LOGINSementara itu di meja makan, Karin dan Kemala sudah duduk dengan manis di sana. Dengan piring yang sudah terisi dengan makanan. Dan juga Bibi Aini yang duduk berhadapan dengan kedua puterinya.
Melihat kemunculan Kila, Kama dan ayah mereka. Karin dan Kemala sontak menganga dengan kompak. Keduanya sama - sama diserang keterkejutan. Serangan mendadak! Sementara itu, BIbi Aini yang memunggungi mereka bertiga. Tak tau apa yang membuat kedua puterinya itu terngaga sampai ia berbalik badan. Dan sama. Bibi Aini pun ternganga. “Kama?” ujar Karin dan Kemala secara berbarengan. Paman Zainal tak menggubris keterkejutan anak istrinya, ia berjalan di depan. Membiarkan Kila mau tak mau harus berdampingan dengan Kama. Kila dengan kikuk berjalan di samping Kama. Tinggi badan Kama dan Kila terlihat sangat jomplang disini. “Mari... Kila sudah memasak pagi sekali.” Paman Zainal menarik kursi untuk mempersilahkan Kama duduk. Kama akhirnya duduk. Sedangkan Paman Zainal menghampiri sisi meja yang lain, duduk di antara kedua puterinya, Karin dan Kemala. Kama akhirnya duduk, ia duduk berhadapan dengan Paman Zainal, dan di sebelah kanannya ada BIbi Aini yang masih mematung. Rupanya, kehadiran Kama pagi ini, memberikan dampak yang besar pada keluarga ini. Lihat saja... mereka semua kompak diam. Biasanya, pagi hari sangatlah berisik. “Kila, ayo duduk, kita harus sarapan bersama.” ujar Paman Zainal. Kila sendiri masih berdiri, langkahnya terasa ragu. Ia tidak biasa makan bersama, di meja makan keluarga ini. Meski tiap ada Paman Zainal, beliau selalu mengajak Kila makan bersama tanpa membedakan Kila dan puteri - puterinya, tapi respon Karin, Kemala serta ibunya itulah yang membuat Kila tidak betah lama - lama. “Ayo, cepat. Layani Kama... ia juga ingin sarapan. Mencicipi makanan buatanmu.” bujuk Pak Zainal. Kila tersenyum tipis, ia berjalan dengan ragu. Tapi mau tak mau, ia harus duduk di samping Kama. “Ambilkan Kama makanan.... “ perintah Paman Zainal yang langsung di iyakan oleh Kila. Tangan Kila dengan cekatan mengambil nasi dan menaruh sop daging yang masih mengepul. Kama tak banyak bicara, ia hanya diam. Merespon ketita ditanya yang seperlunya saja. “Makanlah.... “ Kila menaruh piring berisi makanan di depan Kama. Kama tidak berterima kasih atau apapun. “Biasanya juga dia makan sendiri, karena ada Kama dia jadi tak tau malu. Ikut makan di meja makan keluarga kita.” ujar Karin dengan ketus, matanya memutar. Kemudian menatap sinis pada Kila. Pak Zainal berdeham keras, tanda tak suka dengan kata kata yang keluar dari Karin. Kila segera menarik diri, ia berjalan mundur tiga langkah dari meja makan. Dengan senyum getir yang berusaha ia tutup - tutupi, meskipun itu terlihat gagal. “Aku belum lapar, aku mau menyelesaikan beberes rumah dahulu.” ujar Kila mencari - cari alasan. Alasan yang tidak terlalu bagus, bahkan Kama terlihat menarik senyum kecil seperti mencemooh. Paman Zainal yang tau suasana di meja makan mulai tidak menyenangkan, segera mengangguk setuju. “Baiklah.... nanti segera temui Paman di taman belakang, ada yang ingin Paman bicarakan... “ ujar Paman Zainal. KIla mengangguk dan segera meluncur, meninggalkan meja makan. Sementara itu, sarapan kembali berlangsung. Sedangkan Kila, entah ia sedang besembunyi di sudut rumah mana. “Ngomong ngomong, kamu suka makanan apa Kama?” tanya Karin dengan nada lembut tak seperti biasanya. Kemala sendiri sampai terheran dengan nada bicara yang digunakan saudarinya