Mag-log inAku tidak bisa berhenti menangis. Tubuhku terus mengkhianatiku. Setiap kali aku merasa baik, mual itu kembali. Setiap kali aku ingin dekat dengan suamiku, perutku mual. Setiap kali aku ingin menjadi istri yang baik, tubuhku menghalangi.Alexandro tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa duduk di sampingku, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Tangannya terulur, ingin menyentuhku, tapi dia takut membuatku mual."Aku benci ini, Ale," kataku di antara isakan."Benci apa?""Aku benci mual ini.""Ini hanya sementara.""Kapan? Kapan ini akan berakhir? Aku tidak tahan lagi."Alexandro tidak menjawab.Aku menangis semakin keras.Malam itu, aku tidur sendirian di kamar. Alexandro tidur di kamar lain. Aku tidak bisa memaksanya mendekat, dan aku tidak bisa memaksanya menjauh. Aku hanya bisa menangis ke dalam bantal, berharap besok akan lebih baik.Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan aneh. Perutku masih mual, tapi bukan mual biasa. Mual yang lebih kuat, lebih menusuk, lebih menyiksa
"Aku rindu BDSM," kataku."Apa kamu serius?" tanyanya."Aku serius.""Tapi kamu sedang hamil.""Aku tahu.""Dan kamu mual kalau aku dekat.""Aku tidak mual lagi."Alexandro diam."Kamu yakin?" tanyanya."Aku yakin."Dia memanggil pelayan, membayar tagihan, lalu meraih tanganku. "Ayo pulang."Di rumah, kami langsung menuju kamar tidur. Alexandro mengunci pintu. Aku duduk di tepi tempat tidur, jantungku berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena gugup. Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali kami melakukan ini. Tubuhku mungkin sudah lupa, tapi pikiranku tidak pernah."Ale," panggilku."Apa.""Aku yang memulai."Dia mengedip. "Kamu?""Aku. Kamu duduk di kursi. Jangan bergerak. Jangan bicara. Jangan lakukan apa pun."Alexandro menurut. Dia duduk di kursi dekat jendela, menatapku dengan mata gelap. Aku berdiri, berjalan ke lemari, dan mengeluarkan kotak hitam. Kotak berisi mainan-mainan kami. Borgol kulit hitam berlapis bulu domba. Lilin kecil. Tali sutra. Sumbat mulut. Semuanya ti
Sudut Pandang Lucia.Aku menangis. Bukan tangisan biasa. Tangisan yang keluar dari dadaku yang sesak, dari perutku yang mual, dari mataku yang perih. Aku tahu ini kekanak-kanakan, dan aku tahu ini karena hormon, tapi aku tidak bisa mengendalikannya. Aku hanya bisa menangis.Alexandro panik. Aku bisa melihatnya dari caranya melangkah mendekat, lalu mundur, lalu mendekat lagi, lalu mundur lagi. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya berdiri di sana, tangannya terulur tapi tidak berani menyentuh."Lulu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu," katanya."Suaramu naik satu oktaf. Itu namanya membentak.""Itu hanya sedikit lebih keras.""Sama saja."Alexandro menghela napas. "Maaf. Sungguh. Aku tidak akan mengulanginya."Aku masih menangis dan tidak bisa berhenti."Lulu, sudahlah. Jangan menangis. Kamu bisa dehidrasi.""Aku sudah minum air.""Tapi kamu terus muntah.""Itu bukan karena menangis. Itu karena kehamilan."Alexandro tidak menjawab. Dia
Marco mengedip. Tidak sering tuannya memberi pujian, apalagi kenaikan gaji."Terima kasih, Tuan."Alexandro tidak menjawab. Dia berjalan ke mejanya, duduk, dan membuka laptopnya. Marco pergi.Tapi Alexandro tidak bisa fokus. Layar laptop menampilkan laporan keuangan, grafik, dan angka-angka. Matanya membaca baris demi baris, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Ke Lucia, ke perutnya yang membesar, ke dua bayi yang akan segera lahir, ke tubuh hangat istrinya, kulitnya yang lembut, dan erangannya yang membuatnya kehilangan kendali.Kontolnya mengeras.Alexandro menghela napas. Dia menutup laptop. Dia berdiri. Dia mondar-mandir di ruangan. Itu tidak membantu. Kontolnya masih keras.Dia melepas jaketnya dan melemparkannya ke sofa. Dia mulai melakukan push-up. Satu. Dua. Tiga. Dua puluh. Seratus. Keringat mulai membasahi kemejanya. Otot-ototnya menegang, tapi hasratnya tak surut.Dia berdiri. Napasnya masih tersengal. Dia menutup mata. Dia membayangkan Lucia, tapi membayangkannya hanya
