LOGINUdara hutan yang lembap menerpa wajah Runala tatkala Solvatar menggendongnya keluar dari rongga pohon. Napasnya masih tersengal seperti habis berlari jauh. Gadis itu seperti tidak bisa merasakan kakinya, selain getaran di lutut yang seolah-olah hendak menumbangkannya.
Tadi, Runala sempat mencoba berdiri tegak. Namun, seluruh sendinya seolah-olah meloloskan diri. Bayangan serigala bermata merah yang sangat mirip dengan monster yang merenggut nyawa ibunya, masih menari-nari di belakang kelopak mata.
Runala terisak. Bukan karena luka, melainkan karena teror masa lalu yang kembali mencekik.
“Kubilang, berhenti menangis, Rabbit,” geram Solvatar. Suaranya rendah, tetapi tidak ada kemarahan di sana.
Runala membenankan wajah di lekukan leher Solvatar yang berlumuran lumpur. Dari jarak sedekat ini, dia bisa merasakan detak jantung lelaki itu yang cepat di bawah kulit yang panas.
Solvatar berjalan dengan langkah lebar, mengabaikan rembesan darah yang mulai membasahi kembali kain perban di bahunya. Tungkai lelaki itu berayun mengarah ke gerbang utama markas yang obornya mulai terlihat di kejauhan.
“Tunggu,” bisik Runala parau Jemarinya mencengkeram jubah Solvatar yang kotor. “Kita ke sana dulu, Yang Mulia. Ke arah dinding tua yang tertutup akar itu.”
Solvatar menghentikan langkah. Sepasang netranya menyipit tajam. “Gerbang utama ada di depan, Runala. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main di semak.”
“Iron-Lily.” Runala menunjuk ke arah sekumpulan bunga berbentuk lonceng yang bersinar dengan pendar warna merah tembaga redup di sela-sela akar raksasa. “Bunga itu ... baunya seperti logam yang manis. Mereka hanya tumbuh di tanah yang mengandung besi. Saya butuh itu untuk ramuan penambah darah. Untuk Anda dan ... saya juga. Jika tidak, kita berdua tidak akan sampai ke kamar tanpa pingsan.”
Solvatar terdiam sejenak. Harga dirinya sedang bergejolak karena harus menuruti perintah seorang tabib tawanan. Namun, detik berikutnya, lelaki itu mendengkus lantas memutar arah langkahnya menuju dinding batu kuno yang seharusnya merupakan jalan buntu.
Perlahan dan hati-hati, Runala turun dari dekapan Solvatar hingga berpijak kembali di tanah. Namun, lengan lelaki itu tetap melingkar di pinggangnya, menyangga berat tubuh Runala. Gadis itu berjinjit demi menjangkau kelopak merah tembaga itu. Baunya menyengat seperti karat yang pekat tetapi menenangkan.
“Aneh,” gumam Runala tatakala jemarinya menyentuh dasar batang bunga itu. “Tanaman ini tidak tumbuh di atas tanah.”
Glabela Solvatar berkerut, ikut mendekatkan wajah. “Apa maksudmu?”
“Akarnya ... tidak tertanam ke tanah. Mereka melilit sesuatu di balik dedaunan ini.” Runala menyibakkan juntaian daun-daun tebal, berharap menemukan bongkahan bijih besi.
Akan tetapi, bukan batu yang Runala temukan. Jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin, keras, dan bergerigi. Sebuah gagang besi kuno yang sudah berkarat hebat, mencuat di antara retakan dinding batu yang berbentuk persegi sempurna.
Solvatar membeku. Dia meletakkan telapak tangan di atas punggung tangan Runala, merasakan dinginnya logam tersembunyi itu. Kala lelaki itu menekan, embusan angin dingin yang berbau debu ribuan tahun keluar dari celah yang terbuka. Sebuah pintu rahasia yang bahkan tidak tercatat dalam peta kerajaan.
“Rabbit,” bisik Solvatar. Suaranya kini penuh dengan kewaspadaan yang mencekam. “Tanamanmu baru saja membongkar rahasia yang terkubur terlalu dalam.”
Kelopak mata Solvatar menyempit. Dia mengamati setiap jengkal dinding batu yang dikepung akar bunga Iron-Lily. Sebagai seorang Alpha, instingnya mengatakan bahwa susunan batu di bagian ini tampak tidak alami. Lelaki itu meneliti setiap celah, meraba permukaan yang kasar dan lembap, berharap menemukan tuas tersembunyi.
Hingga akhirnya, tangan Solvatar mendapati sebuah gerendel besi tua yang mencuat samar dari balik lumut. Dia menyentaknya dengan tenaga yang sanggup mematahkan tulang, tetapi logam itu bergeming. Seolah-olah telah menyatu dengan bebatuan.
Tatkala Solvatar hampir menganggap itu sebagai kegagalan arsitektur masa lalu, Runala bergerak. Gadis itu mengamati bunga yang baru dia petik tadi. Jemarinya yang ramping memilah dedaunan hingga menemukan satu tangkai bunga Iron-Lily yang tampak berbeda. Kelopaknya jauh lebih lebar dengan warna merah gelap menyerupai darah yang membeku. Tanpa bicara, Runala mematahkan tangkai itu.
