LOGIN
"Lepasin aku, LEPASIN!!!" teriak Adeline, suaranya pecah oleh amarah dan ketakutan.
Tian berusaha menahan kedua tangan Adeline yang meronta hebat. Namun semakin kuat perempuan itu melawan, semakin keras pula cengkeramannya. Puncaknya, dengan satu sentakan brutal, dia mendorong tubuh Adeline hingga terpelanting ke arah sofa ruang tamu. BRUKK! Tubuh Adeline menubruk sofa dengan keras. Namun malang tak berhenti di situ, kepalanya membentur meja kayu di samping sofa dengan bunyi yang mengerikan. "AAAKKK!!!" Jeritan Adeline menggema di seluruh ruangan sebelum akhirnya... gelap. *** "Ti... Tian?" Suara itu nyaris tak terdengar, hanya desahan lemah dari bibir yang sulit digerakkan. Adeline berjuang membuka matanya. Pandangannya kabur, kepalanya terasa seperti dihantam palu godam. Dia mencoba mengangkat tangan untuk menarik perhatian, tapi tubuhnya menolak bekerja sama. Setiap inci kulitnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum tajam. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara-suara bersahut-sahutan. "O... Oh!!! Ya Tuhan!!!" Sebuah seruan kaget memecah keheningan. Adeline mengernyit, mencoba mengenali suara itu. Suara Amara, Istri baru ayah Tian. "Tan... Tante? Tolong aku..." panggilnya, nyaris tanpa suara. "Apa... Apa itu darah???!!! Sayang, apa yang Tian lakukan?!" Amara berteriak histeris. Jelas sekali dia tidak mendengar permohonan Adeline. "Jangan ikut campur, Tante!!!" bentak Tian, suaranya penuh kemarahan yang tertahan. "Apa yang kamu lakukan, anak bodoh?!!!" Suara berat itu membuat jantung Adeline mencelos. Guntur Sadawijaya. Ayah Tian. Kenapa mereka tiba-tiba ada di sini? "Pa, tolong Pa! Tian nggak mau masuk penjara! Tian baru aja mau mulai kerja, Pa!" Suara Tian berubah menjadi rengekan putus asa. "DASAR ANAK BODOH BIANG MASALAH!!!" Guntur mengaum. Adeline mendengar langkah berat mendekat ke arahnya. Dia memanfaatkan momen itu sebaik mungkin. "Om... tolong saya..." Bisikannya nyaris tenggelam oleh debaran jantungnya sendiri. Tiba-tiba, kata-kata berikutnya yang keluar dari mulut Guntur membuat darah Adeline membeku. "Kuburkan saja dia! Cepat!!!" "APA?!" Tian tersentak kaget. "Nggak!!! Nggak, Ayah! Apa-apaan Ayah ini?!" Guntur menggeram rendah. "Terus apa yang harus dilakukan, anak bodoh? Bawa mayatnya ke keluarganya, gitu? Bawa ke rumah sakit? Goblok bener kamu!!!" "Udah, nurut aja!" sentaknya tanpa ampun. Langkah kaki Tian mendekat. Adeline berusaha sekuat tenaga membuat kontak mata dengannya. ‘Tian, lihat aku. Aku masih hidup. Aku masih bernapas!’ teriakan batinnya. Namun tatapan Tian kosong. Matanya tidak fokus pada apa pun selain ketakutannya sendiri. "A-aku belum mati! Tolong aku!" Adeline memaksa suaranya keluar, dan kali ini berhasil—kendati hanya bisikan parau. Tapi ruangan itu terlalu riuh oleh kepanikan. Tak seorang pun menyadari bibir Adeline yang bergerak. "Sialan! Brengsek!" Tian memaki, kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri. "Kenapa ini semua harus terjadi, sih? Harusnya ini nggak pernah terjadi! Gara-gara Adeline, aku jadi seorang pembunuh! Kriminal!" Adeline ingin tertawa pahit. Dia masih hidup dan Tian tidak menyadarinya. "Sekarang kamu pindahkan mayat ini! Buang di mana saja, terserah!" perintah Guntur. Tian menggendong tubuh Adeline dan membawanya keluar. Dengan kasar, dia memasukkannya ke bagasi mobil, lalu menutupinya dengan kain tebal hingga gelap total. "Ti... Tian..." panggil Adeline lewat sela-sela rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya. Tian tercekat. "Kayaknya tadi aku dengar sesuatu? Ah, salah dengar kali! Aku harus segera menyelesaikan ini!" "Sial! Kuncinya ketinggalan!" Tian tiba-tiba berseru jengkel, lalu berlari kembali ke dalam rumah. Dengan sisa tenaga yang ada, Adeline menyingkap kain yang menutupi tubuhnya. Matanya menyapu isi bagasi dan menemukan sebuah ransel