Share

Bab 3.

Author: Fafacho
last update Last Updated: 2025-12-08 18:00:00

Adyan saat ini sudah membawa Nayla kerumah dinasnya. Dia menaruh tas dan juga koper milik Nayla di kamarnya.

“Silahkan kalau mau istirahat, saya mau kerumah sakit lagi” ucap Adyan sambil menatap Nayla yang berdiri sambil mengamati sekitar.

Nayla yang tadinya melihat kemana-mana di dalam kamar itu, kini langsung focus melihat kearah Adyan.

“ka..kamu mau langsung kerumah sakit lagi?” ucap Nayla sedikit terbata.

“Iya, saya harus berada di samping bunda saya” jawab Adyan dengan wajah datarnya itu. Dia lalu berbalik untuk keluar dari kamar. Tapi tangannya langsung di tahan oleh Nayla. Adyan melihat tangannya yang kini di pegang oleh Perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.

“kenapa?” ucapnya dingin sambil masih melihat tangan Nayla yang bertengger di lengannya.

Nayla yang melihat tatapan tak senang dari Adyan langsung melepaskannya.

“Maaf kalau kamu risih” ucapnya lirih, lalu ia sedikit menunduk.

“Kalau tidak ada yang ingin kau ucapanku ya sudah saya pergi dulu” ketus Adyan lalu akan berjalan keluar lagi tapi ucapan Nayla menghentikannya.

“Kamu akan meninggalkanku sendiri disini, aku takut di tempat asing seperti ini. Aku ikut kamu saja ya” ucap Nayla pelan, menatap takut pada Adyan.

“Jangan bercanda, apa yang kau takutkan. Sudahlah tidak usah membuang waktuku, setiap detik nafas bunda ku berarti untuk saya. Jangan membuang waktu saya” tukas Adyan dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Nayla yang hanya terpaku dengan ucapan tajam Adyan barusan.

“masa aku sendirian di sini, nanti kalau ada orang datang gimana? Mereka kan nggak tahu kalau istrinya. Terus nanti kalau aku di tuduh aneh-aneh bagaimana” segala macam pikiran memenuhi kepala Nayla. Buka napa dia berpikir begitu, karena Nayla pengidan Anxiety. Ia lalu keluar dari kamar melihat pintu rumahnya yang sudah tertutup.

Tapi baru dia melihat sebentar pintu yang tertutup itu, tiba-tiba saja itu sudah terbuka kembali dan Adyan muncul dari luar.

“Kamu,.kamu balik lagi. Ada yang ketinggalan?” tanya Nayla menatap wajah Adyan yang tadinya memang datar kini semakin datar dan juga terlihat begitu dingin. Sorot mata yang tajam itu terus menatapnya.

Adyan menutup pintu dengan terlebih dahulu sebelum mendekat kearah Nayla, lalu ia dengan cepat berjalan kearah Nayla.

“Ayo masuk” dengan dingin dan cepat Adyan langsung menarik tangan Nayla masuk kedalam kamar mereka.

“Arggh sakit, jangan kuatkuat” rintih Nayla saat tangannya di cengkram kuat oleh Adyan.

Adyan malah menghempas Nayla ke Kasur, Nayla yang terjatuh ke Kasur dengan keras jelas kaget mendapat perlakuan seperti ini dari Adyan.

“Ayo kita lakukan layaknya suami istri di malam pertama” ucap Adyan berjalan kearah pintu sambil membuka kaosnya.

Mendengar itu Nayla langsung duduk, matanya melebar kaget mendengar ucapan Adyan tersebut.

“Maksudmu apa?”

"melakukan apa yang harusnya kita lakukan" jawab Adyan sambil melempar kaosnya asal, dan dia mulai melepas sabuknya.

"Adyan jangan gila, maksudmu apa? aku..aku belum siap. Bu..bukannya tadi kamu mau lihat bunda mu. tapi, kenapa kamu malah kembali lagi" Nayla terlihat panik melihat Adyan yang mulai melepaskan celananya.

"tidak usah sok ketakutan begitu, ini sudah kewajianmu Nayla. Aku harus melakukan ini agar nanti tidak menjadi pertanyaan orang tua kita" Adyan mendekat dan memegang pundak Nayla dengan kedua tangannya. Dia menekan pundak perempuan itu agar tak bisa berdiri.