Runala mendekat, lalu dengan hati-hati meneteskan getah bunga yang kental dan berwarna jingga pekat ke celah-celah gerendel yang berkarat. Desis halus langsung terdengar, diiringi bau karat yang tajam dan manis memenuhi udara.
Dengan langkah ringan, Runala melangkah mundur dan menoleh pada Solvatar. Itu isyarat supaya lelaki itu mencoba kembali.
Benar saja. Kali ini, gerendel itu bergeser semulus sutra.
Pintu batu itu berderit pelan, membuka sebuah celah gelap. Solvatar melangkah masuk terlebih dahulu, menghirup udara di dalamnya dalam-dalam. Indra penciumannya dipenuhi bau tanah tua, debu kering, dan besi. Sementara Runala berdiri ragu di ambang pintu, menatap kegelapan pekat di hadapannya.
“Yang Mulia, apa ini aman?” bisik Runala parau, tetapi ikut melangkah masuk. “Rasa penasaran kadang bisa menjadi undangan bagi bahaya yang tidak sanggup kita hadapi.”
Solvatar tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menatap turun pada Runala dengan satu alis terangkat. Seolah-olah ingin mengatakan bahwa gadis itu baru saja salah bicara.
Tidak ada bahaya yang tidak bisa dihadapi seorang Solvatar.
Kemudian Solvatar berbalik, memastikan gerbang batu itu tertutup rapat kembali hingga lilitan akar dan tanaman liar di luar kembali menyamarkannya dengan sempurna. Tidak akan ada mata yang tahu bahwa dinding ini adalah sebuah pintu, bahkan pasukan suruhan Ragnavar sekalipun.
Mereka mulai maju, berjalan dengan langkah sangat pendek. Kegelapan di dalam lorong itu terasa menyesakkan. Tidak ada bulan di langit karena ini fase bulan mati, sehingga tidak ada seberkas cahaya yang menembus celah-celah bangunan.
Itu bukan masalah bagi Solvatar yang merupakan manusia serigala. Mereka memiliki mata yang bisa melihat dalam gelap. Berbeda dengan manusia seperti Runala. Namun, itu adalah rahasia yang harus gadis itu simpan.
Dalam sunyi yang mencekam, Runala merasakan bekas luka di pahanya mulai berdenyut samar, dipicu oleh trauma dan kelelahan. Gadis itu memperat genggamannya pada tangkai bunga Iron-Lily yang dia bawa.
Jalur yang sempit dan berkelok, memaksa tubuh Solvatar yang tegap untuk terus membungkuk. Kendati bahunya terasa tidak nyaman, insting arahnya sebagai seorang Alpha tidak pernah meleset.
Sesekali, Runala menyentuh lengan Solvatar. Seolah-olah hendak memastikan dirinya tidak kehilangan arah di tengah kegelapan total ini. Maka, Solvatar berinisiatif menggengam tangan gadis itu.
Hingga akhirnya, Solvatar merasakan sirkulasi udara yang berbeda kala mereka mencapai ujung lorong yang buntu oleh panel kayu berlapis pelat baja.
Solvatar meletakkan telapak tangannya pada panel tersebut, menekannya perlahan hingga engsel rahasianya berputar tanpa suara. Tatkala pintu itu terbuka, cahaya remang dari dalam ruangan mulai menyapu wajah mereka yang kotor oleh lumpur.
Keduanya melangkah keluar dan seketika tertegun. Mata Solvatar membelalak, sementara napas Runala tertahan.
“Tidak mungkin …,” desah Runala.
Hawa dingin musim salju tidak lagi datang dari luar istana, melainkan sudah menetap di dalam aula yang porak-poranda.Jendela kaca kini hanya tersisa rangka besi yang bengkok, terbuka seperti luka. Salju malam masuk tanpa hambatan, jatuh perlahan ke lantai marmer hitam yang retak dan basah oleh sisa pertempuran. Pilar-pilar utama berdiri miring dengan retakan panjang, debu putih terus luruh seperti abu yang belum selesai berjatuhan.Di luar, Ragnavar masih terbaring dalam wujud manusianya. Tubuhnya tidak lagi memancarkan ancaman. Namun, prajurit bersenjata berdiri menjaganya tanpa banyak kata.Akan tetapi, kemenangan tidak membuat aula itu tenang.Bisik-bisik langsung tumbuh seperti jamur di ruang lembap.
