Share

Bab 127

Author: Hisa NK
last update publish date: 2026-08-14 11:14:09

CRACK-CRACK-BOOMMM!

Belasan naga racun kecil yang sedang melesat naik seketika hancur berkeping-keping menjadi debu cahaya saat bersentuhan dengan tebasan Satria. Tidak berhenti di situ, bilah cahaya keemasan itu terus melesat mendatar, memotong telak leher penampakan setengah jiwa Naga Merah Purba.

GRRRRRRRR-AAAAAGGGHHHH!

Raungan kesakitan yang teramat sangat memekakkan telinga meledak dari tenggorokan wujud raksasa. Kepala Naga Merah yang terbentuk dari aura racun terpisah dari badannya, mel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 130

    "Satria, jangan dengarkan gertakannya!"Suara Pak Baskoro bergema menembus komunikator internal. Dari geladak kapal Garuda Hitam yang melayang terombang-ambing di bawah tekanan Tirai Merah, sang Ketua Klan Himawan menatap tajam ke arah puncak benteng melalui teropong gaib. Wibawa veteran Pak Baskoro menyala hebat, namun ia tahu betul betapa kejam dan liciknya ajian terlarang Trah Sangkala.Di puncak Benteng Tengkorak Hitam, angin beracun meliuk-liuk kencang. Satria membeku di tempatnya. Jari telunjuknya yang dipenuhi pendar emas suci berhenti hanya sesenti di depan kening Tetua Agung Utama.Manik mata keemasan Satria berotasi tajam dengan pendar Netrakawaskitan tingkat puncak, menembus lurus ke dalam kristal merah yang berdetak di rongga dada musuhnya. Batin Satria bergetar hebat—penglihatannya mengonfirmasi kenyataan pahit itu.Di dalam kristal merah tersebut, mengalir utas jalinan energi yang sangat halus, membias warna hijau zamrud yang terhubung langsung secara gaib menuju boks ba

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 129

    "Hendra bawa Liana dan Nagendra!" titah Baskoro lugas. "Fokuskan seluruh sisa pasokan energi cadangan kapal ke perisai bawah! Jangan biarkan aura racun dari empat pilar menembus tempat perlindungan mereka!""Siap, Pak Baskoro! Sistem pertahanan dalam sudah terkunci penuh di bawah pendar giok!" sahut Pak Hendra dari balik konsol kendali luar.Di puncak benteng tengkorak raksasa, Tetua Agung Utama tertawa melengking. Jubah merah darahnya berkibar liar ditiup angin beracun. Di samping kiri dan kanannya, lima Tetua Sangkala lainnya berdiri memegang bejana giok hitam—siap menampung darah murni jika perisai Satria berhasil diruntuhkan."Lihatlah betapa malangnya kalian!" raung Tetua Agung Utama dengan suara melengking yang memantul di dinding-dinding batu Lembah Tengkorak. "Di dalam Formasi Pembantai Empat Iblis ini, seluruh energi gaib di udara berpihak pada Trah Sangkala! Bahkan seorang Penguasa Utama yang membawa takdir Naga Murni sekali pun akan kehabisan aura dalam waktu sepuluh menit!

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 128

    BOOOOOOOOOOOOMMM!Raungan Satria Wisesa meledak menghantam kegelapan, memecahkan dinding suara dan mengguncang dimensi terlarang hingga batasnya. ​Tubuh Satria meluncur bagai meteor emas murni, membelah angkasa dengan kecepatan yang melampaui logika. Manik mata keemasannya berotasi pekat, memancarkan pendar Netrakawaskitan tingkat puncak yang membakar habis kabut racun di sekelilingnya.​CRACK-CRACK-PRANNGGG!​Hanya dalam hitungan sepersekian detik, Satria telah menerobos masuk ke dalam lorong kapal Garuda Hitam yang hampir sepenuhnya terhisap ke dalam pusaran merah. Melihat Liana yang bersimbah darah dengan kulit lengan terkelupas akibat hawa racun, serta Nagendra yang dadanya memancarkan tanda naga merah menyala, hawa membunuh di dalam diri Satria meledak hingga ke tingkat yang teramat sangat mengerikan. ​Aura Naga Murni berwarna emas pekat bercampur pendar zamrud menyembur liar dari tubuh Satria, membentuk riak gelombang kejut yang seketika menyapu bersih seluruh hawa pembusukan

