Home / Fantasi / Taring Emas Sang Alpha / 6. Getaran di Telinga

Share

6. Getaran di Telinga

Author: Lubna Karkata
last update publish date: 2026-04-25 17:27:33

Dunia Runala seakan-akan terjungkir balik tatkala lengan kekar Solvatar melingkari pinggangnya dengan sentakan yang merenggut napas. Dia bahkan tidak sempat memprotes kala lelaki itu menyeretnya masuk ke dalam rongga pohon raksasa yang sudah membusuk di tepian danau.

Punggung Runala membentur batang pohon yang kasar. Sementara tubuh Solvatar yang tinggi besar menekannya begitu rapat. Hingga dia bisa merasakan panas yang memancar dari dada lelaki itu, menembus lapisan lumpur dingin yang menyelimuti tubuhnya. Satu tangan Solvatar membungkam mulutnya dengan paksa, sementara tangan lainnya mencengkeram gagang pedang, seolah-olah bersiap kapan saja untuk menyerang dari ruang sempit yang mereka bagi. 

“Jangan. Bersuara,” desis Solvatar dengan nada sangat rendah hingga Runala lebih merasakannya sebagai getaran di telinga daripada sebuah suara.

Tiba-tiba, tanpa izin, tangan Runala yang penuh lumpur dingin meraup wajah Solvatar. Gadis itu hanya mengikuti insting untuk mengusapkan lumpur itu ke rahang, leher, hingga tulang pipi sang Alpha.

Solvatar tersentak. Rahangnya mengeras dan dia hampir meremukkan pergelangan tangan Runala karena merasa terhina. Lelaki itu mengeluarkan geraman rendah yang mematikan di dekat telinga Runala. Namun, amarahnya padam seketika saat menyadari bau Alpha-nya mendadak lenyap.

Runala terpaku dalam dekapan lelaki itu. Dari balik bahu Solvatar, melalui celah akar pohon yang melilit, gadis itu melihatnya.

Seekor serigala berbulu abu-abu kusam dengan ukuran tiga kali lebih besar melangkah keluar dari kabut malam. Matanya tidak berwarna keemasan seperti milik Solvatar, melainkan merah menyala. 

Runala terkesiap ketika menyadari mata itu menandakan kegilaan akibat ramuan gelap. Sama seperti kawanan yang menyerang ibunya malam itu. Dia merasa beruntung dengan tangan Solvatar yang menutup mulutnya. Kalau tidak, dia pasti runtuh dengan isakan yang terlepas. 

Binatang itu berhenti tepat di depan persembunyian mereka. Hidung hitamnya yang basah mengendus udara dengan rakus, hanya berjarak beberapa senti dari kaki Runala yang gemetar.

Runala memejam kuat-kuat, berusaha menghentikan setiap aliran oksigen dalam paru-paru. Dengan begitu, dia berharap bisa melupakan ingatan mengerikan tatkala nyawa ibunya direnggut paksa. Sementara Runala kecil hanya bisa bersembunyi menahan tangis di dalam lemari sempit. 

Sama seperti malam itu, keberadaan Runala tidak terdeteksi. Mereka sekarang hanyalah gundukan tanah dan kayu mati di mata pemangsa itu.

Tiba-tiba, serigala itu mengalihkan pandangannya ke arah kegelapan di belakang. Bulu tebalnya yang semula menegak perlahan melandai.

Seseorang melangkah keluar dari kabut. Tenang, tanpa suara, seolah-olah dia terbuat dari cahaya bulan. Jubahnya menyapu dedaunan kering tanpa menimbulkan gemeresik. Serigala yang tadinya tampak buas, kini merintih pelan. Binatang itu menunduk dalam-dalam, merangkak ke dekat sosok berjubah hitam itu layaknya anak anjing yang baru saja melakukan kesalahan.

Tangan Runala yang berada di bawah dekapan Solvatar meremas jubahnya tanpa sadar.

Dari gerakannya yang anggun dan lembut, Runala menduga itu adalah seorang perempuan. Tanpa membuka tudung, sosok itu mengusap kepala serigala dengan lembut, lalu tatapannya beralih. Dia tidak menatap hutan.