"Nggak, aku nggak mau. Aku..aku belum siap. Kamu tahu  kita menika juga bukan karena cinta Adyan" Nayla berusaha lepas dari tekanan tangan Adyan tapi pria itu menekannya cukup kuat hingga ia merintih kesakitan.

"Arggh, sakit Adyan. Aku mohon jangan sekarang, aku..aku bakal melakukan kewajibanku tapi bu..." Nayla semakin ketakutan, bias wajahnya menyiratkan takut yang teramat. Dan sebelum ia selesai dengan ucapannya Adyan sudah membungkam mulutnya dengan bibir pria itu. Benar pria itu menciumnya.

Ciuman yang begitu menuntut, Nayla berusaha lepas dari ciuman itu namun tak bisa. "Emmm, A..Adyan aku..aku nggak..argghh" ucap Nayla disela ciuamn paksa Adyan.   

Adyan menggit bibir Nayla agar bibir itu terbuka dan lidahnya bisa menelusuk masuk kedalam sehingga bisa menjelajahi dalam mulut Nayla. Perlahan Adyan merebahkan Nayla dengan ciuman mereka yang masih tertaut.

Nayla menitikan air mata setiap Adyan memaksanya, bahkan setiap sentuhan Adyan di tubuhnya membuat dirinya begitu sakit. Baru kali ini ia di perlakukan seperti ini, ia tahu ini sudah kewajibannya sebagai istri tapi tidak di paksa seperti ini.

Kini bagian atas Nayla sudah polos, ciuman Adyan juga sudah berhenti. Pria itu berada di atasnya menatapnya tanpa ekspresi.

"saya tahu kamu tidak rela melakukannya, tapi ini kita harus lakukan sebagai sepasang suami istri" ucap Adyan, tatapannya mulai melembut. Ada rasa tak tega melihat Nayla yang menitikan air mata, mata perempuan itu juga memerah.

Adyan mulai menaikkan rok yang di pakai Nayla saat ini, dia menatap singkat wajah Nayla yang tampak hanya pasrah dengan air mata yang terus menetes. Adyan lalu melepaskan satu persatu pembungkus bagian bawa Nayla. Dan setelah itu dia juga melepaskan celan yang ia pakai.

"Saya minta maaf melakukan ini dengan paksa" ucapnya lalu  memasukkan miliknya kedalam milik Nayla.

"Argggh,.." Nayla merintih kesakitan, karena hentakan Adyan yang sedikit kuat.

"Tahan sebentar, mungkin sedikit sakit. Tapi saya pastikan cepat untuk mengeluarkannya. Karena bunda saya sudah menunggu di rumah sakit" ucap Adyan sambil berusaha masuk lebih dalam keinti Nayla.

"Arggh, arggh, arggh Adyan sa..sakit..argghh" Nayla terus merintih di bawah kungkungan Adyan. Adyan semakin menekankan miliknya kedalam.

"Arggh,..arggh Nay, arggh Nayla..aku hampir sampai" desah Adyan dengan penuh kenikmatan. Dia memeluk erat Nayla yang ada di bawahnya, Begitu juga Nayla yang mulai terbawa permainan Adyan. Berkali-kali ia mendesah nikmat, menikmati setiap permain yang Adyan lakukan.

"Argghhh,.." desah keduanya saat sudah mencapai puncak kenikmatan. Keduanya tampak terengah-engah satu sama lain. Adyan menatap Nayla yang berada di bawahnya, perempuan itu tampak kelelahan, dan kini memalingkan darinya.

Perlahan Adyan bangkit dari tubuh Nayla dan menarik selimut, memberikan selimut itu pada Nayla. Dan ia sendiri langsung memakain celananya.

"saya tahu kamu marah, tapi itu kewajibanmu" ucapnya sambil mengambil kaosnya yang ada di lantai.

"Iya aku tahu ini kewajibanku, tapi nggak dengan cara seperti ini. Ini sama saja kau memperkosaku" ucap Nayla mencengkram selimut untuk menutupi tubunya, ia perlahan menyandarkan diri di sandaran kasur menatap Adyan penuh kebencian.