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 127

    CRACK-CRACK-BOOMMM!Belasan naga racun kecil yang sedang melesat naik seketika hancur berkeping-keping menjadi debu cahaya saat bersentuhan dengan tebasan Satria. Tidak berhenti di situ, bilah cahaya keemasan itu terus melesat mendatar, memotong telak leher penampakan setengah jiwa Naga Merah Purba. GRRRRRRRR-AAAAAGGGHHHH!Raungan kesakitan yang teramat sangat memekakkan telinga meledak dari tenggorokan wujud raksasa. Kepala Naga Merah yang terbentuk dari aura racun terpisah dari badannya, meledak menjadi pusaran api merah yang berhamburan membasahi permukaan laut. "T-Tebasan apa itu?!" jerit suara Tetua Agung Utama dari kejauhan, nada bicaranya kini penuh guncangan ketakutan yang tak tertutupi. "Tanpa menggunakan wujud naga... tanpa pedang pusaka... bagaimana mungkin tebasan manusiamu sanggup memotong energi purba?!"Larasati membelalakkan matanya, napasnya tertahan menatap pemandangan yang menakjubkan di depan matanya. "Hanya dengan tebasan dua jari... Satria memotong penampakan m

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 126

    "Lakukan Penguncian Pasif di seluruh markas cabang sekarang juga, Vanya!"Suara bariton Satria memotong kepanikan yang menyelimuti saluran komunikasi internal. Ia berdiri tegap di tengah halaman Villa Himawan, kemeja gelapnya tersapu angin malam. Manik mata keemasannya berotasi pekat dengan pendar Netrakawaskitan yang menembus batas cakrawala.Pak Baskoro melangkah cepat ke samping menantunya, wibawa kepemimpinan sang Ketua Klan Himawan seketika membakar semangat di sekelilingnya."Vanya, dengar titah Penguasa Utama!" "Perintahkan seluruh pimpinan cabang di lima benua untuk mengaktifkan perisai darurat terdalam! Tutup rapat seluruh gerbang utama, jangan ada satu prajurit pun yang keluar untuk melayani provokasi mereka!"BZZZZZZTTT!"S-siap, Pak Baskoro! Siap, Den Satria!" sahut Vanya tanpa basa basi. Jemarinya menari cepat di konsol siber, memancarkan sinyal perintah tertinggi ke seluruh pelosok bumi. "Sinyal perintah Penguasa Utama berhasil dikirim! Seluruh cabang di lima benua mula

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 125

    SWUUUUSSHH!Dengan satu pukulan Sentuhan Refleks tingkat rendah di titik saraf leher, Satria memukul mundur gelombang racun di tubuh Komandan Pertama, lalu melempar tubuh pria tua itu menembus pusaran angin yang menghempaskannya jauh ke jalur luar perbatasan. Satria berdiri tegak kembali di tengah sunyinya jurang kematian. Ia mengusap mantel hitamnya yang sedikit terkena debu, lalu menatap ke arah langit selatan yang perlahan mulai terang oleh kilatan api pertarungan Larasati yang telah usai.BZZT... CRACKLE..."Den Satria," panggil Pak Hendra melalui saluran internal Villa Himawan. "Pak Baskoro menyampaikan kalau perisai Gajah Putih di villa telah dikunci. Non Liana dan Den Nagendra aman tanpa ada gangguan sedikit pun."Satria menyunggingkan senyum tipis yang lega. "Terima kasih, Pak Hendra. Sampaikan pada Papa... penyusup jalur darat sudah disapu bersih.""Siap, Den Satria!"Satria membalikkan tubuhnya, melangkah pelan kembali menuju arah Villa Himawan. Malam pembantaian senyap tel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status