itu, jujur, Kemala hampir tersedak makanannya. Karin melirik tajam ke arah Kemala, tanda memberikan peringatan. Karin kembali menatap Kama, menunggu jawaban dari mulut laki - laki itu. Sepuluh detik. Bahkan sampai semenit kemudian, Kama tak menjawab pertanyaan Karin. Karin menggaruk kepalanya, yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Kemala mencengkeram gagang sendok dengan erat, mencoba menahan tawa. Baru kali ini ia melihat pipi Karin memerah karena merasa kesal. Dan ini sangat lucu. ***** Dua hari sudah, dan Kila ingat betul bagaimana kedatangan Kama ke rumah pamannya memberikan dampak yang luar biasa. Kila merasa was - was. Bahkan dirumahnya sendiri, Kila merasa tidak aman. Kama bisa menyusup sampai wilayahnya. Tidak ada lagi tempat aman untuk Kila, setidaknya untuk saat ini. Pagi ini Kila sudah di sibukan dengan berbenah barang - barang milik sepupunya, Kemala. Kemala berencana menginap di kota sebrang. Berlibur tepatnya, ia sudah menyiapkan sekoper pakaian untuk berlibur. Semua Pakaian disiapkan Kila, sedangkan Kemala masih asik terlelap di ranjangnya. Kila membuka pintu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sudah menarik koper berat berwarna silver. Paman Zainal sendiri sudah di halaman rumah, ia tengah memeriksa mesin mobil. Suara mesin yang tengah di panaskan. Karena akan digunakan untuk mengantar Kemala nantinya, Paman Zainal begitu teliti memeriksa ban mobil, kaca dan banyak lagi. Saat menyadari kedatangan Kila, Paman Zainal lantas tersenyum. Ia bergegas menghampiri Kila yang kerepotan menarik koper. “Sini, biar Paman bawakan... “ ucap Paman Zainal dengan tanganya yang sigap, mengambil alih koper berat itu dari tangan Kila, kini berada di tanganya. Paman Zainal tak lupa membuka bagasi, memasukan koper dan menatanya dengan barang - barang lain yang ada di sana. “Terimakasih Kila, sudah memebantu Kemala bebenah.” ucap Paman Zainal dengan senyum penuh terima kasih. Kila tersenyum senang melihat Pamannya itu, “Tidak perlu berterima kasih Paman... “ ucap KIla dengan senang hati. “Coba saja, sepupu - sepupu kamu itu mau mencontoh sikap rajinmu itu. Pasti Paman yakin, banyak pria yang berbondong - bondong meminang mereka... “ ujar Paman Zainal, “Sayangnya Paman terlalu memanjakan mereka, sampai seperti ini. Dan selalu merepotkan kamu... “ ucap Paman Zainal penuh sesal. Kila tersenyum kecut, “Tidak Paman, aku tidak merasa di repotkan. Paman merawat Kila dari kecil saja sudah membuat Kila merasa beruntung...” Paman Zainal tersenyum tipis, “Bahkan merawat kamu, itu bentuk tanggung jawab Paman.” “Sungguh Paman sangat menyesal, kenapa hari itu Paman tidak mengantar kalian.” Kila menggigit bibir bawahnya, “Tidak apa - apa Paman, itu... sudah jadi jadi kehendak Tuhan.” Kila menunduk, melihat rumput yang diinjaknya, berusaha sebaik mungkin menahan air matanya agar tidak jatuh. “Ayah.....! Ayo berangkat!!” seru Kemala dengan nada riang, alhasil, seruan Kemala berhasil menarik lagi air mata Kila dari pelupuk matanya. Baru kali ini Kila merasa lega mendengar teriakan sepupunya itu. Kila mengangkat kepalanya tegak, “Ayo Paman... “ ujar Kila sembari meremas jemarinya dengan gugup. *** *** Paman Zainal sibuk menyetir mobil melewati pemukiman warga dengan Kemala disampingnya yang tengah asik menikmati camilan yang di bawanya. Sedangkan Kila duduk di belakang, membungkuk, merasa kalau perjalanan ini akan semakin menyiksanya. Desa Kila bukanlah desa terpencil, tapi akses menuju kota