แชร์

Bab 3 - Kesalahan kedua

ผู้เขียน: Rayden Arsha
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-08 21:19:05

Hari keduaku di Dirgantara Corp berlalu jauh lebih cepat daripada yang aku bayangkan. Mungkin karena aku benar-benar berusaha keras memastikan tak ada satu pun kejadian konyol seperti kemarin terulang lagi. Pagi ini aku datang setengah jam lebih awal, sepatu hak kupakai hati-hati, setiap langkah kupikirkan supaya nggak menimbulkan masalah, rambut kuikat serapi mungkin, bahkan sisa-sisa parfum kutabur seperlunya agar tidak mencolok. Dan, tentu saja, secangkir kopi panas kubawa buat Arseniel—hitam, polos, tanpa gula, tanpa susu. Sudah kuhafal betul, sesuai catatan yang diberikan si resepsionis kemarin, seperti mantra yang harus kutepati.

Kupandangi cangkir kopi itu di tanganku, benda kecil yang kemarin hampir saja menghancurkan reputasiku sebelum sempat kubangun. Lucu, ya—benda sederhana seperti ini bisa jadi penentu nasib. Sekarang, kugenggam cangkir itu erat-erat, seolah-olah aku sedang membawa bom waktu yang harus kusampaikan dengan selamat tanpa meledak di tengah jalan. Rasanya jantungku berdetak lebih cepat hanya karena menatap permukaan kopi yang hitam pekat itu.

Lift terbuka di lantai 45. Seperti biasa, koridor di sini sunyi, rapi, dingin, dan entah kenapa membuat nyaliku ciut. Setiap langkah kaki terdengar jelas, seperti gema di ruang kosong. Aku melangkah pelan ke ruangan Arseniel, mengetuk pintu dengan hati-hati, berharap suaranya tak terlalu keras.

“Masuk,” suara berat dan datar itu terdengar dari dalam. Kali ini, nada bicaranya tidak setajam kemarin, ada sesuatu yang sedikit lebih lunak, entah apa.

Aku masuk, menahan napas. Dia duduk di balik meja kerjanya yang besar, kemeja putih digulung sampai siku, dasi longgar tergantung di leher, matanya menatap layar laptop, namun sempat melirik ketika aku meletakkan kopi di mejanya, seolah-olah sedang menilai setiap gerakanku.

“Tanpa gula, tanpa susu,” ucapku pelan, berusaha terdengar yakin. “Sesuai catatan.”

Alisnya naik sedikit, seolah ada ketertarikan baru di matanya. “Kamu belajar cepat,” katanya singkat.

Aku cuma bisa tersenyum canggung, menunduk sebentar. “Saya nggak mau ngulangin kesalahan yang sama, Pak.”

Dia menatapku lama, terlalu lama untuk ukuran interaksi di kantor. Aku bisa merasakan tatapannya menembus lapisan kepercayaandiriku yang tipis.

“Kesalahan itu guru yang baik. Tapi kalau diulang…” Ucapannya menggantung, suaranya turun setengah nada, terdengar lebih dalam, lebih berat. “Itu sudah jadi pilihan.”

Aku menelan ludah, merasa ruangan itu tiba-tiba menyempit. Sunyi. Hanya suara detak jam di dinding yang terdengar, setiap detiknya menambah ketegangan. Mendadak, Arseniel berdiri, mengambil sebuah map tebal, lalu berjalan ke arahku dengan langkah mantap.

“Temani saya ke ruang rapat lantai 46,” katanya tanpa menunggu jawaban. “Saya butuh notulen langsung.”

Aku buru-buru mengangguk, mengikuti langkahnya yang panjang dan yakin. Setiap langkahnya terasa seperti pernyataan kekuatan, dan aku harus mempercepat langkah agar tidak tertinggal di belakang. Begitu sampai di ruang rapat, beberapa eksekutif senior sudah menunggu, semua terdiam menunggu dimulainya rapat. Aku duduk di samping, siap dengan laptop yang sudah kubuka, sementara Arseniel berdiri di depan, mengambil alih suasana ruangan dengan wibawanya yang tenang.

Caranya bicara di depan ruangan—ada karisma yang sulit dijelaskan. Suaranya mengalir, dalam, setiap kalimatnya seperti sudah diperhitungkan dengan cermat. Semua orang terdiam, menatapnya dengan penuh hormat, tapi juga ada rasa takut yang jelas terlihat di mata mereka. Aku sendiri tak luput dari perasaan itu. Namun di balik rasa kagum yang mulai tumbuh, ada sesuatu yang lain—perasaan aneh yang tak bisa kutahan, seolah aku sedang berdiri di tepi jurang antara kekaguman dan rasa cemas.

