登入
“Akhhh ....”
Megha meringis saat merasakan seluruh tubuhnya remuk redam. Dia hendak bergerak, tapi tertahan sebuah lengan kekar yang melilit pinggangnya. Dia tak menyangka kalau semalam raganya sudah mengkhianati logikanya. Di kamar temaram, dua insan yang terikat pernikahan dingin selama hampir dua tahun itu, semalam justru hanyut dalam gelombang panas. Semalam, Megha datang ke hotel karena urusan pekerjaan. Namun, saat di koridor lantai dua puluh, dia melihat Bima sedang berjalan terhuyung. Bima, suami yang bahkan tak pernah menemuinya setelah hari pernikahan. Niat hati ingin membantu, justru dia ditarik ke atas ranjang. Kini, Bima masih tertidur pulas sambil memeluknya, dan Megha memberanikan diri menatap wajah tegas suaminya itu dalam jarak dekat. Jarinya terulur ragu, mengusap pelan rahang tegas suaminya. Meski dalam kondisi terlelap, tapi kesan dominan dan aura dingin pria itu tetap terpancar kuat. Dan selama pernikahan, baru kali ini Megha bisa menyentuh suaminya. ‘Apa kamu akan mengenaliku? Tapi, bagaimana caramu mengenaliku?’ batin Megha getir. Selama pernikahan, Bima tak pernah menganggapnya, apalagi bertatap muka langsung. “Hmmmm ….”Masih dengan mata terpejam, Bima malah memajukan wajahnya pada ceruk leher Megha, membenamkan di sana lalu menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu. Pelukannya di pinggang Megha makin mengencang, seolah enggan melepaskan rengkuhannya. Perlakuan yang terkesan posesif dan manis itu membuat dada Megha berdesir hebat. Ponsel Bima berdering. Pria itu terusik, tapi enggan membuka matanya. Bima melengguh. Rengkuhan tangannya mengendur, lalu jemarinya meraba-raba sprei dengan mata masih terpejam. Megha yang melihat itu, merayap sedikit dan mengambil ponsel itu, lalu menyodorkannya ke telapak tangan suaminya. Bima masih setengah sadar, menerima begitu saja ponsel itu, langsung menggeser tombol di layar tanpa melihat siapa yang menelepon, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya. “Halo, Pak Bima? Maaf mengganggu pagi-pagi.” Dilan, asistennya yang telepon. “Pengacara kita baru saja hubungi saya. Katanya istri Anda minta bertemu untuk membicarakan beberapa hal.” Megha mendengar sangat jelas suara di balik telepon. Dadanya berdenyut, dia diam menunggu seperti apa respon suaminya. Mendengar kata ‘istri’, raut wajah Bima seketika mengeras. Dan membuang napasnya malas. “Ck! Pagi buta begini, kamu menggangguku hanya untuk wanita yang nggak penting itu? Katakan padanya aku tidak sudi bertemu. Kasih saja berapapun uang yang wanita itu minta supaya dia diam dan tidak mengganggu hidupku! Kenapa hal sampah seperti itu harus ditanyakan padaku? Sudah tahu yang dia inginkan cuma uang, kenapa tanya lagi?!” bentak Bima. Bima langsung mematikan sambungan telepon itu, lalu melempar asal ponselnya. Lalu, pria itu kembali terlelap sambil menggapai Megha, memeluk asal. “Diam di sini, Kelinci manis.” Megha membeku dengan mata berkaca-kaca, dadanya bergetar nyeri. Kalimat kejam yang keluar langsung dari mulut suaminya membuat hatinya hancur berkeping. Megha menahan napas, berusaha keras menyembunyikan getaran di bibirnya. Jelas sudah, bagi Bima, dirinya memang tidak lebih dari sekadar wanita parasit yang cuma mengincar hartanya. Dengan perasaan hancur yang ditahannya, Megha bergeser, melepas pelan rengkuhan tangan Bima, agar tidak membangunkannya. Dia tidak sanggup lagi berada di sana. Sangat pas. Ponsel Megha yang dia silent layarnya menyala, dan itu panggilan masuk. Lalu wanita itu merayap turun dari ranjang. Memungut ponsel itu dan menggeser tombol hijau di layar. “Mbak Megha! Pak Hendra mengalami serangan jantung mendadak! Kondisinya kritis dan harus segera dipindahkan ke ICU!” Suara perawat dari seberang telepon terdengar panik. Jantung Megha seolah berhenti berdetak seketika. “Ayah?” Padahal, kondisinya kemarin sudah membaik. Megha mengabaikan rasa nyeri di seluruh tubuhnya. Tanpa pikir panjang, dia memungut pakaian yang berceceran di lantai, mengenakannya secepat mungkin dengan napas memburu. Saat tangannya memegang handle pintu, Megha menahan langkahnya sejenak. Dia menoleh, menatap Bima yang masih terlelap. Di rumah sakit. Megha berlari terburu-buru ke ruang ICU, saat tiba di depan ruangan itu, sudah ada Sofie–ibu