Share

Terbuai Setelah Malam Pertama
Terbuai Setelah Malam Pertama
Author: Angsa Kecil

1. Malam Pertama

Author: Angsa Kecil
last update publish date: 2026-07-17 12:51:54

“Akhhh ....”

Megha meringis saat merasakan seluruh tubuhnya remuk redam. Dia hendak bergerak, tapi tertahan sebuah lengan kekar yang melilit pinggangnya.

Dia tak menyangka kalau semalam raganya sudah mengkhianati logikanya.

Di kamar temaram, dua insan yang terikat pernikahan dingin selama hampir dua tahun itu, semalam justru hanyut dalam gelombang panas.

Semalam, Megha datang ke hotel karena urusan pekerjaan. Namun, saat di koridor lantai dua puluh, dia melihat Bima sedang berjalan terhuyung. Bima, suami yang bahkan tak pernah menemuinya setelah hari pernikahan. Niat hati ingin membantu, justru dia ditarik ke atas ranjang.

Kini, Bima masih tertidur pulas sambil memeluknya, dan Megha memberanikan diri menatap wajah tegas suaminya itu dalam jarak dekat. Jarinya terulur ragu, mengusap pelan rahang tegas suaminya.

Meski dalam kondisi terlelap, tapi kesan dominan dan aura dingin pria itu tetap terpancar kuat. Dan selama pernikahan, baru kali ini Megha bisa menyentuh suaminya.

‘Apa kamu akan mengenaliku? Tapi, bagaimana caramu mengenaliku?’ batin Megha getir. Selama pernikahan, Bima tak pernah menganggapnya, apalagi bertatap muka langsung.

“Hmmmm ….”Masih dengan mata terpejam, Bima malah memajukan wajahnya pada ceruk leher Megha, membenamkan di sana lalu menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu. Pelukannya di pinggang Megha makin mengencang, seolah enggan melepaskan rengkuhannya. Perlakuan yang terkesan posesif dan manis itu membuat dada Megha berdesir hebat.

Ponsel Bima berdering. Pria itu terusik, tapi enggan membuka matanya.

Bima melengguh. Rengkuhan tangannya mengendur, lalu jemarinya meraba-raba sprei dengan mata masih terpejam.

Megha yang melihat itu, merayap sedikit dan mengambil ponsel itu, lalu menyodorkannya ke telapak tangan suaminya.

Bima masih setengah sadar, menerima begitu saja ponsel itu, langsung menggeser tombol di layar tanpa melihat siapa yang menelepon, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

“Halo, Pak Bima? Maaf mengganggu pagi-pagi.” Dilan, asistennya yang telepon. “Pengacara kita baru saja hubungi saya. Katanya istri Anda minta bertemu untuk membicarakan beberapa hal.”

Megha mendengar sangat jelas suara di balik telepon. Dadanya berdenyut, dia diam menunggu seperti apa respon suaminya.

Mendengar kata ‘istri’, raut wajah Bima seketika mengeras. Dan membuang napasnya malas.

“Ck! Pagi buta begini, kamu menggangguku hanya untuk wanita yang nggak penting itu? Katakan padanya aku tidak sudi bertemu. Kasih saja berapapun uang yang wanita itu minta supaya dia diam dan tidak mengganggu hidupku! Kenapa hal sampah seperti itu harus ditanyakan padaku? Sudah tahu yang dia inginkan cuma uang, kenapa tanya lagi?!” bentak Bima.

Bima langsung mematikan sambungan telepon itu, lalu melempar asal ponselnya.

Lalu, pria itu kembali terlelap sambil menggapai Megha, memeluk asal. “Diam di sini, Kelinci manis.”

Megha membeku dengan mata berkaca-kaca, dadanya bergetar nyeri. Kalimat kejam yang keluar langsung dari mulut suaminya membuat hatinya hancur berkeping. Megha menahan napas, berusaha keras menyembunyikan getaran di bibirnya. Jelas sudah, bagi Bima, dirinya memang tidak lebih dari sekadar wanita parasit yang cuma mengincar hartanya.

Dengan perasaan hancur yang ditahannya, Megha bergeser, melepas pelan rengkuhan tangan Bima, agar tidak membangunkannya. Dia tidak sanggup lagi berada di sana.

