공유

Bab 6

작가: Author Marr
last update 게시일: 2026-06-04 20:39:30

Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.

Tinta hitamnya terlihat biasa saja, tapi rasanya seperti borgol yang sudah terpasang di kedua pergelangan tanganku.

Tidak dapat dibatalkan.

Aku menutup map itu perlahan. Dadaku terasa sesak. Tanganku hampir saja meraih pena yang sudah disediakan di atas meja samping tempat tidur, tetapi aku berhenti.

Tidak.

Aku tidak bisa menandatangani ini malam ini karena aku tidak bodoh. Jika aku menandatangani, hidupku benar-benar selesai.

Aku meletakkan map itu kembali ke meja. Aku menarik napas panjang, memeluk lututku di atas ranjang besar itu. Kamar ini terlalu mewah untukku.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku hanya memandangi langit-langit tinggi kamar itu sambil memikirkan satu hal, aku harus bertanya lagi.

Keesokan paginya, cahaya matahari masuk melalui jendela besar. Aku masih mengenakan pakaian semalam karena tidak benar-benar tidur.

Tepat pukul delapan, seorang pelayan mengetuk pintu.

"Nona Lucia, Tuan Alexandro menunggu Anda untuk sarapan."

Aku menelan ludah.

Baiklah, ini kesempatanku.

Aku turun ke ruang makan dengan langkah pelan. Ruangan itu panjang, meja kayu besar dengan kursi-kursi tinggi berjajar rapi. Di ujung meja, ia sudah duduk di sana.

Alexandro De Luca.

Ia mengenakan setelan santai berwarna abu gelap. Rambutnya tertata rapi. Wajahnya sama dinginnya seperti semalam.

Di tangannya ada cangkir kopi hitam.

Ia meminumnya dengan tenang tanpa melirikku sedikit pun.

Aku berdiri beberapa detik sebelum akhirnya duduk di kursi yang cukup jauh darinya. Pelayan meletakkan sarapan di depanku, tapi aku tidak menyentuhnya.

Ia masih tidak melihatku.

Seolah aku hanya bagian dari dekorasi ruangan ini.

Kesal mulai merambat di dadaku.

Aku mungkin tidak punya kuasa di rumah ini, tapi aku bukan patung.

"Aku belum menandatangani kontraknya," kataku akhirnya.

Tidak ada reaksi, ia mengangkat cangkirnya lagi sambil menyesap kopi dengan santai.

Aku mengepalkan tangan di bawah meja.

"Aku ingin bertanya lagi."

Hening.

Akhirnya ia berbicara, tanpa menoleh.

"Bertanya tidak mengubah apa pun."

Nada suaranya datar dan tenang.

"Aku tidak peduli karena ini menyangkut hidupku."

Ia meletakkan cangkirnya pelan di atas meja. Suaranya terdengar jelas di ruangan sunyi itu dan kemudian ia mengangkat wajahnya.

Tatapannya langsung menusukku.

"Apa yang ingin kau ketahui?"

Aku menelan ludah, tapi aku tidak menunduk kali ini.

"Kenapa harus aku?"

Ia menatapku lama dan tidak berkedip.

"Aku bukan yang paling cantik dan bahkan tidak mengenalku," kataku.

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kau pikir ini soal kecantikan?"

"Aku tahu jika ini tentang hutang pamanku, lalu kenapa tidak Elena? Dia juga bisa dipaksa jadi istrimu," kataku.

"Aku tidak suka perempuan yang terlalu percaya diri," kata Alexandro.

"Dan aku tidak?"

"Kau?" Ia menatapku dari ujung kepala sampai kaki. "Kau bahkan gemetar saat berdiri."

Aku menarik napas dalam-dalam. "Kalau aku tidak mau menandatangani?"

Ia mengambil serbetnya, menyeka sudut bibirnya dengan gerakan santai.

"Pernikahan tetap akan terjadi."

