Home / Fantasi / Taring Emas Sang Alpha / 26. Efek dari Infeksi

Share

26. Efek dari Infeksi

Author: Lubna Karkata
last update publish date: 2026-05-09 23:33:16

Runala memiringkan teko gerabahnya, membiarkan uap aroma teh dari bunga dan akar manis menguar. Cairan kuning keemasan itu memenuhi gelas-gelas kayu milik tetangganya. Senyum tipis terukir di wajahnya tatkala gadis itu memperhatikan tangan-tangan yang menerima gelas.

Bintil merah dan luka gatal yang kemarin meradang kini telah jauh berkurang. Efek dari infeksi air sungai yang terkena kelopak bunga Wolfs-Bane itu, kini menyisakan jejak keunguan samar yang sebentar lagi akan pudar oleh udara mus
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Taring Emas Sang Alpha   29. Sosok Tinggi yang Bersandar

    “Apa kau bisa menggantikanku menjaga Nachtmar sebentar?” tanya Runala pada Solvatar. Suaranya lembut lamun mengandung sisa kelelahan. “Aku mau kembali ke rumahku untuk mengambil beberapa pasokan medis yang tertinggal.”Solvatar tidak langsung menjawab. Tatapannya memindai sekeliling lumbung sebelum mendarat pada Runala. “Biar prajurit saja yang menjaganya. Aku akan menemanimu.”Runala sempat ingin memprotes, tetapi kilat protektif di mata Solvatar menghalau niatnya. Gadis itu hanya mengangguk kecil lantas menyelesaikan lipatan selimut terakhirnya dengan rapi dan meletakkannya ke atas tumpukan jerami. Dia kemudian beralih ke deretan botol kacanya, memastikan setiap sumbat kayu terpasang kencang sebelum memasukkannya ke dalam tas kecil yang selalu dibawa. Sementara Solvatar segera memberikan instruksi singkat pada komandan dan seorang prajurit yang datang bersiaga di sisi Nachtmar. “Jangan biarkan siapa pun masuk. Bahkan jika mereka mengaku membawa kabar dari raja sekalipun,” ucap Solv

  • Taring Emas Sang Alpha   28. Aman dan Terkendali

    Bayang-bayang senja musim gugur melahap cahaya matahari lebih cepat dari biasanya. Di sudut yang agak jauh dari tumpukan jerami tempat Nachtmar terlelap, suasana hening hanya diisi oleh deru napas berat dan gesekan kain.Nachtmar baru saja melewati fase kritisnya. Bunga Wolfs-Bane yang ditempelkan Solvatar tadi pagi telah diambil kembali. Kelopak-kelopak ungu itu kini berubah hitam dan layu setelah menyerap racun sihir gelap yang menggerogoti tubuh Nachtmar. Kini giliran luka sang Alpha yang harus diobati.Solvatar duduk di atas peti kayu tua, tubuhnya sedikit membungkuk. Jubahnya tersampir longgar di pinggang, membiarkan punggung dan dada bidangnya terekspos dalam keremangan. Runala berdiri di belakang lelaki itu. Jemarinya yang ramping mulai membongkar lilitan perban di bahu Solvatar.Kala lapisan kain terakhir terlepas, bekas gigitan Nachtmar dalam wujud serigala terlihat masih mengerikan. Lubang-lubang taring itu memerah, meski tidak lagi mengeluarkan darah segar. “Tahan sedikit

  • Taring Emas Sang Alpha   27. Mangkuk Berisi Bubur

    “Apa kau gila?”Suara Solvatar meledak, serak dan penuh peringatan, memantul di antara pilar-pilar kayu lumbung yang tua. Sebelum jemari Runala sempat mengguyurkan air rendaman bunga Wolfs-Bane ke luka di bahu dan lengan Nachtmar yang menghitam, tangan Solvatar bergerak cepat menangkap pergelangan tangan Runala, mencengkeramnya dengan tekanan yang menuntut kepatuhan.Runala tidak mendongak. Dia tetap berlutut di samping Nachtmar yang terbaring kaku di atas tumpukan jerami dan alas kain bersih. Tempat yang sama di mana Solvatar semalam dirawat tatkala terluka parah. Aroma lumbung hari itu terasa sesak; campuran antara tanah lembap, debu gandum, dan bau karat yang keluar dari luka-luka Nachtmar.Solvatar menatap nanar pada mangkuk di tangan Runala. Ingatannya masih segar tentang rasa perih luar biasa di kedua kakinya. Dia sempat mengira gadis itu kebal terhadap tanaman berbahaya itu. Namun, luka di paha Runala menunjukkan efek serupa; muncul ruam seperti melepuh. “Ini racun, Runala! Ka