Sangat pas. Ponsel Megha yang dia silent layarnya menyala, dan itu panggilan masuk.

Lalu wanita itu merayap turun dari ranjang. Memungut ponsel itu dan menggeser tombol hijau di layar.

“Mbak Megha! Pak Hendra mengalami serangan jantung mendadak! Kondisinya kritis dan harus segera dipindahkan ke ICU!” Suara perawat dari seberang telepon terdengar panik.

Jantung Megha seolah berhenti berdetak seketika. “Ayah?” Padahal, kondisinya kemarin sudah membaik.

Megha mengabaikan rasa nyeri di seluruh tubuhnya. Tanpa pikir panjang, dia memungut pakaian yang berceceran di lantai, mengenakannya secepat mungkin dengan napas memburu.

Saat tangannya memegang handle pintu, Megha menahan langkahnya sejenak. Dia menoleh, menatap Bima yang masih terlelap.

Di rumah sakit.

Megha berlari terburu-buru ke ruang ICU, saat tiba di depan ruangan itu, sudah ada Sofie–ibu tiri dan Devika–adik tirinya yang duduk sangat santai. Tidak ada sedikit pun wajah cemas, pucat, atau lelah di wajah kedua wanita itu. Riasan mereka masih tertata rapi.

Sofie menoleh menatap kedatangan Megha, dia mendesis sinis. “Menangis seperti itu tidak akan membuat uang jatuh dari langit, Megha! Air matamu itu tidak akan berubah jadi berlian yang bisa dijual untuk bayar tagihan medis di dalam sana!” bentaknya.

Tangan Megha mengepal kuat di samping. Sorot matanya tajam pada wanita paruh baya di hadapannya.

Devika menyunggingkan senyum sinis malas. “Daripada buang-buang air mata nggak berguna begitu, mending kamu telepon pengacara suamimu sekarang. Minta duit yang banyak!”

Darah Megha mendidih. Dia melangkah maju, memangkas jarak pada keduanya, hingga Devika reflek menarik sedikit kepalanya ke belakang, karena sangat dekat.

“Kenapa kondisi Ayah tiba-tiba drop separah ini? Apa yang kalian lakukan saat aku nggak ada?” pekik Megha dengan suara menekan.

Sofie membelalak tak terima. Dia menunjuk dada Megha dengan jari yang terhias cat kuku merah menyala. “Harusnya kamu beruntung dan bilang terima kasih karena kami masih mau menampung dan menjaga ayahmu yang sudah tidak berguna dan cuma bisa berbaring itu! Ingat, rumah dan semua aset itu sudah jadi atas namaku, dan kalian itu cuman numpang!”

“Benar,” timpal Devika dengan helaan napas remeh, lalu memutar bolanya malas. “Sudah bagus Mama tidak menendang pak tua itu ke panti jompo. Tiap hari cuma bikin repot dan menghabiskan uang saja.”

“Tidak berguna?” Megha tertawa getir. “Bukankah Ayah sudah berhasil kalian manfaatkan dan kalian gerogoti semua hartanya?”

Wajah Sofie memerah padam akibat cemoohan itu. “Kurang ajar kamu!”

Tangan Sofie terangkat tinggi untuk menampar wajah Megha, tapi Megha cengkeram pergelangan tangan wanita itu lalu mendorongnya ke samping hingga Sofie sedikit terhuyung.

“Minggir!” sentak Megha lalu berbalik dan langsung melangkah masuk.

Devika yang melihat ibunya didorong meradang dan hendak mengejar Megha. “Heh, Kamu!”

“Tahan, Devika. Biarkan saja.” Sofie menahan tangan Devika.

Devika mengerutkan masih kesal. “Kenapa, Ma?”

Sofie menyenggol bahu putrinya pelan. “Kalau pak tua di dalam sana mati, kita akan dapat asuransi jiwa yang jumlahnya besar sekali. Biarkan saja wanita itu menangisinya di saat-saat terakhir, jangan ganggu dia.”

Mata Devika seketika melebar. Bibirnya tersenyum lebar dan puas. “Benar juga. Dan sebentar lagi kontrak pernikahan Kak Megha dengan Bima Mavendra selesai, kan? Mama tahu artinya?”

Sofie menaikkan dua alisnya.

“Akan ada uang kompensasi perceraian yang nilainya fantastis dari keluarga Mavendra,” sambung Devika dengan mata binar.

