Compartir

123. Boleh Nebeng?

last update Fecha de publicación: 2026-11-04 18:06:12

Suara dentum bas dari speaker kecil di sudut pelataran belakang menyatu dengan riuh obrolan malam.

Kevin dan tiga temannya—Rian, Fadel, dan Dika—sedang duduk melingkar di gazebo kayu sambil sibuk menatap layar ponsel masing-masing.

"Woy, Del! Cover gue, elah! Malah maju sendirian lo!" seru Kevin.

"Sabar, Vin! Ini koneksi gue mendadak lag!" balas Fadel tak mau kalah, disusul gelak tawa Rian yang sengaja memprovokasi.

Joni duduk sedikit menyendiri di kursi berjarak beberapa meter dari gazebo, me
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pesona Pemuda Desa   125. Jerat Menggiurkan

    Joni melepas jaketnya, mengesampingkan helm di atas meja foyer, sementara Aya melangkah lebih dulu ke ruang tengah tanpa mengungkit insiden di depan gerbang tadi.Sikap tenang Aya justru menyisakan ketegangan yang tak kasat mata.Joni berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin. Saat ia membalikkan badan, Aya sudah berdiri tak jauh dari meja makan. Gaun rumahnya melambai tipis, menampilkan lekuk tubuh wanita matang yang anggun, namun matanya menyimpan sorot ketegasan.Aya tahu persis, mengekang Joni dengan rasa cemburu atau sikap posesif hanya akan membuat pria muda itu makin berjarak. Karisma Joni dan magnetnya pada gadis-gadis muda di luar sana—seperti Rina dan Kaila—adalah ancaman nyata. Jika ia ingin Joni tetap di sisinya, ia harus menyajikan tawaran yang tidak bisa ditolak oleh ambisi seorang pria."Jon," panggil Aya pelan. Tangannya menunjuk ke arah sofa utama. "Duduk sebentar. Ada yang mau aku omongin."Joni mengamati raut wajah Aya sejenak, lalu melangkah dan m

  • Pesona Pemuda Desa   124. Aya Bertemu Tetangga

    Jalanan dalam kompleks perumahan mewah itu sangat sepi ketika motor Joni membelah udara malam. Lampu jalan memantulkan bayangan mereka di atas aspal. Di jok belakang, Kaila memegang tepi jaket Joni dengan santai, tak ada gestur canggung sedikit pun meski mereka baru pertama kali bertemu malam ini."Bang Joni," seru Kaila di dekat bahu Joni, mengalahkan deru angin malam. "Makasih ya udah mau direpotin nebeng.""Nggak ngerepotin," sahut Joni, tatapannya tetap lurus memantau jalanan kompleks yang lengang. "Lagian searah juga.""Aku pikir tadi Abang bakal nolak lho," tawa Kaila renyah. "Soalnya raut muka Abang pas di markas tadi serius banget. Agak nakutin dikit."Joni menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat dari depan. "Saya cuma nggak biasa heboh aja."Joni sempat mengira gadis ini tipe yang pendiam atau tertutup karena latar belakangnya yang homeschooling dan jarang keluar rumah. Ternyata tebakannya meleset. Kaila sangat easy-going dan pandai mencairkan suasana. Bedanya denga

  • Pesona Pemuda Desa   123. Boleh Nebeng?

    Suara dentum bas dari speaker kecil di sudut pelataran belakang menyatu dengan riuh obrolan malam. Kevin dan tiga temannya—Rian, Fadel, dan Dika—sedang duduk melingkar di gazebo kayu sambil sibuk menatap layar ponsel masing-masing."Woy, Del! Cover gue, elah! Malah maju sendirian lo!" seru Kevin."Sabar, Vin! Ini koneksi gue mendadak lag!" balas Fadel tak mau kalah, disusul gelak tawa Rian yang sengaja memprovokasi.Joni duduk sedikit menyendiri di kursi berjarak beberapa meter dari gazebo, menyesap minuman sodanya yang sudah hampir habis. Ia hanya mendengarkan ocehan anak-anak itu tanpa banyak menanggapi, hanya sesekali ikut tertawa ketika mereka mulai saling mengejek dan bercanda.Di saku celananya, ponsel Joni mendadak bergetar panjang.Joni merogoh benda pipih itu dan melirik layarnya. Nama Tante Aya tertera di sana. Joni menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinganya."Halo, Tante," sapa Joni pelan."Jon... kamu di mana?" Suara Aya terdengar lirih di seberang telepon. "Ka