Dia menatap tepat ke arah Runala dan Solvatar. Di balik gelapnya rongga pohon, Runala yakin sosok itu bisa melihat matanya yang melebar.

Sebuah senyum kecil, hampir tidak terlihat, tersungging di bibirnya yang tersembunyi bayang-bayang tudung jubah. Dia meletakkan satu jari di depan bibirnya sendiri. Sebuah isyarat rahasia agar Solvatar dan Runala tetap diam. Bukan karena serigala itu bisa mencium bau mereka, melainkan karena dia ingin rahasia tetap terkubur di bawah lapisan lumpur ini.

“Pulanglah,” bisik sosok misterius itu. Suaranya jernih seperti desau angin malam. Tangannya yang terangkat ke depan wajah membuat bagian lengan jubahnya tersingkap, memperlihatkan simbol gelap di lengan dalam. Bentuknya seperti bulan sabit dengan lengkungan yang tampak magis. “Ini bukan malam untuk berburu.”

Tanpa perlawanan, serigala itu berbalik dan menghilang ke dalam pekatnya malam, diikuti oleh langkah sunyi perempuan berjubah yang kembali ditelan kabut.

Solvatar baru melepaskan bungkaman tangannya setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya. Lelaki itu tidak langsung bergerak. Dia tetap memeluk Runala erat, sepasang netranya menatap kosong ke arah hilangnya sosok tadi.

“Siapa orang itu?” bisik Runala parau. Tenggorokannya terasa kering.

Solvatar mengembuskan napas panjang. Wajahnya yang berlumuran lumpur terlihat pucat. “Hanya seorang penyihir bulan yang kebetulan lewat.”

Perlahan, Solvatar melepaskan bungkaman tangannya pada mulut Runala. Setelah dia memastikan bayangan penyihir dan serigala gila benar-benar hilang ditelan kabut. Napasnya masih memburu, panas dan sesak di dalam rongga pohon ini.

Sekilas, Solvatar melirik Runala. Gadis itu tidak bergerak. Untuk sedetik, dia mengira Runala sedang mengatur napas, tetapi kemudian bahunya mulai bergetar. Sebuah isakan kecil yang tertahan lolos dari bibirnya, terdengar lebih menyakitkan daripada gesekan pedang di tulang. 

“Sudah pergi,” geram Solvatar rendah, berusaha mengembalikan wibawa. “Rabbit, serigala itu sudah pergi.”

Alih-alih tenang, gadis itu malah runtuh bersimpuh ke atas tanah basah. Seolah-olah kakinya terbuat dari kapas. Apabila Solvatar tidak menangkap lengannya, gadis itu pasti sudah terperosok masuk ke dalam genangan lumpur yang dingin. Saat itulah dia melihat tatapan mata yang kosong dan penuh teror.

“Serigala itu …,” bisik Runala dengan suara pecah yang lolos menjadi isakan. “Dulu ... ibuku diserang ... mereka terlihat seperti itu.”

Solvatar membeku. Jadi, ini bukan sekadar ketakutan biasa. Ini adalah luka yang lebih dalam dari lubang di bahunya. Runala tidak hanya takut pada serigala tadi, dia sedang melihat sesuatu dari masa lalu. Sesuatu yang sama merahnya dengan mata serigala itu.

“Berhenti menangis,” ucap Solvatar karena merasa hatinya nyeri mendengar tangisan Runala. 

Luka di bahu Solvatar berdenyut, seolah-olah jaringan otot dan kulit yang baru menyatu itu protes karena gerakan tiba-tiba tadi. Cairan hangat mulai merembes di dalam pakaiannya. Namun, melihat Runala yang hancur di depannya, rasa sakit itu mendadak terasa sepele.

Tanpa bicara lagi, Solvatar menyelipkan lengan ke bawah lutut dan punggung Runala. Dalam satu gerakan ringan, dia menyentakkan tubuh gadis itu ke atas, tepat ke dalam dekapannya.

Runala tersentak, tangannya yang mungil dan berlumuran lumpur refleks mencengkeram jubah Solvatar. “Yang Mulia, bahu Anda ... masih terluka—”

“Diam,” potong Solvatar, kendatipun harus menggertakkan gigi menahan perih yang menyengat di pundak kiri. “Jangan sampai suaramu terdengar makhluk lain.”

