Share

4

Author: Elios
last update Last Updated: 2025-12-07 22:21:34

Sementara itu di meja makan, Karin dan Kemala sudah duduk dengan manis di sana. Dengan piring yang sudah terisi dengan makanan. Dan juga Bibi Aini yang duduk berhadapan dengan kedua puterinya.

Melihat kemunculan Kila, Kama dan ayah mereka. Karin dan Kemala sontak menganga dengan kompak. Keduanya sama - sama diserang keterkejutan. Serangan mendadak!

Sementara itu, BIbi Aini yang memunggungi mereka bertiga. Tak tau apa yang membuat kedua puterinya itu terngaga sampai ia berbalik badan.

Dan sama. Bibi Aini pun ternganga.

“Kama?” ujar Karin dan Kemala secara berbarengan.

Paman Zainal tak menggubris keterkejutan anak istrinya, ia berjalan di depan. Membiarkan Kila mau tak mau harus berdampingan dengan Kama. Kila dengan kikuk berjalan di samping Kama. Tinggi badan Kama dan Kila terlihat sangat jomplang disini.

“Mari... Kila sudah memasak pagi sekali.” Paman Zainal menarik kursi untuk mempersilahkan Kama duduk.

Kama akhirnya duduk. Sedangkan Paman Zainal menghampiri sisi meja yang lain, duduk di antara kedua puterinya, Karin dan Kemala. Kama akhirnya duduk, ia duduk berhadapan dengan Paman Zainal, dan di sebelah kanannya ada BIbi Aini yang masih mematung. Rupanya, kehadiran Kama pagi ini, memberikan dampak yang besar pada keluarga ini. Lihat saja... mereka semua kompak diam. Biasanya, pagi hari sangatlah berisik.

“Kila, ayo duduk, kita harus sarapan bersama.” ujar Paman Zainal.

Kila sendiri masih berdiri, langkahnya terasa ragu. Ia tidak biasa makan bersama, di meja makan keluarga ini. Meski tiap ada Paman Zainal, beliau selalu mengajak Kila makan bersama tanpa membedakan Kila dan puteri - puterinya, tapi respon Karin, Kemala serta ibunya itulah yang membuat Kila tidak betah lama - lama.

“Ayo, cepat. Layani Kama... ia juga ingin sarapan. Mencicipi makanan buatanmu.” bujuk Pak Zainal.

Kila tersenyum tipis, ia berjalan dengan ragu. Tapi mau tak mau, ia harus duduk di samping Kama.

“Ambilkan Kama makanan.... “ perintah Paman Zainal yang langsung di iyakan oleh Kila. Tangan Kila dengan cekatan mengambil nasi dan menaruh sop daging yang masih mengepul.

Kama tak banyak bicara, ia hanya diam. Merespon ketita ditanya yang seperlunya saja.

“Makanlah.... “ Kila menaruh piring berisi makanan di depan Kama. Kama tidak berterima kasih atau apapun.

“Biasanya juga dia makan sendiri, karena ada Kama dia jadi tak tau malu. Ikut makan di meja makan keluarga kita.” ujar Karin dengan ketus, matanya memutar. Kemudian menatap sinis pada Kila.

Pak Zainal berdeham keras, tanda tak suka dengan kata kata yang keluar dari Karin.

Kila segera menarik diri, ia berjalan mundur tiga langkah dari meja makan.

Dengan senyum getir yang berusaha ia tutup - tutupi, meskipun itu terlihat gagal.

“Aku belum lapar, aku mau menyelesaikan beberes rumah dahulu.” ujar Kila mencari - cari alasan. Alasan yang tidak terlalu bagus, bahkan Kama terlihat menarik senyum kecil seperti mencemooh.

Paman Zainal yang tau suasana di meja makan mulai tidak menyenangkan, segera mengangguk setuju.

“Baiklah.... nanti segera temui Paman di taman belakang, ada yang ingin Paman bicarakan... “ ujar Paman Zainal. KIla mengangguk dan segera meluncur, meninggalkan meja makan.

Sementara itu, sarapan kembali berlangsung. Sedangkan Kila, entah ia sedang besembunyi di sudut rumah mana.

“Ngomong ngomong, kamu suka makanan apa Kama?” tanya Karin dengan nada lembut tak seperti biasanya. Kemala sendiri sampai terheran dengan nada bicara yang digunakan saudarinya itu, jujur, Kemala hampir tersedak makanannya.

Karin melirik tajam ke arah Kemala, tanda memberikan peringatan.