sangatlah lama. Itu mungkin memakan awaktu dua sampai tiga jam perjalanan. Melewati perbukitan dan hutan - hutan. Belum lagi orang - orang yang masih sangat tradisional. Kebutuhan hidup mereka penuhi dengan bertani dan mereka jual di pasar besar dekat dermaga sekaligus berbelanja daging dan ikan. Bahkan beberapa warga yang terkendala ekonimi terpaksa tidak menyekolahkan anak mereka dan memilih menikahkan anak perempuannya yang belum cukup umur dengan alasan meringankan biaya. Cukup miris memang, tapi apa daya, itu pil pahit yang harus di telan oleh kebanyakan orang miskin di lingkunan Kila. Tentu saja, Kila dan sepupu sepupunya ini termasuk beruntung. Mereka tergolong orang terpandang di desa, dengan kendaraan, sawah dan lahan pertanian yang luas. Bahkan Paman Zainal tak ayal sering menjadi jalan keluar warga yang kesulitan. Mereka sering meminta tolong pada Paman Zainal untuk mengantarkan orang sakit ke kota, karena rumah sakit di kota ini hanya ada satu. Banyak yang berhutang uang pada Paman Zainal, dan tak ayal Paman tidak meminta imbalan uang, Paman meminta mereka menggantinya semampunya saja. Bahkan bagi warga yang kesulitan, mereka tak ayal mengganti uang yang mereka pinjam dengan hasil bumi yang mereka miliki. “Setelah pulang berlibur nanti, jangan lupa untuk menyelesaikan skripsimu.” Paman Zainal mengingatkan Kemala untuk segera menyelesaikan skripsi putrinya yang sudah ditunda tunda sejak awal tahun, dan sekarang? Kemala bahkan melakukan liburan akhir tahun. Senyum di bibir Kemala memudar mendengar ucapan Ayahnya. “Aku ingat Ayah.” ujar KEmala dengan raut kesal. “Ingat atau pura - pura ingat, ini sudah setahun. Ayah ingin kamu segera menyelesaikan pendidikan kamu yang terbengkalai ini... “ ujar Paman Zainal dengan nada menasehati. Kemala berdecak kesal, “Aku kan stress kuliah, aku butuh hiburan.” Paman Zainal mempercepat laju mobilnya, “Stres yang kamu ungkit ungkit setahun lebih.” Kemala berdecak lagi, “AKu kan benar - benar stress Ayah, kuliah, dosen pembimbing yang killer, diperantauan aku tidak bisa makan seenak makanan rumah, aku bahkan kehilangan sepuluh kilo berat badanku... “ keluh Kemala. Paman Zainal adalah orang paling penyabar, bahkan saat mendengar kebohongan dari mulut puterinya sendiri, bukannya tersulut emosi, ia malah menarik nafas panjang mencoba melapangkan dada sekali lagi. “Dosenmu itu jauh dari kata galak Kemala, beliau bahkan menghubungi ayah karena khawatir kabarmu.” Mata Kemala terbelalak kaget, Kemala yang tidak tau menau kalau dosennya menghubungi ayahnya,”Benarkah?” Kemala ragu, ia masih tak percaya. Anggukan mantap dari ayahnya, sontak membuat keraguan Kemala hilang. “Stress yang kamu maksud barusan mungkin stress jalan - jalan di jam kuliah, nongkrong di coffe shop tiap hari sampai lupa mengumpulkan tugas. Bahkan ayah tau kalau ibumu diam diam membayar orang untuk merapikan kos kosanmu.” Mati sudah! Ayahnya rupanya sudah tau semuanya, tak perlu lagi berpura - pura tersiksa Kemala. Semua sudah tidak bisa di tutup tutupi. “Bahkan dirumah pun, kamu hanya asik berleha - leha. Tidak pernah ayah melihat kamu membantu Kila memasak di dapur,” ujar Paman Zainal, “LIhat... Kamu harus banyak belajar dari Kila, dia bisa melakukan banyak hal sendiri, dia cerdas dan -” “AKu turun saja kalau Ayah mau membanding bandingkanku dengan dia.” amuk Kemala, rasanya sungguh tidak sudi ia dibanding - bandingkan dengan si Kila ini. Meskipun memang benar, Kila sangat baik dalam