Sofie tertawa kecil, melirik pintu ICU. “Kita akan makin kaya. Mama akan datang pada pengacaranya Bima sebagai walinya Megha.”

Di dalam ruang ICU.

Megha terduduk lemas di kursi samping ranjang rumah sakit. Dua tangannya merengkuh erat telapak tangan sang ayah. Lalu, Megha menempelkan tangan renta itu ke pipinya.

“Ayah, maafkan Megha,” bisiknya.

“Maaf Megha yang sudah meninggalkan Ayah terlalu lama semalam.”

Megha memejamkan mata sebentar.

“Semalam Megha ketemu Bima, Yah.” Megha terkekeh getir di tengah deras air matanya, lalu mengusap pelan punggung tangan ayahnya.

“Lucu ya? Hampir dua tahun kita nikah, baru semalam Megha bisa lihat wajahnya dari dekat. Tapi Megha nggak tahu apa dia mengenali Megha atau tidak. Dia tampan sekali, Ayah, tapi jahat.”

Napas Megha tersengal, dadanya terasa sesak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   102. Tapi Aku Rela

    Muka Jefri merah padam menahan dongkol. “Dasar wanita tidak tahu untung!” ketusnya kasar, lalu berbalik dan menyingkir pergi dengan langkah lebar geram. Megha kini berdiri sendirian di sudut, napasnya agak terengah menahan luapan emosi yang sejak tadi ditahannya rapat-rapat. Dari kejauhan, Varen yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mereka dengan rasa khawatir, kini melangkah mendekat. “Dasar, Megha. Dia tetep saja nggak bisa diam dan ngalah. Om Jefri begitu kejam, bagaimana kalau dia kenapa-napa!” Pikirannya yang tajam sudah bisa menebak alur permainannya. Jelas rencana jebakan Veronica dan Bima baru saja masuk tepat ke dalam perangkap. Dia nggak peduli dengan akhir dari Bima, yang penting baginya hanyalah Megha. Tanpa membuang waktu, Varen memotong kerumunan tamu yang sibuk mengobrol. Dia memangkas jarak hingga berdiri tepat di belakang Megha. “Ikut aku sekarang, Megha!” bisik Varen cepat di samping telinganya. Ekor mata Jefri melirik tajam Varen yang menyambar Megha, la

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   101. Istri Expired

    “Om saja nggak tahan melihat kamu yang pamer mesra sama istrimu. Apalagi Veronica, yang akan menjadi istri yang sesungguhnya!”Bima terdiam. Dadanya berdenyut pelan, sementara ekor matanya melirik Megha dengan sejuta rasa yang sulit diartikan.Dia paham, Jefri sedang sengaja memancing kesalahan pahaman di depan mereka. Hanya saja, yang membuatnya gelisah, takut jika Megha mulai berpikiran yang tidak-tidak. “Tenang saja. Jangan dengarkan dan jangan percaya kalau Om Jefri ngomong,” bisik Bima.Megha yang posisinya masih menempel rapat di sebelah Bima dalam pose pura-pura romantis itu menekan rahangnya. “Jangan dengarkan? Kamu kira aku tuli? Aku masih bisa mendengar jarak satu meter lebih. Suruh saja calon mertuamu ini yang diam!” balas bisiknya.Bima menahan kesal dan gelisah jadi satu. Istri satu-satunya itu benar-benar menyebalkan. Tapi cinta.“Ehem! Sepertinya kamu terlalu nyaman di sebelah Bima sampai lupa waktu. Mungkin sudah saatnya kamu pergi. Jangan membuat mataku sakit!” Jefri

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   100. Itulah Pesona Suamimu

    Bima berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura dominan dan karisma luar biasa. Di sampingnya, Megha melangkah anggun, dengan gaun berkilau diterpa cahaya lampu. Kombinasi sempurna antara kecantikan yang berkelas dan aura dingin yang mempesona. Mereka berdua berjalan bersisian bak pasangan paling romantis dan berkuasa di jagat raya, memancarkan kombinasi visual yang benar-benar mematikan. Semua orang di ruangan itu tercengang tanpa terkecuali. Beberapa tamu penting sampai menatap tanpa berkedip. “Ini benar-benar istri Bima Mavendra?” bisik seorang pria paruh baya berkacamata tebal, menatap tak berkedip ke arah tangga. “Luar biasa. Auranya sama sekali tak tenggelam di sebelah Bima.” Pengusaha lain di sampingnya membetulkan posisi kerah jasnya sambil mengangguk pelan. “Gaya jalannya tenang sekali. Cantik, tapi tatapannya dingin berkelas. Pantas saja Bima merahasiakannya selama ini.” “Saya pikir cuma wanita biasa yang beruntung,” timpal seorang wanita bergaun elegan d

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   99. Kostum Kelinci?

