Home / Romansa Pria / Pesona Pemuda Desa / 120. Dunia Ini Sempit

Share

120. Dunia Ini Sempit

last update publish date: 2026-11-04 13:51:24

Matahari siang belum terlalu terik ketika Joni keluar dari area pagar rumah Rama untuk berangkat kerja, lalu sebuah suara panggilan menahan langkahnya.

"Yo, Jon!"

Joni menoleh.

Kevin, tetangga sebelah rumah berpenampilan santai dengan kaus oblong dan celana pendek, sedang merokok di pelataran depan rumahnya.

Mereka sudah beberapa kali mengobrol singkat saat tak sengaja berpapasan, membuat sapaan itu tidak lagi terasa asing.

"Mau berangkat kerja?" tanya Kevin sambil membuang puntung rokok ke t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pemuda Desa   131. Memindahkan Aset

    Rama berangkat kerja sangat pagi. Pria itu menuruni tangga tanpa mengucap sepatah kata pun, langsung menyambar kunci mobil, dan pergi meninggalkan deru mesin yang membelah keheningan.Di meja makan, Aya duduk berdampingan dengan Joni. Lembaran berkas bermaterai dari notaris sudah terhampar di atas permukaan kayu mahoni yang mengilat."Dokumen pengalihan hak milik rukonya sudah kelar diproses," kata Aya pelan, suaranya tenang namun ada nada ketergesaan yang tak bisa disembunyikan. Tangannya menyodorkan pena hitam ke arah Joni. "Kamu tinggal tanda tangan di sebelah sini, Jon."Joni menerima pena tersebut. Matanya menyapu cepat poin-poin legalitas di lembaran kertas itu, memastikan tak ada klausa yang merugikan posisinya. Setelah yakin semuanya bersih, jemari Joni menari cekatan, membubuhkan tanda tangannya di atas materai.Aya menghela napas lega saat Joni mengembalikan penanya. Tanpa diduga, Aya mengulurkan tangan, merengkuh jemari Joni dan menggenggamnya erat. Tatapan wanita itu dipen

  • Pesona Pemuda Desa   130. Menuju Kejatuhan

    Malam makin larut ketika suasana kafe perlahan lengang. Joni sedang mengelap meja saat lonceng pintu berdenting nyaring.Sesosok wanita melangkah masuk dengan langkah sepatu hak tinggi yang terburu-buru.Mirna.Penampilannya masih terlihat mewah dengan gaun malam, namun raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan gestur panik. Tangannya mencengkeram erat tali tas di bahunya.Joni menatap kehadiran Mirna dengan tenang. Ia menyimpan kain lapnya, melangkah ke ujung bar, lalu menyapa."Malam, Tante Mirna. Mau pesan kopi?"Mirna menyapu pandangan ke sekeliling kafe yang hanya menyisakan dua meja terisi."Nggak usah formal banget, Jon. Saya mau bicara sama kamu. Cari meja yang agak pojok."Joni mengangguk, mengarahkan Mirna ke meja paling ujung yang terlindung pilar kayu. Joni mendudukkan diri di hadapan Mirna, menyilangkan tangannya di atas meja dengan gestur santai."Ada apa, Tante?" tanya Joni langsung pada intinya.Mirna memajukan badannya, merendahkan suara hingga nyaris berbisik. "Rama...

  • Pesona Pemuda Desa   129. Kedatangan Kaila

    Joni melangkah keluar dari ruang kerja Rama setelah memastikan pintu itu kembali terkunci rapat dari luar. Di sampingnya, Aya berjalan dengan napas yang masih agak memburu. Wajah wanita itu tampak pucat setelah melihat bukti draf penggelapan dana di meja kerja suaminya."Jon... kalau sampai investor atau polisi tahu masalah ini, Mas Rama bisa beneran habis," bisik Aya lirih saat mereka menuruni tangga menuju lantai satu. Tangannya memegang lengan Joni erat-erat. "Aku takut kalau nanti aku diseret-seret ke masalah dia."Joni memegang jemari Aya, melepaskannya perlahan namun lembut untuk memberi ketenangan. Joni memilih menyimpan rapat-rapat informasi dari Mirna soal rencana cerai busuk yang disusun Rama. Jika Aya tahu sekarang, wanita itu pasti panik dan bertindak emosional, hal yang bisa merusak kalkulasi Joni."Tante nggak usah panik," ujar Joni pelan. "Om Rama yang jalankan bisnisnya, Tante nggak punya andil di sana. Yang penting sekarang Tante fokus urus pengalihan ruko itu atas

