LOGINAdyan saat ini sudah membawa Nayla kerumah dinasnya. Dia menaruh tas dan juga koper milik Nayla di kamarnya.
“Silahkan kalau mau istirahat, saya mau kerumah sakit lagi” ucap Adyan sambil menatap Nayla yang berdiri sambil mengamati sekitar.
Nayla yang tadinya melihat kemana-mana di dalam kamar itu, kini langsung focus melihat kearah Adyan.
“ka..kamu mau langsung kerumah sakit lagi?” ucap Nayla sedikit terbata.
“Iya, saya harus berada di samping bunda saya” jawab Adyan dengan wajah datarnya itu. Dia lalu berbalik untuk keluar dari kamar. Tapi tangannya langsung di tahan oleh Nayla. Adyan melihat tangannya yang kini di pegang oleh Perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.
“kenapa?” ucapnya dingin sambil masih melihat tangan Nayla yang bertengger di lengannya.
Nayla yang melihat tatapan tak senang dari Adyan langsung melepaskannya.
“Maaf kalau kamu risih” ucapnya lirih, lalu ia sedikit menunduk.
“Kalau tidak ada yang ingin kau ucapanku ya sudah saya pergi dulu” ketus Adyan lalu akan berjalan keluar lagi tapi ucapan Nayla menghentikannya.
“Kamu akan meninggalkanku sendiri disini, aku takut di tempat asing seperti ini. Aku ikut kamu saja ya” ucap Nayla pelan, menatap takut pada Adyan.
“Jangan bercanda, apa yang kau takutkan. Sudahlah tidak usah membuang waktuku, setiap detik nafas bunda ku berarti untuk saya. Jangan membuang waktu saya” tukas Adyan dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Nayla yang hanya terpaku dengan ucapan tajam Adyan barusan.
“masa aku sendirian di sini, nanti kalau ada orang datang gimana? Mereka kan nggak tahu kalau istrinya. Terus nanti kalau aku di tuduh aneh-aneh bagaimana” segala macam pikiran memenuhi kepala Nayla. Buka napa dia berpikir begitu, karena Nayla pengidan Anxiety. Ia lalu keluar dari kamar melihat pintu rumahnya yang sudah tertutup.
Tapi baru dia melihat sebentar pintu yang tertutup itu, tiba-tiba saja itu sudah terbuka kembali dan Adyan muncul dari luar.
“Kamu,.kamu balik lagi. Ada yang ketinggalan?” tanya Nayla menatap wajah Adyan yang tadinya memang datar kini semakin datar dan juga terlihat begitu dingin. Sorot mata yang tajam itu terus menatapnya.
Adyan menutup pintu dengan terlebih dahulu sebelum mendekat kearah Nayla, lalu ia dengan cepat berjalan kearah Nayla.
“Ayo masuk” dengan dingin dan cepat Adyan langsung menarik tangan Nayla masuk kedalam kamar mereka.
“Arggh sakit, jangan kuatkuat” rintih Nayla saat tangannya di cengkram kuat oleh Adyan.
Adyan malah menghempas Nayla ke Kasur, Nayla yang terjatuh ke Kasur dengan keras jelas kaget mendapat perlakuan seperti ini dari Adyan.
“Ayo kita lakukan layaknya suami istri di malam pertama” ucap Adyan berjalan kearah pintu sambil membuka kaosnya.
Mendengar itu Nayla langsung duduk, matanya melebar kaget mendengar ucapan Adyan tersebut.
“Maksudmu apa?”
"melakukan apa yang harusnya kita lakukan" jawab Adyan sambil melempar kaosnya asal, dan dia mulai melepas sabuknya.
"Adyan jangan gila, maksudmu apa? aku..aku belum siap. Bu..bukannya tadi kamu mau lihat bunda mu. tapi, kenapa kamu malah kembali lagi" Nayla terlihat panik melihat Adyan yang mulai melepaskan celananya.
"tidak usah sok ketakutan begitu, ini sudah kewajianmu Nayla. Aku harus melakukan ini agar nanti tidak menjadi pertanyaan orang tua kita" Adyan mendekat dan memegang pundak Nayla dengan kedua tangannya. Dia menekan pundak perempuan itu agar tak bisa berdiri.
"Nggak, aku nggak mau. Aku..aku belum siap. Kamu tahu kita menika juga bukan karena cinta Adyan" Nayla berusaha lepas dari tekanan tangan Adyan tapi pria itu menekannya cukup kuat hingga ia merintih kesakitan.
