เข้าสู่ระบบAku masuk ke dalam mobil mewah itu dengan tangan gemetar. Aku tidak membawa banyak barang, hanya tas kecil berisi pakaian ganti, ponsel, dan dompet tipisku. Kalung ibuku tetap melingkar di leherku, aku menolak melepaskannya. Itu satu-satunya hal yang masih memberiku rasa aman.
Sebelum pintu mobil tertutup, aku menoleh ke belakang. Pamanku berdiri di teras rumah. Wajahnya kaku, lalu ia mengangguk pelan ke arahku. Anggukan yang bukan meminta persetujuan, melainkan perintah yang tak bisa kutolak. Bibiku berdiri di sampingnya dengan ekspresi dingin. Sedangkan Elena tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya. Tatapannya tajam, penuh penghinaan, seakan ingin mengatakan aku tidak pantas duduk di mobil semahal ini dan seakan ingin memastikan aku mengingat tempatku. Aku memalingkan wajah, pintu mobil tertutup pelan dan mobil mulai bergerak. Aku duduk kaku di jok empuk yang baunya asing. Di depan, sopir tidak banyak bicara. Aku memeluk tas kecilku, jantungku berdetak terlalu cepat. Aku tidak tahu ke mana aku dibawa. Ketika akhirnya mobil melambat dan berhenti, aku mengangkat kepala. Gerbang besi hitam terbuka perlahan, tinggi dan megah. Mobil melaju masuk ke halaman luas yang diterangi lampu-lampu taman. Rumah itu... tidak, itu bukan rumah, itu lebih seperti istana. Bangunan besar dengan pilar-pilar tinggi, jendela lebar, dan cahaya hangat yang memancar dari dalam. Sopir turun lebih dulu, membukakan pintu untukku. "Silakan," katanya sopan. Aku turun dengan langkah ragu. Kakiku terasa lemah saat menapaki lantai marmer yang dingin. Aku mengikuti seorang pelayan masuk ke dalam. Langit-langitnya tinggi, lampu gantung besar berkilau di atas kepala. Bau kayu mahal dan sesuatu yang maskulin memenuhi indera penciumanku. Kemudian aku berdiri di tengah ruangan, tidak tahu harus berbuat apa. Lalu aku mendengarnya, sura langkah kaki. Aku menoleh ke arah tangga besar di ujung ruangan. Seseorang sedang menuruni anak tangga itu membuat jantungku berhenti berdetak sesaat. Ia mengenakan kemeja gelap yang terbuka satu kancing di leher, lengan bajunya digulung rapi. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar. Setiap langkahnya tenang, seolah tempat ini tunduk padanya. Wajahnya lebih tegas dari yang kulihat sebelumnya. Mata gelapnya tajam, dingin, dan penuh kendali. Rahangnya mengeras, ekspresinya sulit ditebak. Alexandro De Luca, Ia berhenti di anak tangga terakhir dan tatapan kami bertemu. Ia menatapku lama seolah ia memang sudah menungguku. Aku menunduk refleks, jemariku kembali mencengkeram kalung ibuku. Langkah kakinya mendekat. Aku berdiri di hadapannya dengan tubuh kaku dan napas yang belum sepenuhnya kembali normal. Ia tidak mengatakan apa pun. Tatapan Alexandro De Luca tertuju padaku, dingin, tenang, seolah aku bukan manusia, melainkan barang yang sedang ia nilai kelayakannya. "Aku mau bertanya," kataku. Ia tidak menyahut bahkan tidak mengangguk. Tanganku mengepal di sisi tubuhku. "Kenapa kau memilihku?" Ia masih diam, Aku mengangkat wajah, memaksa diriku menatapnya. "Kenapa bukan Elena? Dia cantik, menarik dan..." Matanya menatap wajahku, lalu tubuhku, tanpa rasa bersalah. Aku merasa telanjang di bawah pandangannya, seolah setiap kekuranganku dicatat satu per satu. Namun, ia tetap tidak menjawab. Alexandro justru menoleh ke samping, ke arah pria yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakangnya yaitu asisten pribadinya. "Besok atur fitting baju pengantin." Aku terkejut. "As soon as possible," tambahnya singkat. Asisten itu