Share

Bab 03

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-07-31 08:53:13

03

Dua pekan berlalu. Atalaric kembali muncul di kediaman orang tua Harvitha. Pria berhidung mancung itu memberikan mainan yang diterima Arfan dengan gembira. Selain itu pria tersebut juga membawa aneka kue, yang diambil Harvitha dengan senang hati. 

Kedua orang tua Harvitha, mengajak Atalaric berbincang. Hasni Saifuddin dan Azizah Sadiya, saling melirik, seusai menyaksikan interaksi antara Atalaric dan Arfan yang sangat akrab. 

Tidak berselang lama, kedua laki-laki berbeda generasi itu dan juga Harvitha, telah berada di mobil SUV putih yang ukurannya lebih ramping dari mobil sedan, yang digunakan Atalaric dua minggu lalu. 

Pria berkemeja cokelat muda tersebut berbincang dengan Arfan, sembari mengajarkan bocah itu menggambar di ipadnya. Harvitha memerhatikan kedua pria berbeda generasi itu. Dia takjub, karena Arfan bisa cepat akrab dengan Atalaric. Padahal dengan orang dewasa lainnya, Arfan lebih sering menjaga jarak. 

"Vit, nanti nyumbang nyanyi, ya," pinta Atalaric, lalu dia menunjukkan layar ponselnya pada Harvitha. "Aku cerita tentangmu ke Biantara, dan dia minta kamu nyanyi," ungkapnya. 

"Ehm, oke. Lagu apa?" tanya Harvitha. 

"Yang kemarin itu. Lagunya Celine Dion." 

"If Walls Could Talk?" 

"Ya. Kamu bagus sekali bawain lagu itu." 

Harvitha mengangguk mengiakan. "Ada rekues lain?' 

"Nanti kita tanya ke pemilik pesta." 

"Ehm, Pak. Acaranya bukan yang formal, kan?" 

"Yups. Pesta santai ini." 

"Syukurlah. Saya khawatir, bajunya nggak sesuai." 

Atalaric mengamati perempuan bergaun salem di samping kanannya. "Bajumu, bagus. Warnanya cocok dengan kemejaku." 

Harvitha memerhatikan kemeja yang dikenakan pria tersebut. Dia baru menyadari bila warna baju mereka hampir sama. Begitu pula dengan kemeja yang digunakan Arfan.

Harvitha menunduk guna menggapai ponselnya yang tengah berdering. Dia menjawab panggilan dari rekannya, yang menawarkan pekerjaan untuk minggu depan. 

"Di mana?" tanya Harvitha. 

"Kantor teman bos besar," terang Mira Ruqayah, sahabat Harvitha yang menjabat sebagai tim marketing. 

"Kawasan mana?" 

"Tebet." 

"Ehm, tapi kamu temenin aku. Ngeri dipepetin dia lagi." 

"Okay, Beib." Mira berpikir sesaat, lalu dia berkata, "Arfan jangan dibawa. Ini acara resmi." 

"Yes, Nyonya." 

"Dandan cantik, Mbok. Bajunya juga, harus sopan, tapi tetap wow." 

"Inggih, Ndoro." 

"Sip, sampai ketemu Jumat sore. Assalamualaikum."

"Waalailumsalam." 

Setibanya di tempat tujuan, Atalaric mengajak Harvitha dan Arfan guna berkenalan dengan pemilik hajat. Harvitha kaget, ketika Widya dan Zulfikar, kedua anak penyelenggara acara tersebut, langsung mengajak Arfan bermain di wahana playground, di sisi kiri lantai dua restoran besar, di kawasan Lebak Bulus. 

Harvitha juga tidak menyangka, bila Biantara Balasena dan istrinya, Arista Farahania Darshana, ternyata sangat ramah. Begitu pula dengan para sahabat mereka yang menghadiri acara itu. 

Harvitha juga diperkenalkan Atalaric dengan beberapa saudaranya, yang menjadi tamu di acara tersebut. Harvitha makin kagum, karena mereka semuanya ramah dan menyambutnya dengan hangat. 

