Share

Bab 04

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-07-31 09:00:18

04

Beberapa lagu romantis berbahasa Inggris, mengalun merdu dari bibir Harvitha. Dia menutup pertunjukan singkat itu dengan lagu dangdut, sembari memancing penonton untuk bergoyang. 

Sekelompok pria maju dan berjoget dengan gaya heboh, yang membuat hadirin tertawa. Suasana kian meriah, ketika Atalaric mengajak Arfan bergoyang, dan bocah itu joget dengan semangat. 

"Lagi! Lagi! Lagi!" seru penonton, kala lagu itu usai. 

"Mau lagu apa?" tanya Harvitha. 

"Dangdut lagi aja. Aku masih pengen joget," seloroh Benigno Griffin Janitra, presiden komisaris Janitra Grup, sekaligus dokter pemilik salah satu rumah sakit terkenal, di Jakarta Selatan dan Bandung. 

Harvitha berdiskusi dengan Trevor Aryeswara, sang pemain keyboard. Pria bertubuh tinggi besar itu merupakan presiden direktur Aryeswara Grup, sekaligus Adik sepupu Benigno. 

"Turunin 1 nadanya, Pak. Nggak nyampe suara saya kalau ikut penyanyi asli," ungkap Harvitha dengan jujur. 

"Begini?" Trevor menekan tuts keyboard.

"Ya, segitu." 

"Sip." 

Trevor memainkan musik pembuka dengan apik. Meskipun punya jabatan tinggi dan anggota keluarga konglomerat, tetapi Trevor lebih menjiwai dunia seni, khususnya keyboard atau piano. 

Harvitha kembali bernyanyi, sembari berdoa dalam hati, supaya suaranya sanggup mencapai nada tinggi lagu Zapin Melayu tersebut. Harvitha tersenyum, ketika berhasil menuntaskan tugasnya tanpa salah nada, dan mendapatkan tepuk tangan khalayak. 

"Next acara, kamu harus tampil, Ta. Duet sama Kenzo," cetus Benigno, sesaat setelah mereka kembali duduk di tempat semula. 

"Ehm, maksud Bapak, Kenzo Darka? Penyanyi itu?" tanya Harvitha. 

"Betul. Dia juga anggota PCD. Sama dengan Hisyam dan Biantara," terang Benigno. 

"Kenzo, tim berapa, Syam?" tanya Bryan Chavas Arvhasatya, suami Sekar. 

"Tim 1," jawab Hisyam. 

"Sama Damsaz?" 

"Ya, Pak." 

"Panggilanmu masih nggak berubah juga, Syam," goda Trevor. 

"Gitu emang dia. Ke aku pun, masih panggil Bapak," timpal Heru. 

"Susah mau ganti panggilan. Kagok," kilah Hisyam. 

"Ari pun sama. Sampai sekarang manggil aku tetap Pak," beber Artio Laksamana Pramudya, owner PG, PC, PCD, PCT, PCE, dan PCM, serta banyak perusahaan lainnya. 

"Aku baru nyadar. Nggak lihat Ari sama Yusuf," celetuk Hadrian Danadyaksha, pemilik restoran itu. 

"Mereka lagi ngamen di Eropa, nemenin Varo," tutur Wirya. 

Harvitha mendengarkan percakapan orang-orang di sekitarnya, sembari menyantap hidangan. Harvitha baru menyadari bila mereka semuanya kaya raya, termasuk Atalaric. 

Harvitha melirik pria di sebelah kirinya yang tengah menyuapi Arfan dengan sabar. Harvitha mendadak insecure, karena strata sosial mereka sangat jauh berbeda. 

Puluhan menit terlewati. Acara telah usai dan semua orang berpencar menuju kendaraan masing-masing. Harvitha tertegun kala Atalaric menyebutkan tempat yang akan dikunjunginya, pada Alzam, sesaat setelah mobil itu beranjak menjauhi area parkir restoran.

"Ke mal, mau apa, Pak?" tanya Harvitha. 

"Aku mau ngajak Arfan main di wahana yang lebih besar," sahut Atalaric. 