tiri dan Devika–adik tirinya yang duduk sangat santai. Tidak ada sedikit pun wajah cemas, pucat, atau lelah di wajah kedua wanita itu. Riasan mereka masih tertata rapi. Sofie menoleh menatap kedatangan Megha, dia mendesis sinis. “Menangis seperti itu tidak akan membuat uang jatuh dari langit, Megha! Air matamu itu tidak akan berubah jadi berlian yang bisa dijual untuk bayar tagihan medis di dalam sana!” bentaknya. Tangan Megha mengepal kuat di samping. Sorot matanya tajam pada wanita paruh baya di hadapannya. Devika menyunggingkan senyum sinis malas. “Daripada buang-buang air mata nggak berguna begitu, mending kamu telepon pengacara suamimu sekarang. Minta duit yang banyak!” Darah Megha mendidih. Dia melangkah maju, memangkas jarak pada keduanya, hingga Devika reflek menarik sedikit kepalanya ke belakang, karena sangat dekat. “Kenapa kondisi Ayah tiba-tiba drop separah ini? Apa yang kalian lakukan saat aku nggak ada?” pekik Megha dengan suara menekan. Sofie membelalak tak terima. Dia menunjuk dada Megha dengan jari yang terhias cat kuku merah menyala. “Harusnya kamu beruntung dan bilang terima kasih karena kami masih mau menampung dan menjaga ayahmu yang sudah tidak berguna dan cuma bisa berbaring itu! Ingat, rumah dan semua aset itu sudah jadi atas namaku, dan kalian itu cuman numpang!” “Benar,” timpal Devika dengan helaan napas remeh, lalu memutar bolanya malas. “Sudah bagus Mama tidak menendang pak tua itu ke panti jompo. Tiap hari cuma bikin repot dan menghabiskan uang saja.” “Tidak berguna?” Megha tertawa getir. “Bukankah Ayah sudah berhasil kalian manfaatkan dan kalian gerogoti semua hartanya?” Wajah Sofie memerah padam akibat cemoohan itu. “Kurang ajar kamu!” Tangan Sofie terangkat tinggi untuk menampar wajah Megha, tapi Megha cengkeram pergelangan tangan wanita itu lalu mendorongnya ke samping hingga Sofie sedikit terhuyung. “Minggir!” sentak Megha lalu berbalik dan langsung melangkah masuk. Devika yang melihat ibunya didorong meradang dan hendak mengejar Megha. “Heh, Kamu!” “Tahan, Devika. Biarkan saja.” Sofie menahan tangan Devika. Devika mengerutkan masih kesal. “Kenapa, Ma?” Sofie menyenggol bahu putrinya pelan. “Kalau pak tua di dalam sana mati, kita akan dapat asuransi jiwa yang jumlahnya besar sekali. Biarkan saja wanita itu menangisinya di saat-saat terakhir, jangan ganggu dia.” Mata Devika seketika melebar. Bibirnya tersenyum lebar dan puas. “Benar juga. Dan sebentar lagi kontrak pernikahan Kak Megha dengan Bima Mavendra selesai, kan? Mama tahu artinya?” Sofie menaikkan dua alisnya. “Akan ada uang kompensasi perceraian yang nilainya fantastis dari keluarga Mavendra,” sambung Devika dengan mata binar. Sofie tertawa kecil, melirik pintu ICU. “Kita akan makin kaya. Mama akan datang pada pengacaranya Bima sebagai walinya Megha.” Di dalam ruang ICU. Megha terduduk lemas di kursi samping ranjang rumah sakit. Dua tangannya merengkuh erat telapak tangan sang ayah. Lalu, Megha menempelkan tangan renta itu ke pipinya. “Ayah, maafkan Megha,” bisiknya. “Maaf Megha yang sudah meninggalkan Ayah terlalu lama semalam.” Megha memejamkan mata sebentar. “Semalam Megha ketemu Bima, Yah.” Megha terkekeh getir di tengah deras air matanya, lalu mengusap pelan punggung tangan ayahnya. “Lucu ya? Hampir dua tahun kita nikah, baru semalam Megha bisa lihat wajahnya dari dekat. Tapi Megha nggak tahu apa dia mengenali Megha atau tidak. Dia tampan sekali, Ayah, tapi jahat.” Napas Megha tersengal, dadanya terasa sesak.Bu Laras tersenyum penuh arti, dengan binar mata jahil. “Pak Bima itu terkenal dingin, tapi punya sikap yang beda banget sama kamu. Kelihatan sekali dia tertarik. Anehnya lagi, langsung menyetujui kerja sama kita tanpa banyak drama.”Dingin sama wanita? Tawa Megha hampir meledak mendengarnya. ‘Yang ada dia mesum,’ batinnya.Megha mencoba mengatur napasnya. “Nggak ada apa-apa, Bu. Saya sama sekali tidak ada hubungan khusus dengannya. Siapalah saya bisa kenapa sama Pak Bima.” Dia memaksakan senyum tipis kaku.Bu Laras menyenggol lengan Megha pelan sembari terkekeh tipis. “Nggak apa-apa kalaupun ada, Kiran. Kabarnya Pak Bima itu sedang proses cerai dengan istrinya, sekretarisnya sendiri yang cerita.”Megha menghela napas panjang, menatap atasannya itu heran. “Bu Laras ini suka sekali mendengarkan gosip. Saya beneran tidak ada hubungan apa pun dengan Pak Bima. Justru saya mau minta tolong sama Ibu.”Bu Laras menaikkan dua alisnya, memajukan kepala sedikit. “Minta tolong apa? Mau Ibu comb