"Saya terpaksa melakukannya, karena saya cepat ingin punya anak agar ibu saya bisa melihat cucunya nanti. Kau istirahatlah, saya pergi dulu" ucap Adyan lalu akan keluar dari kamar.

"Kau langsung pergi setelah memperkosaku seperti ini, kamu pikir aku jalangmu" seru Nayla cukup keras. Sehingga menghentikan Adyan yang memutar knop pintu.

"bukannya istri itu jalangnya suami, kau memang jalangku" ucap Adyan dengan tajam. Ia llau keluar dari dalam kamar.

Deg,..

ucapan itu begitu menusuk hati Nayla, dia menitikan air matanya. "Hikss, hikss, kenapa sakit sekali mendengar ucapannya itu" tangis Nayla terisak sambil memegangi dadanya yang nyeri mendengar ucapan Adyan. Tubuhnya terasa remuk, dan kini hatinya juga harus merasakan sakit dari ucapan pria itu padanya. Tangis Nayla semakin pecah saat mendengar suara motor yang mulai menjauh dari rumahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 6.

    Di kamar Nayla tak bisa tidur, ia yang tadinya sudah siap tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya mendadak gelisah saat mengingat wajah dingin Adyan padanya. Pria itu seperti marah dengannya, tapi ia sendiri tidak tahu kenapa pria itu sampai memberikan tatapan tajam penuh kemarahan padanya.Sesekali Nayla melihat kearah pintu, dia benar-benar gelisah saat ini. Hatinya begitu tak tenang, takut kalau Adyan masuk. Nayla yang tadinya rebahan kini memilih menyandarkan tubuhnya dengan tatapan yang sesekali melihat kearah pintu."Semoga mas Adyan nggak tidur di kamar" ucapnya penuh harap, ia takut saja kalau Adyan bakal tidur di kamar. Ia tak tahu apa yang akan di lakukan pria itu, apalagi ucapannya tadi begitu membuatnya merinding sendiriNamun harapan Nayla sirna, pintu terbuka dan Adyan masuk kedalam kamar. Pria itu yang hendak menutup pintu kembali melihat sekilas kearah Nayla yang sedikit terkejut melihatnya."mas..mas Adyan, ke..kenapa masuk" ucap Nayla spontan, tubuhnya berubah te

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 5.

    Ibu Adyan selesai di makamkan, Nayla yang ikut kepemakaman dan kini menenangkan adik iparnya sesekali melihat Adyan yang sama sekali tak beranjak dari pusaran sang ibunda. Padahal para pelayat sudah mulai meninggalkan pemakaman."Hiks, hiks, aku..aku masih butuh bunda. Tapi kenapa bunda ninggalin aku ya mbak" tangis Anya di pundaknya. Nayla melihat adik iparnya itu yang terus menitikan air mata."Anya,,ikhlas ya sayang. Kan ada mbak, kalau apa-apa kamu bisa bilang ke mbak ya ikhlasin bunda ya. Semoga bunda tenang di sana," Nayla mengusap lembut pundak adik iparnya itu. Sesekali dia juga melihat kearah Adyan yang memegangi nama bundanya. "dia sesayang itu dengan bundanya" batin Nayla melihat Adyan yang terlihat begitu kehilangan. Wajah pria itu yang dingin kini semakin terlihat begitu dingin.Bertepatan dengan itu Adyan menatap kearahnya, tatapan yang cukup tajam. Nayla buru-buru memalingkan wajahnya, karena jujur ia terintimidasi dengan tatapan tersebut."Anya, Adyan ayo kita pulang n

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 4.

    Sinar mentari masuk melalui cela-cela jendela, Nayla yang masih tergelum selimut perlahan mengerjapkan matanya saat sinar surya itu mengenai wajahnya. Dengan gerak perlahan Nayla menyandarkan dirinya di sandaran kasur. Tubuhnya teramat lelah dan terasa pegal-pegal, tulangnya seperti remuk. Dia melihat kearah jendela yang masih tertutup tirai, di luar terdengar suara beberapa orang yang mengobrol dan terdengar suara riuah para tentara yang tengah lari pagi bersama. "Diluar sepertinya sudah ramai, aku keluar atau tetap di dalam saja?" batin Nayla sambil mencuri dengar suara di luar. "sepertinya aku di dalam saja, nanti kalau aku keluar mereka pasti heran melihatku" putus Nayla. Dia lalu beralih melihat pintu kamarnya yang masih tertutup "di luar kayaknya sepi, mas Adyan sepertinya belum pulang" lirih Nayla.Nayla perlahan melangkah turun dari tempat tidurnya, meskipun badannya terasa remuk ia tak seharusnya malas-malasan begini. Lebih baik ia bergerak sebelum Adyan pulang dan akan marah

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 3.