  • Pesona Pemuda Desa   122. Senyum Manisnya

    "Hai, Bang Joni. Akhirnya kita ketemu juga." Kalimat yang diucapkan dengan senyum tipis dan nada suara halus itu membuat Joni terpaku. Di batas antara ruang tengah dan pantry, Kaila berdiri menatapnya lurus. Kaus oversized putih dan celana pendek yang ia kenakan memberi kesan santai, dengan helai rambut basah yang masih menyisakan aroma sampo beraroma segar. "Kaila," panggil Kevin dari balik konter, memecah jeda singkat di antara mereka. "Ambilin es batu dong di kulkas. Anak-anak di luar pada kehabisan." "Bentar, Bang," sahut Kaila tanpa mengalihkan pandangannya dari Joni. Joni mempertahankan posisi berdirinya. Bahunya tegap, mimik wajahnya tenang dan datar khas dirinya saat berhadapan dengan orang baru. Pria muda itu membalas tatapan Kaila tanpa ada keraguan, memberikan kesan berjarak namun justru memancarkan daya tarik tersendiri. "Saya Joni," sapa Joni pelan. "Adiknya Kevin, ya?" "Iya, Bang," jawab Kaila sambil melangkah mendekati kulkas dua pintu di sudut pantry. Senyumn

  • Pesona Pemuda Desa   121. Akhirnya Ketemu

    Lampu utama kafe sudah dipadamkan, menyisakan pendar remang di area bar saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Joni baru saja selesai menyapu lantai belakang dan mengunci pintu dapur ketika Rina keluar dari ruang istirahat dengan tas gendong kecil di bahunya.Tidak seperti biasanya, Rina tidak hanya membawa tas kerja biasa. Ada tas pakaian ukuran sedang yang tergeletak di atas meja.Joni melangkah mendekat, mengamati tas tersebut sebelum menatap Rina. "Kamu mau ke mana, Rin?"Rina tersenyum tipis, merapikan tali tasnya. "Aku udah izin cuti beberapa hari sama Mas Doni.""Cuti?" Joni menaikkan sebelah alisnya."Iya. Malam ini aku mau langsung naik travel pulang ke rumah orang tuaku," ujar Rina santai, walau ada helaan napas berat di akhir kalimatnya. "Aku mau istirahat dulu sebentar. Lagian cape juga diteror Dimas terus-terusan. Aku nggak mau bikin keributan di kafe lagi, dan jujur... aku nggak mau ngerepotin kamu terus, Jon."Kata-kata itu membuat tumpukan beban di kepala Joni mend

  • Pesona Pemuda Desa   120. Dunia Ini Sempit

    Matahari siang belum terlalu terik ketika Joni keluar dari area pagar rumah Rama untuk berangkat kerja, lalu sebuah suara panggilan menahan langkahnya."Yo, Jon!"Joni menoleh. Kevin, tetangga sebelah rumah berpenampilan santai dengan kaus oblong dan celana pendek, sedang merokok di pelataran depan rumahnya. Mereka sudah beberapa kali mengobrol singkat saat tak sengaja berpapasan, membuat sapaan itu tidak lagi terasa asing."Mau berangkat kerja?" tanya Kevin sambil membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya dengan sandal."Iya, Mas Kevin. Shift siang," sahut Joni tenang.Kevin berjalan mendekati Joni. "Entar malam ada acara nggak habis shift? Mau pada ngumpul nih di markas. Anak-anak komplek sebelah juga pada datang."Joni menaikkan sebelah alisnya. Kehidupannya selama berbulan-bulan ini hampir sepenuhnya berputar di dua titik. Rumah dan kafe. Tawaran Kevin terasa seperti angin segar yang tak terduga."Ngumpul di mana emangnya, Mas?" tanya Joni."Udah, ikut aja dulu. Seru kok

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status