Karin kembali menatap Kama, menunggu jawaban dari mulut laki - laki itu. Sepuluh detik. Bahkan sampai semenit kemudian, Kama tak menjawab pertanyaan Karin. Karin menggaruk kepalanya, yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.

Kemala mencengkeram gagang sendok dengan erat, mencoba menahan tawa. Baru kali ini ia melihat pipi Karin memerah karena merasa kesal. Dan ini sangat lucu.

*****

Dua hari sudah, dan Kila ingat betul bagaimana kedatangan Kama ke rumah pamannya memberikan dampak yang luar biasa. Kila merasa was - was. Bahkan dirumahnya sendiri, Kila merasa tidak aman. Kama bisa menyusup sampai wilayahnya. Tidak ada lagi tempat aman untuk Kila, setidaknya untuk saat ini.

Pagi ini Kila sudah di sibukan dengan berbenah barang - barang milik sepupunya, Kemala. Kemala berencana menginap di kota sebrang. Berlibur tepatnya, ia sudah menyiapkan sekoper pakaian untuk berlibur. Semua Pakaian disiapkan Kila, sedangkan Kemala masih asik terlelap di ranjangnya.

Kila membuka pintu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sudah menarik koper berat berwarna silver. Paman Zainal sendiri sudah di halaman rumah, ia tengah memeriksa mesin mobil. Suara mesin yang tengah di panaskan. Karena akan digunakan untuk mengantar Kemala nantinya, Paman Zainal begitu teliti memeriksa ban mobil, kaca dan banyak lagi.

Saat menyadari kedatangan Kila, Paman Zainal lantas tersenyum. Ia bergegas menghampiri Kila yang kerepotan menarik koper.

“Sini, biar Paman bawakan... “ ucap Paman Zainal dengan tanganya yang sigap, mengambil alih koper berat itu dari tangan Kila, kini berada di tanganya. Paman Zainal tak lupa membuka bagasi, memasukan koper dan menatanya dengan barang - barang lain yang ada di sana.

“Terimakasih Kila, sudah memebantu Kemala bebenah.” ucap Paman Zainal dengan senyum penuh terima kasih.

Kila tersenyum senang melihat Pamannya itu, “Tidak perlu berterima kasih Paman... “ ucap KIla dengan senang hati.

“Coba saja, sepupu - sepupu kamu itu mau mencontoh sikap rajinmu itu. Pasti Paman yakin, banyak pria yang berbondong - bondong meminang mereka... “ ujar Paman Zainal, “Sayangnya Paman terlalu memanjakan mereka, sampai seperti ini. Dan selalu merepotkan kamu... “ ucap Paman Zainal penuh sesal.

Kila tersenyum kecut, “Tidak Paman, aku tidak merasa di repotkan. Paman merawat Kila dari kecil saja sudah membuat Kila merasa beruntung...”

Paman Zainal tersenyum tipis, “Bahkan merawat kamu, itu bentuk tanggung jawab Paman.”

“Sungguh Paman sangat menyesal, kenapa hari itu Paman tidak mengantar kalian.”

Kila menggigit bibir bawahnya, “Tidak apa - apa Paman, itu... sudah jadi jadi kehendak Tuhan.”

Kila menunduk, melihat rumput yang diinjaknya, berusaha sebaik mungkin menahan air matanya agar tidak jatuh.

“Ayah.....! Ayo berangkat!!” seru Kemala dengan nada riang, alhasil, seruan Kemala berhasil menarik lagi air mata Kila dari pelupuk matanya. Baru kali ini Kila merasa lega mendengar teriakan sepupunya itu.

Kila mengangkat kepalanya tegak, “Ayo Paman... “ ujar Kila sembari meremas jemarinya dengan gugup.

***

***

Paman Zainal sibuk menyetir mobil melewati pemukiman warga dengan Kemala disampingnya yang tengah asik menikmati camilan yang di bawanya. Sedangkan Kila duduk di belakang, membungkuk, merasa kalau perjalanan ini akan semakin menyiksanya.

Desa Kila bukanlah desa terpencil, tapi akses menuju kota sangatlah lama. Itu mungkin memakan awaktu dua sampai tiga jam perjalanan. Melewati perbukitan dan hutan - hutan. Belum lagi orang - orang yang masih sangat tradisional. Kebutuhan hidup mereka penuhi dengan bertani dan mereka jual di pasar besar dekat dermaga sekaligus berbelanja daging dan ikan. Bahkan beberapa warga yang terkendala ekonimi terpaksa tidak menyekolahkan anak mereka dan memilih menikahkan anak perempuannya yang belum cukup umur dengan alasan meringankan biaya. Cukup miris memang, tapi apa daya, itu pil pahit yang harus di telan oleh kebanyakan orang miskin di lingkunan Kila.