Harvitha mengamati keponakannya yang tampak terkantuk- kantuk. "Kapan-kapan aja. Arfan sudah capek, kayaknya." 

Atalaric memandangi lelaki kecil yang sedang menyandar ke badan Harvitha. "Dia heboh banget tadi, jadi tenaganya habis." 

"Dia happy banget bisa main sama teman-teman banyak. Mana pada ramah semua. Padahal baru kenal." 

"Kapan-kapan, aku mau ajak Arfan ke rumah Mas Bryan. Ada kolam renang, dan hampir tiap sore, ada aja bocah yang main di sana." 

"Terbuka untuk umum?" 

"Enggak. Hanya berlaku buat anak-anak tetangga, dan para kiddos bos." 

"Ehm, Arfan bukan anak bos, ataupun tetangga beliau. Memangnya boleh ikut berenang?" 

"Tentu saja boleh. Arfan, kan, anak angkatku." 

Harvitha terhenyak. "Bapak pasti bercanda." 

"Enggak, Tha. Aku suka sama Arfan, dan dia juga sayang sama aku." Atalaric menatap Harvitha lekat-lekat. "Aku juga suka sama kamu," akunya dengan lugas.

Harvitha terdiam. Dia menunduk sembari berpura-pura merapikan rambut Arfan, untuk menutupi kegugupannya. Harvitha menjengit, kala Atalaric memegangi tangan kanannya. 

"Aku tahu, kita baru kenal, tapi, aku beneran suka kamu," ucap Atalaric dengan suara pelan. 

Harvitha mengerjapkan mata. Dia masih kaget dengan ucapan pria itu dan bingung hendak menjawab apa. Tiba-tiba Harvitha teringat tentang perbedaan mereka yang paling krusial, dan itu membuatnya tefleks menarik tangan. 

Atalaric mengamati perempuan yang belakangan hari selalu terbayang dalam ingatannya. "Kenapa ditarik?" 

"Ehm, saya ... malu," cicit Harvitha. 

Atalaric mengulum senyuman. "Santai." 

"Ehm, saya rasa, kita cukup jadi teman, Pak." 

"Kamu nolak aku?" 

Harvitha menggigit bibir bawahnya. Sangat bingung menentukan sikap. Hatinya mendua, karena sebenarnya dia juga menyukai Atalaric. 

"Tha, kamu nggak suka sama aku?" desak Atalaric. 

"Ehm, bukan, gitu. Tapi ... dunia kita jauh berbeda," jelas Harvitha. 

"Apa maksudmu? Aku nggak paham." 

"Ehm, Bapak ... konglomerat. Sedangkan saya, orang biasa." 

Atalaric mengernyitkan kening. "Aku juga manusia, Tha. Sama kayak kamu. Makannya masih nasi, bukan emas." 

"Saya paham, tapi ... saya benar-benar nggak pantas buat Bapak." 

"Kamu ngomong apa, sih?" 

Harvitha memberanikan diri untuk menatap pria yang balas memandanginya dengan intens. "Kehidupan kita benar-benar berbeda, Pak. Bapak, langit. Saya, bumi." 

Atalaric melengos. "Aku nggak pernah melihat orang dari strata sosialnya. Bagiku, semuanya sama. Yang beda cuma attitudenya, baik atau nggak." 

Atalaric kembali memandangi perempuan yang masih terdiam. "Kita memang baru kenal, Tha. Tapi, aku bisa merasakan, kamu dan keluargamu itu orang baik. Aku percaya pada intuisiku yang nyaris nggak pernah salah." 

"Aku ngerti, kamu ragu-ragu dengan ketulusanku. Tapi, berikan aku kesempatan untuk menunjukkan keseriusan," ungkap Atalaric. "Umurku sudah nggak muda, dan nggak punya waktu buat pacaran. Aku pengen punya pasangan hidup, dan kuharap orang itu adalah kamu," pungkasnya.

Harvitha bergeming. Dia syok dengan ungkapan Atalaric, hingga tidak tahu harus menjawab apa. Harvitha mengalihkan pandangan ke luar kaca, sembari menenangkan dadanya yang bergemuruh. 

