Se connecterMalam itu kami pulang ke rumah. Tubuhku rasanya hampir roboh. Kakiku pegal karena seharian berdiri, pundakku nyeri karena membawa tas dan kotak tanpa henti. Kepalaku terasa berat, tapi aku tetap turun terakhir dari mobil, memastikan semua barang sudah kubawa masuk.
Bibiku membuka pintu dengan semangat, hampir melompat kecil. "Astaga, aku masih tidak percaya! Anakku benar-benar menang!" Pamanku tertawa lebar, sesuatu yang jarang kulihat. "Aku sudah bilang, Elena memang hebat" Elena melangkah masuk terakhir, penuh percaya diri. Ia melepas sepatunya, lalu menjatuhkan tas kecilnya ke sofa seolah rumah ini adalah panggung miliknya. Wajahnya berseri, ponselnya terus bergetar oleh pesan-pesan masuk. "Ada tiga agensi yang langsung menghubungi aku, Satu kontrak skincare, satu pakaian, dan satu lagi iklan minuman kesehatan." Bibiku menepuk dadanya sendiri. "Tuhan memang adil. Semua penderitaan Mama terbayar hari ini." Aku berdiri di dekat pintu, masih memegang tas besar. Tidak ada yang memperhatikanku. "Tamu kehormatan itu juga sempat menyebut namaku ke panitia," kata Elena. Pamanku menoleh cepat. "Alexandro?" Elena mengangguk sambil tersenyum kecil. "Katanya aku punya potensi." Bibiku hampir menjerit kegirangan sementara aku meletakkan tas perlahan di lantai. Tanganku gemetar karena lelah. Aku hanya ingin masuk ke kamar, merebahkan tubuhku, dan menghilang dari semua suara ini, tapi langkah kaki mendekat. "Elena, jangan terlalu lama berdiri, Kau capek," kata bibi. "Aku tidak capek, hari ini sangat menyenangkan." Aku baru berbalik ketika Elena sudah berdiri di depanku. Ia memandangku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapannya tidak terburu-buru. Seolah sedang menilai sesuatu yang tidak pantas berada di sana. "Kau kelihatan sangat lelah," katanya, menekan kata terakhir. Aku mengangguk pelan. "Iya." Ia mendecakkan lidah, lalu menyilangkan tangan. "Wajar sih. Membawa barang seharian pasti berat untuk tubuh sebesar itu." Aku menunduk. "Kalau aku jadi kau, aku pasti tidak kuat berdiri di tempat seperti tadi, banyak orang penting, banyak kamera. Untung kau tahu diri, berdiri di sudut saja." Aku menggigit bibir. "Elena," tegur bibiku setengah hati, tapi nada suaranya tidak benar-benar melarang. Elena tersenyum kecil. "Aku cuma jujur, Mama." Ia melangkah lebih dekat. "Apa kau bisa lihat gaunku? Ukurannya kecil dan semua orang bilang tubuhku ideal." Ia menatap wajahku. "Sedangkan kau, jangankan gaun panggung, seragam pembantu saja kelihatan sempit." Aku mengangkat wajah sedikit. "Aku mau ke kamar." Elena tertawa pelan. "Tentu. Dunia panggung memang bukan untuk semua orang." Ia berbalik, lalu menambahkan tanpa menoleh, "Oh ya, terima kasih sudah membawa barang-barangku. Setidaknya itu yang bisa kau lakukan dengan baik." Aku berdiri kaku beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah menjauh. Di kamarku yang sempit, aku menutup pintu perlahan. Tubuhku langsung ambruk ke tepi ranjang. Aku melepas sepatu dengan susah payah, lalu menyandarkan kepala ke dinding. Suara tawa mereka masih terdengar dari ruang depan. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka mendadak. "Paman?" Pamanku berdiri di ambang pintu. Wajahnya datar, terlalu tenang, jauh dari wajah pria yang tadi terlihat gembira karena kemenangan anaknya. Refleks, tanganku naik ke leherku. "Aku tidak akan memberikan kalung ini apapun alasannya." "Ke ruang keluarga sekarang." Nada suaranya tidak memberi ruang untuk menolak. Aku berdiri dengan kaki gemetar, masih mencengkeram kalung itu, lalu mengikutinya keluar kamar. Bibiku duduk di sofa, Elena di sampingnya, masih dengan riasan wajah yang belum sepenuhnya dibersihkan. Senyum mereka belum pudar. Pamanku berdiri di depan kami. "Ada sesuatu yang harus Papa sampaikan," katanya. Bibiku mengerutkan dahi. "Kenapa serius sekali? Bukannya hari ini hari bahagia?" "Iya, Papa. Kita bisa bicara besok." "Tidak," jawab pamanku tegas. "Sekarang." Kami duduk. Aku di ujung sofa, seperti biasa, berusaha mengecilkan diri. Pamanku menarik napas panjang. "Alexandro De Luca akan menikahi perempuan di rumah ini." Bibiku terdiam, lalu matanya membesar. "Apa maksudmu?" "Itu syaratnya sebagai pembayaran utangku," kata Paman. "Elena menang kontes, uangnya..." "Tidak cukup, bahkan jika semua kontraknya cair, tetap tidak cukup." Elena perlahan tersenyum. "Menikah? Dengan pria seperti dia? Aku tidak keberatan." Bibiku langsung menoleh padanya. "Elena?" "Kenapa tidak? Dia kaya, berkuasa dan tampan." Ia melirik ke arahku sekilas, lalu kembali menatap pamanku. "Aku bisa mengurusnya." Pamanku menggeleng pelan. "Bukan kau, Elena." Elena tertawa kecil. "Papa bercanda?" Pamanku menoleh. "Yang dipilih Alexandro bukan Elena. Dia memilih Lucia." Aku merasa telingaku berdenging. "Apa?" Bibiku berdiri mendadak. "Kau gila? Dia bercanda, kan?" Elena menoleh ke arahku perlahan. Senyumnya menghilang, digantikan tatapan tidak percaya. "Dia?" Pamanku menatapku. "Dia melihat fotonya dan dia memilih." Aku berdiri dengan kaki gemetar. "Aku tidak setuju. Aku tidak mau." "Itu bukan permintaan, itu kesepakatan," kata Paman. "Dia bahkan tidak pantas," ucap Elena. Dadaku terasa sesak. "Kenapa aku?" Pamanku tidak langsung menjawab. "Apa pun itu, aku tidak mau," ucapku. Pamanku melangkah mendekat. "Kau akan bertemu dengannya malam ini." Aku menggeleng keras. "Tidak." Pamanku berhenti tepat di depanku. "Mobilnya sudah menunggu." "Dia memilihmu?" tanya Elena. Elena berdiri perlahan dari sofa, langkahnya pelan saat mendekat ke arahku. Matanya menatap tubuhku dari wajah sampai kakiku, seolah ingin memastikan sesuatu. "Papa, ini tidak lucu." Pamanku tetap diam. Elena kembali menatapku. "Dia?" ulangnya. "Gadis gendut yang bahkan tidak berani menatap orang lain?" Aku menelan ludah. "Aku tidak minta ini." "Tentu saja tidak, Kau bahkan tidak cukup berani untuk meminta apa pun," katanya sinis. Ia berdiri tepat di depanku sekarang. Aku bisa mencium aroma parfumnya yang mahal, kontras dengan keringat dan kelelahan yang masih melekat di tubuhku. "Kau tahu kenapa aku tidak percaya? Karena pria seperti Alexandro De Luca bisa mendapatkan wanita mana pun yang ia mau." Ia menunjuk wajahku. "Dan jelas bukan wajah seperti itu." Aku menggenggam kalungku, jari-jariku gemetar. Ia menoleh ke arah pamanku. "Papa benar-benar percaya pria itu memilih dia? Apa dia melihat fotonya dengan jelas?" "Aku ada di sana, ia tahu persis siapa yang ia pilih," jawab pamanku. Elena tertawa keras, tawa yang tidak mengandung kegembiraan sedikit pun. "Kenapa?" tanyanya, kini