    “Jangan berpikir mau pakai kostum kelinci, untuk mempertegas spesies-mu. Kamu pakai kostum macam begitu, tetap nggak akan kelihatan manis.”Megha membolakan matanya geregetan. Lalu, dia menatap gaun di depannya.“Aku nggak mau pakai gaun yang kamu siapkan ini. Aku mau pilih gaun sendiri. Lagian ini cuma acara keluarga, bukan pesta megah kelas dunia. Nggak perlu pakai gaun sebagus ini,” ketus Megha sambil membuang napas lemas.Gaun satin bertali tipis warna emerald green itu punya potongan backless yang cukup rendah dan belahan di paha kiri yang lumayan tinggi. Modelnya simpel, modern, dan sangat elegan, tapi jelas menunjukkan lekuk tubuh dengan sangat pas. Megha cuma merasa terlalu terekspos karena tidak terbiasa memakai pakaian terbuka seperti itu.Bima mendengkus pelan, menaikkan sebelah alisnya dengan gaya super percaya diri. “Kamu bilang ini bagus? Menurut standarku, gaun ini biasa aja. Lagipula, ini bukan sekadar pesta keluarga biasa, Megha. Kamu itu berdiri di sebelahku. Mengim

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   98. Six Pack

    Kalimat Megha mendadak tertahan di tenggorokan. Matanya menegang begitu menangkap penampakan suaminya. Rambut Bima yang masih basah dengan sisa tetesan air di dada bidang serta perut six-pack-nya benar-benar bikin salah fokus. Penampilan pria itu kelihatan amat hot sekaligus keren tanpa minus. Setengah mati Megha menahan napas, dadanya berdebar tak karuan sampai rasanya mau melompat keluar. Melihat reaksi itu, Bima tersenyum miring. ‘Nah, kan, benar perkiraanku. Dia langsung syok saat melihat ketampananku. Mulut bodoh tajam dan mengelak, tapi respon raga tidak bisa bohong,’ batinnya dengan tingkat kepercayaan diri makin melonjak. Lalu, Bima berjalan pelan menghampiri meja dengan wajah tenang yang dibuat sok cool. Namun, begitu pandangannya jatuh pada isi piring dan isi gelas, matanya seketika melotot lebar. “Kenapa kamu bawa makanan seperti ini? Ini yang kamu sebut sarapan?” ketus Bima, heran dan geram. Megha masih mencoba menetralkan debar jantungnya yang makin liar. Dia menelan

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   97. Ada yang Cemburu

    “Tenang dulu. Kamu masih bisa cara cara lain.”Seorang temannya mencoba menenangkan, tapi Varen langsung menepis tangan itu kasar. “Kamu pikir aku bisa tenang?! Bertahun-tahun aku yang ada di samping Megha! Saat dia terpuruk, saat dia hampir menyerah sama hidupnya, siapa yang pegang tangannya?! Aku!”Lalu, Varen tertawa sumbang, tatapannya nyalang, dadanya panas.“Waktu dia sakit parah, tidak ada yang peduli, sampai harus masuk UGD malam-malam, siapa yang kalang kabut cari dokter terbaik?! Aku yang tidak tidur semalaman buat menunggunya di samping ranjangnya! Aku yang usap dahinya, aku yang pastikan dia baik-baik saja! Bima di mana saat itu?! Pria brengsek itu bahkan tidak tahu kalau Megha sedang kesakitan!”Dadanya naik turun. Bayangan Megha yang kini terikat dalam pernikahan dengan Bima membuat kepalanya rasanya mau pecah. Selama ini dia selalu jadi benteng pertahanan Megha, memberikan porsi support paling besar tanpa menuntut apa-apa. Dia mengorbankan waktu, perasaan, dan segalan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status