Share

Bab 3

Penulis: Author Marr
last update Tanggal publikasi: 2026-06-04 14:59:14

Lucia.

Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya, seperti rutinitas yang sudah melekat di tubuhku, aku langsung menuju dapur. Memanaskan sup, menggoreng telur, menata roti di piring. Semua kulakukan otomatis, seolah tubuhku bergerak tanpa perlu diperintah. Semalam aku hampir tidak tidur, tapi rasa lelah tidak pernah menjadi alasan di rumah ini.

Yang aneh, pagi ini tidak ada bentakan.

Saat aku selesai menata sarapan di meja makan, pamanku sudah duduk rapi, mengenakan kemeja terbaiknya. Bibiku juga tampak lebih berdandan dari biasanya. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya penuh riasan. Elena duduk di sampingnya, cantik seperti selalu dan mengenakan gaun sederhana tapi jelas mahal.

Aku hendak kembali ke dapur seperti biasa ketika pamanku berkata, "Duduk."

Aku terdiam.

"Ada apa?" tanyaku ragu.

"Makan bersama," katanya singkat.

Dadaku berdegup tidak tenang, ini tidak pernah terjadi. Tidak sekali pun sejak aku tinggal di rumah ini. Aku duduk perlahan di ujung meja dan tanganku kaku saat meraih sendok. Selama beberapa menit, hanya suara alat makan yang terdengar lalu bibiku membuka percakapan.

"Elena, kau ingat kan jadwal hari ini?" katanya sambil tersenyum bangga.

"Tentu saja, Mama, Kontesnya dimulai siang. Aku sudah siap."

"Aku yakin semua mata akan tertuju padamu. Dengan wajah dan tubuhmu, kau memang pantas berada di panggung."

Aku menunduk, fokus pada piringku.

"Gaun penggantinya sudah tiba tadi malam, lebih indah dari yang sebelumnya," kata bibiku.

Elena tersenyum puas. "Syukurlah. Kalau tidak, entah apa jadinya."

Aku tidak berkata apa pun. Mereka membicarakan detail kontes itu panjang lebar, dekorasi, juri, tamu penting, sementara aku hanya menjadi pendengar yang tidak dianggap ada. Aku sudah tahu tugasku nanti, membawa tas, kotak rias, sepatu cadangan, sama seperti biasanya. Setelah selesai makan, pamanku berdiri. Ia merapikan manset kemejanya, lalu menatapku.

"Nanti malam, kau ikut aku," katanya.

"Kenapa?" suaraku hampir tak keluar.

"Bersiap saja."

Tanganku refleks naik ke leherku, mencengkeram kalung pemberian ibuku. Pamanku memperhatikannya sekilas, lalu berbalik dan melangkah keluar rumah tanpa menunggu jawabanku. 

Bibiku hanya melirikku sebentar, lalu berkata datar, "Cepat siap. Kita tidak mau terlambat."

Kami berangkat satu jam kemudian. Aku duduk di kursi belakang mobil, memangku beberapa tas milik Elena dan beberapa saat kemudian kami tiba di sana. Gedung tempat kontes kecantikan itu berlangsung tampak megah. Karpet merah terbentang di depan pintu masuk. Lampu kamera menyala di mana-mana. Para wanita berdatangan dengan gaun indah, tubuh ramping, wajah sempurna.

Aku turun dari mobil dan langsung merasa salah tempat.

Aku menunduk, mengikuti di belakang bibiku dan Elena. Banyak mata memandang, tapi bukan padaku. Semua tertuju pada wanita-wanita cantik yang seolah lahir untuk berdiri di tempat ini. Aku mencengkeram tas lebih erat.

Elena segera dikerubungi panitia dan peserta lain. Mereka tertawa, saling memuji, saling membandingkan. Bibiku berdiri di sampingnya dengan wajah penuh kebanggaan. Aku berdiri agak jauh, dekat dinding, mencoba mengecilkan keberadaanku.

