LOGIN
Pagi itu, udara Ardan City rasanya berat banget, atau mungkin cuma aku aja yang ngos-ngosan—antara gugup dan excited. Hari ini hari pertamaku di Dirgantara Corp. Katanya, perusahaan ini jadi incaran semua orang. Tempat yang katanya cuma orang “sempurna” yang bisa bertahan.
Aku sendiri? Masih sibuk ngatur langkah supaya nggak jatuh gara-gara sepatu hak baruku yang licin parah. Jam tanganku udah nunjuk 07.57. Tiga menit lagi masuk. Kedengeran sebentar, tapi di tempat kayak Dirgantara Corp, telat semenit aja bisa jadi masalah. Aku tarik napas, makin ngebut nyebrang jalan. Kendaraan padat—bus, mobil, motor—semuanya rebutan jalan. Gedung-gedung tinggi ngebatesin langit, bikin suasana makin sempit. Tapi di antara semua gedung, satu yang paling menonjol—Dirgantara Tower. Gedungnya mantul kena cahaya pagi, seolah pamer, “Cuma yang kuat yang pantas di sini.” Aku sempat cek bayanganku di pintu kaca lobi. Muka pucat, rambut agak berantakan. Seragam putih sama rok pensil abu-abu harusnya bikin kelihatan profesional, tapi yang ke kaca cuma cewek gugup yang masih belajar berdiri tegak. Aku tarik napas dalam, lurusin bahu, lalu masuk. Lantai marmernya licin, kinclong banget, bisa ngaca di situ. Beberapa karyawan lewat buru-buru, rapi semua, kelihatan sibuk. Aku jalan ke meja resepsionis. “Selamat pagi, saya Rania Putri Azzahra, sekretaris baru Pak Arseniel Dirgantara.” Resepsionis cuma lihat sebentar, senyum tipis. “Silakan ke lantai 45, Nona Rania. Ruang CEO.” Aku angguk, langsung menuju lift. Tapi waktu aku pencet tombol, jam tanganku udah loncat ke 08.03. Tiga menit lewat. “Aduh, nggak…” Aku panik, lari-lari kecil sambil nenteng map dokumen. Lift hampir nutup. Aku spontan lari, nggak mikir panjang. Tapi sebelum sempat masuk— Brak! Aku nabrak seseorang. Keras juga. Map jatuh, kertas-kertas terbang, dan kopi yang baru aku beli tumpah kena jas hitam pria di depanku. Aku bengong, kaget setengah mati. “Astaga... maaf! Saya benar-benar—” Suara yang nyautin bikin aku langsung membeku. “Lain kali, kalau terburu-buru, pastikan tahu siapa yang kamu tabrak.” Nadanya datar, dingin banget. Aku pelan-pelan mendongak. Jantungku kayak berhenti. Dia berdiri tegak, jas hitamnya rapi, wajahnya kalem, rahangnya tegas, kulitnya mulus, dan mata abu-abunya dingin, kayak lagi menilai barang gagal produksi. Aku tahu dia siapa. Semua orang tahu. Arseniel Dirgantara. CEO Dirgantara Corp. Bos baruku. Tanganku gemetaran waktu buru-buru ngumpulin kertas di lantai. “Maaf, Pak, saya nggak sengaja—” Dia melirik noda kopi di jasnya. “Nama kamu?” suaranya tetap datar. “Rania, Pak. Rania Putri Azzahra. Sekretaris baru Anda.” Sudut bibirnya naik sedikit, jelas bukan senyum. “Sekretaris baru yang telat... tiga menit.” Dia lihat jam tangannya—arloji hitam mengilap di bawah lampu lobi. “Awal yang buruk, Nona Rania.” Aku pengen jawab, tapi tenggorokan rasanya kering. Arseniel masuk ke lift. Sebelum pintu nutup, dia sempat menatap aku sekali lagi. Tatapannya bikin seluruh badanku kaku. “Pastikan kamu nggak ngulangin,” katanya pelan. Klik. Pintu lift ketutup. Aku cuma bisa diam di tempat. Dunia kayak nge-freeze. Orang-orang lalu-lalang, tapi aku cuma bengong liat noda kopi di lantai sambil suara dia masih muter di kepala. “Sekretaris baru yang telat… tiga menit.” Aku buang napas panjang, liat pantulan diri di lantai marmer yang kinclong. Muka merah, pipi panas banget. “Bagus, Rania,” bisikku. “Baru mulai kerja, udah berhasil nyiram kopi ke jas bos sendiri. Keren.” Aku coba tarik napas lagi, ngeredain deg-degan. Tapi jujur, ada sesuatu dari pria itu yang susah banget hilang dari pikiran. Bukan cuma soal dia ganteng, atau soal dia CEO, tapi tatapan itu... tajam, dingin, dan kayak ada yang tersembunyi di baliknya. Aku sendiri nggak ngerti apa. Bikin takut. Tapi juga bikin penasaran. Aku pencet tombol lift lagi. Begitu pintu kebuka, aku masuk pelan-pelan. Di kaca lift, mukaku masih kelihatan gugup, tapi mata aku nggak bisa bohong—ada sesuatu di situ. Perasaan yang bahkan aku sendiri nggak tahu namanya. Panel lift naik. 20... 