Sepanjang perjalanan itu Harvitha dan Atalaric sama-sama diam. Hingga mobil itu berhenti di depan kediaman Hasni. Atalaric keluar lebih dulu guna membukakan pintu samping kiri.

Harvitha keluar sambil menggendong Arfan. Dia melangkah cepat memasuki rumah yang pintunya dalam kondisi terbuka, sembari mengucapkan salam. Atalaric menyusul, sedangkan Alzam memundurkan kendaraan. 

"Lah, bobok," tukas Faiz Gazwan, sebelum mengambil alih Arfan dari gendongan kakaknya. 

Atalaric memandangi pria muda yang tengah memasuki kamar tengah. Dia hendak bertanya, tetapi dibatalkan, saat Harvitha mempersilakannya untuk duduk. 

Faiz keluar dan menyambangi sang tamu. Dia menyalami pria berparas tampan tersebut, sembari memperkenalkan diri. 

"Oh, Adik Vitha," ujar Atalaric. 

"Ya, Pak," balas Faiz sembari duduk di kursi seberang. 

"Kerja di mana?" 

"PT. KMO." 

Atalaric mengingat-ingat. "Ownernya, Pak Budihardjo. Betul?" 

"Betul, beliau preskom." Faiz mengamati pria berkemeja cokelat muda dengan saksama. "Kalau Bapak, owner perusahaan mana?" tanyanya. 

"Bukan owner. Aku juga pegawai, di Dewawarman Grup." 

Faiz yang sudah mendengar informasi tentang tamu itu dari Hasni, hanya bisa manggut-manggut. Dia tahu jika Atalaric adalah bilioner, dan hal itu menyebabkan Faiz merasa rendah diri. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tergoda Mama Muda   Bab 05

    05Selama beberapa hari berikutnya, Harvitha gelisah, karena Atalaric sama sekali tidak mengirimkan pesan, atau pun menelepon. Padahal sebelumnya, setiap pagi pria itu akan menyapanya dalam pesan, dan menelepon di malam hari. Harvitha khawatir jika Atalaric tersinggung dengan penolakanjya Minggu sore kemarin. Padahal sebelumnya Harvitha ingin menerima ajakan pria tersebut untuk menjalin hubungan serius, tetapi dia malu dan tidak percaya diri menjadi pendamping Atalaric. Jumat malam itu, Harvitha bekerja dengan separuh hati. Dia beralasan tengah sakit perut akibat datang bulan, Harvitha menolak ajakan bosnya guna berbincang berdua.Harvitha khawatir jika Felix Arion akan kembali berusaha menciuminya secara paksa, seperti yang pernah dilakukan sang bos pada bulan lalu. Mira yang telah mengetahui peristiwa itu, berusaha untuk melindungi Harvitha. Namun, sebelum acara usai, kakaknya Mira menelepon dan meminta perempuan itu untuk segera pulang, karena Ibu mereka masuk rumah sakit akibat

  • Tergoda Mama Muda   Bab 04

    04Beberapa lagu romantis berbahasa Inggris, mengalun merdu dari bibir Harvitha. Dia menutup pertunjukan singkat itu dengan lagu dangdut, sembari memancing penonton untuk bergoyang. Sekelompok pria maju dan berjoget dengan gaya heboh, yang membuat hadirin tertawa. Suasana kian meriah, ketika Atalaric mengajak Arfan bergoyang, dan bocah itu joget dengan semangat. "Lagi! Lagi! Lagi!" seru penonton, kala lagu itu usai. "Mau lagu apa?" tanya Harvitha. "Dangdut lagi aja. Aku masih pengen joget," seloroh Benigno Griffin Janitra, presiden komisaris Janitra Grup, sekaligus dokter pemilik salah satu rumah sakit terkenal, di Jakarta Selatan dan Bandung. Harvitha berdiskusi dengan Trevor Aryeswara, sang pemain keyboard. Pria bertubuh tinggi besar itu merupakan presiden direktur Aryeswara Grup, sekaligus Adik sepupu Benigno. "Turunin 1 nadanya, Pak. Nggak nyampe suara saya kalau ikut penyanyi asli," ungkap Harvitha dengan jujur. "Begini?" Trevor menekan tuts keyboard."Ya, segitu." "Sip."