memasak, membersihkan rumah, danmeskipun Kila memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi, Kila termasuk perempuan yang cerdas dan juga cantik tentunya. Ia cukup Dan kalau Kila menerima tawaran Pamannya untuk melanjutkan pendidikan, kuliah di perguruan tinggi yang sama dengan Kemala. Gadis itu yakin, kalau Kila akan jadi bahan omongan dan omelan dari ayahnya setiap harinya. “Jangan seperti anak kecil, cuma bisa menggertak.” ucap Paman Zainal. Bibir Kemala mengerucut mendengar ledekan Ayahnya itu. Kila bisa melihat lirikan maut Kemala dari pantulan kaca. Sepertinya, memilih diam adalah pilihan yang terbaik. Selebihnya, sisa perjalanan di isi dengan keheningan. Kemala memilih tidur, sedangkan Kila tak ingin mengganggu Paman Zainal. Membiarkan Pamannya fokus memegang kemudi. Kila melihat ke sekelilingnya. Pepohonan yang tinggi, hampir lima meter kira kira. Dulu tak setinggi ini, Kila ingat betul. Di malam yang pekat. Dengan langit yang bergemuruh, badai yang tidak seperti biasanya. Kila ingat sekali hari itu. Ia bertiga, bersama ayah dan ibunya memilih untuk menerjang badai, setelah perjalanan panjang dari luar kota, Ayah Kila langsung tancap gas dari pelabuhan menuju desa mereka. Tak disangka, malam itu cuaca tidak bersahabat. Kilat menyambar dengan cepat seperti pecutan api di langit sana. Gemuruh guntur menggelegar seperti memecahkan gendang telinga. Paman Zainal mengatakan kalau ia tak bisa menjemput Kila dan ibunya di dermaga, alhasil ayah Kila harus mengantar anak dan istrinya pulang dulu ke rumah sebelum ia kembali memutar arah ke kota. Sialnya, hari buruk tidak ada di kalender. Akibat hujan lebat membuat lereng bukit longsor dan menimpa mobil yang dikendarai ayah Kila. Kila yang saat itu masih terlalu kecil, tidak tau apa yang terjadi. Yang ia ingat hanya kilatan di langit, teriakan ayah dan ibunya, serta gemuruh guntur. Setelahnya, semua yang semula gelap. Menjadi semakin gelap.Paman Kila punya banyak sekali usaha. Tapi tidak di kota ini, Paman Zainal memiliki beberapa pabrik di luar kota, lebih tepatnya pabrik pengolahan kayu. Paman Zainal harus menggunakan kapal dan melanjutkan perjalanan dengan mengendarai mobil selama kurang lebih dua jam. BIasanya Paman Zainal akan melakukan pengecekan di pabrik setiap sebulan atau dua bulan sekali. Dan tibalah hari ini, bersama Kemala dengan rencana liburannya.“Katakan kepada Bibi, kalau Paman mungkin akan pulang seminggu lagi.” pesan Paman Zainal pada Kila.Kila mengangguk paham, ia melihat Kemala yang sudah heboh dengan barang - barangnya. “Paman sudah minta seseorang untuk menjemput kamu nanti, jangan pulang terlalu malam. Melewati perbukitan di malam hari itu tidak aman.” pesan Paman Zainal lagi, guna memastikan keselamatan keponakannya itu.“Tidak perlu Paman, aku bisa pulang dengan mobil orang - orang desa. Mereka pasti banyak yang pulang dari pasar.” Kila menolak .Meskipun Kila menolak, rupanya Paman Zainal n
Sementara itu di meja makan, Karin dan Kemala sudah duduk dengan manis di sana. Dengan piring yang sudah terisi dengan makanan. Dan juga Bibi Aini yang duduk berhadapan dengan kedua puterinya. Melihat kemunculan Kila, Kama dan ayah mereka. Karin dan Kemala sontak menganga dengan kompak. Keduanya sama - sama diserang keterkejutan. Serangan mendadak!Sementara itu, BIbi Aini yang memunggungi mereka bertiga. Tak tau apa yang membuat kedua puterinya itu terngaga sampai ia berbalik badan.Dan sama. Bibi Aini pun ternganga. “Kama?” ujar Karin dan Kemala secara berbarengan.Paman Zainal tak menggubris keterkejutan anak istrinya, ia berjalan di depan. Membiarkan Kila mau tak mau harus berdampingan dengan Kama. Kila dengan kikuk berjalan di samping Kama. Tinggi badan Kama dan Kila terlihat sangat jomplang disini.“Mari... Kila sudah memasak pagi sekali.” Paman Zainal menarik kursi untuk mempersilahkan Kama duduk. Kama akhirnya duduk. Sedangkan Paman Zainal menghampiri sisi meja yang lain,