Solvatar menggendong gadis itu keluar dari rongga pohon. Dia tidak peduli jika lukanya terbuka kembali atau jika perban yang dibebatkan Runala dengan susah payah harus basah oleh darah lagi. Malam ini, di tanahnya sendiri, Solvatar tidak akan membiarkan Runala berjalan dengan kaki yang gemetar.

Solvatar berjalan menembus kabut menuju barak. Dengan Runala dalam dekapan eratnya. Seolah-olah dengan begitu dia bisa menghalangi bayangan masa lalu gadis itu agar tidak datang dan mengejar lagi.

Lubna Karkata

halune, Lubnatic. terima kasih sudah membaca kisah Runala dan Solvatar~ salune, Lubna Karkata

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Taring Emas Sang Alpha   111. Pagi yang Menunggu

    Manusia serigala seharusnya menikah di bawah bulan purnama.Karena itu, tatkala matahari musim semi bersinar tepat di atas aula, semua orang tahu mereka sedang menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.Beberapa bulan lalu, aula yang sama dipenuhi darah, pengkhianatan, dan raungan perang.Hari ini, aula itu dipenuhi bunga.Tidak ada malam yang dingin. Tidak ada ritual saling menandai lekukan leher dengan gigitan yang telah diwariskan selama ratusan tahun.Hari itu, untuk kali pertama dalam sejarah kerajaan Wolfaern, seorang Alpha menikah di bawah matahari.Tentu, tidak seorang pun berani memprotesnya.Mereka sengaja memilih hari pertama pergantian musim. Tepat tatkala cahaya matahari pagi musim semi yang hangat bersinggungan dengan hawa panas yang mulai memeluk dataran Wolfaern. Runala menyukai musim semi yang menumbuhkan kehidupan, sementara Solvatar mencintai musim panas yang membakar semangat. Solvatar berdiri di hadapan Runala dengan jubah hitam kebesarannya. Cahaya

  • Taring Emas Sang Alpha   110. Aula yang Porak-poranda

    Hawa dingin musim salju tidak lagi datang dari luar istana, melainkan sudah menetap di dalam aula yang porak-poranda.Jendela kaca kini hanya tersisa rangka besi yang bengkok, terbuka seperti luka. Salju malam masuk tanpa hambatan, jatuh perlahan ke lantai marmer hitam yang retak dan basah oleh sisa pertempuran. Pilar-pilar utama berdiri miring dengan retakan panjang, debu putih terus luruh seperti abu yang belum selesai berjatuhan.Di luar, Ragnavar masih terbaring dalam wujud manusianya. Tubuhnya tidak lagi memancarkan ancaman. Namun, prajurit bersenjata berdiri menjaganya tanpa banyak kata.Akan tetapi, kemenangan tidak membuat aula itu tenang.Bisik-bisik langsung tumbuh seperti jamur di ruang lembap.

  • Taring Emas Sang Alpha   109. Gema Pertempuran

    Sepasang netra hitam pekat itu menatap turun pada satu sosok, menyemburkan aura beracun yang membuat udara malam mendadak terasa mencekik.Tidak ada lagi kewibawaan seorang calon raja di wajah Ragnavar. Hanya kegilaan.Beberapa bangsawan menjerit. Yang lain mundur terburu-buru.Serigala yang ukurannya hampir menyamai tinggi pilar aula mendengus. Setiap embusan napas meninggalkan kabut hitam tipis di udara.Keheningan mencekam seluruh ruangan.Tidak seorang pun bergerak.Tidak seorang pun berani.Di tengah ketakutan itu, Solvatar justru mel