"Selain jadi penyanyi, ada pekerjaan lain, Ta?" tanya Sekar Prameswari Dewawarman, Kakak kedua Atalaric. 

"Ya, Bu. Saya kerja freelance, sebagai staf pameran," terang Harvitha. 

"Kalau papanya Arfan, kerja apa?"

"Koki di kapal pesiar." 

"Area mana?" 

"Pindah-pindah, Bu. Lebih banyak di seputar Eropa." 

"Berarti LDR. Sabar, ya. Aku tahu itu berat. Aku dulu juga sempat LDR dengan suami." 

Harvitha tercenung sejenak. "Ehm, saya dan papanya Arfan, bukan suami istri." 

"Maksudjya, sudah cerai?" 

"Bukan, Bu. Papanya Arfan, Mas Afzal, nikah sama almarhumah Kakak saya, Selvia. Alias Ibu kandung Arfan." 

Sekar terperangah. Begitu pula dengan orang-orang di sekitar. Sekar memandangi Arfan, lalu kembali menatap perempuan berparas ayu di hadapannya. 

"Ternyata begitu. Maaf, aku salah paham," ucap Sekar.

Harvitha mengulum senyuman. "Enggak apa-apa. Orang-orang yang baru dengar cerita saya, semuanya juga kaget, kayak Ibu." 

"Ehm, waktu ibunya wafat, Arfan umur berapa?" 

"2 tahun lebih. Kak Selvia ninggalnya 7 bulan lalu." 

"Ya, Allah. Sedihnya." 

"Banget." Harvitha memerhatikan keponakannya yang terlihat gembira bermain bersama teman-teman barunya. "Arfan nangis terus hampir tiap malam. Baru 2 bulan terakhir ini dia mulai tenang dan jarang nangis." 

Sekar mengusap lengan kiri Harvitha. "Sahabatku juga kehilangan istrinya, saat anak bungsu mereka seumuran Arfan. Aku saksi betapa hancurnya dia dan kiddos. Sebelum mereka bisa bangkit lagi." 

"Pasti berat banget jalan mereka." 

"Ya, tapi alhamdulillah. Setahun setelah istrinya wafat, dia nikah lagi. Istri keduanya itu sayang banget ke ketiga anaknya." 

"Alhamdulillah. Ikut senang dengarnya." 

"Mau kenalan? Orangnya ada di sini." 

"Boleh." 

Sekar menggamit lengan kiri Harvitha. Keduanya mengayunkan tungkai menuju deretan meja sisi kanan, lalu berhenti di meja ketiga. Sekar menepuk pundak kanan perempuan bergaun biru muda yang spontan menoleh. 

Harvitha membulatkan mata, karena mengenali perempuan berkulit putih yang tengah berdiri dan beradu pipi dengan Sekar. Harvitha masih kaget, karena mengenali perempuan itu sebagai artis China. 

"Ta, kenalkan. Ini, Mamados, alias Mama Kiddos," ujar Sekar. Dia menyentuh lengan kiri Harvitha yang masih termangu. "Van, semua orang yang melihatmu, pasti ekspresinya, gitu," kelakarnya. 

Liu Yuwen Vanetta Zeline tersenyum sembari mengulurkan tangan kanannya. "Hello, aku Vanetta," tuturnya. 

"Ehm, saya ... Harvitha," balas perempuan berambut panjang sambil menjabat tangan sang aktris. "Ibu, artis China, kan?" tanyanya, seusai menarik tangan.

"Aku sebetulnya nggak mau ngaku, tapi sudah nggak bisa ngindar lagi," sahut Vanetta. "Ya, aku aktris Tiongkok," sambungnya. 

"MasyaAllah! Saya nggak mimpi, kan? Bisa ketemu artis luar negeri." Harvitha menepuk pelan pipi kanannya. "Ternyata memang bukan mimpi," akunya seraya tersenyum. 

"Senyumanmu manis sekali." 

"Ehm, makasih." Harvitha berpikir sesaat, lalu dia bertanya, "Boleh minta tanda tangan Ibu? Sama foto." 

"Boleh." 

Vanetta meraih baugette bag birunya dari kursi, dan membuka benda itu guna mengambil selembar fotonya dan pulpen. "Harvita. Gini?" tanyanya sembari menunjukkan tulisan di foto.

