LOGINKalimat santai yang keluar dari mulut Nachtmar seketika membekukan angin musim gugur di lapangan. Solvatar tidak bergeser satu senti pun, tubuh tingginya tetap teguh membentengi Runala. Namun, cengkeramannya pada busur mengencang hingga urat-urat di punggung tangannya menyembul tegang.Nachtmar yang menolak untuk menyadari ketegangan gelap di antara mereka, justru makin berani mendekat. Dengan tangan disilangkan di depan dada bidangnya, dia melemparkan senyum miring provokatif ke arah sahabat baiknya.“Kurasa—” Nachtmar menjeda ucapan, matanya melirik jenaka ke arah Solvatar sebelum beralih ke balik punggung sang Alpha. “Kepala desa kita ini sengaja tidak benar-benar membetulkan posturmu sejak awal, Runala. Dia hanya mencari alasan agar bisa memelukmu lebih lama.”Solvatar menggeram rendah, memancarkan peringatan yang berbahaya. “Nachtmar, menyingkir dan kembali ke kamarmu untuk istirahat. Fisikmu belum pulih.”“Oh, ayolah, Solvatar. Mengapa kau mendadak menjadi begitu ketus sekarang?
Solvatar berjalan cepat meninggalkan area barak prajurit. Langkahnya mantap menuju lapangan terbuka di dekat istal, sesuai rencana awalnya pagi ini. Setiap embusan napas, meredakan gemuruh amarah dan rasa cemburu yang membakar dadanya setelah berbincang dengan Nachtmar. Dalam keadaan seperti ini, tatkala benak dipenuhi oleh kepedihan atas amnesia sahabatnya sekaligus ancaman ego yang terusik, Solvatar membutuhkan Runala. Dia membutuhkan wangi bunga liar yang mekar di tengah badai. Aroma menenangkan yang mampu menahan sisi serigalanya tetap dalam kendali.Begitu langkah kakinya sampai di tepi lapangan yang berpasir, pandangan Solvatar langsung terkunci pada sesosok tubuh ramping yang menunggunya di sana. Runala sudah berdiri tegak, memegang sebuah busur kayu. Angin akhir musim gugur yang berembus kencang menerpa wajah cantiknya, menerbangkan ujung rambut merah kecokelatan yang siang itu diikat rapi dengan tali kulit pemberian Solvatar. Gadis itu tampak begitu fokus, menawan, dan berb
Solvatar melangkah menyusuri koridor barak prajurit dengan ritme yang sengaja diperlambat. Aroma minyak, keringat, dan kayu lembap menyapa indra penciumannya. Namun, benak sang Alpha tertuju sepenuhnya pada satu pintu kayu di ujung lorong. Ruangan itu adalah paviliun khusus perawatan prajurit. Tempat di mana Nachtmar berada. Kala Solvatar mendorong pintu tebal itu hingga berderit pelan, dia mendapati Nachtmar sedang duduk di tepi ranjang. Sosok bangsawan itu tengah bersusah payah mengancingkan kemeja linennya sendiri dengan jemari yang masih tampak agak kaku. Rahang tegasnya masih dihiasi warna keunguan akibat hantaman dari kepalan tangan Solvatar. Kendati demikian, binar di sepasang mata Nachtmar telah kembali. Sepasang netra biru yang tajam, cerdas, dan menyimpan energi hidup yang sangat familier bagi Solvatar.Nachtmar mendongak begitu menyadari kehadiran seseorang. Begitu melihat sosok berpostur tegap yang berdiri di ambang pintu, sebuah senyum miring yang khas langsung terukir d
Runala mengira Solvatar hanya sedang bermain-main, tetapi setelah tiga hari berlalu ternyata sikap Solvatar tidak berubah.Mulanya, Runala mengaktifkan seluruh radar kewaspadaannya. Sebagai gadis yang terbiasa hidup dalam bayang-bayang bahaya, dia tahu betul bahwa orang lain bisa menggunakan topeng apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.Runala sempat mengira bahwa kelembutan mendadak yang ditunjukkan Solvatar hanyalah umpan sesaat untuk membuatnya lengah. Dia menunggu Solvatar melakukan kesalahan, menunggu lelaki itu kembali menuntut atau mengklaim kepemilikan dengan kasar.Akan tetapi, anak panah tebakan Runala memeleset total. Selama tiga hari berturut-turut, Solvatar memperlakukannya bagai sebuah teka-teki yang harus dihargai, bukan lagi tahanan yang harus ditundukkan. Perubahan itu nyata dalam rutinitas harian mereka yang mendadak terasa canggung tetapi damai.Kala mereka berpapasan di lorong yang dingin, Solvatar tidak lagi mendekat seolah-olah ingin menggilas ruan
Ada yang berbeda dari Solvatar.Perubahan itu tidak datang seperti badai yang langsung membalikkan keadaan, melainkan seperti kabut tipis di pagi hari yang perlahan menyelimuti Demura.Runala menyadari perubahan itu sejak fajar menyingsing. Namun, dia memilih untuk tetap diam dan mengamati dengan mengaktifkan seluruh naluri kewaspadaannya. Serigala yang terluka biasanya menjadi lebih ganas, tetapi Solvatar justru menunjukkan sisi yang membuat Runala tidak habis pikir.Pagi itu, di sudut kamar yang temaram, Runala sedang sibuk menumbuk kelopak Iron-Lily di dalam lumpang batu. Karena posisi tubuhnya yang membungkuk, beberapa helai rambut merah kecokelatannya yang panjang menjuntai ke depan, menutupi wajah dan mengganggu pandangan. Runala mendengkus pelan, meniup helai-helai rambut, lamun gagal. Tepat kala hendak menyeka peluh di pelipis dengan punggung tangan, bayangan sosok jangkung mendekat dari belakang. Aroma hutan yang maskulin dan familier langsung menyergap penciuman.Gerakan ta
Di balik dinding batu barak Demura yang dingin, Solvatar baru saja menyadari bahwa mengawasi wilayah kekuasannya jauh lebih mudah daripada menjinakkan perempuan yang menggenggam jiwanya dalam keheningan.Solvatar masih membenamkan wajahnya di lekuk leher Runala, menghirup wangi tubuh gadis itu. Dia tidak bergerak, seolah-olah jika melonggarkan dekapannya sedikit saja, dunia di luar sana akan kembali menuntutnya menjadi monster yang tidak terkalahkan.Runala bisa merasakan detak jantung Solvatar yang tidak beraturan di balik rongga dadanya. Ada sisi lain dari lelaki ini yang baru saja tersingkap. Sisi rentan yang jarang ditunjukkan oleh seorang Alpha.Solvatar memang tidak mengeluh. Namun, cara lengan besarnya melingkar begitu erat dan kepala yang bersandar berat pada bahu Runala menunjukkan sebuah tuntutan sunyi akan ketenangan. Dia seolah-olah sedang mencari tempat berlindung di tengah badai yang bergejolak dalam dirinya sendiri.Runala membiarkan momen itu berlangsung selama beberap







