Beranda / Romansa / Terjebak Cinta Bos Sadis / Bab 150 — Lebih dari Satu Inti

Share

Bab 150 — Lebih dari Satu Inti

Penulis: Rayden Arsha
last update Tanggal publikasi: 2026-04-27 20:22:46

Sunyi itu tidak nyaman.

Bukan karena tidak ada suara—justru karena terlalu banyak yang berputar di kepala.

Kami masih berdiri di dalam bangunan tua itu, bekas pabrik yang seperti sudah ditinggalkan dunia. Bau karat, debu, dan udara pengap seolah menekan dari segala arah. Tapi semua itu tidak ada apa-apanya dibanding satu kalimat yang terus terulang di pikiranku—

“Lo pikir cuma ada satu sistem…?”

Aku menghembuskan napas panjang.

Pelan.


Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 157 — Satu Langkah yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

    Suara mereka mulai menjauh. Padahal mereka masih di sana. Aku masih bisa melihat Adrian—rahangnya mengeras, matanya tajam penuh peringatan. Nara masih menggenggam tanganku, jari-jarinya gemetar, seolah kalau dia melepas sedikit saja… aku akan benar-benar hilang. Tapi yang aneh— semuanya terasa seperti dilihat dari jauh. Seperti aku berdiri di balik kaca. Tipis. Rapuh. Dan perlahan… retak. Pintu Itu Sudah Terbuka Pintu terbuka Sinkronisasi akhir tersedia Pilihan diperlukan Aku menelan ludah. Tanganku terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti bukan lagi milikku. Aku menatap pria di depan—yang pernah keluar dan kembali. Dia tidak bicara. Tidak mendesak. Hanya… menunggu. Seolah tahu— ini bukan sesuatu yang bisa dipengaruhi. Dua Dunia yang Mulai Terpisah

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 156 — Keluar dari Permainan, atau Hilang Selamanya

    Angin malam di tempat itu terasa… aneh. Tidak dingin. Tidak hangat. Seperti tidak punya suhu. Seperti tidak benar-benar ada. Aku berdiri diam, menatap pria di depan kami—orang yang katanya pernah melanggar aturan… dan masih ada sampai sekarang. Satu-satunya yang sistem tidak bisa baca. Satu-satunya yang tidak terdaftar. Dan mungkin— satu-satunya jalan keluar. Kalimat yang Tidak Bisa Dianggap Remeh “…lo hampir keluar.” Kata-katanya masih terngiang. Tidak keras. Tidak mengancam. Tapi— lebih berat dari semuanya. “Keluar dari apa?” tanya Adrian. Nada suaranya datar. Tapi aku tahu— dia juga tegang. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat ke sekitar. Tanah retak. Udara kosong. Langit yang terasa terlalu jauh. “…dari semua

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 155 — Retakan di Aturan yang Terlihat Sempurna

    Udara malam terasa lebih dingin saat kami keluar dari kafe. Bukan karena angin. Tapi karena satu hal yang baru saja kami sadari— kami bukan lagi sekadar bagian dari masalah. Kami sudah masuk terlalu dalam. Dan tidak ada jalan keluar yang sederhana. Langkah yang Terasa Berat Kami berjalan tanpa bicara. Trotoar basah oleh sisa hujan sore. Lampu jalan memantul di genangan kecil. Semua terlihat normal. Tapi di dalam kepala— semuanya berisik. Aku masih memikirkan satu kalimat itu. “Gue yang bikin aturan.” Kalimat sederhana. Tapi efeknya— menghancurkan semua asumsi yang kupunya. Kalau Dia di Atas… Lalu Siapa di Atasnya? “Lo percaya dia?” tanya Adrian tiba-tiba. Aku tidak langsung menjawab. Karena itu bukan pertanyaan sederhana. “Gue percaya dia punya kontrol,” kataku akhir

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 154 — Orang yang Tidak Pernah Turun ke Medan

    Kafe itu tetap ramai. Sendok beradu dengan cangkir. Mesin kopi mendesis. Pintu terbuka-tutup, mengantar masuk orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Di tengah semua itu, kami berdiri—tegang, diam, dan terlalu sadar bahwa sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi tepat di depan mata kami. Pria itu duduk santai, jari-jarinya mengetuk ringan sisi cangkir, seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk berbicara. Bukan menunggu kami. Bukan menunggu kesempatan. Tapi menunggu… momen. “…gue yang bikin aturan.” Kalimat itu masih menggantung. Tidak keras. Tidak dramatis. Tapi efeknya… menekan. Seperti sesuatu yang tidak perlu dibuktikan—karena memang benar. Tidak Ada Aura Ancaman… Tapi Lebih Berbahaya Aku menatapnya. Mencoba membaca. Mencoba memahami. Tapi yang kudapat— tidak ada apa-apa. Bukan kosong seperti yang sebelumnya.

