MasukDunia Runala seakan-akan terjungkir balik tatkala lengan kekar Solvatar melingkari pinggangnya dengan sentakan yang merenggut napas. Dia bahkan tidak sempat memprotes kala lelaki itu menyeretnya masuk ke dalam rongga pohon raksasa yang sudah membusuk di tepian danau.
Punggung Runala membentur batang pohon yang kasar. Sementara tubuh Solvatar yang tinggi besar menekannya begitu rapat. Hingga dia bisa merasakan panas yang memancar dari dada lelaki itu, menembus lapisan lumpur dingin yang menyelimuti tubuhnya. Satu tangan Solvatar membungkam mulutnya dengan paksa, sementara tangan lainnya mencengkeram gagang pedang, seolah-olah bersiap kapan saja untuk menyerang dari ruang sempit yang mereka bagi.
“Jangan. Bersuara,” desis Solvatar dengan nada sangat rendah hingga Runala lebih merasakannya sebagai getaran di telinga daripada sebuah suara.
Tiba-tiba, tanpa izin, tangan Runala yang penuh lumpur dingin meraup wajah Solvatar. Gadis itu hanya mengikuti insting untuk mengusapkan lumpur itu ke rahang, leher, hingga tulang pipi sang Alpha.
Solvatar tersentak. Rahangnya mengeras dan dia hampir meremukkan pergelangan tangan Runala karena merasa terhina. Lelaki itu mengeluarkan geraman rendah yang mematikan di dekat telinga Runala. Namun, amarahnya padam seketika saat menyadari bau Alpha-nya mendadak lenyap.
Runala terpaku dalam dekapan lelaki itu. Dari balik bahu Solvatar, melalui celah akar pohon yang melilit, gadis itu melihatnya.
Seekor serigala berbulu abu-abu kusam dengan ukuran tiga kali lebih besar melangkah keluar dari kabut malam. Matanya tidak berwarna keemasan seperti milik Solvatar, melainkan merah menyala.
Runala terkesiap ketika menyadari mata itu menandakan kegilaan akibat ramuan gelap. Sama seperti kawanan yang menyerang ibunya malam itu. Dia merasa beruntung dengan tangan Solvatar yang menutup mulutnya. Kalau tidak, dia pasti runtuh dengan isakan yang terlepas.
Binatang itu berhenti tepat di depan persembunyian mereka. Hidung hitamnya yang basah mengendus udara dengan rakus, hanya berjarak beberapa senti dari kaki Runala yang gemetar.
Runala memejam kuat-kuat, berusaha menghentikan setiap aliran oksigen dalam paru-paru. Dengan begitu, dia berharap bisa melupakan ingatan mengerikan tatkala nyawa ibunya direnggut paksa. Sementara Runala kecil hanya bisa bersembunyi menahan tangis di dalam lemari sempit.
Sama seperti malam itu, keberadaan Runala tidak terdeteksi. Mereka sekarang hanyalah gundukan tanah dan kayu mati di mata pemangsa itu.
Tiba-tiba, serigala itu mengalihkan pandangannya ke arah kegelapan di belakang. Bulu tebalnya yang semula menegak perlahan melandai.
Seseorang melangkah keluar dari kabut. Tenang, tanpa suara, seolah-olah dia terbuat dari cahaya bulan. Jubahnya menyapu dedaunan kering tanpa menimbulkan gemeresik. Serigala yang tadinya tampak buas, kini merintih pelan. Binatang itu menunduk dalam-dalam, merangkak ke dekat sosok berjubah hitam itu layaknya anak anjing yang baru saja melakukan kesalahan.
Tangan Runala yang berada di bawah dekapan Solvatar meremas jubahnya tanpa sadar.
Dari gerakannya yang anggun dan lembut, Runala menduga itu adalah seorang perempuan. Tanpa membuka tudung, sosok itu mengusap kepala serigala dengan lembut, lalu tatapannya beralih. Dia tidak menatap hutan.
Dia menatap tepat ke arah Runala dan Solvatar. Di balik gelapnya rongga pohon, Runala yakin sosok itu bisa melihat matanya yang melebar.
Sebuah senyum kecil, hampir tidak terlihat, tersungging di bibirnya yang tersembunyi bayang-bayang tudung jubah. Dia meletakkan satu jari di depan bibirnya sendiri. Sebuah isyarat rahasia agar Solvatar dan Runala tetap diam. Bukan karena serigala itu bisa mencium bau mereka, melainkan karena dia ingin rahasia tetap terkubur di bawah lapisan lumpur ini.
“Pulanglah,” bisik sosok misterius itu. Suaranya jernih seperti desau angin malam. Tangannya yang terangkat ke depan wajah membuat bagian lengan jubahnya tersingkap, memperlihatkan simbol gelap di lengan dalam. Bentuknya seperti bulan sabit dengan lengkungan yang tampak magis. “Ini bukan malam untuk berburu.”
Tanpa perlawanan, serigala itu berbalik dan menghilang ke dalam pekatnya malam, diikuti oleh langkah sunyi perempuan berjubah yang kembali ditelan kabut.