"Arggh, sakit Adyan. Aku mohon jangan sekarang, aku..aku bakal melakukan kewajibanku tapi bu..." Nayla semakin ketakutan, bias wajahnya menyiratkan takut yang teramat. Dan sebelum ia selesai dengan ucapannya Adyan sudah membungkam mulutnya dengan bibir pria itu. Benar pria itu menciumnya.
Ciuman yang begitu menuntut, Nayla berusaha lepas dari ciuman itu namun tak bisa. "Emmm, A..Adyan aku..aku nggak..argghh" ucap Nayla disela ciuamn paksa Adyan.
Adyan menggit bibir Nayla agar bibir itu terbuka dan lidahnya bisa menelusuk masuk kedalam sehingga bisa menjelajahi dalam mulut Nayla. Perlahan Adyan merebahkan Nayla dengan ciuman mereka yang masih tertaut.
Nayla menitikan air mata setiap Adyan memaksanya, bahkan setiap sentuhan Adyan di tubuhnya membuat dirinya begitu sakit. Baru kali ini ia di perlakukan seperti ini, ia tahu ini sudah kewajibannya sebagai istri tapi tidak di paksa seperti ini.
Kini bagian atas Nayla sudah polos, ciuman Adyan juga sudah berhenti. Pria itu berada di atasnya menatapnya tanpa ekspresi.
"saya tahu kamu tidak rela melakukannya, tapi ini kita harus lakukan sebagai sepasang suami istri" ucap Adyan, tatapannya mulai melembut. Ada rasa tak tega melihat Nayla yang menitikan air mata, mata perempuan itu juga memerah.
Adyan mulai menaikkan rok yang di pakai Nayla saat ini, dia menatap singkat wajah Nayla yang tampak hanya pasrah dengan air mata yang terus menetes. Adyan lalu melepaskan satu persatu pembungkus bagian bawa Nayla. Dan setelah itu dia juga melepaskan celan yang ia pakai.
"Saya minta maaf melakukan ini dengan paksa" ucapnya lalu memasukkan miliknya kedalam milik Nayla.
"Argggh,.." Nayla merintih kesakitan, karena hentakan Adyan yang sedikit kuat.
"Tahan sebentar, mungkin sedikit sakit. Tapi saya pastikan cepat untuk mengeluarkannya. Karena bunda saya sudah menunggu di rumah sakit" ucap Adyan sambil berusaha masuk lebih dalam keinti Nayla.
"Arggh, arggh, arggh Adyan sa..sakit..argghh" Nayla terus merintih di bawah kungkungan Adyan. Adyan semakin menekankan miliknya kedalam.
"Arggh,..arggh Nay, arggh Nayla..aku hampir sampai" desah Adyan dengan penuh kenikmatan. Dia memeluk erat Nayla yang ada di bawahnya, Begitu juga Nayla yang mulai terbawa permainan Adyan. Berkali-kali ia mendesah nikmat, menikmati setiap permain yang Adyan lakukan.
"Argghhh,.." desah keduanya saat sudah mencapai puncak kenikmatan. Keduanya tampak terengah-engah satu sama lain. Adyan menatap Nayla yang berada di bawahnya, perempuan itu tampak kelelahan, dan kini memalingkan darinya.
Perlahan Adyan bangkit dari tubuh Nayla dan menarik selimut, memberikan selimut itu pada Nayla. Dan ia sendiri langsung memakain celananya.
"saya tahu kamu marah, tapi itu kewajibanmu" ucapnya sambil mengambil kaosnya yang ada di lantai.
"Iya aku tahu ini kewajibanku, tapi nggak dengan cara seperti ini. Ini sama saja kau memperkosaku" ucap Nayla mencengkram selimut untuk menutupi tubunya, ia perlahan menyandarkan diri di sandaran kasur menatap Adyan penuh kebencian.
"Saya terpaksa melakukannya, karena saya cepat ingin punya anak agar ibu saya bisa melihat cucunya nanti. Kau istirahatlah, saya pergi dulu" ucap Adyan lalu akan keluar dari kamar.
"Kau langsung pergi setelah memperkosaku seperti ini, kamu pikir aku jalangmu" seru Nayla cukup keras. Sehingga menghentikan Adyan yang memutar knop pintu.