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 153 — Ketika Perang Tidak Memberi Pilihan

    Tidak ada suara tembakan. Tidak ada ledakan. Tidak ada sirine. Tapi untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai— aku tahu. Perang sudah dimulai. Bukan perang yang bisa dilihat semua orang. Bukan perang yang akan muncul di berita. Tapi perang yang terjadi… di balik semua itu. Di antara sesuatu yang bahkan dunia ini belum siap untuk mengerti. Kota yang Sama, Tapi Tidak Lagi Aman Kami berjalan tanpa tujuan pasti. Menyusuri jalan yang sama seperti biasa. Lampu kota masih menyala. Motor masih lewat. Orang-orang masih tertawa di pinggir jalan. Semua terlihat normal. Terlalu normal. Dan itu justru yang membuatku tidak nyaman. “…mereka nggak tahu,” gumam Nara pelan. Aku menggeleng. “Dan mungkin… nggak akan pernah tahu.” Adrian menyelipkan tangan ke saku jaketnya.

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 152 — Saat Sisa Itu Hampir Habis

    Dunia… retak. Bukan secara harfiah. Tapi rasanya seperti itu. Udara di sekitarku bergetar, bukan karena angin, tapi karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Seperti realitas sendiri sedang dipelintir dari dalam. Suara menghilang lebih dulu—digantikan oleh dengungan tipis yang menusuk kepala. Lalu— warna. Semuanya memudar. Menjadi abu-abu. Pudar. Seolah seseorang menarik saturasi dunia ini… sedikit demi sedikit. Dan di tengah semua itu— aku berdiri. Tidak bergerak. Tidak bisa bergerak. Legacy Mode Mulai Hancur PERINGATAN KRITIS INTEGRITAS SISTEM: 9% KERUSAKAN MENYEBAR “Nggak…” bisikku. Bukan karena takut mati. Tapi karena— aku tahu ini bukan sekadar serangan. Ini… pembongkaran. Dia tidak menyerangku. Dia… membongkar aku. Dia y

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 70 — Di Antara Dua Kehidupan

    Aku mulai menyadari satu hal yang tidak pernah kuantisipasi: jarak tidak selalu terasa seperti kilometer. Kadang ia terasa seperti kesibukan. Hari-hariku di Surabaya semakin penuh. Promosi itu bukan sekadar jabatan baru, melainkan seluruh dunia baru

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 69 — Hal-Hal yang Tidak Kita Ucapkan

    Perpisahan yang paling berat bukanlah yang diiringi air mata dan pelukan panjang. Melainkan yang terjadi ketika dua orang tersenyum dan berkata, “Nanti kita telepon lagi.” Hari aku berangkat ke Surabaya datang lebih cepat dari yang seharusnya. Bandara terasa terlalu terang, te

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 68 — Tempat Pulang yang Tidak Lagi Sama

    Tidak ada yang benar-benar mempersiapkanmu untuk rasa rindu yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata “aku kangen”.Aku menerima promosi itu tiga hari kemudian.Aku tidak merayakannya. Tidak ada senyum lebar atau tangisan haru. Yang ada hanya keheningan yang terasa seperti ruang kosong di dada

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 67 — Ketika Dunia Tidak Ikut Jatuh Cinta

    Aku selalu tahu bahwa dunia tidak akan berhenti hanya karena dua orang memutuskan untuk saling memilih.Tapi ada jarak yang besar antara tahu dan mengalami.Dua minggu setelah aku kembali ke kotaku, hidup mulai terasa seperti dulu—penuh jadwal, target, dan kelelahan yang menumpuk. Aku kembali menja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status