Sepasang netra hitam pekat itu menatap turun pada satu sosok, menyemburkan aura beracun yang membuat udara malam mendadak terasa mencekik.Tidak ada lagi kewibawaan seorang calon raja di wajah Ragnavar. Hanya kegilaan.Beberapa bangsawan menjerit. Yang lain mundur terburu-buru.Serigala yang ukurannya hampir menyamai tinggi pilar aula mendengus. Setiap embusan napas meninggalkan kabut hitam tipis di udara.Keheningan mencekam seluruh ruangan.Tidak seorang pun bergerak.Tidak seorang pun berani.Di tengah ketakutan itu, Solvatar justru mel
Aula itu membeku dalam satu tarikan napas panjang yang seolah-olah menolak bergerak.Udara di dalamnya terasa lebih berat. Setiap batu di pilar-pilar tinggi itu seperti ikut menyimpan ketegangan yang baru saja muncul. Cahaya purnama yang menembus kaca di langit-langit tidak lagi terasa hangat atau indah, melainkan jatuh seperti pisau tipis yang membelah ruang, menyorot dua sosok yang berdiri saling berhadapan di tengah karpet merah.Gema suara Solvatar masih menggantung di udara, belum sepenuhnya hilang. Namun, sudah cukup untuk merusak kesakralan malam penobatan itu. Beberapa bangsawan di kursi belakang bahkan tidak sadar mereka menahan napas terlalu lama.Di ujung yang berseberangan, Ragnavar yang masih berlutut dengan satu kaki di undakan takhta, tidak langsung bereaksi s
Sepasang netra Ragnavar berkilat puas, menanti kehancuran mental yang seharusnya merubuhkan pertahanan gadis di hadapannya. Namun, dingin yang menjalar di sekujur tubuh Runala justru perlahan mengkristal menjadi amarah yang pekat. Rongga dadanya yang sempat bergetar hebat kini dipaksa tegak.Runala mencengkeram erat gaun sutranya, menyembunyikan fakta bahwa kedua lutut di balik kain itu sedang bergetar hebat seolah-olah siap runtuh kapan saja. Gadis itu mendongak langsung pada mata sang penyerang ibu kandungnya.“Itu saja?”Seringai Ragnavar sempat membeku sejenak, tidak mengira akan mendapatkan reaksi sedingin itu.Runala menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam purnama membersihkan aroma tubuh Ragna
Hutan malam itu diselimuti kesunyian yang mencekam, kontras dengan gemuruh yang sebentar lagi akan mengguncang dunia.Kala itu, Ragnavar masih remaja. Di bawah pendaran megah bulan purnama, dia berjalan di samping Raja Ricgard—ayahnya, memimpin barisan prajurit berbaju zirah perak dan biru. Bagi Ragnavar, misi patroli malam ini hanyalah sebuah kepura-puraan yang menjemukan. Sebuah misi kosong.Ini adalah pola yang selalu berulang setiap kali Ratu Ralitsa—ibunya, hendak melahirkan adik-adiknya. Ayahnya sengaja membawa putra sulungnya dan rombongan militer menjauh dari istana, membiarkan proses persalinan berjalan tenang tanpa intervensi yang bisa mengacaukan insting protektif sang ibu.Ragnavar, seperti biasa, ikut saja. Dia memasang topeng terbaiknya, bersikap pa
Matahari pagi musim dingin menggantung pucat di ufuk timur, memantulkan cahaya pada hamparan salju yang membeku.Di gerbang utama Volkara, kepulan napas para penjaga membubung seperti asap putih di udara. Roda-roda kayu dari kereta kuda tertutup berderit berat, memecah kesunyian fajar tatkala rombongan itu tertahan di depan barikade besi.“Berhenti! Semua kereta yang masuk harus melewati pemeriksaan!” bentak seorang penjaga. Tangan kanannya bertumpu pada hulu pedang, sementara hidungnya memerah akibat hawa dingin.Nachtmar, yang menunggangi kuda di barisan paling depan, menatap lurus dari balik celah helm besinya. Di balik jubah tebal, dia mengenakan zirah prajurit istana di atas pakaian hitam milik kawanan berlencana ular.
“Aku sama sekali tidak tahu tentang itu.” Suara Solvatar terdengar dingin dan datar, berusaha menekan segala emosi yang bergolak di dalam dada setelah mendengar kabar yang disampaikan kakak yang menyambutnya. Kanavar, pangeran ke-2 mengernyitkan glabela sembari menyesuaikan langkah bot beratnya di
Hening seketika mencekik kabin kereta yang terus bergerak membelah rimba. Kalimat yang baru saja diucap Runala menyisakan gema yang membekukan atmosfer di antara mereka. Solvatar tidak melepaskan dekapan, lamun tubuhnya menegang kaku. Sepasang netra emasnya menatap Runala dengan kilat tidak percaya
Semburat cahaya emas fajar perlahan menyeruak di balik kabut tebal yang menyelimuti puncak bukit. Kehangatan matahari pagi yang mulai naik itu membawa perubahan di dalam perkemahan darurat kawanan Yegor. Udara hutan yang mulai menghangat secara bertahap melunturkan sisa-sisa uap dingin dari gas biu
Udara dini hari di atas bukit itu terasa jauh lebih tipis dan membekukan tulang. Di bawah temaram cahaya bulan cembung yang mulai merendah, anggota kawanan Yegor telah berubah wujud menjadi serigala-serigala besar berbulu lebat. Makhluk-makhluk predator itu menggunakan cakar-cakar mereka yang panja