Tentu saja, Kila dan sepupu sepupunya ini termasuk beruntung. Mereka tergolong orang terpandang di desa, dengan kendaraan, sawah dan lahan pertanian yang luas. Bahkan Paman Zainal tak ayal sering menjadi jalan keluar warga yang kesulitan. Mereka sering meminta tolong pada Paman Zainal untuk mengantarkan orang sakit ke kota, karena rumah sakit di kota ini hanya ada satu. Banyak yang berhutang uang pada Paman Zainal, dan tak ayal Paman tidak meminta imbalan uang, Paman meminta mereka menggantinya semampunya saja. Bahkan bagi warga yang kesulitan, mereka tak ayal mengganti uang yang mereka pinjam dengan hasil bumi yang mereka miliki.

“Setelah pulang berlibur nanti, jangan lupa untuk menyelesaikan skripsimu.”

Paman Zainal mengingatkan Kemala untuk segera menyelesaikan skripsi putrinya yang sudah ditunda tunda sejak awal tahun, dan sekarang? Kemala bahkan melakukan liburan akhir tahun.

Senyum di bibir Kemala memudar mendengar ucapan Ayahnya.

“Aku ingat Ayah.” ujar KEmala dengan raut kesal.

“Ingat atau pura - pura ingat, ini sudah setahun. Ayah ingin kamu segera menyelesaikan pendidikan kamu yang terbengkalai ini... “ ujar Paman Zainal dengan nada menasehati.

Kemala berdecak kesal, “Aku kan stress kuliah, aku butuh hiburan.”

Paman Zainal mempercepat laju mobilnya, “Stres yang kamu ungkit ungkit setahun lebih.”

Kemala berdecak lagi, “AKu kan benar - benar stress Ayah, kuliah, dosen pembimbing yang killer, diperantauan aku tidak bisa makan seenak makanan rumah, aku bahkan kehilangan sepuluh kilo berat badanku... “ keluh Kemala.

Paman Zainal adalah orang paling penyabar, bahkan saat mendengar kebohongan dari mulut puterinya sendiri, bukannya tersulut emosi, ia malah menarik nafas panjang mencoba melapangkan dada sekali lagi.

“Dosenmu itu jauh dari kata galak Kemala, beliau bahkan menghubungi ayah karena khawatir kabarmu.”

Mata Kemala terbelalak kaget, Kemala yang tidak tau menau kalau dosennya menghubungi ayahnya,”Benarkah?” Kemala ragu, ia masih tak percaya.

Anggukan mantap dari ayahnya, sontak membuat keraguan Kemala hilang.

“Stress yang kamu maksud barusan mungkin stress jalan - jalan di jam kuliah, nongkrong di coffe shop tiap hari sampai lupa mengumpulkan tugas. Bahkan ayah tau kalau ibumu diam diam membayar orang untuk merapikan kos kosanmu.”

Mati sudah! Ayahnya rupanya sudah tau semuanya, tak perlu lagi berpura - pura tersiksa Kemala. Semua sudah tidak bisa di tutup tutupi.

“Bahkan dirumah pun, kamu hanya asik berleha - leha. Tidak pernah ayah melihat kamu membantu Kila memasak di dapur,” ujar Paman Zainal, “LIhat... Kamu harus banyak belajar dari Kila, dia bisa melakukan banyak hal sendiri, dia cerdas dan -”

“AKu turun saja kalau Ayah mau membanding bandingkanku dengan dia.” amuk Kemala, rasanya sungguh tidak sudi ia dibanding - bandingkan dengan si Kila ini. Meskipun memang benar, Kila sangat baik dalam memasak, membersihkan rumah, danmeskipun Kila memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi, Kila termasuk perempuan yang cerdas dan juga cantik tentunya. Ia cukup

Dan kalau Kila menerima tawaran Pamannya untuk melanjutkan pendidikan, kuliah di perguruan tinggi yang sama dengan Kemala. Gadis itu yakin, kalau Kila akan jadi bahan omongan dan omelan dari ayahnya setiap harinya.

“Jangan seperti anak kecil, cuma bisa menggertak.” ucap Paman Zainal.

Bibir Kemala mengerucut mendengar ledekan Ayahnya itu. Kila bisa melihat lirikan maut Kemala dari pantulan kaca. Sepertinya, memilih diam adalah pilihan yang terbaik.