menatapku dengan mata menyipit. "Apa yang kau punya, Lucia?" Ia menunjuk tubuhku. "Badanmu? Tidak." Menunjuk wajahku. "Wajahmu? Jelas tidak." Ia melangkah mengitari aku perlahan, seperti predator yang mengelilingi mangsanya. "Kau bahkan tidak punya kepercayaan diri. Berdiri saja selalu menunduk. Berjalan selalu seperti ingin menghilang." Aku menutup mata sesaat. "Pria seperti dia tidak menikahi perempuan sepertimu, kalau pun iya, itu pasti untuk mempermainkanmu," kata Elena. Aku membuka mata. "Aku tidak mau menikah dengannya." Elena berhenti di depanku. "Oh, tentu saja kau mau." "Apa?" aku terkejut. Ia tersenyum miring. "Kau selalu mau apa pun yang disuruh, kan? Disuruh bersih-bersih, kau bersihkan. Disuruh tidak makan, kau diam. Disuruh menghilang, kau menghilang." Ia mendekat lagi. "Sekarang disuruh menikah dengan mafia kaya raya? Kau pasti menganggap ini hadiah dari Tuhan." Aku menggeleng keras. "Tidak. Aku takut." "Berhenti berpura-pura atau jangan-jangan kau sudah lama menginginkannya?" Kata-kata itu membuat bibiku berdiri. "Elena!" "Apa?" Elena menoleh. "Aku hanya heran. Dari sekian banyak wanita cantik di luar sana, kenapa dia memilih gadis gendut yang tidak punya apa-apa?" Ia kembali menatapku, kali ini dengan senyum mengejek. "Kau bahkan tidak pantas berdiri di sampingnya." Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha tidak menangis. "Aku tidak pernah meminta dilahirkan seperti ini." Elena mendecakkan lidah. "Alasan." Pamanku akhirnya angkat bicara. "Cukup." Elena menoleh tajam. "Papa memintaku diam?" "Ini sudah diputuskan, suka atau tidak," kata paman. Elena menatapku lagi. "Kalau kau benar-benar menikah dengannya, jangan pernah berpikir kau menang." Aku terdiam. "Kau hanya mainannya dan saat dia bosan, kau akan dibuang seperti sampah." Aku menatap lantai. Air mata akhirnya jatuh, satu per satu, ke punggung tanganku. Elena berbalik melangkah menuju tangga, tapi sebelum naik, ia berhenti dan menoleh. "Lucia, ingat satu hal," katanya. Aku mengangkat wajah perlahan. "Dunia pria seperti Alexandro De Luca bukan dunia untuk perempuan sepertimu." Ia naik ke atas tanpa menunggu jawaban. Ruang keluarga kembali sunyi. Aku berdiri gemetar, masih mencengkeram kalung ibuku. Pamanku menatap jam dinding. "Waktu kita tidak banyak." Aku menoleh padanya. "Apa maksud Paman?" Ia mengambil jaketnya. "Alexandro tidak suka menunggu." Di luar, suara mobil berhenti terdengar. Lampu depan menyorot masuk lewat jendela ruang tamu, terang dan menyilaukan. Pamanku membuka pintu. "Mereka sudah datang," katanya.Aku tidak bisa berhenti menangis. Tubuhku terus mengkhianatiku. Setiap kali aku merasa baik, mual itu kembali. Setiap kali aku ingin dekat dengan suamiku, perutku mual. Setiap kali aku ingin menjadi istri yang baik, tubuhku menghalangi.Alexandro tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa duduk di sampingku, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Tangannya terulur, ingin menyentuhku, tapi dia takut membuatku mual."Aku benci ini, Ale," kataku di antara isakan."Benci apa?""Aku benci mual ini.""Ini hanya sementara.""Kapan? Kapan ini akan berakhir? Aku tidak tahan lagi."Alexandro tidak menjawab.Aku menangis semakin keras.Malam itu, aku tidur sendirian di kamar. Alexandro tidur di kamar lain. Aku tidak bisa memaksanya mendekat, dan aku tidak bisa memaksanya menjauh. Aku hanya bisa menangis ke dalam bantal, berharap besok akan lebih baik.Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan aneh. Perutku masih mual, tapi bukan mual biasa. Mual yang lebih kuat, lebih menusuk, lebih menyiksa