30... 40... sampai 45. Begitu pintu terbuka, aku sadar satu hal: Hari pertamaku bener-bener baru mulai. Dan kayaknya, aku baru aja masuk ke dunia seorang pria yang entah bakal hancurin hidupku... atau malah ngerubah semuanya.Suara mereka mulai menjauh. Padahal mereka masih di sana. Aku masih bisa melihat Adrian—rahangnya mengeras, matanya tajam penuh peringatan. Nara masih menggenggam tanganku, jari-jarinya gemetar, seolah kalau dia melepas sedikit saja… aku akan benar-benar hilang. Tapi yang aneh— semuanya terasa seperti dilihat dari jauh. Seperti aku berdiri di balik kaca. Tipis. Rapuh. Dan perlahan… retak. Pintu Itu Sudah Terbuka Pintu terbuka Sinkronisasi akhir tersedia Pilihan diperlukan Aku menelan ludah. Tanganku terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti bukan lagi milikku. Aku menatap pria di depan—yang pernah keluar dan kembali. Dia tidak bicara. Tidak mendesak. Hanya… menunggu. Seolah tahu— ini bukan sesuatu yang bisa dipengaruhi. Dua Dunia yang Mulai Terpisah
Angin malam di tempat itu terasa… aneh. Tidak dingin. Tidak hangat. Seperti tidak punya suhu. Seperti tidak benar-benar ada. Aku berdiri diam, menatap pria di depan kami—orang yang katanya pernah melanggar aturan… dan masih ada sampai sekarang. Satu-satunya yang sistem tidak bisa baca. Satu-satunya yang tidak terdaftar. Dan mungkin— satu-satunya jalan keluar. Kalimat yang Tidak Bisa Dianggap Remeh “…lo hampir keluar.” Kata-katanya masih terngiang. Tidak keras. Tidak mengancam. Tapi— lebih berat dari semuanya. “Keluar dari apa?” tanya Adrian. Nada suaranya datar. Tapi aku tahu— dia juga tegang. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat ke sekitar. Tanah retak. Udara kosong. Langit yang terasa terlalu jauh. “…dari semua
Udara malam terasa lebih dingin saat kami keluar dari kafe. Bukan karena angin. Tapi karena satu hal yang baru saja kami sadari— kami bukan lagi sekadar bagian dari masalah. Kami sudah masuk terlalu dalam. Dan tidak ada jalan keluar yang sederhana. Langkah yang Terasa Berat Kami berjalan tanpa bicara. Trotoar basah oleh sisa hujan sore. Lampu jalan memantul di genangan kecil. Semua terlihat normal. Tapi di dalam kepala— semuanya berisik. Aku masih memikirkan satu kalimat itu. “Gue yang bikin aturan.” Kalimat sederhana. Tapi efeknya— menghancurkan semua asumsi yang kupunya. Kalau Dia di Atas… Lalu Siapa di Atasnya? “Lo percaya dia?” tanya Adrian tiba-tiba. Aku tidak langsung menjawab. Karena itu bukan pertanyaan sederhana. “Gue percaya dia punya kontrol,” kataku akhir
Kafe itu tetap ramai. Sendok beradu dengan cangkir. Mesin kopi mendesis. Pintu terbuka-tutup, mengantar masuk orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Di tengah semua itu, kami berdiri—tegang, diam, dan terlalu sadar bahwa sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi tepat di depan mata kami. Pria itu duduk santai, jari-jarinya mengetuk ringan sisi cangkir, seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk berbicara. Bukan menunggu kami. Bukan menunggu kesempatan. Tapi menunggu… momen. “…gue yang bikin aturan.” Kalimat itu masih menggantung. Tidak keras. Tidak dramatis. Tapi efeknya… menekan. Seperti sesuatu yang tidak perlu dibuktikan—karena memang benar. Tidak Ada Aura Ancaman… Tapi Lebih Berbahaya Aku menatapnya. Mencoba membaca. Mencoba memahami. Tapi yang kudapat— tidak ada apa-apa. Bukan kosong seperti yang sebelumnya.