mengangguk. "Baik, Tuan." Kemudian Alexandro kembali melangkah menuju tangga, seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi. Seolah pertanyaanku tidak layak mendapat jawaban. "Tu-tunggu!" seruku panik. Aku melangkah mengejarnya, terlalu cepat dan terlalu ceroboh sehingga kakiku tersandung ujung karpet. Tubuhku yang berat kehilangan keseimbangan dan aku jatuh. Rasa sakit menjalar dari lutut hingga telapak tangan serta harga diriku ikut jatuh bersama tubuhku ke lantai marmer yang dingin. Suara langkah kaki seketika terhenti, aku mendongak dan melihat Alexandro berbalik. Tatapannya turun padaku, Ia hanya berdiri di sana, memandangku seolah aku anak kecil yang melakukan kesalahan bodoh. Aku menahan perih, mencoba bangkit, tapi lututku gemetar. Ia turun satu anak tangga. "Hentikan," katanya. Aku berhenti bergerak. "Kau tidak punya hak untuk membantah," katanya. Aku menggigit bibir. "Aku hanya ingin jawaban." "Pertanyaanmu tidak penting," balasnya datar. "Ini menyangkut hidupku," kataku. Ia menunduk sedikit, cukup untuk membuat wajah kami sejajar. "Mulai malam ini hidupmu berada di bawah aturanku," katanya. Aku terdiam. "Kau bisa patuh atau kau bisa belajar patuh." Aku menelan ludah. "Kalau aku menolak?" Sudut bibirnya bergerak sedikit, bukan senyum dan lebih seperti peringatan. "Di halaman belakang aku memelihara singa," katanya. Darahku seakan membeku. "Kandangnya luas, tapi tidak ramah untuk manusia yang keras kepala." Aku gemetar, bukan hanya karena ancaman itu, tapi karena ia mengucapkannya tanpa emosi seolah itu pilihan yang sama-sama masuk akal. Alexandro berdiri tegak kembali. "Bangun." Aku berusaha berdiri. Lututku nyeri, tanganku gemetar, tapi aku memaksakan diri. "Ini peringatan satu-satunya," katanya sebelum berbalik lagi. "Aku tidak akan mengulang." Ia melangkah naik kembali, langkahnya tetap tenang, meninggalkanku di bawah dengan jantung berdebar tak karuan. Aku tidak mengejarnya lagi. Asisten pribadinya mendekat, wajahnya lebih manusiawi, meski tetap profesional. "Ikut saya, Nona Lucia." Aku mengangguk lemah. Ia membawaku ke sebuah kamar di lantai atas. Kamar itu besar, terlalu besar untukku. Tempat tidur lebar dengan seprai putih bersih, jendela besar menghadap taman gelap. Sebelum pergi, asisten itu menyerahkan sebuah map tipis berwarna hitam. "Ini perjanjian kontrak pernikahan, Tuan Alexandro meminta Anda membacanya malam ini." Pria itu melangkah pergi dan pintu tertutup pelan setelah ia pergi. Aku duduk di tepi ranjang, map itu di pangkuanku dan tanganku gemetar saat membukanya. Halaman demi halaman berisi aturan-aturannya, beberapa contohnya adalah Aku tidak boleh meninggalkan rumah tanpa izin, Aku tidak boleh menghubungi media, Aku tidak memiliki hak atas harta, Pernikahan ini bersifat kontraktual, Perasaan tidak termasuk dalam perjanjian, Pihak pertama yaitu Alexandro bebas bersama wanita manapun akan tetapi aku sebagai pihak kedua tidak boleh berinteraksi dengan pria lain kecuali orang-orang dari Alexandro. Ini sangat tidak adil, setiap aturan yang tertulis di kertas ini terasa seperti jerat yang mengikat leherku semakin kuat. Aku menggenggam kalung ibuku erat-erat, seolah memohon kekuatan darinya. Dan di lembar terakhir kontrak itu, ada satu baris kecil yang membuat jantungku berhenti berdetak. Kontrak ini bersifat mutlak dan tidak dapat dibatalkan setelah ditandatangani.Aku tidak bisa berhenti menangis. Tubuhku terus mengkhianatiku. Setiap kali aku merasa baik, mual itu kembali. Setiap kali aku ingin dekat dengan suamiku, perutku mual. Setiap kali aku ingin