"Aku rindu BDSM," kataku."Apa kamu serius?" tanyanya."Aku serius.""Tapi kamu sedang hamil.""Aku tahu.""Dan kamu mual kalau aku dekat.""Aku tidak mual lagi."Alexandro diam."Kamu yakin?" tanyanya."Aku yakin."Dia memanggil pelayan, membayar tagihan, lalu meraih tanganku. "Ayo pulang."Di rumah, kami langsung menuju kamar tidur. Alexandro mengunci pintu. Aku duduk di tepi tempat tidur, jantungku berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena gugup. Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali kami melakukan ini. Tubuhku mungkin sudah lupa, tapi pikiranku tidak pernah."Ale," panggilku."Apa.""Aku yang memulai."Dia mengedip. "Kamu?""Aku. Kamu duduk di kursi. Jangan bergerak. Jangan bicara. Jangan lakukan apa pun."Alexandro menurut. Dia duduk di kursi dekat jendela, menatapku dengan mata gelap. Aku berdiri, berjalan ke lemari, dan mengeluarkan kotak hitam. Kotak berisi mainan-mainan kami. Borgol kulit hitam berlapis bulu domba. Lilin kecil. Tali sutra. Sumbat mulut. Semuanya ti
Sudut Pandang Lucia.Aku menangis. Bukan tangisan biasa. Tangisan yang keluar dari dadaku yang sesak, dari perutku yang mual, dari mataku yang perih. Aku tahu ini kekanak-kanakan, dan aku tahu ini karena hormon, tapi aku tidak bisa mengendalikannya. Aku hanya bisa menangis.Alexandro panik. Aku bisa melihatnya dari caranya melangkah mendekat, lalu mundur, lalu mendekat lagi, lalu mundur lagi. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya berdiri di sana, tangannya terulur tapi tidak berani menyentuh."Lulu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu," katanya."Suaramu naik satu oktaf. Itu namanya membentak.""Itu hanya sedikit lebih keras.""Sama saja."Alexandro menghela napas. "Maaf. Sungguh. Aku tidak akan mengulanginya."Aku masih menangis dan tidak bisa berhenti."Lulu, sudahlah. Jangan menangis. Kamu bisa dehidrasi.""Aku sudah minum air.""Tapi kamu terus muntah.""Itu bukan karena menangis. Itu karena kehamilan."Alexandro tidak menjawab. Dia
Marco mengedip. Tidak sering tuannya memberi pujian, apalagi kenaikan gaji."Terima kasih, Tuan."Alexandro tidak menjawab. Dia berjalan ke mejanya, duduk, dan membuka laptopnya. Marco pergi.Tapi Alexandro tidak bisa fokus. Layar laptop menampilkan laporan keuangan, grafik, dan angka-angka. Matanya membaca baris demi baris, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Ke Lucia, ke perutnya yang membesar, ke dua bayi yang akan segera lahir, ke tubuh hangat istrinya, kulitnya yang lembut, dan erangannya yang membuatnya kehilangan kendali.Kontolnya mengeras.Alexandro menghela napas. Dia menutup laptop. Dia berdiri. Dia mondar-mandir di ruangan. Itu tidak membantu. Kontolnya masih keras.Dia melepas jaketnya dan melemparkannya ke sofa. Dia mulai melakukan push-up. Satu. Dua. Tiga. Dua puluh. Seratus. Keringat mulai membasahi kemejanya. Otot-ototnya menegang, tapi hasratnya tak surut.Dia berdiri. Napasnya masih tersengal. Dia menutup mata. Dia membayangkan Lucia, tapi membayangkannya hanya