besar—tas mendaki milik Tian. Dengan susah payah, dia menarik tas itu keluar dari tumpukan barang, lalu menutupinya dengan kain yang sama persis seperti saat tubuhnya disembunyikan. Setiap gerakan terasa seperti siksaan. Kepalanya berdenyut hebat, pandangannya berkunang-kunang. Namun satu pikiran terus menggema di benaknya. Ia harus selamat. Dia membuka bagasi dan merosot keluar dari mobil. Kakinya gemetar, nyaris tak mampu menopang tubuhnya. Namun dia memaksa langkahnya menjauh dari rumah Tian, masuk ke dalam gelapnya malam. Air mata mengalir deras di pipinya. Bukan karena takut, melainkan karena marah. "Ini semua gara-gara dia..." bisiknya tersengal-sengal. "Tian... Dasar pembunuh!" Dia berjalan tertatih-tatih tanpa arah yang jelas. Rumah sakit? Terlalu berisiko. Tian pasti akan mencarinya di sana pertama kali. "Polisi... Aku harus menelepon polisi..." Dengan sisa energinya yang nyaris habis, Adeline menyeret kakinya menuju pos satpam perumahan. "Lho! Mbak Adeline! Mbak kenapa?! Saya panggil Mas Tian dulu ya!" seru Pak Wira, satpam yang berjaga malam itu. Wajahnya pucat melihat kondisi Adeline yang berlumuran darah. Adeline buru-buru meletakkan telunjuk di depan bibirnya. "Ssst... Pak Wira! Jangan panggil Tian! Saya... saya numpang telepon polisi dulu..." Tubuhnya lunglai jatuh di kursi panjang pos satpam. Tangannya gemetar saat mengeluarkan ponsel dari saku celana. Pandangannya semakin gelap, kepalanya terasa seperti akan meledak. "Aku harus bertahan... Ayo Adeline, kamu pasti bisa..." bisiknya pada diri sendiri. Namun tepat saat jarinya akan menekan tombol panggilan, sebuah suara menggelegar di keheningan malam. "ADELINE!!!" Adeline mendongak perlahan, jantungnya seolah berhenti berdetak.Semua orang segera terkejut dan menoleh ke arah asal suara. "Adeline!!! Hentikan!!!" seruan itu terdengar lagi, tapi kali ini disusul oleh kemunculan seorang pria yang segera berlari ke arah mereka dan meraih tangan Adeline. "Tian!!! Mau apa kamu di sini?!" seru Yasmin terkejut. Sementara itu Adeline berusaha melepaskan diri dari genggaman Tian. "Lepaskan!!! Lepas, Tian!!!" serunya histeris. Tiba-tiba terlintas di pikirannya memori saat Tian dulu bertengkar dengannya dan tidak sengaja mendorongnya hingga kepalanya terbentur di pinggir meja. "Jangan bunuh aku lagi, Tian!!!" serunya kali ini dua kali lebih histeris. Saga segera mendekati Tian dan menarik Adeline lalu menendang dada Tian. BUGHHH!!! "AAARGHH!!!" seru Tian segera, kesakitan. Saga segera memeluk Adeline yang sedang panik dan ketakutan. Adeline menutup kepalanya dengan kedua tangannya dan terisak tak terkendali. "Tenang, tenang. Kamu nggak apa-apa," kata Saga kemudian berusaha menenangkannya. "ADELINE!!!" seru Tia
Hari itu benar-benar seru. Mereka berbelanja bahan-bahan untuk dimasak bareng seperti jagung dan sosis, paprika, nanas, saus barbeque, saus pedas, dan bumbu-bumbu lainnya. Adam dan Saga bertugas membeli minuman. Mereka memborong dua soda dalam ukuran satu liter, es batu, juga kopi karena mereka berniat begadang. "Saya nggak nyangka Bapak beneran jadian sama Kakak saya," kata Adam sambil melihat rak minuman di depannya. Saga mengangguk. "Saya juga nggak menyangka. Kalian itu orang-orang yang berasal dari dunia yang beda sama saya. Tapi Adeline benar-benar down to earth dan bukan tipe cewek manja," jawabnya panjang lebar. Adam menghela napas panjang. "Kakak terbiasa mandiri, Pak. Sejak orangtua kami meninggal, Kakek meminta kami buat belajar mandiri, apalagi nanti kami kerja di perusahaan medis keluarga. Kalo kami nggak dilatih buat kuat, Kakek takut kami nggak bisa bertahan di dunia bisnis yang keras," jelasnya. Saga mengangguk mengerti. "Memang. Dulu dia waktu tinggal di rumah