  • Taring Emas Sang Alpha   26. Efek dari Infeksi

    Runala memiringkan teko gerabahnya, membiarkan uap aroma teh dari bunga dan akar manis menguar. Cairan kuning keemasan itu memenuhi gelas-gelas kayu milik tetangganya. Senyum tipis terukir di wajahnya tatkala gadis itu memperhatikan tangan-tangan yang menerima gelas. Bintil merah dan luka gatal yang kemarin meradang kini telah jauh berkurang. Efek dari infeksi air sungai yang terkena kelopak bunga Wolfs-Bane itu, kini menyisakan jejak keunguan samar yang sebentar lagi akan pudar oleh udara musim gugur yang bersih.“Gatalnya sudah hilang, Runala. Hanya tinggal sisa-sisa saja,” lapor seorang ibu sambil mengusap lengan anaknya yang kini sudah bisa tertawa lepas.Runala mengangguk, hatinya dipenuhi rasa syukur yang membuncah. Namun, ketenangannya terusik tatkala Garon mendekat, lalu berbisik tepat di dekat telinganya.“Di mana pasien istimewamu? Yang paling sulit diatur itu?”Wajah Runala mendadak terasa panas. Gadis itu menunduk, berpura-pura sibuk dengan saringan tehnya. “Dia ... dia b

  • Taring Emas Sang Alpha   25. Gerbang Keabadian yang Dingin

    Solvatar mengira hidupnya sudah berakhir. Seharusnya sekarang dia sedang terbangun di sisi lain gerbang keabadian yang dingin.Alih-alih kekosongan, indranya justru dihantam oleh realita yang menyesakkan. Cahaya matahari musim gugur menyusup masuk melalui celah-celah dinding kayu dan lubang di atap, membentuk garis-garis emas yang menari di atas debu-debu beterbangan. Udara di sekitarnya terasa kering, berbau jerami dan sisa-sisa wangi bunga yang asing tetapi menenangkan.Solvatar tidak berada dalam kamar dengan ranjang besarnya di barak Demura. Tubuhnya terbaring di atas permukaan yang kasar dan tidak rata, ditutupi oleh selimut tipis yang tidak mampu menghalau hawa dingin yang membelai kulitnya.Gemerisik halus dari sudut ruangan membuat instingnya berdenyut. Solvatar langsung duduk tegak. Sebuah gerakan impulsif yang mengirimkan kilat rasa sakit dari punggung hingga ke puncak kepala. Sepasang netra emasnya yang tajam memindai sekeliling dengan waspada, mencari ancaman di dalam bangu

  • Taring Emas Sang Alpha   24. Nama Itu Kembali Muncul

    Lumbung tua di pinggiran desa itu bergetar hebat, seolah-olah fondasi kayunya akan menyerah pada amarah yang meledak di dalam. Debu jerami terbang liar, bercampur dengan uap panas dari napas-napas serigala yang bertarung antara hidup dan mati. Di bawah lengkungan cahaya dari bulan sabit, Runala tahu situasi telah berubah menjadi neraka kecil yang mencekam.Runala merangsek masuk melewati dinding dan pintu yang hancur. Napasnya terputus-putus, sementara jemarinya mencengkeram erat rumpun bunga Wolfs-Bane yang masih basah oleh air sungai. Di sampingnya, Garon menyusul dengan lampu minyak yang apinya bergoyang liar, memantulkan bayangan-bayangan raksasa yang mengerikan di dinding lumbung.“Tahan! Jangan biarkan Alpha mendekat ke tiang utama!” teriak komandan dengan suara serak akibat dipaksakan hingga volume maksimal. Kondisi di dalam benar-benar bagaikan ambang kehancuran. Solvatar bukan lagi Alpha yang mereka kenal. Racun gelap dari luka gigitan lawan sebelumnya telah merasuki kesadar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status