Aku tahu aku tidak secantik mereka. Tubuhku terlalu besar, wajahku terlalu polos, kulitku tidak sempurna. Di tempat ini, aku seperti noda di kain putih.

Tiba-tiba, suasana berubah. Percakapan mereda, aku mengangkat kepala pelan. Pintu utama terbuka, dan beberapa pria berpakaian hitam masuk lebih dulu. Tubuh mereka tegap, langkahnya serempak. Aura mereka membuat ruangan seolah menyempit.

Di tengah mereka, seorang pria berjalan tenang. Ia tinggi, bahunya lebar, wajahnya tegas dengan rahang yang tajam. Setelan hitamnya pas di tubuhnya, tanpa hiasan berlebihan. Tatapannya dingin, penuh kendali, seolah ruangan ini tunduk padanya tanpa perlu ia memerintah.

Aku tahu siapa dia, Alexandro De Luca.

Nama lengkapnya sering muncul di berita bisnis, seorang pengusaha properti dan logistik internasional, pemilik perusahaan pelayaran dan distribusi barang lintas negara, tapi semua orang juga tahu, bisnis itu hanyalah wajah depan.

Di baliknya, ia mengendalikan jaringan gelap, jalur distribusi ilegal, perlindungan wilayah, dan transaksi yang tidak pernah tercatat. Rumornya, ia adalah tamu kehormatan ajang bergengsi ini.

Alexandro melangkah masuk, dan seolah tanpa diminta, orang-orang memberi jalan. Para juri berdiri. Panitia tersenyum gugup. Bibiku bahkan meluruskan punggungnya, mencoba terlihat pantas. Aku justru merasa semakin kecil, lalu entah bagaimana, di antara lautan wajah cantik dan gaun berkilau, tatapan itu bertemu denganku. Mata Alexandro menoleh sedikit ke arahku.

Aku tidak tahu kenapa ia melihatku. Aku hanya seorang gadis gendut yang berdiri di sudut sambil memegang tas, tapi tatapannya tidak langsung berpaling. Ada jeda singkat, cukup untuk membuat napasku tercekat. Aku segera menunduk.

Kontes akhirnya dimulai. Lampu utama meredup, sorot panggung menyala terang. Musik pembuka menggema di seluruh ruangan, disambut tepuk tangan meriah dari penonton. Aku duduk di deretan kursi biasa, tepat di sebelah bibiku, dengan tas-tas besar bertumpuk di kakiku. Sepatu cadangan, kotak rias, botol minum, semuanya ada padaku. Bibiku duduk tegak, matanya tak lepas dari panggung.

"Duduk yang rapi," bisiknya tanpa menoleh. "Jangan bikin malu."

Aku mengangguk pelan. Di barisan depan, deretan kursi VVIP terlihat mencolok. Kursinya lebih besar, jaraknya lebih lapang, dan dijaga beberapa pria berbadan tegap. Di sanalah dia duduk, Alexandro De Luca.

Ia bersandar santai, satu kaki disilangkan, tangannya bertumpu di sandaran kursi. Dua bodyguard berdiri di belakangnya, satu di kiri, satu di kanan. Wajah Alexandro tetap datar.

"Lihat dia!" gumam bibiku pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri.

Aku melirik sekilas ke arahnya, lalu cepat-cepat kembali menunduk.

"Ganteng, tapi menyeramkan. Aura orang seperti itu tidak pernah membawa hal baik," kata bibiku.

Ia mendecak pelan. "Dan sialnya, suamiku yang payah itu berutang padanya."

Bibiku menarik napas panjang. "Kalau saja Elena menang hari ini, uang hadiahnya langsung bisa dipakai untuk membayar utang itu, setidaknya sebagian."

Di panggung, para peserta mulai diperkenalkan satu per satu. Gaun-gaun indah berkilau di bawah lampu. Langkah mereka anggun, senyum mereka terlatih, penonton bersorak, kamera berkedip tanpa henti.