Selebihnya, sisa perjalanan di isi dengan keheningan. Kemala memilih tidur, sedangkan Kila tak ingin mengganggu Paman Zainal. Membiarkan Pamannya fokus memegang kemudi.

Kila melihat ke sekelilingnya. Pepohonan yang tinggi, hampir lima meter kira kira. Dulu tak setinggi ini, Kila ingat betul. Di malam yang pekat. Dengan langit yang bergemuruh, badai yang tidak seperti biasanya. Kila ingat sekali hari itu. Ia bertiga, bersama ayah dan ibunya memilih untuk menerjang badai, setelah perjalanan panjang dari luar kota, Ayah Kila langsung tancap gas dari pelabuhan menuju desa mereka. Tak disangka, malam itu cuaca tidak bersahabat. Kilat menyambar dengan cepat seperti pecutan api di langit sana.

Gemuruh guntur menggelegar seperti memecahkan gendang telinga. Paman Zainal mengatakan kalau ia tak bisa menjemput Kila dan ibunya di dermaga, alhasil ayah Kila harus mengantar anak dan istrinya pulang dulu ke rumah sebelum ia kembali memutar arah ke kota.

Sialnya, hari buruk tidak ada di kalender. Akibat hujan lebat membuat lereng bukit longsor dan menimpa mobil yang dikendarai ayah Kila. Kila yang saat itu masih terlalu kecil, tidak tau apa yang terjadi. Yang ia ingat hanya kilatan di langit, teriakan ayah dan ibunya, serta gemuruh guntur. Setelahnya, semua yang semula gelap. Menjadi semakin gelap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tawanan Tuan Kama   11

    “Bisa kamu lebih cepat lagi dalam bekerja?” protes Kama.Kila melirik Kama, tatapanya tajam dan penuh kesal. “Kamu lebih baik tutup mulut, karena kecerewetanmu tidak mempercepat pekerjaanku sama sekali.” Kila menghentak - hentakan tanganya saat mengelap kaca etasale, “Akong saja tidak secerewet dia. Siapa dia memangnya? Bosku?” Kila masih mengeluarkan banyak protes. Bahkan kedatangan Kama tanpa diminta, kenapa malah ia menekan Kila untuk bekerja cepat? Kila hampir selesai membereskan etalase, ia juga sudah mematikan oven, membersihkan semua loyang kue yang kotor setelah di pakai. Setelahnya, Kila tinggal melakukan jurnal penjualan, melaporkan hasil penjualan hari ini pada Akong serta menyerahkan uang hasil penjualan. Sementara itu, Kila melihat Kama yang duduk di kursi yang di duduki Adimas sebelumnya. Ia tak mau celotelan menyebalkan dari mulut Kama, mempengaruhi moodnya hari ini. Kila menarik nafas panjang, memperluas rasa sabarnya. Mendinginkan otaknya dan mulai berpikir log

  • Tawanan Tuan Kama   10

    Dan berakhir disini, Kila kembali di bonceng Raga untuk kedua kalinya. Kini mereka menuju ke toko kue. Melewati jalanan yang sudah tak asing, karena ini adalah jalan satu - satunya sebagai penghubung di seluruh pulau ini. Hanya ada satu jalan mengelilingi pulau yang tidak terputus. Tidak seperti Kama, Raga membawa motor dengan banyak pertimbangan. Tidak terlalu pelan, tapi juga tidak mengebut. “Kenapa Kama repot - repot meminta kamu untuk mengantarku?” tanya Kila.Suara angin memecah suaranya, Kila kira Raga tidak mengendar pertanyaanya. Tapi rupanya ia salah, meski telinga Raga tertutup helm. Rupanya laki - laki ini memiliki pendengaran super.“Tentu saja aku harus menjaga burung gereja kecil selamat sampai tujuan.”Kila mengerutkan kening hingga alisnya bertaut.“Aku manusia.” bela Kila. Enak saja, ia di samakan dengan burung gereja.Raga mengangkat bahunya enteng, “Tentu saja, burung gereja hanya sebuah kiasan.”“Kenapa Kama harus repot - repot menyuruh kamu mengantarku?” tanya Ki