Ia berdiri perlahan. Tingginya membuat bayangannya jatuh menutup sebagian tubuhku.

Aku berdiri juga tanpa sadar.

"Di dalam kontrak itu tertulis kau bebas bersama wanita mana pun, tapi aku tidak boleh bicara dengan pria lain. Ini sangat tidak adil," kataku.

Ia menatapku lama.

"Pernikahan ini bukan tentang keadilan."

"Lalu tentang apa?"

"Kendali."

Satu kata.

Sederhana.

Keji.

Aku merasakan sesuatu dalam diriku berubah, bukan lagi hanya takut. Ada kemarahan kecil yang mulai tumbuh.

"Aku bukan boneka," kataku pelan tapi jelas.

Ia melangkah mendekat. Jarak kami kini terlalu dekat. Aku bisa mencium aroma maskulin yang samar dari tubuhnya.

"Lebih baik kau diam dan menuruti perintahku," ucap Alexandro.

Aku mengangkat dagu, memaksakan diriku menatapnya tanpa mundur.

"Posisiku bukan di bawah kakimu."

"Kau mulai berani," katanya.

"Aku hanya tidak ingin diperlakukan seperti ini," jawabku.

Ia terdiam beberapa detik, lalu berkata, "Tandatangani kontrak itu."

"Jawab satu pertanyaanku lagi."

Ia tidak langsung menjawab.

"Apa?"

"Kalau ini hanya soal kendali dan utang, kenapa kau tidak terlihat puas? Kenapa kau terus mengamatiku seperti ada sesuatu yang kau cari?" tanyaku.

Ruangan terasa menegang, untuk sepersekian detik, ekspresinya berubah. Sangat tipis. Hampir tak terlihat lalu ia kembali dingin.

"Kau terlalu banyak berpikir."

"Itu bukan jawaban."

Ia mundur satu langkah.

"Kau akan menandatangani kontrak itu hari ini."

"Aku tidak mau," jawabku.

Ia menatapku tajam.

"Jangan uji kesabaranku, Lucia."

Nada suaranya tidak tinggi tapi cukup untuk membuat bulu kudukku meremang.

Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan tanpa menoleh lagi.

Aku berdiri di sana sendirian, tanganku gemetar bukan karena takut lagi tapi karena kesal.

Ia tidak melirikku saat minum kopi tapi setiap kali aku melawan, matanya berubah.

Aku menatap cangkir kopinya yang masih setengah penuh di ujung meja.

Kata-katanya terngiang.

Baiklah.

Kalau itu yang ia pikirkan tentangku, mungkin sudah waktunya ia belajar bahwa ia salah.

Aku berbalik dan melangkah kembali ke kamarku.

Map hitam itu masih tergeletak di atas meja. Aku menatapnya lama lalu aku duduk.

Tanganku menyentuh pena.

Mataku melihat pada satu pasal yang semalam membuatku sesak.

Perasaan tidak termasuk dalam perjanjian.

Aku tersenyum tipis.

Kalau begitu...

Ia tidak akan pernah siap menghadapi apa yang tidak bisa ia kendalikan tentangku dan aku mulai menyusun rencana kecilku sendiri.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 260

    Aku tidak bisa berhenti menangis. Tubuhku terus mengkhianatiku. Setiap kali aku merasa baik, mual itu kembali. Setiap kali aku ingin dekat dengan suamiku, perutku mual. Setiap kali aku ingin menjadi istri yang baik, tubuhku menghalangi.Alexandro tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa duduk di sampingku, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Tangannya terulur, ingin menyentuhku, tapi dia takut membuatku mual."Aku benci ini, Ale," kataku di antara isakan."Benci apa?""Aku benci mual ini.""Ini hanya sementara.""Kapan? Kapan ini akan berakhir? Aku tidak tahan lagi."Alexandro tidak menjawab.Aku menangis semakin keras.Malam itu, aku tidur sendirian di kamar. Alexandro tidur di kamar lain. Aku tidak bisa memaksanya mendekat, dan aku tidak bisa memaksanya menjauh. Aku hanya bisa menangis ke dalam bantal, berharap besok akan lebih baik.Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan aneh. Perutku masih mual, tapi bukan mual biasa. Mual yang lebih kuat, lebih menusuk, lebih menyiksa

