Share

Bab 5

Author: Pipin
last update publish date: 2026-09-22 21:35:43

"Sepertinya aku pernah lihat."

Ingatan dari kehidupan pertamanya berputar liar. Ini adalah Skandal Pembunuhan Siswi Jalan Tol yang dulu sangat viral di seluruh stasiun televisi nasional!

​Di masa depan dulu, jasad gadis ini baru ditemukan tiga hari kemudian di dalam tas olahraga di pinggir jalan tol Jagorawi. Yang membuat publik murka saat itu adalah hasil autopsi forensik: gadis itu baru meninggal dua jam sebelum ditemukan akibat kehabisan oksigen karena dibekap. Artinya, di saat ibunya mengemis bantuan di kantor polisi hari ini, gadis itu masih hidup—terikat dan terbekap di tempat tersembunyi oleh penculiknya!

​Napas Lea tertahan. Dia masih hidup! Aku harus menyelamatkannya, tapi aku harus bertindak cermat supaya Alexander nggak curiga kalau aku tahu masa depan.

​Lea melangkah mendekati wanita paruh baya itu, lalu memegang lembut bahunya yang bergetar.

​"Bu..." panggil Lea pelan dan menenangkan. "Bisa ceritakan ke saya, gimana keseharian dia? Boleh saya lihat foto kamar terakhirnya, dan siapa saja orang yang sempat dia temui dalam seminggu terakhir?"

​Dengan suara terbata-bata dan air mata menetes, sang ibu menceritakan segalanya. Ia memperlihatkan foto kamar anaknya yang rapi—di mana baju-baju favoritnya masih tersusun utuh di lemari. Sang ibu juga bercerita bahwa anaknya sangat penurut dan penakut jika keluar rumah sendirian, namun seminggu terakhir ada tukang kurir paket langganan yang mendadak sering datang dan mengobrol dengannya.

​Berbekal fakta lapangan yang baru ia kumpulkan dipadu dengan ingatan masa depannya, Lea berbalik menatap Alexander.

​"Om," panggil Lea, suaranya tenang namun menusuk. "Kayaknya aku bisa bantu Om nemuin anak Ibu ini deh. Sekarang juga."

​Alexander menoleh, alisnya menukik tajam. Rasa lelah berhadapan dengan kasus ditambah kelakuan aneh Lea membuat kesabarannya menipis.

​"Jangan sok tahu kamu," tegur Alexander tegas. "Ini kantor polisi dan ini kasus orang hilang, bukan ajang main-main atau cara konyol kamu buat cari perhatian saya."

​Lea tidak tersinggung. Ia justru maju satu langkah, memajukan wajahnya hingga berbisik tepat di hadapan dada Alexander.

​"Anak Ibu ini nggak lari dari rumah, Om," bisik Lea. "Dia disekap di unit apartemen lantai empat daerah Cikini oleh kurir paket langganannya. Dan kalau Om cuma buang waktu berdebat sama saya dalam dua jam ke depan... Om bakal nemuin tubuhnya tanpa nyawa."

​Deg!

​Alexander membeku kaku. Tatapan mata Lea saat mengucapkan kalimat itu bukan tatapan gadis muda labil yang sedang bergurau atau mencari perhatian. Itu adalah tatapan mata seorang profesional yang sedang menyampaikan fakta analisis tingkat tinggi.

​"Kamu..." Alexander menatap Lea intens, pupil matanya bergetar. "Dari mana kamu bisa menyimpulkan semua itu?!"

​Lea mundur satu langkah, menyunggingkan senyum godaan nakal. ​"Nanti aja tanyanya, Om Tampan. Sekarang, Om mau berdiri di sini terus, atau mau menyelamatkan nyawa orang dan jadi pahlawan buat Ibu ini?"

​Beberapa puluh menit kemudian, gedoran keras mengguncang pintu sebuah unit apartemen di daerah Cikini. Begitu pintu terbuka paksa, kepolisian langsung menerobos masuk.

​"Apa-apaan kalian?! Atas dasar apa kalian menerobos masuk ke tempat saya tanpa izin?!" jerit pria berusia mendekati 30 tahun itu dengan napas memburu dan wajah merah padam.

​Pria itu bergerak agresif, berusaha sekuat tenaga mendorong para petugas keluar. Namun, gestur paniknya yang berlebihan serta sorot matanya yang liar justru makin mempertegas kecurigaan tim penyidik.

​"Kamu..." Suara sang ibu tercekat di ambang pintu. Matanya membelalak lebar saat memandangi wajah pria di depannya. "Kamu tukang kurir paket langganan anak saya, kan?! Kenapa kamu sembunyikan anak saya?! Mana dia, bajingan?!" jerit sang ibu histeris, berusaha menerobos masuk.

​Keputusan Alexander mengizinkan sang ibu ikut atas desakan Lea memang berisiko tinggi. Kehadiran warga sipil yang emosional bisa merusak ketenangan TKP dan mengacaukan prosedur penyidikan. Namun, melihat reaksi panik kurir itu begitu melihat wajah sang ibu, Alexander tahu analisis dan deduksi Lea seratus persen tepat.