  • Tawanan Tuan Kama   9

    "Orang - orang akan sibuk seharian bahkan sampai malam, apalagi di ujung barat sana, rembulan sudah menjulang dengan sinarnya yang tak terhalang oleh awan. Membuat pepohonan memiliki bayangan meski di malam hari. Ini adalah pemandangan magis, perpaduan antara malam yang kelam dengan sorot cahaya rembulan menerobos tiap dedaunan di sepanjang jalan. Tak pernah terbayang di benak Kila kalau ia akan duduk di bonceng oleh Kama.“Jam berapa sekarang?” tanya Kila, ia ingin sekali cepat pulang. Meski ini adalah pengalaman pertamanya di tengah - tengah hutan dengan pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan, tapi Kila tidak ingin mengambil resiko di amuk oleh Bibi Aini. “Masih punya banyak waktu untuk pulang, tunggu sebentar. Ada yang harus aku pastikan.” Kama menjawab dengan santai. Kila berdecak kesal, apa yang sebenarnya di tunggu oleh Kama? Sejak tadi ia hanya duduk sembari memandangi pepohonan, sesekali sorot matanya yang tajam seperti menembus kegelapan, masuk ke dalam hutan sa

  • Tawanan Tuan Kama   8

    Kila berniat menemui Akong sore nanti, ia berniat menyetorkan uang penjualan kepada Akong karena uang penjualan biasa di setorkan setiap seminggu sekali dan sekaligus mengabarkan kalau ia yang akan menggantikan Tari sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.Selebihnya, Kila mengerjakan pekerjaanya seperti biasa... Hari ini cukup ramai, mungkin karena cuaca yang cukup bersahabat. Cerah dan angin semilir membuat orang - orang betah jalan - jalan di luar. Apalagi duduk di tepi pantai menunggu petang. Menunggu senja, momen pergantian hari, orang bilang senja adalah sepuluh detik yang menakjubkan. Wujud kuasa Tuhan yang bisa mengubah bilah bilah cahaya keemasan, keindahan yang dikemas dalam waktu singkat di dunia yang fana ini. Golden hour. Orang luar menyebutnya. Warna jingga keemasan, merona, merekah di belahan bumi yang siap menyambut malam. Dan hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, warna jingga itu menghilang. Berganti biru magis yang menggelap seiring waktu.Setiap ha

  • Tawanan Tuan Kama   7

    Sekarang sudah memasuki masa panen tebu. Kereta lori sudah sibuk mondar - mandir mengangkut hasil panen warga. Di pulau ini, ada satu pabrik gula terbesar dan satu - satunya. Di sanalah tebu - tebu itu akan di olah menjadi gula dan di perjual belikan dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi. Kama sendiri tidak pulang semalam, ia mengawasi para pekerja yang mondar - mandir sejak pagi. Jalur montit di pulau ini sudah ada sejak berpuluh - puluh tahun yang lalu, seorang Tuan tanah dari kota besar datang ke sini dan membeli sebagian besar tanah milik warga dan menanamnya dengan tebu dan hasil perkebunan lain. Tuan tanah itu juga membangun pabrik gula, memperkejakan warga sekitar. Meski begitu, Tuan tanah itu hanya berkunjung sekali dua kali dalam setahun, warga desa pun tidak tau dari mana aslinya Tuan tanah itu berasal. Selebihnya, hanya itu yang masyarakat tau tentang perkebunan, pabrik tebu dan jalur montit di pulai ini. Masyarakat yang sangat tradisional ini, tidaklah begitu penasaran

  • Tawanan Tuan Kama   6

    Rupanya yang Raga bawa untuk menjemput Kila adalah motor besar. “Ini, pakai helm dulu.” Raga mengulurkan helm di tanganya, ia sudah membawa dua helm. Kila sebelumnya tidak pernah memakai helm dalam segala perjalanan. Toh tidak akan ada yang menilang mereka, bahkan polisi tidak ada disini. “Sepertinya tidak perlu,” tolak Kila. “Demi keselamatan,” bantah Raga, ia memberikan helm, “Aku akan membawa motor ini dengan kecepatan penuh.” jelas Raga dengan tenang dan melenggan tenang, sementara Kila malah menelan ludahnya, ia tidak akan diajak untuk menemui ajal bukan? Tanpa babibu, Kila langsung mengenakan helmnya. Ia duduk setelah Raga menyalakan mesin. Duduk dengan sangat canggung, Kila tidak pernah berboncengan dengan laki - laki sebelumnya. “Tidak perlu pegangan kalau kikuk begini,” Raga mengenakan helmnya, rupanya ia bisa melihat wajah kaku Kila dari spion. Sial, Kila sangat malu. Untuk pertama kalinya, Kila dibonceng. Motor melaju pelan, tidak seperti yang Raga katakan sebelum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status