menjadi istri yang baik, tubuhku menghalangi.Alexandro tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa duduk di sampingku, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Tangannya terulur, ingin menyentuhku, tapi dia takut membuatku mual."Aku benci ini, Ale," kataku di antara isakan."Benci apa?""Aku benci mual ini.""Ini hanya sementara.""Kapan? Kapan ini akan berakhir? Aku tidak tahan lagi."Alexandro tidak menjawab.Aku menangis semakin keras.Malam itu, aku tidur sendirian di kamar. Alexandro tidur di kamar lain. Aku tidak bisa memaksanya mendekat, dan aku tidak bisa memaksanya menjauh. Aku hanya bisa menangis ke dalam bantal, berharap besok akan lebih baik.Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan aneh. Perutku masih mual, tapi bukan mual biasa. Mual yang lebih kuat, lebih menusuk, lebih menyiksa
"Aku rindu BDSM," kataku."Apa kamu serius?" tanyanya."Aku serius.""Tapi kamu sedang hamil.""Aku tahu.""Dan kamu mual kalau aku dekat.""Aku tidak mual lagi."Alexandro diam."Kamu yakin?" tanyanya."Aku yakin."Dia memanggil pelayan, membayar tagihan, lalu meraih tanganku. "Ayo pulang."Di rumah, kami langsung menuju kamar tidur. Alexandro mengunci pintu. Aku duduk di tepi tempat tidur, jantungku berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena gugup. Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali kami melakukan ini. Tubuhku mungkin sudah lupa, tapi pikiranku tidak pernah."Ale," panggilku."Apa.""Aku yang memulai."Dia mengedip. "Kamu?""Aku. Kamu duduk di kursi. Jangan bergerak. Jangan bicara. Jangan lakukan apa pun."Alexandro menurut. Dia duduk di kursi dekat jendela, menatapku dengan mata gelap. Aku berdiri, berjalan ke lemari, dan mengeluarkan kotak hitam. Kotak berisi mainan-mainan kami. Borgol kulit hitam berlapis bulu domba. Lilin kecil. Tali sutra. Sumbat mulut. Semuanya ti
Sudut Pandang Lucia.Aku menangis. Bukan tangisan biasa. Tangisan yang keluar dari dadaku yang sesak, dari perutku yang mual, dari mataku yang perih. Aku tahu ini kekanak-kanakan, dan aku tahu ini karena hormon, tapi aku tidak bisa mengendalikannya. Aku hanya bisa menangis.Alexandro panik. Aku bisa melihatnya dari caranya melangkah mendekat, lalu mundur, lalu mendekat lagi, lalu mundur lagi. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya berdiri di sana, tangannya terulur tapi tidak berani menyentuh."Lulu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu," katanya."Suaramu naik satu oktaf. Itu namanya membentak.""Itu hanya sedikit lebih keras.""Sama saja."Alexandro menghela napas. "Maaf. Sungguh. Aku tidak akan mengulanginya."Aku masih menangis dan tidak bisa berhenti."Lulu, sudahlah. Jangan menangis. Kamu bisa dehidrasi.""Aku sudah minum air.""Tapi kamu terus muntah.""Itu bukan karena menangis. Itu karena kehamilan."Alexandro tidak menjawab. Dia
Marco mengedip. Tidak sering tuannya memberi pujian, apalagi kenaikan gaji."Terima kasih, Tuan."Alexandro tidak menjawab. Dia berjalan ke mejanya, duduk, dan membuka laptopnya. Marco pergi.Tapi Alexandro tidak bisa fokus. Layar laptop menampilkan laporan keuangan, grafik, dan angka-angka. Matanya membaca baris demi baris, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Ke Lucia, ke perutnya yang membesar, ke dua bayi yang akan segera lahir, ke tubuh hangat istrinya, kulitnya yang lembut, dan erangannya yang membuatnya kehilangan kendali.Kontolnya mengeras.Alexandro menghela napas. Dia menutup laptop. Dia berdiri. Dia mondar-mandir di ruangan. Itu tidak membantu. Kontolnya masih keras.Dia melepas jaketnya dan melemparkannya ke sofa. Dia mulai melakukan push-up. Satu. Dua. Tiga. Dua puluh. Seratus. Keringat mulai membasahi kemejanya. Otot-ototnya menegang, tapi hasratnya tak surut.Dia berdiri. Napasnya masih tersengal. Dia menutup mata. Dia membayangkan Lucia, tapi membayangkannya hanya