​"Amankan dia!" perintah Alexander tegas dan dingin.

​Dua petugas kepolisian langsung membanting tubuh pria itu ke dinding dan mengunci kedua tangannya ke belakang meski ia terus memaki dan meronta.

​Tim penyidik dengan cepat menyusuri setiap inci apartemen. Kamar mandi kosong, dapur nihil, dan isi lemari pakaian hanya tumpukan baju kotor. Unit itu tampak seperti kamar bujangan biasa yang berantakan.

​"Nggak ada siapa-siapa di sini, Komandan!" panggil salah satu petugas dari sudut ruangan.

​Pria yang terikat itu terkekeh sinis, menyunggingkan senyum kemenangan. "Nah, kan?! Gue bilang juga apa! Kalian salah orang! Keluar dari rumah gue atau gue tuntut kalian semua!"

​Alexander mengerutkan dahi, namun Lea yang berdiri di sampingnya tidak panik sedikit pun. Pandangan mata Lea tertuju pada satu-satunya tempat yang belum diperiksa: sebuah tempat tidur berukuran single di sudut kamar dengan sprei tebal yang menjuntai hampir menyentuh lantai.

​Melihat arah pandang Lea, Alexander langsung melangkah maju dan berlutut, lalu menyingkap kain sprei tebal itu dengan satu sentakan keras.

​Pemandangan di kolong tempat tidur seketika membuat seluruh orang di ruangan itu menahan napas.

​Seorang gadis remaja terbaring miring di atas lantai semen yang dingin. Tangan dan kakinya terikat erat dengan selotip hitam tebal, mulutnya dibekap rapat, dan matanya terpejam dalam kondisi tak sadarkan diri. Di atas nakas tepat di samping tempat tidur, tergeletak dua botol obat tidur dosis tinggi yang sudah kosong.

​Napas gadis itu sangat tipis dan lambat—ia sedang berada di ambang koma dan gagal napas!

​"Astaga, Nak!" jerit sang ibu histeris, langsung berlutut dan memeluk tubuh anaknya yang terkulai lemah sambil menangis meraung-raung.

​"Panggil ambulans sekarang! Cepat!" bentak Alexander pada anak buahnya, sementara kurir yang terikat itu seketika pucat pasi, menyadari hidupnya resmi berakhir di dalam sel.

​Di tengah kegaduhan dan tangis haru sang ibu, Alexander perlahan berdiri. Jantung detektif senior itu berdegup kencang. Ia memutar tubuhnya dan menatap Lea yang masih berdiri tenang di dekat pintu.

​Jika mereka terlambat dua jam saja... kombinasi obat tidur dosis tinggi dan kekurangan oksigen di bawah kolong tempat tidur itu akan menghentikan detak jantung sang gadis selamanya.

​Alexander menatap Lea dengan rasa guncangan yang luar biasa di dadanya. Bagaimana bisa seorang gadis Sarjana Hukum muda mengolah petunjuk sederhana dari sang ibu menjadi analisis yang begitu presisi soal lokasi, pelaku, hingga kondisi korban tanpa cela?

​"Lea, siapa kamu sebenarnya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 10

    Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri hari itu sesak oleh kilatan lampu kamera wartawan dan bisik-bisik tegang para pengunjung. Di kursi terdakwa, Brian Aditama duduk tenang dengan kemeja putih polos dan rompi tahanan.Lihat saja, Lea... Hari ini bokap lo resmi bakal mendekam seumur hidup di penjara, batin Joshua puas, menunggu Lea hancur sepenuhnya. Tak jauh dari Joshua, Lea duduk dengan posisi tegap, mengenakan kemeja formal dan blazer hitam sederhana. Wajahnya begitu tenang tanpa raut cemas sedikit pun. Mata Lea sekilas menatap punggung tegap Alexander yang berdiri di dekat pintu masuk ruang sidang. Pria itu siap dipanggil sebagai saksi kunci. Ingatan Lea seketika melayang pada kejadian dua malam sebelum persidangan ini digelar...Dua malam sebelum sidang perdana.Mobil Alexander berhenti beberapa meter dari pelataran rumah masa kecil Lea,sebelum Alex dan Lea sempat melangkah keluar, sebuah mobil dinas kepolisian mendadak memotong jalan dan berhenti tepat di belakang mereka.Seora

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 8

    "Malaikat pelindung? Aku bisa jadi malaikat maut buat kamu kalau kamu nekat seperti ini terus, paham?!" Ujar Alexander dengan suara tertahan, melangkah makin mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh Lea. "Minum dulu kopinya, Om. Santai... Lagi banyak kerjaan ya, padahal baru jam segini? Semuanya udah aku kendalikan kok. Pelacakan log-nya udah aku hapus, firewall-nya udah aku tambal balik. Tenang aja..." ujar Lea menenangkan, ia mengulurkan salah satu cangkir kopi takeaway yang dibawanya tepat ke depan dada Alexander, memotong jarak intimidasi pria itu. Alexander menerima cangkir kopi itu refleks. "Tetap saja! Kalau sampai hal seperti ini tercium sama Tim Siber Pusat—" "Om, aku punya permintaan," potong Lea cepat, mengubah nada bicaranya menjadi sedikit lebih serius. Alexander memicingkan mata, menatap Lea dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menelisik khas detektif. Ia menghela napas panjang, menebak arah pembicaraan ini. "Katakan..." Alex meletakkan kopi di ata