  • Taring Emas Sang Alpha   108. Napas Panjang

    Aula itu membeku dalam satu tarikan napas panjang yang seolah-olah menolak bergerak.Udara di dalamnya terasa lebih berat. Setiap batu di pilar-pilar tinggi itu seperti ikut menyimpan ketegangan yang baru saja muncul. Cahaya purnama yang menembus kaca di langit-langit tidak lagi terasa hangat atau indah, melainkan jatuh seperti pisau tipis yang membelah ruang, menyorot dua sosok yang berdiri saling berhadapan di tengah karpet merah.Gema suara Solvatar masih menggantung di udara, belum sepenuhnya hilang. Namun, sudah cukup untuk merusak kesakralan malam penobatan itu. Beberapa bangsawan di kursi belakang bahkan tidak sadar mereka menahan napas terlalu lama.Di ujung yang berseberangan, Ragnavar yang masih berlutut dengan satu kaki di undakan takhta, tidak langsung bereaksi s

  • Taring Emas Sang Alpha   107. Ambang Pintu Kaca

    Sepasang netra Ragnavar berkilat puas, menanti kehancuran mental yang seharusnya merubuhkan pertahanan gadis di hadapannya. Namun, dingin yang menjalar di sekujur tubuh Runala justru perlahan mengkristal menjadi amarah yang pekat. Rongga dadanya yang sempat bergetar hebat kini dipaksa tegak.Runala mencengkeram erat gaun sutranya, menyembunyikan fakta bahwa kedua lutut di balik kain itu sedang bergetar hebat seolah-olah siap runtuh kapan saja. Gadis itu mendongak langsung pada mata sang penyerang ibu kandungnya.“Itu saja?”Seringai Ragnavar sempat membeku sejenak, tidak mengira akan mendapatkan reaksi sedingin itu.Runala menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam purnama membersihkan aroma tubuh Ragna

  • Taring Emas Sang Alpha   106. Seorang Putra Mahkota

    Hutan malam itu diselimuti kesunyian yang mencekam, kontras dengan gemuruh yang sebentar lagi akan mengguncang dunia.Kala itu, Ragnavar masih remaja. Di bawah pendaran megah bulan purnama, dia berjalan di samping Raja Ricgard—ayahnya, memimpin barisan prajurit berbaju zirah perak dan biru. Bagi Ragnavar, misi patroli malam ini hanyalah sebuah kepura-puraan yang menjemukan. Sebuah misi kosong.Ini adalah pola yang selalu berulang setiap kali Ratu Ralitsa—ibunya, hendak melahirkan adik-adiknya. Ayahnya sengaja membawa putra sulungnya dan rombongan militer menjauh dari istana, membiarkan proses persalinan berjalan tenang tanpa intervensi yang bisa mengacaukan insting protektif sang ibu.Ragnavar, seperti biasa, ikut saja. Dia memasang topeng terbaiknya, bersikap pa

  • Taring Emas Sang Alpha   99. Iba yang Meremukkan Hati

    Dinding batu pualam yang mengelilingi kamar megah itu mendadak terasa begitu sempit. Di atas ranjang luas berselimut sutra, seekor serigala betina berbulu cokelat terang sedang meregang nyawa menahan beban persalinan yang luar biasa berat. Namun, malam itu, siksaan

  • Taring Emas Sang Alpha   66. Amarah yang Hampir Meledak

    Pintu kayu kamar perawatan bergeser terbuka dengan bunyi derit halus. Nachtmar melangkah masuk terlebih dahulu, disusul oleh seorang pria berjubah khas tabib istana. jKedatangan mereka benar-benar tepat waktu. Nachtmar telah berhasil menjalankan taktiknya dengan sangat matang. Dia sengaja berjalan

  • Taring Emas Sang Alpha   65. Mundur Menuju Pintu

    Runala mengerjap. Sesaat merasa linglung dan bingung dengan situasi yang terjadi. Gadis itu tidak menyangka Solvatar justru akan menegurnya kala baru saja membuka mata.Tatkala mengikuti arah tangan Solvatar terulur, Runala baru menyadari bahwa pergelangan tangan Nachtmar dicekal dengan sangat kuat

  • Taring Emas Sang Alpha   61. Itu Bukan Langkah Seorang Pelayan

    Runala tidak ingin terlelap.Suhu di dalam ruangan itu turun drastis menjelang fajar, membuat uap napas keluar tipis dari sela bibir Runala yang pucat. Kini, yang tersisa hanyalah keheningan pekat yang sesekali dipecah oleh derit ranjang setiap kali tubuh Solvatar bergerak sedikit dalam tidurnya.D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status