Se connecterSetelah pesta pernikahan kemarin, hari ini Bricia dan Andrew mengantarkan Harry dan Feli ke bandara.Mereka akan berbulan madu ke Korea Selatan, sesuai permintaan Feli. Dan semua ini masih dalam rangka hadiah dari Andrew.Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti tepat di depan pintu masuk terminal keberangkatan internasional. Suasana cukup ramai, orang-orang berlalu lalang, dan suara pengumuman dari dalam bandara terdengar samar bercampur dengan deru kendaraan yang silih berganti datang dan pergi.Andrew mematikan mesin, lalu menoleh ke belakang dengan senyum santainya. “Sudah sampai tujuan, Lovebird.”Harry lebih dulu turun, diikuti Andrew yang langsung membantu menurunkan koper dari bagasi. Sementara itu, Feli masih duduk sejenak di dalam mobil, matanya menatap ke arah pintu kaca besar di depannya.“Fel…” panggil Bricia lembut.Feli tersadar, lalu mengangguk pelan sebelum akhirnya ikut turun. Udara luar menyambutnya, dan tanpa sadar ia menggenggam tas kecil di tangannya lebih e
Feli menarik napas berkali-kali. Dadanya naik turun tak beraturan, sementara kedua tangannya gemetar hebat. Retno sudah menenangkannya sejak tadi, tapi Feli tetap kesulitan mengontrol dirinya. Saat ini, Feli, Retno, dan Bricia berada di sebuah ruangan khusus di hotel, tempat ia menunggu sebelum dijemput Eric untuk berjalan menuju Harry. Bukan di gereja, melainkan di ballroom hotel yang sudah disulap menjadi tempat pemberkatan sekaligus makan siang yang begitu cantik dan elegan. Feli memang tak ingin acara yang bertele-tele. Hanya pemberkatan, lalu dilanjutkan dengan makan siang. Acara yang cukup sederhana, tapi tetap sakral. Suara pintu yang terbuka membuat Feli sedikit tersentak. Ia langsung menoleh. “Sudah siap?” tanya Eric, menatap satu per satu yang ada di ruangan itu. Bricia menggeleng kecil. Matanya melirik ke arah Feli, lalu memberi kode halus pada papanya. Eric mengerti. Ia melangkah mendekat dan berhenti tepat di depan Feli. Pria itu menarik napas pelan, lalu meletak
Hari demi hari terlewati begitu saja. Canda dan tawa terus mengiringi hari-hari Andrew dan Bricia. Kehamilan kembar itu membawa kebahagiaan yang tak terkira. Meski begitu, mereka sepakat masih menyimpan jenis kelamin sang bayi hingga nanti diumumkan saat acara baby shower. Di sisi lain, Feli semakin sibuk. Persiapan pernikahannya dengan Harry kian padat, membuat hari-harinya dipenuhi rasa lelah sekaligus antusias. Waktu terasa berjalan cepat hingga tanpa terasa, dua hari lagi adalah momen mereka mengikat janji suci. Namun, semakin dekat dengan hari itu, Feli justru makin dibuat bimbang. Entah dari mana asalnya, keraguan itu tiba-tiba muncul. Padahal, dengan semua sikap dan tanggung jawab Harry selama ini, harusnya tak ada yang perlu ia khawatirkan. Tapi tetap saja, Feli seperti berperang dengan pikirannya sendiri. Cemas, takut, ragu, semuanya datang bersamaan, mengusik ketenangannya. Retno menyadari perubahan itu. Dua hari ini, Feli memang lebih banyak diam. Tatapannya serin
“Bri…” Suara gedoran pintu disusul teriakan Feli terdengar nyaring memecah pagi yang seharusnya masih tenang. Sementara di dalam kamar, dua penghuninya masih terlelap dalam pelukan. “Bricia! Bangun woi! Matahari udah di atas rumah, lho!” Gedoran kembali terdengar, kali ini lebih keras. Bricia menggeliat, wajahnya mengerut kesal. Perlahan ia melepaskan diri dari pelukan Andrew yang masih tertidur pulas. “Astaga… berisik banget, sih,” dumelnya pelan. Tangannya meraba nakas dan mencari ponsel. Begitu layar menyala, matanya langsung membelalak. “Astaga… baru jam enam!” Di sampingnya, Andrew sedikit bergerak. Alisnya berkerut, tanda tidurnya mulai terusik. “Itu siapa…” gumamnya serak, ia masih belum membuka mata. Andrew justru kembali menarik selimutnya sampai menutupi dagu. “Siapa lagi kalau bukan anak kesayangan Papa,” jawab Bricia ketus sambil turun dari ranjang. “Feli?” “Iya. Kayaknya dia lupa kalau manusia normal masih harus tidur jam segini.” Gedoran kemba