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 259

    "Aku rindu BDSM," kataku."Apa kamu serius?" tanyanya."Aku serius.""Tapi kamu sedang hamil.""Aku tahu.""Dan kamu mual kalau aku dekat.""Aku tidak mual lagi."Alexandro diam."Kamu yakin?" tanyanya."Aku yakin."Dia memanggil pelayan, membayar tagihan, lalu meraih tanganku. "Ayo pulang."Di rumah, kami langsung menuju kamar tidur. Alexandro mengunci pintu. Aku duduk di tepi tempat tidur, jantungku berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena gugup. Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali kami melakukan ini. Tubuhku mungkin sudah lupa, tapi pikiranku tidak pernah."Ale," panggilku."Apa.""Aku yang memulai."Dia mengedip. "Kamu?""Aku. Kamu duduk di kursi. Jangan bergerak. Jangan bicara. Jangan lakukan apa pun."Alexandro menurut. Dia duduk di kursi dekat jendela, menatapku dengan mata gelap. Aku berdiri, berjalan ke lemari, dan mengeluarkan kotak hitam. Kotak berisi mainan-mainan kami. Borgol kulit hitam berlapis bulu domba. Lilin kecil. Tali sutra. Sumbat mulut. Semuanya ti

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 258

    Sudut Pandang Lucia.Aku menangis. Bukan tangisan biasa. Tangisan yang keluar dari dadaku yang sesak, dari perutku yang mual, dari mataku yang perih. Aku tahu ini kekanak-kanakan, dan aku tahu ini karena hormon, tapi aku tidak bisa mengendalikannya. Aku hanya bisa menangis.Alexandro panik. Aku bisa melihatnya dari caranya melangkah mendekat, lalu mundur, lalu mendekat lagi, lalu mundur lagi. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya berdiri di sana, tangannya terulur tapi tidak berani menyentuh."Lulu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu," katanya."Suaramu naik satu oktaf. Itu namanya membentak.""Itu hanya sedikit lebih keras.""Sama saja."Alexandro menghela napas. "Maaf. Sungguh. Aku tidak akan mengulanginya."Aku masih menangis dan tidak bisa berhenti."Lulu, sudahlah. Jangan menangis. Kamu bisa dehidrasi.""Aku sudah minum air.""Tapi kamu terus muntah.""Itu bukan karena menangis. Itu karena kehamilan."Alexandro tidak menjawab. Dia

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 257

    Marco mengedip. Tidak sering tuannya memberi pujian, apalagi kenaikan gaji."Terima kasih, Tuan."Alexandro tidak menjawab. Dia berjalan ke mejanya, duduk, dan membuka laptopnya. Marco pergi.Tapi Alexandro tidak bisa fokus. Layar laptop menampilkan laporan keuangan, grafik, dan angka-angka. Matanya membaca baris demi baris, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Ke Lucia, ke perutnya yang membesar, ke dua bayi yang akan segera lahir, ke tubuh hangat istrinya, kulitnya yang lembut, dan erangannya yang membuatnya kehilangan kendali.Kontolnya mengeras.Alexandro menghela napas. Dia menutup laptop. Dia berdiri. Dia mondar-mandir di ruangan. Itu tidak membantu. Kontolnya masih keras.Dia melepas jaketnya dan melemparkannya ke sofa. Dia mulai melakukan push-up. Satu. Dua. Tiga. Dua puluh. Seratus. Keringat mulai membasahi kemejanya. Otot-ototnya menegang, tapi hasratnya tak surut.Dia berdiri. Napasnya masih tersengal. Dia menutup mata. Dia membayangkan Lucia, tapi membayangkannya hanya