Di kantor lantai dua puluh tujuh, dengan langit-langit tinggi, dinding kaca, dan pemandangan kota yang membentang luas, Alexandro duduk di balik meja kayu mahoni. Namun matanya tidak tertuju pada laptop atau dokumen yang berserakan. Dia menatap kosong ke arah jendela, seolah merenungkan sesuatu yang berat.Marco masuk tanpa mengetuk."Tuan, laporan dari tim keamanan sudah datang," kata Marco, meletakkan sebuah tablet di atas meja.Alexandro mengedip. "Apa isinya?""Tentang teman Nyonya Lucia. Namanya Bianca."Alexandro mengambil tablet itu. Matanya bergerak cepat melintasi layar, membaca baris demi baris. Ekspresinya tidak berubah, tapi rahangnya sedikit mengeras."Bianca menerima tawaran pekerjaan melalui media sosial. Gaji tinggi, lokasi di luar negeri. Dia pergi tanpa memberi tahu siapa pun.""Modus operandi yang sama," gumam Alexandro."Benar, Tuan. Modus operandi yang sama yang digunakan Matteo Bianchi untuk menjebak korbannya. Tawaran pekerjaan, gaji tinggi, berangkat ke luar ne
Beberapa hari kemudian, dokter mengizinkanku pulang. Kondisiku sudah stabil, mualku mulai reda, dan bayi-bayi dalam kandunganku dinyatakan sehat. Alexandro menjemputku sendiri, tanpa Marco, tanpa Gianna. Hanya dia dan aku. Di mobil, dia menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku akan lenyap jika dia melepaskan."Kamu lega?" tanyaku."Aku lega. Tapi juga waspada. Fabio bilang kehamilan kembar lebih berisiko. Kau harus lebih berhati-hati.""Aku tahu.""Jangan banyak bergerak. Jangan angkat barang berat. Jangan...""Ale, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Jangan buat aku ingin kembali."Dia tersenyum tipis. "Baik."Hari demi hari berlalu. Perutku mulai membesar. Tidak terlalu cepat, tapi cukup untuk membuatku sulit bergerak. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar nanti. Hamil saja sudah menyiksa, apalagi hamil kembar? Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus kuat untuk bayi-bayi ini.Kuliah dimulai lagi. Aku memaksakan diri untuk tetap masuk, meskipun tubuhku sering terasa le
Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.Tinta hitamnya terlihat biasa saja, tapi rasanya seperti borgol yang sudah terpasang di kedua pergelangan tanganku.Tidak dapat dibatalkan.Aku menutup map itu perlahan. Dadaku terasa sesak. Tanganku hampir saja meraih pena yang sudah disediakan di atas
Aku masuk ke dalam mobil mewah itu dengan tangan gemetar. Aku tidak membawa banyak barang, hanya tas kecil berisi pakaian ganti, ponsel, dan dompet tipisku. Kalung ibuku tetap melingkar di leherku, aku menolak melepaskannya. Itu satu-satunya hal yang masih memberiku rasa aman.Sebelum pintu mobil
POV Lucia."Apa ini?!"Suara itu membuat jantungku berdegup kencang. Aku menoleh dan bibiku sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam, matanya langsung tertuju pada gaun itu. Di atas meja, gaun berwarna pastel itu tergeletak rusak. Pinggirannya menghitam, ada lubang kecil di bagian dada,
Lucia.Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya, seperti rutinitas yang sudah melekat di tubuhku, aku langsung menuju dapur. Memanaskan sup, menggoreng telur, menata roti di piring. Semua kulakukan otomatis, seolah tubuhku bergerak tanpa perlu diperintah. Semalam aku hampir tidak tidur