Megha meringis saat cengkeraman di pergelangan tangannya makin menekan. “Lepaskan dulu tangan saya, Pak. Ini sakit.”Bima membuang napas beratnya, kasar, dan berusaha mengontrol emosi yang bergolak di dadanya. Perlahan, dia mengendurkan dan melepaskan pegangan tangannya.Dia merutuki diri yang tak bisa menahan penasarannya.Lalu, Megha mengusap pergelangan tangannya yang memerah, sambil menarik napas panjang untuk menata suaranya. “Kalau untuk aroma parfum yang ini, maaf, saya tidak bisa menjualnya. Ini aroma parfum pertama yang berhasil saya racik dengan bantuan mentor saya. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri dan beliau untuk tidak mengkomersilkan resep ini.”Mata Bima memicing tajam. Rasa penasarannya kian membumbung tinggi. “Jadi, cuma kamu yang pakai aroma parfum ini?”Megha mengangguk kecil, perasannya makin tak enak. Tetapi, dia sama sekali tidak paham dengan semua sikap itu.Bima kembali memangkas jarak di antara mereka, dengan tatapan intens.Megha yang tak nyaman refl
Di area depan kantor, Laras mulai panik saat mendapati tamu istimewanya datang.“Selamat datang di Elvora Perfumery, Pak Bima,” sambut Laras seraya mempersilakan pria itu duduk di ruang tamu eksekutif. “Sebuah kehormatan Anda bersedia menyempatkan waktu.”Bima mengibaskan tangannya singkat, menolak untuk duduk. “Saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi. Saya mau lihat langsung lokasi pembuatan dan ruang laboratorium racik Anda.”Laras mengangguk cepat. “Tentu, Pak. Mari saya antarkan.”Mereka berdua berjalan bersisian menyusuri koridor berdinding kaca yang menghubungkan area kantor dengan laboratorium utama.“Perfumer yang Anda cari sedang membuat formula baru, Pak,” tutur Laras di tengah langkah mereka. “Semoga racikannya kali ini bisa memenuhi ekspektasi Anda.”Langkah Bima terhenti sejenak. Matanya memicing menatap pintu kaca laboratorium di depannya. “Bisa saya bertemu dengannya sekarang?”“Tentu saja, Pak,” sahut Laras. Dia segera memberi isyarat tangan pada seseorang untuk
Di kamar hotel, Bima mulai terusik kemudian mengerjap. Pria itu meraba-raba sisi ranjangnya.Kosong.Lalu matanya terbuka. Pelan Bima duduk sambil mengedar sisi ruang dan mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. “Sial ….” Bima memijat pelipisnya karena pening. Otaknya blank dan merasa memori jangka pendeknya kacau. Lalu, seketika matanya membeliak tajam saat menyibak selimut. Darah perawan. Wanita yang tidur dengannya ternyata masih perawan.“Argh!” Bima mengusap wajah dan menyugar kasar rambutnya. Dadanya naik turun dan mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.Lalu, potongan-potongan puzzle kejadian semalam mulai muncul dan terangkai. Dia ingat setelah keluar dari kafe dalam hotel itu tubuhnya terasa panas, lalu ada seorang wanita yang menuntunnya. Setelah itu, dia menarik wanita itu ke atas ranjangnya.Darah Bima mendesir saat ingatan rasa semalam kembali terasa kuat. ‘Bima ….’ Suara wanita itu terdengar samar-samar dalam ingatan Bima.“Siapa wanita itu?”Bima sama se
“Akhhh ....”Megha meringis saat merasakan seluruh tubuhnya remuk redam. Dia hendak bergerak, tapi tertahan sebuah lengan kekar yang melilit pinggangnya.Dia tak menyangka kalau semalam raganya sudah mengkhianati logikanya.Di kamar temaram, dua insan yang terikat pernikahan dingin selama hampir dua tahun itu, semalam justru hanyut dalam gelombang panas.Semalam, Megha datang ke hotel karena urusan pekerjaan. Namun, saat di koridor lantai dua puluh, dia melihat Bima sedang berjalan terhuyung. Bima, suami yang bahkan tak pernah menemuinya setelah hari pernikahan. Niat hati ingin membantu, justru dia ditarik ke atas ranjang.Kini, Bima masih tertidur pulas sambil memeluknya, dan Megha memberanikan diri menatap wajah tegas suaminya itu dalam jarak dekat. Jarinya terulur ragu, mengusap pelan rahang tegas suaminya.Meski dalam kondisi terlelap, tapi kesan dominan dan aura dingin pria itu tetap terpancar kuat. Dan selama pernikahan, baru kali ini Megha bisa menyentuh suaminya.‘Apa kamu aka