Di kantor lantai dua puluh tujuh, dengan langit-langit tinggi, dinding kaca, dan pemandangan kota yang membentang luas, Alexandro duduk di balik meja kayu mahoni. Namun matanya tidak tertuju pada laptop atau dokumen yang berserakan. Dia menatap kosong ke arah jendela, seolah merenungkan sesuatu yang berat.Marco masuk tanpa mengetuk."Tuan, laporan dari tim keamanan sudah datang," kata Marco, meletakkan sebuah tablet di atas meja.Alexandro mengedip. "Apa isinya?""Tentang teman Nyonya Lucia. Namanya Bianca."Alexandro mengambil tablet itu. Matanya bergerak cepat melintasi layar, membaca baris demi baris. Ekspresinya tidak berubah, tapi rahangnya sedikit mengeras."Bianca menerima tawaran pekerjaan melalui media sosial. Gaji tinggi, lokasi di luar negeri. Dia pergi tanpa memberi tahu siapa pun.""Modus operandi yang sama," gumam Alexandro."Benar, Tuan. Modus operandi yang sama yang digunakan Matteo Bianchi untuk menjebak korbannya. Tawaran pekerjaan, gaji tinggi, berangkat ke luar ne
Beberapa hari kemudian, dokter mengizinkanku pulang. Kondisiku sudah stabil, mualku mulai reda, dan bayi-bayi dalam kandunganku dinyatakan sehat. Alexandro menjemputku sendiri, tanpa Marco, tanpa Gianna. Hanya dia dan aku. Di mobil, dia menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku akan lenyap jika dia melepaskan."Kamu lega?" tanyaku."Aku lega. Tapi juga waspada. Fabio bilang kehamilan kembar lebih berisiko. Kau harus lebih berhati-hati.""Aku tahu.""Jangan banyak bergerak. Jangan angkat barang berat. Jangan...""Ale, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Jangan buat aku ingin kembali."Dia tersenyum tipis. "Baik."Hari demi hari berlalu. Perutku mulai membesar. Tidak terlalu cepat, tapi cukup untuk membuatku sulit bergerak. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar nanti. Hamil saja sudah menyiksa, apalagi hamil kembar? Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus kuat untuk bayi-bayi ini.Kuliah dimulai lagi. Aku memaksakan diri untuk tetap masuk, meskipun tubuhku sering terasa le
Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.Tinta hitamnya terlihat biasa saja, tapi rasanya seperti borgol yang sudah terpasang di kedua pergelangan tanganku.Tidak dapat dibatalkan.Aku menutup map itu perlahan. Dadaku terasa sesak. Tanganku hampir saja meraih pena yang sudah disediakan di atas
Aku masuk ke dalam mobil mewah itu dengan tangan gemetar. Aku tidak membawa banyak barang, hanya tas kecil berisi pakaian ganti, ponsel, dan dompet tipisku. Kalung ibuku tetap melingkar di leherku, aku menolak melepaskannya. Itu satu-satunya hal yang masih memberiku rasa aman.Sebelum pintu mobil
Malam itu kami pulang ke rumah. Tubuhku rasanya hampir roboh. Kakiku pegal karena seharian berdiri, pundakku nyeri karena membawa tas dan kotak tanpa henti. Kepalaku terasa berat, tapi aku tetap turun terakhir dari mobil, memastikan semua barang sudah kubawa masuk.Bibiku membuka pintu dengan seman
Lucia.Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya, seperti rutinitas yang sudah melekat di tubuhku, aku langsung menuju dapur. Memanaskan sup, menggoreng telur, menata roti di piring. Semua kulakukan otomatis, seolah tubuhku bergerak tanpa perlu diperintah. Semalam aku hampir tidak tidur







