Home / Romansa / Terapi Gila Atasanku / Maafkan Aku Sayang

Share

Maafkan Aku Sayang

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-10-31 20:53:36

Tangisan David pecah begitu keras, menggema memecah kesunyian seluruh sudut rumah. Pria itu meraung, meneriakkan nama sang istri berkali-kali sembari mendekap erat tubuh kaku Alea yang mulai mendingin. Suara tangisan yang penuh kepedihan itu begitu memilukan, hingga membuat para pelayan yang mendengarnya bergegas berlari berkerumun di depan pintu kamar yang terbuka.

​Melihat tuan mereka merangkul jenazah sang nyonya dengan histeris, para pelayan langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Beberapa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terapi Gila Atasanku   Aku Akan Memainkannya Sampai Kamu Puas!

    Pagi itu, suasana kamar utama kediaman Erlangga terasa begitu tenang. Alya tengah duduk santai di dekat meja rias ketika pintu kamar mendadak terbuka, memperlihatkan Fira yang menyelinap masuk secara diam-diam.​Kebetulan, Dewa sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Memanfaatkan kesempatan itu, Fira mendekat dan duduk di sisi Alya dengan wajah muram.​"Mbak... boleh aku tanya sesuatu?" ucap Fira ragu-ragu.​Alya menoleh, menatap sang adik ipar dengan saksama. "Kamu mau tanya apa, Fir? Kelihatannya kok serius banget."​"Iya, Mbak... Apa benar setiap orang yang mau menikah itu selalu ada cobaannya?" tanya Fira lirih.​Mendapati pertanyaan bernada galau itu, Alya terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis. "Kalau kata orang-orang tua sih memang ada, Fir. Tapi semua cobaan itu pasti bisa dilewati, dan tidak akan pernah menghalangi niat dua orang untuk bersatu, kok," jawab Alya menenangkan.​Fira menunduk, memainkan jarinya sendiri. "Tapi entah mengapa... aku merasa kalau

  • Terapi Gila Atasanku   Aku Diperlakukan Seperti Ini Olehnya...

    "Fira ini makin hari makin enggak bisa diatur. Dia itu mau apa terus-terusan ke apartemen Devan," gerutu Dewa dengan nada kesal, melipat kedua tangannya di dada sambil menggelengkan kepala melihat tingkah sang adik sepupu.​Alya tersenyum simpul mendengar kekesalan suaminya. Ia bergeser duduk lebih dekat, lalu mengusap pelan lengan Dewa. "Sudahlah, Mas... Biarkan saja. Dia kan sudah dewasa. Kamu dulu waktu pacaran sama aku juga begitu, kan? Maklumi saja, toh mereka sebentar lagi juga akan menikah. Lagian, kamu harus yakin kalau mereka berdua tidak akan berbuat macam-macam."​Dewa menghela napas panjang. "Ya... ya... Baiklah." Sesaat kemudian, sorot mata Dewa mendadak berubah menjadi teduh namun penuh arti. Ia menatap istrinya lekat-lekat. "Kalau begitu, ayo kita tidur sekarang..." bisiknya dengan suara serak menggoda.​Mendengar bisikan itu, bulu kuduk Alya seketika merinding. Tatapan mata Dewa saat itu sungguh mirip dengan tatapan seekor singa kelaparan yang baru saja menemukan seger

  • Terapi Gila Atasanku   Pernikahan Dipercepat

    "Selalu saja begini... Kamu tuh selalu saja suka membodohiku, Mas!" protes Alya dengan pipi merona merah, menatap suaminya dengan tatapan sebel sekaligus salah tingkah.​Mendengar protes itu, Dewa justru terkekeh renyah. "Membodohi bagaimana, Sayang? Itu kan bukan membodohi, tapi nafkah batin untuk kamu." ​Seketika itu juga, kedua bola mata Alya terbelalak lebar. Wajahnya sontak memanas hingga ke telinga. Para pelayan toko yang berdiri tak jauh dari tempat mereka langsung berusaha menahan tawa, merespons keusilan customer mereka. ​"Kamu ini ya... sembarangan saja kalau ngomong di depan orang!" bisik Alya gemas sambil mencubit pelan pinggang suaminya.Dewa terkekeh lalu mengalihkan pandangan ke etalase. ​"Baik, Mbak, perhiasannya saya ambil dan bungkus ya," kata Dewa mengabaikan protes istrinya, lalu menyerahkan kartu pembayaran kepada pelayan toko.​"Baik, Tuan. Mohon ditunggu sebentar," jawab pelayan itu dengan senyuman penuh takjub.​Tak berselang lama, kotak beludru eksklusif be