"T h a," jelas Harvitha. 

"Oh, pake H." 

Vanetta menambahkan huruf H, lalu menandatangani foto dan memberikan benda itu pada perempuan yang lebih muda. Dia memindai sekitar, sebelum memanggil pria berkemeja biru muda, yang motifnya sama dengan gaunnya. 

"Ayah, tolong bantu fotoin," pinta Vanetta. 

"Oke," sahut Wirya Arudji Kartawinata Adhitama, komisaris 5 PB dan PBK. "Pake ponsel siapa?" tanyanya. 

"Ehm, ini, Pak," sela Harvitha sembari memberikan ponselnya. 

"Pake punyaku. Biar hasil fotonya keren," cakap Atalaric yang telah berdiri di samping kanan Harvitha. 

"Sombong," ledek Wirya. "Syam, kamu yang fotoin. Aku mau mejeng juga," tambahnya. 

Hisyam Fayadh, Adik ipar Sekar dan Atalaric, mengambil ponsel Kakak iparnya. Hisyam mundur beberapa langkah, sambil menunggu para bos berkumpul. 

"Aku, ikut!" pekik Heru Pranadipa Dewawarman, Kakak tertua Atalaric, sembari berdiri di sebelah kanan Adik laki-lakinya. 

"Ehh, aku juga, dong," imbuh Utari Pratista Dewawarman, putri bungsu keluarga tersebut, sekaligus istri Hisyam. 

"Sini, Ri." Wirya mengarahkan Utari untuk berdiri di antara dirinya dan Sekar. 

Hisyam mengambil beberapa jepretan, sebelum dia memberikan ponsel itu pada Biantara, lalu Hisyam berpindah ke samping kiri Wirya dan ikut berfoto bersama. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tergoda Mama Muda   Bab 05

    05Selama beberapa hari berikutnya, Harvitha gelisah, karena Atalaric sama sekali tidak mengirimkan pesan, atau pun menelepon. Padahal sebelumnya, setiap pagi pria itu akan menyapanya dalam pesan, dan menelepon di malam hari. Harvitha khawatir jika Atalaric tersinggung dengan penolakanjya Minggu sore kemarin. Padahal sebelumnya Harvitha ingin menerima ajakan pria tersebut untuk menjalin hubungan serius, tetapi dia malu dan tidak percaya diri menjadi pendamping Atalaric. Jumat malam itu, Harvitha bekerja dengan separuh hati. Dia beralasan tengah sakit perut akibat datang bulan, Harvitha menolak ajakan bosnya guna berbincang berdua.Harvitha khawatir jika Felix Arion akan kembali berusaha menciuminya secara paksa, seperti yang pernah dilakukan sang bos pada bulan lalu. Mira yang telah mengetahui peristiwa itu, berusaha untuk melindungi Harvitha. Namun, sebelum acara usai, kakaknya Mira menelepon dan meminta perempuan itu untuk segera pulang, karena Ibu mereka masuk rumah sakit akibat

  • Tergoda Mama Muda   Bab 04

    04Beberapa lagu romantis berbahasa Inggris, mengalun merdu dari bibir Harvitha. Dia menutup pertunjukan singkat itu dengan lagu dangdut, sembari memancing penonton untuk bergoyang. Sekelompok pria maju dan berjoget dengan gaya heboh, yang membuat hadirin tertawa. Suasana kian meriah, ketika Atalaric mengajak Arfan bergoyang, dan bocah itu joget dengan semangat. "Lagi! Lagi! Lagi!" seru penonton, kala lagu itu usai. "Mau lagu apa?" tanya Harvitha. "Dangdut lagi aja. Aku masih pengen joget," seloroh Benigno Griffin Janitra, presiden komisaris Janitra Grup, sekaligus dokter pemilik salah satu rumah sakit terkenal, di Jakarta Selatan dan Bandung. Harvitha berdiskusi dengan Trevor Aryeswara, sang pemain keyboard. Pria bertubuh tinggi besar itu merupakan presiden direktur Aryeswara Grup, sekaligus Adik sepupu Benigno. "Turunin 1 nadanya, Pak. Nggak nyampe suara saya kalau ikut penyanyi asli," ungkap Harvitha dengan jujur. "Begini?" Trevor menekan tuts keyboard."Ya, segitu." "Sip."