Pak Harris menggebrak meja. "Sialan!!! Pak Kombes sudah turun tangan!!! Mana aku kena semprot, lagi!!!" serunya marah selepas upacara pagi itu. Saga dan Tama segera saling berpandangan. Pak Kombes Arjuna Pahlevi memang menyempatkan datang ke markas, setelah itu merujak Pak Harris dengan pedasnya. Dia dituduh menutup mata terhadap kejahatan-kejahatan besar yang sudah dilakukan oleh Guntur. "Baguslah, Bos ketemu lawan yang sepadan," bisik Tama dan Saga segera mengangguk. "Ini soalnya udah melampaui kuasa kita. Pak Harris memang salah," balasnya. "Kabarnya sidang perceraian sama Vera juga udah selesai. Katanya alasannya karena Vera mandul dan cemburuan," lanjut Tama. Saga menghela napas panjang. "Nasib orang emang nggak ada yang tahu, Tam. Mungkin ini karma dia, balasan atas semua hal buruk yang udah dia lakukan," katanya pelan. Tama mengangguk. "Bapak lega?" tanyanya pelan. Saga menggelengkan kepalanya. "Saya nggak peduli, jujur saja. Saya udah di titik bodo amat sama dia," k
"Awal tahun lalu, tepatnya 21 Januari, Anda melakukan pembelian saham yang mencurigakan, lalu menjualnya kembali dengan harga yang tinggi. Pada pertengahan tahun, Anda membeli properti yang juga mencurigakan dan setelah diselidiki termasuk money laundering. Lalu pada..." Pak Santoso berbicara kembali tapi segera diputus oleh Guntur. "STOP!!! ITU NGGAK BENAR!!!" serunya segera dengan marah. "Ada bukti-buktinya, Pak. Kami tidak asal menuduh Anda. Anda pikir kami serendah itu?" tanya Bu Asrina dengan dingin.Guntur segera menggebrak meja. "DIAM!!!" serunya. "Apa kalian nggak ngerti kalau ini udah masuk ranah pribadi saya?!" lanjutnya. Pak Unggul menatapnya dengan penuh arti. "Apa Bapak nggak tahu kalau ini tindakan kriminal dan merugikan perusahaan? Belum lagi skandal Anda dan wanita itu!!!" seru beliau lalu menunjukkan Amara dengan wajah merah. "Mengabaikan istri yang sedang sakit, lalu menjalin hubungan dengan sekretaris pribadi dan kemudian menikahinya secara siri, apa yang And
Guntur menatap sekretarisnya, yang adalah istrinya sendiri, Amara, dengan tatapan tajam. "Mereka mau aku datang ke rapat Direksi? Buat apa? Aku nggak diberi tahu apa-apa sebelumnya!" serunya. Amara mengelus pundak suaminya (dan sekaligus bosnya). "Ah, mungkin memang ada yang dibicarakan. Setahuku semua petinggi perusahaan hadir," jawabnya. Guntur mengelus dagunya. "Hmmm, perasaanku kok nggak enak, ya? Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi di perusahaan tapi aku nggak tahu?" tanyanya pada dirinya sendiri. Amara tertawa kecil. "Mana ada! Kamu punya banyak mata-mata di mana-mana. Kalau ada yang terjadi, kamu yang pertama tahu," katanya menenangkan. Guntur manggut-manggut. "Memang benar. Ya sudah, kita lihat saja apa mau mereka sekarang," katanya lalu berdiri dan merapikan jasnya. Amara mengangguk dan mengikuti Guntur sambil membawa tabletnya. Ketika mereka muncul di lorong kantor, para karyawan langsung memberi jalan, tapi kemudian ketika Guntur dan Amara sudah lewat, bisik-b
"Jadi dia emang suka jualan?" tanya Saga untuk kesekian kalinya. Adeline segera memutar bola matanya. "Iya, Yang. Kan tadi aku udah bilang," jawabnya agak kesal. "Aku masih nggak percaya," kata Saga sambil merenung. "Orang kayak dia, yang udah punya segalanya, harus jualan, gitu?" tanyanya tak habis pikir. Adeline dan Yasmin segera saling berpandangan. "Yaelah Pak, orang kaya dan berkuasa nggak menjamin hidupnya bersih dan nggak macam-macam. Orang kayak Bianca itu punya prinsip semakin banyak uang, semakin bagus. Lagipula dia emang kekurangan kasih sayang orangtua, terutama ayahnya jadi dia nyari validasi di luar dari om-om gadun itu, ya begitulah," jawab Yasmin panjang lebar. "Semua anak-anak lingkaran kalian kayak gitu?" tanya Saga pelan. Adeline segera menggeleng. "Lingkunganku enggak. Kami suka hidup lurus dan tenang, nggak banyak drama dan masalah. Tapi di luar sana, banyak anak-anak orang kaya yang memang suka jualan," jelasnya. Saga kembali merenung. Dia lalu tiba-tib