Elena muncul di urutan tengah. Sorak-sorai langsung meningkat. Bibiku menepuk tanganku refleks, terlalu keras. "Itu anakku," bisiknya bangga.

Elena berjalan dengan percaya diri. Tubuhnya ramping, dagunya terangkat, senyumnya sempurna. Ia melambaikan tangan ke arah penonton, dan banyak yang membalasnya dengan tepuk tangan lebih keras. Aku menatap panggung dengan perasaan campur aduk. Ada bagian dalam diriku yang tahu, Elena memang pantas berada di sana. Ia cantik, ia bersinar dan dunia selalu ramah padanya, sementara aku hanya penonton.

Aku melirik ke kursi VVIP tanpa sadar. Alexandro sedang menatap panggung, tapi bukan dengan ekspresi terpesona seperti penonton lain. Aku kembali menunduk.

Sesi demi sesi berlalu, tanya jawab, penilaian bakat, penampilan khusus. Bibiku semakin gelisah. Kakinya bergerak-gerak, jarinya mencengkeram tas kecil di pangkuannya.

"Kenapa juri lama sekali?" gumamnya.

Aku tidak menjawab. Ketika sesi istirahat singkat diumumkan, penonton berdiri, saling bercakap. Bibiku condong ke arahku.

"Kau lihat Alexandro tadi?" bisiknya.

Aku mengangguk pelan.

"Orang seperti dia..." bibiku menelan ludah. "Lebih baik dibayar cepat daripada menunggu kemarahannya."

Aku teringat tatapan pamanku, tatapan orang yang sudah kehabisan pilihan.

"Aku tidak mau tahu caranya, yang penting utang itu lunas," katanya.

Di panggung, Elena kembali muncul untuk sesi akhir. Kali ini, gaunnya lebih mencolok. Lampu menyinari setiap gerakannya. Ia menjawab pertanyaan juri dengan lancar, percaya diri, bahkan membuat beberapa penonton bertepuk tangan sebelum ia selesai bicara.

Aku kembali melirik ke arah kursi VVIP. Alexandro bersandar sedikit ke depan sekarang, sikunya di lutut, jari-jarinya saling bertaut. Matanya tidak lepas dari panggung seperti melihat ke arah Elena, lalu entah kenapa, ia menoleh ke arah kursi tempatku duduk.

Aku terkejut, tatapan itu singkat, tapi cukup untuk membuatku panik. Aku segera menunduk, pura-pura mengatur tas di kakiku.

Tiba-tiba tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Pengumuman akan segera dibacakan.

Bibiku menggenggam tanganku tanpa sadar. "Tolong biarkan Elena menang."

Aku ikut menahan napas karena aku tahu, jika Elena menang, utang itu akan dibayar dengan uang, tapi jika ia tidak menang...

Aku teringat kata-kata pamanku semalam.

Kau ikut aku.

"Apa Paman Carlo ingin menyerahkan kalung ini pada Alexandro?" gumamku dalam hati.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 260

    Aku tidak bisa berhenti menangis. Tubuhku terus mengkhianatiku. Setiap kali aku merasa baik, mual itu kembali. Setiap kali aku ingin dekat dengan suamiku, perutku mual. Setiap kali aku ingin menjadi istri yang baik, tubuhku menghalangi.Alexandro tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa duduk di sampingku, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Tangannya terulur, ingin menyentuhku, tapi dia takut membuatku mual."Aku benci ini, Ale," kataku di antara isakan."Benci apa?""Aku benci mual ini.""Ini hanya sementara.""Kapan? Kapan ini akan berakhir? Aku tidak tahan lagi."Alexandro tidak menjawab.Aku menangis semakin keras.Malam itu, aku tidur sendirian di kamar. Alexandro tidur di kamar lain. Aku tidak bisa memaksanya mendekat, dan aku tidak bisa memaksanya menjauh. Aku hanya bisa menangis ke dalam bantal, berharap besok akan lebih baik.Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan aneh. Perutku masih mual, tapi bukan mual biasa. Mual yang lebih kuat, lebih menusuk, lebih menyiksa