Solvatar baru melepaskan bungkaman tangannya setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya. Lelaki itu tidak langsung bergerak. Dia tetap memeluk Runala erat, sepasang netranya menatap kosong ke arah hilangnya sosok tadi.
“Siapa orang itu?” bisik Runala parau. Tenggorokannya terasa kering.
Solvatar mengembuskan napas panjang. Wajahnya yang berlumuran lumpur terlihat pucat. “Hanya seorang penyihir bulan yang kebetulan lewat.”
Perlahan, Solvatar melepaskan bungkaman tangannya pada mulut Runala. Setelah dia memastikan bayangan penyihir dan serigala gila benar-benar hilang ditelan kabut. Napasnya masih memburu, panas dan sesak di dalam rongga pohon ini.
Sekilas, Solvatar melirik Runala. Gadis itu tidak bergerak. Untuk sedetik, dia mengira Runala sedang mengatur napas, tetapi kemudian bahunya mulai bergetar. Sebuah isakan kecil yang tertahan lolos dari bibirnya, terdengar lebih menyakitkan daripada gesekan pedang di tulang.
“Sudah pergi,” geram Solvatar rendah, berusaha mengembalikan wibawa. “Rabbit, serigala itu sudah pergi.”
Alih-alih tenang, gadis itu malah runtuh bersimpuh ke atas tanah basah. Seolah-olah kakinya terbuat dari kapas. Apabila Solvatar tidak menangkap lengannya, gadis itu pasti sudah terperosok masuk ke dalam genangan lumpur yang dingin. Saat itulah dia melihat tatapan mata yang kosong dan penuh teror.
“Serigala itu …,” bisik Runala dengan suara pecah yang lolos menjadi isakan. “Dulu ... ibuku diserang ... mereka terlihat seperti itu.”
Solvatar membeku. Jadi, ini bukan sekadar ketakutan biasa. Ini adalah luka yang lebih dalam dari lubang di bahunya. Runala tidak hanya takut pada serigala tadi, dia sedang melihat sesuatu dari masa lalu. Sesuatu yang sama merahnya dengan mata serigala itu.
“Berhenti menangis,” ucap Solvatar karena merasa hatinya nyeri mendengar tangisan Runala.
Luka di bahu Solvatar berdenyut, seolah-olah jaringan otot dan kulit yang baru menyatu itu protes karena gerakan tiba-tiba tadi. Cairan hangat mulai merembes di dalam pakaiannya. Namun, melihat Runala yang hancur di depannya, rasa sakit itu mendadak terasa sepele.
Tanpa bicara lagi, Solvatar menyelipkan lengan ke bawah lutut dan punggung Runala. Dalam satu gerakan ringan, dia menyentakkan tubuh gadis itu ke atas, tepat ke dalam dekapannya.
Runala tersentak, tangannya yang mungil dan berlumuran lumpur refleks mencengkeram jubah Solvatar. “Yang Mulia, bahu Anda ... masih terluka—”
“Diam,” potong Solvatar, kendatipun harus menggertakkan gigi menahan perih yang menyengat di pundak kiri. “Jangan sampai suaramu terdengar makhluk lain.”
Solvatar menggendong gadis itu keluar dari rongga pohon. Dia tidak peduli jika lukanya terbuka kembali atau jika perban yang dibebatkan Runala dengan susah payah harus basah oleh darah lagi. Malam ini, di tanahnya sendiri, Solvatar tidak akan membiarkan Runala berjalan dengan kaki yang gemetar.
Solvatar berjalan menembus kabut menuju barak. Dengan Runala dalam dekapan eratnya. Seolah-olah dengan begitu dia bisa menghalangi bayangan masa lalu gadis itu agar tidak datang dan mengejar lagi.
halune, Lubnatic. terima kasih sudah membaca kisah Runala dan Solvatar~ salune, Lubna Karkata
Hawa dingin musim salju tidak lagi datang dari luar istana, melainkan sudah menetap di dalam aula yang porak-poranda.Jendela kaca kini hanya tersisa rangka besi yang bengkok, terbuka seperti luka. Salju malam masuk tanpa hambatan, jatuh perlahan ke lantai marmer hitam yang retak dan basah oleh sisa pertempuran. Pilar-pilar utama berdiri miring dengan retakan panjang, debu putih terus luruh seperti abu yang belum selesai berjatuhan.Di luar, Ragnavar masih terbaring dalam wujud manusianya. Tubuhnya tidak lagi memancarkan ancaman. Namun, prajurit bersenjata berdiri menjaganya tanpa banyak kata.Akan tetapi, kemenangan tidak membuat aula itu tenang.Bisik-bisik langsung tumbuh seperti jamur di ruang lembap.