Tidak ada suara tembakan. Tidak ada ledakan. Tidak ada sirine. Tapi untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai— aku tahu. Perang sudah dimulai. Bukan perang yang bisa dilihat semua orang. Bukan perang yang akan muncul di berita. Tapi perang yang terjadi… di balik semua itu. Di antara sesuatu yang bahkan dunia ini belum siap untuk mengerti. Kota yang Sama, Tapi Tidak Lagi Aman Kami berjalan tanpa tujuan pasti. Menyusuri jalan yang sama seperti biasa. Lampu kota masih menyala. Motor masih lewat. Orang-orang masih tertawa di pinggir jalan. Semua terlihat normal. Terlalu normal. Dan itu justru yang membuatku tidak nyaman. “…mereka nggak tahu,” gumam Nara pelan. Aku menggeleng. “Dan mungkin… nggak akan pernah tahu.” Adrian menyelipkan tangan ke saku jaketnya.
Dunia… retak. Bukan secara harfiah. Tapi rasanya seperti itu. Udara di sekitarku bergetar, bukan karena angin, tapi karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Seperti realitas sendiri sedang dipelintir dari dalam. Suara menghilang lebih dulu—digantikan oleh dengungan tipis yang menusuk kepala. Lalu— warna. Semuanya memudar. Menjadi abu-abu. Pudar. Seolah seseorang menarik saturasi dunia ini… sedikit demi sedikit. Dan di tengah semua itu— aku berdiri. Tidak bergerak. Tidak bisa bergerak. Legacy Mode Mulai Hancur PERINGATAN KRITIS INTEGRITAS SISTEM: 9% KERUSAKAN MENYEBAR “Nggak…” bisikku. Bukan karena takut mati. Tapi karena— aku tahu ini bukan sekadar serangan. Ini… pembongkaran. Dia tidak menyerangku. Dia… membongkar aku. Dia y
Pintu ruang rahasia itu menutup tepat di belakang Arsen, menyisakan aku seorang diri di dalam ruangan yang tidak seharusnya kutinggali.Aku masih duduk di sofa, tetapi rasanya seperti seluruh tubuhku tak lagi sama. Ada sesuatu di dadaku—campuran cemas, bingung, dan… tertarik.Aku memeluk kedua tang
Aku kembali ke meja kerjaku dengan langkah yang hampir tidak terasa menyentuh lantai. Pikiran tentang apa yang hampir Arsen katakan—kamu milik…—terus terulang di kepalaku seperti gema yang tidak mau hilang.Tidak mungkin.Tidak mungkin aku mendengarnya dengan benar.Atau… apakah ia sengaja menggant
Sejak kejadian dengan klien kemarin, suasana di antara aku dan Arseniel berubah. Tidak drastis, tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa jarak profesional itu… mulai retak sedikit demi sedikit.Bukan karena kata-kata manis—dia tidak pernah mengucapkannya.Bukan karena gestur lembut—dia bukan tipe sep
Sejak kalimat itu di ruang rapat—“Jangan biarkan siapa pun meremehkanmu. Termasuk saya”—pikiranku tidak pernah benar-benar tenang. Kalimat itu berputar seperti bisikan yang menolak pergi. Bukan hanya karena ia bosku, tapi karena cara dia mengatakannya… seolah ada sesuatu di balik suaranya yang ding