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 259

    "Aku rindu BDSM," kataku."Apa kamu serius?" tanyanya."Aku serius.""Tapi kamu sedang hamil.""Aku tahu.""Dan kamu mual kalau aku dekat.""Aku tidak mual lagi."Alexandro diam."Kamu yakin?" tanyanya."Aku yakin."Dia memanggil pelayan, membayar tagihan, lalu meraih tanganku. "Ayo pulang."Di rumah, kami langsung menuju kamar tidur. Alexandro mengunci pintu. Aku duduk di tepi tempat tidur, jantungku berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena gugup. Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali kami melakukan ini. Tubuhku mungkin sudah lupa, tapi pikiranku tidak pernah."Ale," panggilku."Apa.""Aku yang memulai."Dia mengedip. "Kamu?""Aku. Kamu duduk di kursi. Jangan bergerak. Jangan bicara. Jangan lakukan apa pun."Alexandro menurut. Dia duduk di kursi dekat jendela, menatapku dengan mata gelap. Aku berdiri, berjalan ke lemari, dan mengeluarkan kotak hitam. Kotak berisi mainan-mainan kami. Borgol kulit hitam berlapis bulu domba. Lilin kecil. Tali sutra. Sumbat mulut. Semuanya ti

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 258

    Sudut Pandang Lucia.Aku menangis. Bukan tangisan biasa. Tangisan yang keluar dari dadaku yang sesak, dari perutku yang mual, dari mataku yang perih. Aku tahu ini kekanak-kanakan, dan aku tahu ini karena hormon, tapi aku tidak bisa mengendalikannya. Aku hanya bisa menangis.Alexandro panik. Aku bisa melihatnya dari caranya melangkah mendekat, lalu mundur, lalu mendekat lagi, lalu mundur lagi. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya berdiri di sana, tangannya terulur tapi tidak berani menyentuh."Lulu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu," katanya."Suaramu naik satu oktaf. Itu namanya membentak.""Itu hanya sedikit lebih keras.""Sama saja."Alexandro menghela napas. "Maaf. Sungguh. Aku tidak akan mengulanginya."Aku masih menangis dan tidak bisa berhenti."Lulu, sudahlah. Jangan menangis. Kamu bisa dehidrasi.""Aku sudah minum air.""Tapi kamu terus muntah.""Itu bukan karena menangis. Itu karena kehamilan."Alexandro tidak menjawab. Dia

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 257

    Marco mengedip. Tidak sering tuannya memberi pujian, apalagi kenaikan gaji."Terima kasih, Tuan."Alexandro tidak menjawab. Dia berjalan ke mejanya, duduk, dan membuka laptopnya. Marco pergi.Tapi Alexandro tidak bisa fokus. Layar laptop menampilkan laporan keuangan, grafik, dan angka-angka. Matanya membaca baris demi baris, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Ke Lucia, ke perutnya yang membesar, ke dua bayi yang akan segera lahir, ke tubuh hangat istrinya, kulitnya yang lembut, dan erangannya yang membuatnya kehilangan kendali.Kontolnya mengeras.Alexandro menghela napas. Dia menutup laptop. Dia berdiri. Dia mondar-mandir di ruangan. Itu tidak membantu. Kontolnya masih keras.Dia melepas jaketnya dan melemparkannya ke sofa. Dia mulai melakukan push-up. Satu. Dua. Tiga. Dua puluh. Seratus. Keringat mulai membasahi kemejanya. Otot-ototnya menegang, tapi hasratnya tak surut.Dia berdiri. Napasnya masih tersengal. Dia menutup mata. Dia membayangkan Lucia, tapi membayangkannya hanya