    Adyan saat ini sudah membawa Nayla kerumah dinasnya. Dia menaruh tas dan juga koper milik Nayla di kamarnya.“Silahkan kalau mau istirahat, saya mau kerumah sakit lagi” ucap Adyan sambil menatap Nayla yang berdiri sambil mengamati sekitar.Nayla yang tadinya melihat kemana-mana di dalam kamar itu, kini langsung focus melihat kearah Adyan.“ka..kamu mau langsung kerumah sakit lagi?” ucap Nayla sedikit terbata.“Iya, saya harus berada di samping bunda saya” jawab Adyan dengan wajah datarnya itu. Dia lalu berbalik untuk keluar dari kamar. Tapi tangannya langsung di tahan oleh Nayla. Adyan melihat tangannya yang kini di pegang oleh Perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.“kenapa?” ucapnya dingin sambil masih melihat tangan Nayla yang bertengger di lengannya.Nayla yang melihat tatapan tak senang dari Adyan langsung melepaskannya.“Maaf kalau kamu risih” ucapnya lirih, lalu ia sedikit menunduk.“Kalau tidak ada yang ingin kau ucapanku ya sudah saya pergi dulu” ketus Adyan lalu akan berj

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 2.

    “Emm, soal pernikahan. Bagaimana kalau di lakukan besok?” ucap Adyan serius, “Apa?” ucap Nayla dan Toni bersamaan,“Apa besok? Nggak masuk akal” ucap Nayla spontan, dia menatap heran dengan pria asing di depannya yang akan menjadi suaminya.“Adyan, bukannya terlalu cepat kalau besok. Kamu dan Nayla juga belum mengurus pengajuan menikah, bagimana bisa menikah besok” ucap Toni.“Iya ndan, maaf sebelumnya tapi ibu saya sakit parah ndan dan saat ini kondisinya tak memungkin menunggu lama. Jadi saya ingin menikah besok agar ibu saya bisa melihat saya menikah” ucap Adyan jujur, dia memang tak ingin berbohong soal alasannya menikah. Ia tak perduli tanggapan dari keponakan komandannya.Nayla terus menatap kearah Adyan“Jadi pria ini menikah karena ibunya sakit, jadi dia terpaksa menikah denganku. Apa-apaan ini,” batin Nayla. Nayla menelan ludah, dadanya naik turun. Jujur emosinya ingin meledak tapi ia tak bisa marah begitu saja di depan pakdenya.“Kenapa hidupku begini, dinikahi secara paksa

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 1.

    “Tapi kenapa harus aku bun, aku masih ingin kerja” nada keras keluar dari mulut Nayla Anita Sari. Dia menatap marah bundanya yang baru saja bicara tak masuk akal.“Nayla, jangan bicara begitu dengan bundamu” seorang pria paruh baya balik memarahi Nayla.“Bagaimana aku nggak marah yah, ucapan bunda barusan nggak masuk akal. Kenapa? Kenapa harus aku yang menikah dengan kenalan Pakde Toni. Kenapa bukan anaknya aja yang dinikahin, aku bukan anaknya kenapa harus aku” protes Nayla lalu menatap ayahnya, Tama Haidar. “Nayla, kamu tahu sendiri pakde kamu nggak punya anak Perempuan. Dan kamu juga sudah di anggap anaknya kan, jadi tolong bantu pakde kamu. Orang yang di jodohkan dengan kamu juga bukan orang sembarang” Anita mendekati putrinya, dia memegang lembuh bahu putrinya itu tapi Nayla langsung bergeser menjauh.“Tapi aku belum pengen nikah bun, aku..aku masih pengen kerja” Nayla menatap bundanya yang terlihat memohon padanya.“Kamu menikah nanti juga masih bisa kerja Nay, sudahlah turuti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status