Sepasang netra hitam pekat itu menatap turun pada satu sosok, menyemburkan aura beracun yang membuat udara malam mendadak terasa mencekik.Tidak ada lagi kewibawaan seorang calon raja di wajah Ragnavar. Hanya kegilaan.Beberapa bangsawan menjerit. Yang lain mundur terburu-buru.Serigala yang ukurannya hampir menyamai tinggi pilar aula mendengus. Setiap embusan napas meninggalkan kabut hitam tipis di udara.Keheningan mencekam seluruh ruangan.Tidak seorang pun bergerak.Tidak seorang pun berani.Di tengah ketakutan itu, Solvatar justru mel
Aula itu membeku dalam satu tarikan napas panjang yang seolah-olah menolak bergerak.Udara di dalamnya terasa lebih berat. Setiap batu di pilar-pilar tinggi itu seperti ikut menyimpan ketegangan yang baru saja muncul. Cahaya purnama yang menembus kaca di langit-langit tidak lagi terasa hangat atau indah, melainkan jatuh seperti pisau tipis yang membelah ruang, menyorot dua sosok yang berdiri saling berhadapan di tengah karpet merah.Gema suara Solvatar masih menggantung di udara, belum sepenuhnya hilang. Namun, sudah cukup untuk merusak kesakralan malam penobatan itu. Beberapa bangsawan di kursi belakang bahkan tidak sadar mereka menahan napas terlalu lama.Di ujung yang berseberangan, Ragnavar yang masih berlutut dengan satu kaki di undakan takhta, tidak langsung bereaksi s
Sepasang netra Ragnavar berkilat puas, menanti kehancuran mental yang seharusnya merubuhkan pertahanan gadis di hadapannya. Namun, dingin yang menjalar di sekujur tubuh Runala justru perlahan mengkristal menjadi amarah yang pekat. Rongga dadanya yang sempat bergetar hebat kini dipaksa tegak.Runala mencengkeram erat gaun sutranya, menyembunyikan fakta bahwa kedua lutut di balik kain itu sedang bergetar hebat seolah-olah siap runtuh kapan saja. Gadis itu mendongak langsung pada mata sang penyerang ibu kandungnya.“Itu saja?”Seringai Ragnavar sempat membeku sejenak, tidak mengira akan mendapatkan reaksi sedingin itu.Runala menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam purnama membersihkan aroma tubuh Ragna
Hutan malam itu diselimuti kesunyian yang mencekam, kontras dengan gemuruh yang sebentar lagi akan mengguncang dunia.Kala itu, Ragnavar masih remaja. Di bawah pendaran megah bulan purnama, dia berjalan di samping Raja Ricgard—ayahnya, memimpin barisan prajurit berbaju zirah perak dan biru. Bagi Ragnavar, misi patroli malam ini hanyalah sebuah kepura-puraan yang menjemukan. Sebuah misi kosong.Ini adalah pola yang selalu berulang setiap kali Ratu Ralitsa—ibunya, hendak melahirkan adik-adiknya. Ayahnya sengaja membawa putra sulungnya dan rombongan militer menjauh dari istana, membiarkan proses persalinan berjalan tenang tanpa intervensi yang bisa mengacaukan insting protektif sang ibu.Ragnavar, seperti biasa, ikut saja. Dia memasang topeng terbaiknya, bersikap pa
Matahari pagi musim dingin menggantung pucat di ufuk timur, memantulkan cahaya pada hamparan salju yang membeku.Di gerbang utama Volkara, kepulan napas para penjaga membubung seperti asap putih di udara. Roda-roda kayu dari kereta kuda tertutup berderit berat, memecah kesunyian fajar tatkala rombongan itu tertahan di depan barikade besi.“Berhenti! Semua kereta yang masuk harus melewati pemeriksaan!” bentak seorang penjaga. Tangan kanannya bertumpu pada hulu pedang, sementara hidungnya memerah akibat hawa dingin.Nachtmar, yang menunggangi kuda di barisan paling depan, menatap lurus dari balik celah helm besinya. Di balik jubah tebal, dia mengenakan zirah prajurit istana di atas pakaian hitam milik kawanan berlencana ular.
Pintu tertutup dengan debum halus di belakang Runala, seketika memutus kehangatan yang tersisa dari kamar tidur raja dan ratu Wolfaern. Koridor istana menyambutnya dengan hawa dingin yang mencengkeram.Sebelum melangkah lebih jauh, Kanavar yang tadi mengantar, menghentikan langkahnya. Lelaki bertub
“Aku sama sekali tidak tahu tentang itu.” Suara Solvatar terdengar dingin dan datar, berusaha menekan segala emosi yang bergolak di dalam dada setelah mendengar kabar yang disampaikan kakak yang menyambutnya. Kanavar, pangeran ke-2 mengernyitkan glabela sembari menyesuaikan langkah bot beratnya di
Hening seketika mencekik kabin kereta yang terus bergerak membelah rimba. Kalimat yang baru saja diucap Runala menyisakan gema yang membekukan atmosfer di antara mereka. Solvatar tidak melepaskan dekapan, lamun tubuhnya menegang kaku. Sepasang netra emasnya menatap Runala dengan kilat tidak percaya
Semburat cahaya emas fajar perlahan menyeruak di balik kabut tebal yang menyelimuti puncak bukit. Kehangatan matahari pagi yang mulai naik itu membawa perubahan di dalam perkemahan darurat kawanan Yegor. Udara hutan yang mulai menghangat secara bertahap melunturkan sisa-sisa uap dingin dari gas biu