"bukannya istri itu jalangnya suami, kau memang jalangku" ucap Adyan dengan tajam. Ia llau keluar dari dalam kamar.
Deg,..
ucapan itu begitu menusuk hati Nayla, dia menitikan air matanya. "Hikss, hikss, kenapa sakit sekali mendengar ucapannya itu" tangis Nayla terisak sambil memegangi dadanya yang nyeri mendengar ucapan Adyan. Tubuhnya terasa remuk, dan kini hatinya juga harus merasakan sakit dari ucapan pria itu padanya. Tangis Nayla semakin pecah saat mendengar suara motor yang mulai menjauh dari rumahnya.
Esok harinya Nayla sudah sadar tapi bedanya kini ia berada di ruang yang beda dari sebelumnya. Melihat sekeliling, merasa ada yang aneh dengan tangannya seperti ada yang terikat. Sedikit mendongak tubuh melihat kebawah dimana tangannya sudah terikat. "apa? kenapa aku diikat begini. kenapa?" herannya bertanya-tanya. "tolong siapapun lepaskan aku, lepaskan" teriaknya memanggil seseorang. Satu menit, dua menit, tiga menit ia memanggil tak ada jawaban hingga pintu ruangannya kini sudah terbuka. Seorang perawat membawakan sarapan untuknya. "bu Nayla sudah bangun. mari sarapn dulu bu" ucap perawat itu dengan lembut. menaruh pelan piring sarapan Nayla di nakar. Lalu berjalan membuka ikatan yang ada di tangan Nayla.Nayla memperhatikannya dengan seksama, ada rasa heran dalam dirinya. Heran kenapa ia bisa berada di ruangan seperti isolasi dengan tangannya yang terikat."Sebenarnya ada apa denganku, kenapa aku di ikat seperti binatang
Nayla jatuh pingsan dalam dekapan sang suami, tentu Adyan panik melihat istrinya tak sadarkan diri. Untung saja ia sigap menangkap sang istri, dengan cepat Adyan langsung mengangkat Nayla dan membaringkannya ke tempat tidur.Bertepatan dengan itu pintu ruangan terbuka, orang tua Nayla datang terburu-buru masuk. "Adyan, ada apa dengan Nayla?" tanya Ayah Nayla panik melihat putrinya yang terkulai lemas saat direbahan oleh menantunya itu.Adyan melihat sekilas kearah mertuanya, sambil membenarkan posisi sang istri "Nayla pingsan ya, dia..dia syok dengar kabar" jelas Adyan, menyelimuti Nayla mengusap lembut kepala istrinya. Lalu mengecup kening Nayla dengan sayang. Melihat sedih wajah pucat sang istri, seminggu tak sadarkan diri dan saat bangun harus menerima kabar pait soal anak mereka."kamu ngasih tau dia soal anak kalian?" Ibu Nayla membuka suara, saat tepat berdiri di sebelah ranjang Nayla. Tatapan tak senang melihat ke
Nayla sudah di tangani oleh dokter, Adyan berjalan mondar-mandir tak tenang di depan ruang operasi. Yusp, Nayla terpaksa harus melahirkan saat ini, perempuan itu mengalami pendarahan yang cukup hebat dan mau tak mau harus melahirkan sebelum waktunya.Adyan benar-benar tak bisa tenang, sesekali ia duduk sesekali juga ia berdiri tangannya mengepal gemetar mengingat wajah pucat Nayla tadi. Begitu takut menerpa pikiran, takut kalau terjadi apa-apa dengan Nayla."yaallah selamatkan istri dan anak-anakku, jaga mereka tuhan" gumamnya penuh harap, ia benar-benar tak bisa tenang."Yaampun kenapa ini harus terjadi. kenapa saat ini!!" Adyan benar-benar panik, bingung menjadi satu dalam tumpukan rasa yang harus ia rasakan.Adyan berjalan dengan lemah duduk di kursi besi yang ada di situ, pandangannya tak tenang sesekali melihat kearah lampu yang ada di depan ruang operasi."nay, kamu harus bertahan sayang.""Kalau
Setelah ikut suaminya kerja Nayla memilih pulang, ia bosan sendiri di ruangan Adyan. Lebih baik ia tidur atau apa dirumah yang jelas tak merasa sumpek diruangan yang kecil. Tadi ia sempat bilang pada Adyan kalau ia pulang, suaminya tak mengijinkan. Meskipun tak di ijinkan Nayla tetap pulang, ia tak sabar harus menunggu kakinya terasa keram jika harus duduk terus.Hanya beberapa menit ia berjalan sudah sampai di depan rumah, belum ia berbelok ke halaman rumah dinas langkahnya berhenti saat sebuah motor berhenti di depannya, dan sapaan nama memanggil lembut masuk kedalam telinga."nay, apa kabar?' ucap seorang pria dengan pelan penuh rasa bersahabat."Yusuf," lirih Nayla sambil melihat sekitar takut ada yang melihat, apalagi takut kalau Adyan melihat, suaminya itu pasti akan marah diliputi cemburu buta."tenang nggak ada suamimu, dia lagi pergi sama Danyon." kata Yususf seolah tahu apa yang dikhawatirkan oleh Nayla.