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 256

    Di kantor lantai dua puluh tujuh, dengan langit-langit tinggi, dinding kaca, dan pemandangan kota yang membentang luas, Alexandro duduk di balik meja kayu mahoni. Namun matanya tidak tertuju pada laptop atau dokumen yang berserakan. Dia menatap kosong ke arah jendela, seolah merenungkan sesuatu yang berat.Marco masuk tanpa mengetuk."Tuan, laporan dari tim keamanan sudah datang," kata Marco, meletakkan sebuah tablet di atas meja.Alexandro mengedip. "Apa isinya?""Tentang teman Nyonya Lucia. Namanya Bianca."Alexandro mengambil tablet itu. Matanya bergerak cepat melintasi layar, membaca baris demi baris. Ekspresinya tidak berubah, tapi rahangnya sedikit mengeras."Bianca menerima tawaran pekerjaan melalui media sosial. Gaji tinggi, lokasi di luar negeri. Dia pergi tanpa memberi tahu siapa pun.""Modus operandi yang sama," gumam Alexandro."Benar, Tuan. Modus operandi yang sama yang digunakan Matteo Bianchi untuk menjebak korbannya. Tawaran pekerjaan, gaji tinggi, berangkat ke luar ne

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 255

    Beberapa hari kemudian, dokter mengizinkanku pulang. Kondisiku sudah stabil, mualku mulai reda, dan bayi-bayi dalam kandunganku dinyatakan sehat. Alexandro menjemputku sendiri, tanpa Marco, tanpa Gianna. Hanya dia dan aku. Di mobil, dia menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku akan lenyap jika dia melepaskan."Kamu lega?" tanyaku."Aku lega. Tapi juga waspada. Fabio bilang kehamilan kembar lebih berisiko. Kau harus lebih berhati-hati.""Aku tahu.""Jangan banyak bergerak. Jangan angkat barang berat. Jangan...""Ale, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Jangan buat aku ingin kembali."Dia tersenyum tipis. "Baik."Hari demi hari berlalu. Perutku mulai membesar. Tidak terlalu cepat, tapi cukup untuk membuatku sulit bergerak. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar nanti. Hamil saja sudah menyiksa, apalagi hamil kembar? Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus kuat untuk bayi-bayi ini.Kuliah dimulai lagi. Aku memaksakan diri untuk tetap masuk, meskipun tubuhku sering terasa le

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 2

    POV Lucia."Apa ini?!"Suara itu membuat jantungku berdegup kencang. Aku menoleh dan bibiku sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam, matanya langsung tertuju pada gaun itu. Di atas meja, gaun berwarna pastel itu tergeletak rusak. Pinggirannya menghitam, ada lubang kecil di bagian dada,

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 1

    Carlo Bianchi berdiri ragu di depan pintu besar itu. Tangannya berkeringat meski udara malam terasa dingin. Jas yang ia kenakan tampak rapi, tapi tidak mampu menyembunyikan kegelisahan di balik bahunya yang kaku. Dua pria berbadan besar berdiri di kanan kiri pintu, wajah mereka datar, mata tajam me

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 6

    Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.Tinta hitamnya terlihat biasa saja, tapi rasanya seperti borgol yang sudah terpasang di kedua pergelangan tanganku.Tidak dapat dibatalkan.Aku menutup map itu perlahan. Dadaku terasa sesak. Tanganku hampir saja meraih pena yang sudah disediakan di atas

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 4

    Malam itu kami pulang ke rumah. Tubuhku rasanya hampir roboh. Kakiku pegal karena seharian berdiri, pundakku nyeri karena membawa tas dan kotak tanpa henti. Kepalaku terasa berat, tapi aku tetap turun terakhir dari mobil, memastikan semua barang sudah kubawa masuk.Bibiku membuka pintu dengan seman

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status