  • Pesona Pemuda Desa   128. Rama Kelabakan

    Pagi itu, Aya dan Joni berada di dapur.Aya duduk di meja bar, menyesap tehnya pelan seraya memperhatikan Joni yang cekatan mencuci piring.Joni mematikan keran air dan mengelap tangannya dengan kain bersih, lalu berbalik menatap Aya lurus-lurus."Soal ruko itu," buka Joni pelan, suaranya terdengar tenang. "Saya terima tawarannya, Tante."Aya mendongak seketika. Binar lega dan rasa puas yang tak tertutupi terpancar di matanya. Bibirnya menyunggingkan senyum anggun, merasa berhasil mengikat Joni lebih dekat dalam dekapannya."Kamu buat keputusan yang benar, Jon," sahut Aya, jemarinya terangkat mengusap lengan Joni. "Persiapan berkasnya biar aku yang urus. Tempat itu bakal sepenuhnya jadi hak kamu.""Terima kasih, Tante," balas Joni sopan, meski otaknya tetap bekerja memperhitungkan setiap konsekuensi. “Saya janji akan balas semuanya kelak.”Aya tersenyum kecil. Tapi belum sempat membalas, langkah kaki terburu-buru dari lantai dua memecah percakapan mereka. Suara derap sepatu kulit yang

  • Pesona Pemuda Desa   127. Punya Rencana?

    Deru mesin motor Joni melambat ketika memasuki pekarangan rumah yang temaram. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Joni baru saja menyelesaikan double shift di kafe, pilihan yang sengaja ia ambil untuk memberi jeda pada pikirannya yang terus berputar.Sepanjang perjalanan pulang, kalkulasi terus membakar kepala Joni. Tawaran Aya soal ruko dan modal bisnis kafe memang sangat menggiurkan. Namun, Joni tidak bodoh. Ia ingat betul bocoran dari Mirna tempo hari, bahwa Rama sedang menyusun strategi untuk menceraikan Aya tanpa memberikan sepeser pun harta bersama.Jika ruko yang ditawarkan Aya masih berstatus harta gono-gini, mengambil tawaran itu sama saja menyerahkan dirinya ke meja hijau saat Rama mengeksekusi rencana cerainya kelak. Pilihan itu terlalu berisiko. Joni butuh kepastian sejauh mana Aya memegang kendali atas aset tersebut.Joni mematikan mesin motor, melangkah mendekati pintu utama, lalu menggeser engsel pintu itu pelan-pelan.Suara benturan keras dari

  • Pesona Pemuda Desa   126. Kepikiran

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu di sela tirai jendela kamar Joni, membiaskan garis pendar di atas tempat tidur. Keheningan kamar itu terisi oleh deru napas halus yang teratur dari sosok wanita di samping Joni.Rama tidak pulang semalaman. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aya membiarkan dirinya tertidur pulas di dalam kamar Joni hingga pagi menjelang.Joni terbangun lebih dulu. Ketika ia hendak menggeser tubuhnya, sebuah lengan halus yang terbalut gaun sutra tipis makin mengencangkan lingkarannya di pinggang Joni. “Mau ke mana?” Aya terbangun dari tidur nyenyaknya. Matanya yang sayu mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang penuh rasa percaya diri, sebuah ekspresi kepuasan dari wanita matang yang merasa baru saja memenangkan taruhan besar.Tawaran modal bisnis kafe yang ia lemparkan semalam belum dijawab oleh Joni. Namun melihat Joni tidak menolak sentuhannya dan memilih tetap berada di tempat tidur bersamanya, Aya merasa memegang kendali sepenuhnya."Masih p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status