  • Tergoda Mama Muda   Bab 03

    03Dua pekan berlalu. Atalaric kembali muncul di kediaman orang tua Harvitha. Pria berhidung mancung itu memberikan mainan yang diterima Arfan dengan gembira. Selain itu pria tersebut juga membawa aneka kue, yang diambil Harvitha dengan senang hati. Kedua orang tua Harvitha, mengajak Atalaric berbincang. Hasni Saifuddin dan Azizah Sadiya, saling melirik, seusai menyaksikan interaksi antara Atalaric dan Arfan yang sangat akrab. Tidak berselang lama, kedua laki-laki berbeda generasi itu dan juga Harvitha, telah berada di mobil SUV putih yang ukurannya lebih ramping dari mobil sedan, yang digunakan Atalaric dua minggu lalu. Pria berkemeja cokelat muda tersebut berbincang dengan Arfan, sembari mengajarkan bocah itu menggambar di ipadnya. Harvitha memerhatikan kedua pria berbeda generasi itu. Dia takjub, karena Arfan bisa cepat akrab dengan Atalaric. Padahal dengan orang dewasa lainnya, Arfan lebih sering menjaga jarak. "Vit, nanti nyumbang nyanyi, ya," pinta Atalaric, lalu dia menunju

  • Tergoda Mama Muda   Bab 02

    02Atalaric membaca biodata Harvitha, yang telah diselidiki tim rahasia PBK, perusahaan jasa keamanan terkemuka di Indonesia, yang menjadi rekanannya sejak puluhan tahun silam.Atalaric dan keluarganya, menjadi salah satu klien pertama PBK dan PB. Kedua perusahaan itu berada dalam 1 grup yang sama, dengan pemilik yang sama pula. Perbedaannya hanya di jenis layanan. PBK menyediakan tenaga bodyguard terlatih dan bersertifikat nasional serta internasional. Sementara PB menangani penyediaan tenaga sekuriti, yang juga terlatih dan bersertifikat nasional. Selain di tanah air, kedua perusahaan itu juga memiliki cabang di banyak negara, tempat di mana kesepuluh komisaris utamanya berbisnis. "Masih ada lagi orang yang perlu diselidiki, Mas?" tanya Daegal Jihadi, ketua tim rahasia 11."Ehm, nggak ada. Ini sudah cukup," jawab Atalaric. "Makasih, Da," lanjutnya. "Sama-sama, Mas. Kalau gitu, aku mau balik kerja." "Lagi nyelidikin siapa?" "Pacarnya Sandrina." "Kastara?" "Betul." Atalaric te

  • Tergoda Mama Muda   Bab 01

    01"Papa!" teriak seorang anak laki-laki sembari berjalan cepat menuju sekumpulan orang. "Papa!" jeritnya, sambil memeluk kaki kiri pria bersetelan jas biru tua. Atalaric Pradipta Dewawarman, menunduk. Dia kaget, karena dipanggil Papa oleh bocah yang tidak dikenalinya. Atalaric menatap lelaki kecil yang balas memandanginya penuh kerinduan, dan hal itu menyebabkan hatinya mencelos.Alih-alih menjauh, Atalaric justru berjongkok agar bisa melihat jelas anak tersebut. Sudut bibir Atalaric mengukir senyuman, kala sang bocah memegangi pipi kirinya. "Halo. Namamu, siapa?" tanya Atalaric dengan ramah. "Arfan," jawab anak laki-laki tersebut. "Papa, kumisnya, mana?" tanyanya saat menyadari bila pria itu tidak memiliki kumis. "Dicukur." Atalaric berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. "Mau es krim?" desaknya. Arfan Mubarak menganguk semangat. Dia menggenggam jemari pria tersebut dan mengikuti langkah Atalaric, menuju stand di ujung kanan. Seorang pria berbadan tinggi, bergegas mendahului g

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status