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 9

    Empat hari berlalu bagai mimpi buruk yang berjalan terlalu cepat.Di pelataran kantor Kejaksaan Negeri, gerimis turun perlahan. Suara sirene mobil tahanan terdengar dikejuahan. Hari ini, pelimpahan berkas perkara dan tersangka—tahap P-21—resmi dilakukan. Kasus pembunuhan yang menjerat Brian Aditama dilimpahkan penuh dari kepolisian ke pihak kejaksaan untuk segera disidangkan.Lea berdiri di balik pagar besi, merapatkan jaketnya yang mulai basah kuyup. Tatapannya terkunci rapat pada sosok pria paruh baya bertubuh tegap yang keluar dari mobil van tahanan dengan rompi oranye bertuliskan Tahanan Kejaksaan dan kedua tangan terikat borgol besi.Ayahnya.Brian sempat menoleh, mendapati putri tunggalnya berdiri sendirian di bawah rinai hujan. Alih-alih meringis atau menunjukkan raut putus asa, Brian justru menyunggingkan senyum paling hangat—senyum tenang yang seolah berbisik: Ayah enggak apa-apa, Princess.Aku gagal... batin Lea menjerit hampa.Di kehidupan pertamanya dulu, ia selalu meratap

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 7

    Suara derap langkah kaki terburu-buru meramaikan koridor Unit Cyber Crime Kepolisian Resort Kota pagi itu."Gila! Ini beneran kebobolan?!" seru seorang perwira muda tim Cyber sambil menatap layar monitor utama yang berkedip-kedip merah.Alexander yang baru saja memasuki area kantor dengan cangkir kopi hitam di tangannya seketika menghentikan langkah. Dahinya berkerut dalam melihat kerumunan anggota kepolisian yang mengelilingi meja tim IT."Ada apa ini? Kenapa heboh sekali pagi-pagi?" suara berat Alexander menginterupsi keributan.Seorang ahli IT kepolisian menoleh dengan wajah pucat pasi. "Komandan! Server arsip digital kita dibobol tadi malam jam dua pagi! Enkripsi keamanan tingkat tinggi kita ditembus cuma dalam waktu kurang dari lima belas menit!"Alexander nyaris tersedak kopi. "Dibobol? Siapa yang melakukannya? Sindikat peretas internasional?""Bukan, Ndan... anehnya pelaku sama sekali nggak merusak data atau mengambil berkas-berkas rahasia negara yang sensitif," jawab sang ahli

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 6

    "Aku?" Lea terkekeh pelan, suaranya melunak—menyimpan sedikit nada getir yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Aku cuma cewek yang terpaksa harus dewasa sebelum waktunya, Om."Alexander tidak bersuara. Tatapannya masih tertuju pada gadis di depannya, menanti kelanjutan kalimat itu."Waktu duniaku hancur dalam semalam—saat Ibu meninggal dan Ayah dituduh jadi pembunuhnya—pilihannya cuma dua," lanjut Lea seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Pasrah jadi korban yang diinjak-injak... atau buka mata lebar-lebar dan belajar memahami jalan pikiran iblis."Alexander memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. Di dadanya, ada denyut empati yang mendadak muncul, bercampur dengan rasa takjub yang makin meluas. Ia bisa merasakan kebenaran dalam kalimat itu. Tapi tetap saja, ketajaman analisis Lea berada di level yang tidak wajar untuk ukuran gadis seusianya."...tapi kalau Om butuh jawaban yang lebih spesifik: aku ini wanita yang bakal buktiin Ayahku nggak bersalah, seka

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 5

    "Sepertinya aku pernah lihat."Ingatan dari kehidupan pertamanya berputar liar. Ini adalah Skandal Pembunuhan Siswi Jalan Tol yang dulu sangat viral di seluruh stasiun televisi nasional!​Di masa depan dulu, jasad gadis ini baru ditemukan tiga hari kemudian di dalam tas olahraga di pinggir jalan tol Jagorawi. Yang membuat publik murka saat itu adalah hasil autopsi forensik: gadis itu baru meninggal dua jam sebelum ditemukan akibat kehabisan oksigen karena dibekap. Artinya, di saat ibunya mengemis bantuan di kantor polisi hari ini, gadis itu masih hidup—terikat dan terbekap di tempat tersembunyi oleh penculiknya!​Napas Lea tertahan. Dia masih hidup! Aku harus menyelamatkannya, tapi aku harus bertindak cermat supaya Alexander nggak curiga kalau aku tahu masa depan.​Lea melangkah mendekati wanita paruh baya itu, lalu memegang lembut bahunya yang bergetar.​"Bu..." panggil Lea pelan dan menenangkan. "Bisa ceritakan ke saya, gimana keseharian dia? Boleh saya lihat foto kamar terakhirnya,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status