Sepanjang rapat, aku sibuk mengetik, berusaha menangkap setiap detail pembicaraan. Tapi ketika Arseniel berjalan ke arahku untuk menyerahkan berkas tambahan, jari-jarinya tanpa sengaja menyentuh punggung tanganku. Hanya sebentar, sepersekian detik, tapi cukup untuk membuatku langsung kaku di tempat.

Aku mendongak perlahan, dan dia pun menatapku. Mata abu-abu itu… tenang, namun tajam, seolah bisa membaca isi kepalaku. Tatapannya terasa seperti es yang membekukan semua gerakku.

“Teruskan catatannya,” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.

Aku hanya mampu mengangguk, diam-diam berusaha menenangkan detak jantung yang sekarang berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Tidak mudah ketika seluruh perhatianmu terpusat pada seseorang yang begitu dominan.

Dua jam rapat akhirnya berlalu. Satu per satu para eksekutif keluar, meninggalkan ruangan. Kini hanya aku dan Arseniel yang tersisa. Aku bereskan catatan, memilih menunduk agar tidak perlu berhadapan langsung dengannya, tapi tiba-tiba suaranya terdengar lagi, kali ini tanpa menatapku.

“Bagus. Kamu detail sekali—bahkan lebih rapi dari notulen yang sudah lama di sini.”

Aku menghela napas lega, merasa sedikit dihargai. “Terima kasih, Pak,” jawabku setulus mungkin.

Dia berbalik, menatapku lurus dan tajam. “Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat.”

Aku berhenti merapikan catatan, menahan napas. “Apa, Pak?”

Dia melangkah semakin dekat. Kini jaraknya terlalu dekat untuk sekadar urusan pekerjaan, membuatku gugup dan sulit berkutik.

“Jangan biarkan siapa pun meremehkanmu. Termasuk saya.”

Suaranya rendah, dalam, anehnya terasa seperti perlindungan sekaligus peringatan. Aku berdiri mematung, tidak tahu harus melihat ke mana. Atmosfer di ruangan tiba-tiba jadi berat, seolah ada sesuatu yang belum terucapkan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik dan pergi, meninggalkanku sendiri dengan jantung yang masih berdebar kencang.

Saat pintu tertutup di belakangnya, aku baru benar-benar sadar sesuatu: sepertinya ini bukan hanya soal pekerjaan. Ada sesuatu yang lebih besar, lebih rumit, yang pelan-pelan menarikku masuk. Aku baru saja melangkah ke dalam permainan berbahaya bernama Arseniel Dirgantara—dan tidak ada jalan untuk mundur.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 124 — Aku Tidak Lagi Takut Sendirian

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 123 — Aku Belajar Bahwa Tidak Semua Hal Harus Diselesaikan

    Dulu aku punya kebiasaan yang tidak pernah kusadari sebagai beban: aku ingin menyelesaikan semuanya.Semua masalah harus diselesaikan. Semua konflik harus diselesaikan. Semua percakapan harus jelas. Semua luka harus sembuh sempurna.Aku tidak nyaman dengan hal-hal yang digantung. Aku tidak tahan dengan intimidasi. Jika ada pertanyaan yang belum terjawab, saya merasa harus mencari penjelasannya. Jika ada hubungan yang berakhir tanpa penjelasan, saya merasa harus menutupnya dengan kalimat terakhir yang rapi.Aku ingin hidup seperti buku yang setiap babnya punya kesimpulan jelas.Tapi hidup ternyata bukan buku yang bisa kita edit sesuka hati.Kesadaran itu datang perlahan, bukan lewat kejadian besar. Justru lewat kenyamanan.Pagi itu aku bangun dengan perasaan netral—tidak terlalu bahagia, tidak juga sedih. Hanya tenang. Cahaya matahari masuk seperti biasa, membentuk garis lembut di dinding. Aku duduk di tepi tempat tidur dan menunggu beberapa detik sebelum berdiri.Dulu, jika aku ter

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 122 — Aku Tidak Lagi Bertanya “Kenapa Dulu Begitu?”