Di kantor lantai dua puluh tujuh, dengan langit-langit tinggi, dinding kaca, dan pemandangan kota yang membentang luas, Alexandro duduk di balik meja kayu mahoni. Namun matanya tidak tertuju pada laptop atau dokumen yang berserakan. Dia menatap kosong ke arah jendela, seolah merenungkan sesuatu yang berat.Marco masuk tanpa mengetuk."Tuan, laporan dari tim keamanan sudah datang," kata Marco, meletakkan sebuah tablet di atas meja.Alexandro mengedip. "Apa isinya?""Tentang teman Nyonya Lucia. Namanya Bianca."Alexandro mengambil tablet itu. Matanya bergerak cepat melintasi layar, membaca baris demi baris. Ekspresinya tidak berubah, tapi rahangnya sedikit mengeras."Bianca menerima tawaran pekerjaan melalui media sosial. Gaji tinggi, lokasi di luar negeri. Dia pergi tanpa memberi tahu siapa pun.""Modus operandi yang sama," gumam Alexandro."Benar, Tuan. Modus operandi yang sama yang digunakan Matteo Bianchi untuk menjebak korbannya. Tawaran pekerjaan, gaji tinggi, berangkat ke luar ne
Beberapa hari kemudian, dokter mengizinkanku pulang. Kondisiku sudah stabil, mualku mulai reda, dan bayi-bayi dalam kandunganku dinyatakan sehat. Alexandro menjemputku sendiri, tanpa Marco, tanpa Gianna. Hanya dia dan aku. Di mobil, dia menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku akan lenyap jika dia melepaskan."Kamu lega?" tanyaku."Aku lega. Tapi juga waspada. Fabio bilang kehamilan kembar lebih berisiko. Kau harus lebih berhati-hati.""Aku tahu.""Jangan banyak bergerak. Jangan angkat barang berat. Jangan...""Ale, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Jangan buat aku ingin kembali."Dia tersenyum tipis. "Baik."Hari demi hari berlalu. Perutku mulai membesar. Tidak terlalu cepat, tapi cukup untuk membuatku sulit bergerak. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar nanti. Hamil saja sudah menyiksa, apalagi hamil kembar? Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus kuat untuk bayi-bayi ini.Kuliah dimulai lagi. Aku memaksakan diri untuk tetap masuk, meskipun tubuhku sering terasa le
Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.Tinta hitamnya terlihat biasa saja, tapi rasanya seperti borgol yang sudah terpasang di kedua pergelangan tanganku.Tidak dapat dibatalkan.Aku menutup map itu perlahan. Dadaku terasa sesak. Tanganku hampir saja meraih pena yang sudah disediakan di atas
Malam itu kami pulang ke rumah. Tubuhku rasanya hampir roboh. Kakiku pegal karena seharian berdiri, pundakku nyeri karena membawa tas dan kotak tanpa henti. Kepalaku terasa berat, tapi aku tetap turun terakhir dari mobil, memastikan semua barang sudah kubawa masuk.Bibiku membuka pintu dengan seman
Lucia.Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya, seperti rutinitas yang sudah melekat di tubuhku, aku langsung menuju dapur. Memanaskan sup, menggoreng telur, menata roti di piring. Semua kulakukan otomatis, seolah tubuhku bergerak tanpa perlu diperintah. Semalam aku hampir tidak tidur
POV Lucia."Apa ini?!"Suara itu membuat jantungku berdegup kencang. Aku menoleh dan bibiku sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam, matanya langsung tertuju pada gaun itu. Di atas meja, gaun berwarna pastel itu tergeletak rusak. Pinggirannya menghitam, ada lubang kecil di bagian dada,