Angin pantai berembus pelan, membawa aroma laut yang khas hingga ke dalam area villa. Suara deburan ombak terdengar samar, berpadu dengan gemerisik daun kelapa yang bergoyang tenang. Empat hari terasa terlalu cepat. Villa yang menghadap langsung ke pantai itu kini kembali sunyi, tak seramai hari-hari sebelumnya saat tawa Bricia dan Andrew memenuhi setiap sudutnya. Di teras, Bricia berdiri sambil memandang laut lepas. Rambutnya tertiup angin, gaun santainya bergerak pelan mengikuti arah embusan. Andrew keluar dari dalam, tangannya menarik koper mereka hingga ke dekat pintu. Ia berhenti sejenak, dan menatap punggung istrinya. “Masih mau nambah satu hari lagi?” godanya. Bricia menoleh, lalu tersenyum tipis. “Mau… tapi nggak bisa,” jawabnya pelan. “Nanti kamu ditagih kerjaan terus.” Sebenarnya, selain babymoon, mereka juga sedang memantau pengerjaan cabang di Bali yang sudah berjalan sekitar tiga puluh persen. Andrew terkekeh, lalu mendekat. Ia berdiri di samping Bricia, ikut me
Pernikahan Feli akan dilangsungkan satu bulan lagi. Setelah kelahiran Erlio, persiapan benar-benar dikebut. Semua terasa lebih cepat mulai dari konsep acara, dekorasi, hingga detail kecil lainnya. WO bahkan sudah merampungkan banyak hal, termasuk undangan yang kini sudah selesai dicetak dalam waktu satu bulan ini. Dan siang ini, Feli dan Harry menjalani fitting baju untuk pertama kalinya. Suasana butik terasa cukup ramai, beberapa asisten desainer hilir mudik menyiapkan kebutuhan. Beberapa pengunjung butik juga terlihat memenuhi butik itu. Mungkin karena hari ini akhir pekan, sehingga menjadi waktu yang pas untuk sekadar fitting atau membeli pakaian. Feli berdiri di depan cermin besar, gaun yang masih disematkan jarum di beberapa sisi itu membalut tubuhnya dengan pas. Ia menatap bayangannya sendiri cukup lama. “Gimana?” tanya salah satu staf. Feli belum langsung menjawab. Matanya masih fokus pada pantulan dirinya. Matanya meneliti dari ujung dress sampai area bahu. Di sisi l
Satu bulan telah berlalu sejak malam lamaran itu. Andrew bergerak cepat untuk mewujudkan keinginannya menikahi Bricia. Keduanya bahkan sudah membicarakan konsep pernikahan yang akan mereka usung. Setelah meminta pendapat Louisa dan Eric, akhirnya disepakati bahwa pernikahan mereka akan digelar den
Menjelang jam pulang kantor, semangat Bricia naik berkali lipat. Sore ini ia akan mampir ke kafe Andrew. Lelaki itu sudah mengirim pesan bahwa ia menunggunya di sana. Dan sekalian, Bricia ingin mengenalkan Lucas pada Andrew. Begitu meja kerjanya rapi, Bricia langsung menoleh ke arah Lucas. Namun
Setelah empat hari dirawat, akhirnya Feli diperbolehkan pulang. Kondisi perutnya sudah jauh membaik, meski ia masih harus kontrol satu minggu ke depan. Retno tampak sibuk membereskan barang-barang, Harry sedang meminjam kursi roda ke bagian nurse station, dan Andrew duduk di dekat ranjang Feli. B
Setelah acara selesai, para tamu satu per satu berpamitan pulang. Begitu juga dengan Harry dan Feli. Sementara Andrew memilih tetap tinggal sampai semuanya benar-benar selesai karena ingin menemani Bricia. Harry dan Feli mendekat ke tempat Eric dan Louisa untuk berpamitan terakhir kali. “Pak Eric