    Ada masa dalam hidupku ketika satu pertanyaan terus berputar seperti lagu rusak di kepala:Kenapa dulu aku begitu?Kenapa dulu aku membiarkan diriku disakiti?Kenapa aku bertahan terlalu lama di tempat yang jelas membuatku lelah?Kenapa aku menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihku?Kenapa aku mengorbankan diriku sendiri demi menjaga sesuatu yang bahkan tidak menjagaku kembali?Pertanyaan-pertanyaan itu dulu terasa seperti penyelidikan. Seolah aku harus menemukan jawaban logis agar bisa berdamai dengan masa lalu. Aku pikir kalau aku mengerti alasannya, aku akan sembuh. Aku percaya kalau aku bisa menjelaskan semuanya, luka-lukanya akan hilang.Tapi waktu mengajarkanku sesuatu yang tidak pernah terpikir sebelumnya:Tidak semua hal di masa lalu perlu dijelaskan.Sebagian hanya perlu diterima.Kesadaran itu datang di pagi yang sangat tenang.Aku bangun dengan perasaan ringan, seperti seseorang yang baru saja menurunkan beban t

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 121 — Aku Akhirnya Mengerti: Damai Itu Tidak Datang, Ia Dibuat

    Dulu aku selalu menunggu damai.Aku menunggunya seperti seseorang menunggu kereta di peron—berdiri, melihat jauh ke depan, berharap sesuatu datang menjemput. Aku percaya suatu hari nanti hidup akan tenang dengan sendirinya. Bahwa akan ada momen di mana semuanya rapi, semua masalah selesai, semua rasa takut hilang, lalu damai datang duduk di sampingku tanpa diminta.Aku menunggunya lama.Aku menunggunya saat hidup sibuk.Aku menunggunya saat hidup sepi.Aku menunggunya saat aku lelah.Aku menunggunya bahkan saat aku bahagia.Tapi damai tidak pernah datang seperti itu.Ia tidak muncul tiba-tiba. Tidak mengetuk pintu. Tidak memperkenalkan diri. Ia tidak pernah datang sebagai hadiah dari luar.Dan butuh waktu lama bagiku untuk menyadari sesuatu yang sederhana namun mengubah segalanya:Damai bukan sesuatu yang datang.Damai adalah sesuatu yang dibuat.Kesadaran itu muncul pada pagi yang sangat biasa.Aku bangun tanpa suara alarm, hanya

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 120 — Aku Tidak Lagi Mengejar Hidup, Aku Menjalani

    Dulu aku hidup seperti seseorang yang terlambat.Bahkan ketika tidak ada yang benar-benar menungguku, aku tetap merasa dikejar waktu. Setiap pagi terasa seperti garis start perlombaan. Setiap malam terasa seperti laporan hasil. Jika hariku tidak produktif, aku merasa gagal. Jika aku beristirahat terlalu lama, aku merasa bersalah. Jika aku bahagia tanpa alasan jelas, aku malah curiga.Aku hidup bukan untuk menjalani hari—aku hidup untuk mengejar sesuatu yang bahkan tidak selalu bisa kujelaskan.Dan anehnya, aku dulu mengira itu normal.Aku mengira semua orang hidup dengan napas setengah tertahan seperti itu. Aku mengira kelelahan adalah harga yang harus dibayar agar hidup terasa berarti. Aku mengira jika aku berhenti berlari, aku akan tertinggal dari sesuatu yang penting.Tapi pagi itu, aku bangun dengan kesadaran yang sangat sederhana—dan sangat mengubah segalanya.Aku tidak sedang dikejar.Tidak ada yang mengejarku.Aku membuka mata perlahan. Cahaya

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 119 — Aku Tidak Lagi Takut Jika Suatu Hari Semua Berubah

    Dulu, perubahan adalah kata yang selalu membuat dadaku menegang.Bukan karena aku tidak tahu hidup pasti berubah—semua orang tahu itu. Tapi mengetahui dan menerima adalah dua hal yang berbeda. Aku memahami perubahan sebagai konsep, namun aku menolaknya sebagai kenyataan. Setiap kali sesuatu terasa stabil, aku justru gelisah. Bukan takut kehilangan yang sudah hilang, melainkan takut kehilangan yang bahkan belum terjadi.Aku sering bertanya dalam diam: Bagaimana kalau ini tidak bertahan lama?Bagaimana kalau kebahagiaan ini hanya sementara?Bagaimana kalau ketenangan ini hanya jeda sebelum badai?Pikiran-pikiran itu dulu datang seperti tamu tak diundang yang selalu tahu jalan masuk. Mereka duduk di sudut pikiranku dan berbisik pelan, cukup lirih untuk tidak terdengar orang lain, tapi cukup jelas untuk membuatku tidak pernah benar-benar tenang.Namun pagi itu, sesuatu terasa berbeda.Aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Bukan karena gelisah, melainkan karen

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status