Kila dengan cekatan memotong daun bawang menjadi ukuran kecil yang sama besarnya, ia juga memotong wortel dengan seukuran ibu jari. Kemudian Kila menyalakan kompor. Menuang sedikit minyak untuk menumis bawang bombay hingga layu, bersamaan dengan itu, Kila memasukan wortes. Menumisnya sebentar agar teksturnya tidak mudah ambyar saat di masak nanti. Setelah itu, Kila dengan sigap menuangkan air ke dalam panci masak tadi. Butuh waktu cukup lama untuk mendidihkan air yang nanti akan di masukan daging. Tak perlu menunggu air sampai mendidih, Kila sudah sibuk memasukan bumbu dan rempah rempat. Ia memasukan bunga lawang dan cengkeh ke dalam kantong masak berukuran kecil. Kantong itu nanti akan di masukan ke dalam air mendidih dan saat sop matang, akan di ambil supaya rempah itu tidak menggangu Tuan Puteri Karin saat menyeruput kuah sopnya.Kila memasukan garam, lada dan juga bubuk bawang putih. Kemudian mencicipi kuah racikannya. Kila mengangguk puas, ini akan membuat Tuan Puteri senang.
Kila terduduk lemas, ia tak bisa berpikir tenang. Pikirannya masih tertinggal di rumah Kama, dan sialnya Kila tidak bisa melenyapkan bayangan Kama dalam benaknya.“Siall..... “ geram Kila dengan kesal, ia masih saja memikirkan laki - laki berengsek seperti Kama. Tanpa sadar, Kila menangis. Ia tidak bisa menahan gejolak emosi yang membuat dadanya sesak.Kepala Kila tertunduk. Ia menangis sejadi jadinya. Rasa sakit di hatinya, tidak bisa tertahankan. Bahkan rasa sakit di pangkal pahanya masih terasa sakit sampai sekarang. Dan yang Kila tau, seorang Kama hanya meninggalkan luka di jiwa, dan tubuhnya. Kila menggertakan giginya, ia bersumpah. Dalam kebetulan manapun, ia tak ingin bertemu dengan laki - laki itu. Kama. *** ***Kila duduk di tepi ranjang, ini tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Seumur hidupnya ia tidak pernah menempati ruangan sebesar ini. Ruangan yang disediakan untuknya, begitu luas. Bahkan terlalu luas kalau hanya untuk di tinggali oleh Kila.Kila melihat sekel
Laki - laki di depan Kila ini memang brengsek. Bahkan saat mata Kila sudah memanas karena menahan air mata yang siap tumpah, Kama, nama laki - laki brengsek itu. Ia tidak peduli dengan Kila, bagaimanapun mereka telah melewatkan malam bersama. Sebagai seorang suami dan istri. Tapi sekarang?Kama bahkan tak bereaksi apa - apa dengan kesedihan di wajah Kila yang terang - terangan di perlihatkan oleh wanita itu.“Orang - orangku akan segera mengemasi barang - barangmu,” Kama berdiri sembari berlalu meninggalkan Kila.Kila tersentak, setelah menunggu kata - kata maaf atau ampunan, atau permohonan atau apapun itu... rupanya yang keluar dari mulut Kama, adalah kalimat berisi perintah untuk segera angkat kaki dari rumahnya.aKama tak berbalik badan sedikitpun, sedangkan KIla sudah siap berdiri. Siap untuk menginterupsi.“Kenapa? Kenapa Kama!” jerit Kila dengan pedihnya.“Kenapa kamu membuangku.... “ isak Kila dengan pedihnya, ia terhuyung dan segera mencari sandaran. Kila syok, tubuhnya bahka







