seorang tetua berseru kepada teman-temannya, selang beberapa saat kemudian, mereka menggabungkan kekuatan untuk menghentikan cakram sudra.Sayangnya, cakram sudra sulit untuk dihentikan. Dia akan berputar terus menerus sampai energi roh senjatanya terkuras habis. Jadi saat ini, para tetua mulai berusaha menghancurkan senjata itu hingga berkeping-keping.Mereka menggunakan teknik dan jurus jurus level tinggi, menghantam cakram sudra dengan serangkaian serangan yang membuat Talang Mayan harus merubah rencananya. 9 pendekar tanpa tanding sangat sulit untuk dihadapi bahkan meskipun dengan senjata pusaka sekalipun.Sementara itu pula, tubuh Talang May
Berjalan bersama dengan para budak, kini Talang Mayan tiba di dapur utama. Ada puluhan pekerja dapur, diawasi oleh lusinan pendekar yang bermata tajam. Talang Mayan segera meletakan bakul beras. Diam diam memotong rantai di kakinya, lalu menyelinap pergi dari ruangan itu. Dia berjalan di antara ruangan dan lorong, mengikuti aliran energi alam yang terpantau melalui Indra Spiritual. Sampai akhirnya, dia keluar melalui pintu dan mendapati halaman utama yang dipenuhi oleh ratusan pendekar aliran hitam. Para pemuda dan pemudi yang kini berlatih bela diri. "Ini adalah pasukan utamanya.., " Talang Mayan dapat merasakan energi spiritual yang mereka miliki rata rata lebih dari 40 cakra spiritual. Jumlah yang sangat banyak untuk seorang pendekar muda. Jika menghadapi ratusan pendekar dengan cakra sebanyak itu, hanya ada satu kemungkinan yang terjadi dengan Talang Mayan. Kematian. Dari indra spiritualnya, Talang Mayan melihat semua pendekar muda itu menyerap energi alam. Jadi bukan hal
Di hari itu, para warga dibantu oleh para budak-budak menciptakan kendaraan angkut sederhana untuk meninggalkan desa. Sementara itu, di saat yang sama pula, Talang Mayan pergi ke perbatasan bersama dengan pendekar Jantung Iblis,-yang sudah dilumpuhkan.Bukan gila dengan niat menyerang markas besar musuh, tapi Talang Mayan ingin memastikan keberadaan Markas tersebut, sebelum kemudian kembali ke Istana dan melaporkan situasinya.Setelah beberapa hari, akhirnya Talang Mayan dan pemuda yang menjadi tahanan tiba pula di antara tiga gunung. “Disana ..,” ucap pemuda di sebelahnya, “apa kau melihat pintu masuknya?”Pendekar itu berkata dengan rasa khawatir, sembari memelas agar Talang Mayan membebaskan dirinya sebelum pendekar Jantung Iblis akhirnya menyadari keberadaan mereka.Talang Mayan mengelus dagunya, dan keningnya berkerut. Dia sedang memikirkan sesuatu. Dari yang dia rasakan, tempat ini memiliki kandungan energi alam yang cukup melimpah.Jika dia berhasil mencapai pusat perkumpulan