  • Terapi Gila Atasanku   Jangan Lupa Kasih Jatah Ya

    "Janji, Mas... aku enggak akan pernah meninggalkan kamu. Kamu juga harus janji, jaga kesehatan dan jaga baik-baik dirimu. Ada aku dan anak kita," ucap Alya penuh ketulusan.​Dewa mengangguk pelan, meresapi setiap kata yang diucapkan istrinya. "Entah mengapa, saat aku mendengar berita itu tadi, aku seolah ikut merasakan berada di posisi David... Betapa hancurnya rasa kehilangan seorang istri tercinta," cerita Dewa kepada Alya dengan nada masih menyisakan sisa-sisa kegelisahan.​"Memangnya meninggal karena apa, Mas?" tanya Alya penasaran.​"Sakit kanker stadium akhir. Kasihan sekali..." Jawab Dewa. "Tapi yang membuatku heran, kenapa tidak diobati sejak masih stadium awal? Kenapa harus dibiarkan sampai parah begitu? Secara dia kan bos besar ya, seharusnya uang tak jadi masalah kan?" Alya pun heran. ​Dewa mulai menceritakan garis besar kisah tragis yang ia dengar. "Dulu, David dan Alea adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, sama seperti kita. Tapi karena latar belakang Alea yang

  • Terapi Gila Atasanku   Iya Mas Dewa, Aku Janji

    Di kantor Erlangga, suasana kerja yang biasanya tenang mendadak diwarnai berita duka. Devan melangkah masuk ke ruangan Dewa untuk melaporkan sebuah kabar mengejutkan.​"Istri Tuan David Pratama telah meninggal dunia, Pak," kata Devan dengan nada prihatin.​Dewa menghentikan kegiatannya, menatap asistennya dengan kening berkerut. "Bagaimana bisa? Sakit apa dia?"​"Ternyata selama ini istrinya mengidap penyakit kanker stadium akhir. Bukan cuma itu, pengkhianatan yang dulu dituduhkan David pada istrinya ternyata hanyalah skenario busuk yang dibuat oleh orang tua David sendiri. Sekarang David benar-benar hancur dan dipenuhi penyesalan yang mendalam," jelas Devan panjang lebar.​Dewa tertegun mendengarnya. Ia menggelengkan kepala pelan. "Memang seperti itu... Penyesalan pasti selalu datang di akhir," gumam Dewa lirih. "Kirimkan karangan bunga dan sumbangan dana sebagai tanda bela sungkawa kita atas nama perusahaan."​"Baik, Tuan," sahut Devan sebelum berpamitan keluar.​Namun, sepeninggal

  • Terapi Gila Atasanku   Maafkan Aku Sayang

    Tangisan David pecah begitu keras, menggema memecah kesunyian seluruh sudut rumah. Pria itu meraung, meneriakkan nama sang istri berkali-kali sembari mendekap erat tubuh kaku Alea yang mulai mendingin. Suara tangisan yang penuh kepedihan itu begitu memilukan, hingga membuat para pelayan yang mendengarnya bergegas berlari berkerumun di depan pintu kamar yang terbuka.​Melihat tuan mereka merangkul jenazah sang nyonya dengan histeris, para pelayan langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Beberapa dari mereka mulai berbisik pelan dengan mata berkaca-kaca.​"Ada apa sebenarnya? Kenapa Tuan menangis separah itu?" tanya salah seorang pelayan muda kepada kepala pelayan dengan suara bergetar.​Kepala pelayan tidak langsung menjawab. Lelaki paruh baya itu menatap nanar ke arah tempat tidur, sementara air matanya perlahan menetes membasahi pipi. "Sepertinya... Nyonya Alea telah..." Ucapnya menggantung dengan suara parau.​Bagi para pelayan di rumah itu, kepergian Alea adalah sebuah pukulan tela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status