Didalam kamar hanya ada keheningan, Bahkan Nayla tidur membelakangi Adyan meskipun Adyan beberpa kali mendekatkan diri. Tapi Nayla malah semakin bergeser memberi jarak, tentu Nayla sadar kalau Adyan semakin mendekati dirinya. Ia sendiri kini belum tidur, mata terasa susah untuk di buat terpejam. Semakin hari semakin ia tahan malah terasa lelah dan capek apalagi bayangan Adyan yang tak mengenakan baju memeluk erat Amel di tempat tidur itu terus mengusiknya.Disaat Nayla tengah larut dalam pikirinnya, tubuhnya seketiga menegang saat merasakan sebuah tangan yang akan masuk kedaSualam bajunya. Sedikit menunduk melihat tangan yang akan mulai masuk, mengerayangi buah dadanya. Dengan cepat Nayla menahan tangan kekar sang suami yang akan masuk kedalam baju, matanya terbuka melihat kearah Adyan yang seperti tertangkap basah."Kamu belum tidur sayang?" tanya Adyan menelan ludah."Mau apa mas?" tanya Nayla, perlahan bangkit sambil
Nayla masuk kedalam rumah dengan berat, seperti masuk kedalam sebuah gua penuh beban. Ia yang tadi riang keluar dari mobil Bela, kini wajahnya berubah saat masuk kedalam rumah. Wajah sendur terkesan dingin begitu nampak, apalagi rasa letih itu juga terasa.Dua hari ini Nayla rajin bertemu dengan Bela, untuk sekedar meluapkan beban agar tak ia simpan sendiri. Apalagi Anya juga sudah tak dirumah, sehingga hanya ia dan Adyan. Berdua dengan suaminya membuat ia merasa begitu sesak, seperti tak ada udara masuk dalam rongga nafas.Saat langkah kakinya berjalan masuk, menuju dapur setengah jalan ia di kagetkan dengan pintu kamar yang tiba-tiba terbuka."Selamat pulang kerumah sayang," seru Adyan membuka pintu kamar, dengan tangannya yang membawa sebuah goodiebag. Adyan mendekat, merengkuh Nayla sembari mengecup kening.Dengan pasrah Nayla memejamkan mata, berusaha menikmati ciuman yang diberikan Adyan. Perlahan matanya te
“udah nggak usah, kamu duduk aja” Adyan mengambil piring yang miliknya yang di ambil oleh Nayla, istrinya itu akan mencuci piring bekas mereka sarapan.“tapi mas,..” Nayla yang sudah berdiri menatap tak mengerti kearah suaminya.&l
“Katanya tadi pengen jambu, kenapa pas aku bawa, nggak kamu sentuh sama sekali?” Suara Adyan terdengar datar, tapi ada nada dongkol yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah, handuk menggantung di leher. Matanya langsung
“Jadi..pacarmu yang kamu maksud selama ini adalah Nayla,.” Suara Danyon terdengar berat, ia berdiri tegap menatap adiknya yang duduk tertunduk tak berani melihat kearahnya.“Nayla perempuan yang selama ini kamu gumamkan dalam tidurmu,?” Nada suaranya melembut, tapi
Hari ini Nayla menemani Adyan, meskipun dengan suasana hati yang ta menyenangkan. Bagaimana menyenangkan, ia kesal dengan pria itu semalaman karena ia ingin minum es tapi tidak boleh dan pagi ini, ia malah di ajak mendapingi suaminya itu dalam dinas menyambut perwakilan dari luar negeri.M