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 256

    Di kantor lantai dua puluh tujuh, dengan langit-langit tinggi, dinding kaca, dan pemandangan kota yang membentang luas, Alexandro duduk di balik meja kayu mahoni. Namun matanya tidak tertuju pada laptop atau dokumen yang berserakan. Dia menatap kosong ke arah jendela, seolah merenungkan sesuatu yang berat.Marco masuk tanpa mengetuk."Tuan, laporan dari tim keamanan sudah datang," kata Marco, meletakkan sebuah tablet di atas meja.Alexandro mengedip. "Apa isinya?""Tentang teman Nyonya Lucia. Namanya Bianca."Alexandro mengambil tablet itu. Matanya bergerak cepat melintasi layar, membaca baris demi baris. Ekspresinya tidak berubah, tapi rahangnya sedikit mengeras."Bianca menerima tawaran pekerjaan melalui media sosial. Gaji tinggi, lokasi di luar negeri. Dia pergi tanpa memberi tahu siapa pun.""Modus operandi yang sama," gumam Alexandro."Benar, Tuan. Modus operandi yang sama yang digunakan Matteo Bianchi untuk menjebak korbannya. Tawaran pekerjaan, gaji tinggi, berangkat ke luar ne

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 255

    Beberapa hari kemudian, dokter mengizinkanku pulang. Kondisiku sudah stabil, mualku mulai reda, dan bayi-bayi dalam kandunganku dinyatakan sehat. Alexandro menjemputku sendiri, tanpa Marco, tanpa Gianna. Hanya dia dan aku. Di mobil, dia menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku akan lenyap jika dia melepaskan."Kamu lega?" tanyaku."Aku lega. Tapi juga waspada. Fabio bilang kehamilan kembar lebih berisiko. Kau harus lebih berhati-hati.""Aku tahu.""Jangan banyak bergerak. Jangan angkat barang berat. Jangan...""Ale, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Jangan buat aku ingin kembali."Dia tersenyum tipis. "Baik."Hari demi hari berlalu. Perutku mulai membesar. Tidak terlalu cepat, tapi cukup untuk membuatku sulit bergerak. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar nanti. Hamil saja sudah menyiksa, apalagi hamil kembar? Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus kuat untuk bayi-bayi ini.Kuliah dimulai lagi. Aku memaksakan diri untuk tetap masuk, meskipun tubuhku sering terasa le

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 5

    Aku masuk ke dalam mobil mewah itu dengan tangan gemetar. Aku tidak membawa banyak barang, hanya tas kecil berisi pakaian ganti, ponsel, dan dompet tipisku. Kalung ibuku tetap melingkar di leherku, aku menolak melepaskannya. Itu satu-satunya hal yang masih memberiku rasa aman.Sebelum pintu mobil

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 4

    Malam itu kami pulang ke rumah. Tubuhku rasanya hampir roboh. Kakiku pegal karena seharian berdiri, pundakku nyeri karena membawa tas dan kotak tanpa henti. Kepalaku terasa berat, tapi aku tetap turun terakhir dari mobil, memastikan semua barang sudah kubawa masuk.Bibiku membuka pintu dengan seman

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 3

    Lucia.Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya, seperti rutinitas yang sudah melekat di tubuhku, aku langsung menuju dapur. Memanaskan sup, menggoreng telur, menata roti di piring. Semua kulakukan otomatis, seolah tubuhku bergerak tanpa perlu diperintah. Semalam aku hampir tidak tidur

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 2

    POV Lucia."Apa ini?!"Suara itu membuat jantungku berdegup kencang. Aku menoleh dan bibiku sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam, matanya langsung tertuju pada gaun itu. Di atas meja, gaun berwarna pastel itu tergeletak rusak. Pinggirannya menghitam, ada lubang kecil di bagian dada,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status