  • Tergoda Mama Muda   Bab 03

    03Dua pekan berlalu. Atalaric kembali muncul di kediaman orang tua Harvitha. Pria berhidung mancung itu memberikan mainan yang diterima Arfan dengan gembira. Selain itu pria tersebut juga membawa aneka kue, yang diambil Harvitha dengan senang hati. Kedua orang tua Harvitha, mengajak Atalaric berbincang. Hasni Saifuddin dan Azizah Sadiya, saling melirik, seusai menyaksikan interaksi antara Atalaric dan Arfan yang sangat akrab. Tidak berselang lama, kedua laki-laki berbeda generasi itu dan juga Harvitha, telah berada di mobil SUV putih yang ukurannya lebih ramping dari mobil sedan, yang digunakan Atalaric dua minggu lalu. Pria berkemeja cokelat muda tersebut berbincang dengan Arfan, sembari mengajarkan bocah itu menggambar di ipadnya. Harvitha memerhatikan kedua pria berbeda generasi itu. Dia takjub, karena Arfan bisa cepat akrab dengan Atalaric. Padahal dengan orang dewasa lainnya, Arfan lebih sering menjaga jarak. "Vit, nanti nyumbang nyanyi, ya," pinta Atalaric, lalu dia menunju

  • Tergoda Mama Muda   Bab 02

    02Atalaric membaca biodata Harvitha, yang telah diselidiki tim rahasia PBK, perusahaan jasa keamanan terkemuka di Indonesia, yang menjadi rekanannya sejak puluhan tahun silam.Atalaric dan keluarganya, menjadi salah satu klien pertama PBK dan PB. Kedua perusahaan itu berada dalam 1 grup yang sama, dengan pemilik yang sama pula. Perbedaannya hanya di jenis layanan. PBK menyediakan tenaga bodyguard terlatih dan bersertifikat nasional serta internasional. Sementara PB menangani penyediaan tenaga sekuriti, yang juga terlatih dan bersertifikat nasional. Selain di tanah air, kedua perusahaan itu juga memiliki cabang di banyak negara, tempat di mana kesepuluh komisaris utamanya berbisnis. "Masih ada lagi orang yang perlu diselidiki, Mas?" tanya Daegal Jihadi, ketua tim rahasia 11."Ehm, nggak ada. Ini sudah cukup," jawab Atalaric. "Makasih, Da," lanjutnya. "Sama-sama, Mas. Kalau gitu, aku mau balik kerja." "Lagi nyelidikin siapa?" "Pacarnya Sandrina." "Kastara?" "Betul." Atalaric te

  • Tergoda Mama Muda   Bab 01

    01"Papa!" teriak seorang anak laki-laki sembari berjalan cepat menuju sekumpulan orang. "Papa!" jeritnya, sambil memeluk kaki kiri pria bersetelan jas biru tua. Atalaric Pradipta Dewawarman, menunduk. Dia kaget, karena dipanggil Papa oleh bocah yang tidak dikenalinya. Atalaric menatap lelaki kecil yang balas memandanginya penuh kerinduan, dan hal itu menyebabkan hatinya mencelos.Alih-alih menjauh, Atalaric justru berjongkok agar bisa melihat jelas anak tersebut. Sudut bibir Atalaric mengukir senyuman, kala sang bocah memegangi pipi kirinya. "Halo. Namamu, siapa?" tanya Atalaric dengan ramah. "Arfan," jawab anak laki-laki tersebut. "Papa, kumisnya, mana?" tanyanya saat menyadari bila pria itu tidak memiliki kumis. "Dicukur." Atalaric berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. "Mau es krim?" desaknya. Arfan Mubarak menganguk semangat. Dia menggenggam jemari pria tersebut dan mengikuti langkah Atalaric, menuju stand di ujung kanan. Seorang pria berbadan tinggi, bergegas mendahului g

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status