LOGIN
Ketika aku tahu pikiran gilamu, sedang kamu tidak menyadari hatiku yang menggila. Sialan kamu, Sam!!!
Dan malam itu, disebuah kamar hotel bintang 5 tipe Deluxe aku terjebak diantara sepasang suami istri yang bersetubuh untuk pertama kalinya diusia enam bulan pernikahan mereka. GILA! Aku tak menyangka Sam telah menyusun rencana gila dalam kepalanya dengan melibatkan aku di dalamnya.
Pukul 07.15 malam. Aku sedang asyik scroll I*******m setelah sebelumnya menelepon suami dan anakku di rumah untuk melepaskan rindu dan sekadar berbagi kabar, dengan santainya telentang di sofa samping jendela kaca yang menampakkan suasana malam kota Surabaya di ketinggian lantai 32. Sementara Nia, rekan kerjaku yang berada di kamar hotel yang sama, tampak berbaring nyaman di kasur. Sampai tiba-tiba terdengar dering handphone milik Nia, dia tampak terkejut melihat nama si penelepon lantas terduduk dengan cepat.
“Ya, Mas?” sapa Nia, dia tidak berhasil menyembunyikan keterkejutan dalam nada bicaranya.
Aku menoleh sebentar lalu kembali fokus pada handphoneku, saat aku yakin yang meneleponnya adalah Sam, suaminya yang juga merupakan atasanku di kantor.
“Aku di hotel.” jawab Nia, yang sepertinya Sam menanyakan posisi keberadaannya.
Nada bicara Nia terdengar pelan, antara canggung, malu, gugup, dan resah. Dia selalu seperti itu, ekspresi wajah, gestur tubuh, bahkan nada bicaranya tidak dapat menyembunyikan apapun.
“Tidak, aku tidak sendiri, tentu ada Mala juga … ia, setahuku Mala sudah menyelesaikan pekerjaannya … Ia mas, seperti yang mas sarankan, hotel bintang 5 Deluxe Room, kita di lantai 32 di kamar 301. Apa tidak apa-apa mas? Untuk dinas luar karyawan dengan tarif hotel bintang 5 tipe deluxe, bukankah itu terlalu berlebihan? Apa tidak akan menyebabkan masalah atau keributan di kantor?" tanya Nia khawatir.
"Ia, memang mas adalah CEO di kantor. Justru karena mas adalah CEO di kantor, bukankah harus lebih berhati-hati agar tidak memancing kecurigaan karyawan lainnya?” tanya Nia lagi, jelas hatinya sangat tidak tenang.
Aku masih asyik dengan handphone, berpura-pura tidak mendengarkan Nia yang berbicara dengan suaminya tentang kekhawatiran statusnya sebagai istri simpanan CEO di kantornya diketahui karyawan lain. Yang sepertinya memang tidak ada yang tahu selain aku. Aku bahkan tidak mengerti mengapa untuk pekerjaanku Sam harus menyertakan Nia yang bahkan tidak ada kaitannya dengan permasalahan dalam pekerjaan kali ini.
“Mala, kamu pergi dengan Nia!” itu yang Sam katakan saat aku mengajukan persetujuan surat dinas luar kantor padanya, untuk kepergianku ke Surabaya menangani kantor cabang yang memang tengah ada masalah dalam peluncuran produk baru.
“Saya tidak masalah dengan itu pak, apabila memang Nia bersedia. Karena pekerjaan ini bahkan tidak ada sangkutannya dengan Nia dan saya yakin dapat menyelesaikannya. Khawatirnya mungkin merepotkan Nia karena harus ikut ke Surabaya.” ujarku cemas.
“Tidak apa-apa, dan perpanjang waktunya menjadi 4 hari. 3 hari kamu bisa bekerja, dan hari terakhir bisa kalian gunakan untuk jalan-jalan. Pesan kamar hotel yang bagus dan nyaman.” Sam menyodorkan berkas persetujuannya kembali padaku untuk direvisi. “Bikin reservasi di hotel JK untuk 1 kamar tipe deluxe.”
“Bapak mau ada tugas ke Surabaya juga?” tanyaku heran saat dia minta dipesankan kamar di hotel bintang 5.
Sam menatapku sesaat, namun tatapannya tampak aneh dan sulit dimengerti. Entah itu pandangan yang menggambarkan keterkejutan, atau cemas, atau khawatir. Yang pasti bukan marah. Tapi hanya sesaat. “Tidak.” jawabnya kemudian. “Itu untukmu dan Nia, agar kalian bisa nyaman setelah bekerja.”
Aku tercenung sesaat, memang sejak Sam kembali ke Indonesia dan memutuskan untuk fokus menangani perusahaan, sering kali aku mendapati tatapan Sam yang tidak bisa kubaca dan aku tak pahami.
“Ummm, terimakasih banyak atas perhatiannya. Tapi hotel bintang 5 dengan tipe kamar deluxe, apa tidak apa-apa untuk sekadar karyawan dinas luar?” tanyaku ragu. Bukannya aku menolak, kapan lagi aku bisa menginap di hotel bintang 5 kan? Hanya saja karena ini tugas kantor dan menggunakan dana perusahaan, aku agak khawatir dengan pandangan karyawan lain.
“Sudahlah, aku yang menyetujui, tidak apa-apa. Dan lagi Mal, sebenarnya aku agak merasa bersalah pada Nia. Kamu tahu dia istriku, tapi aku terlalu sibuk untuk memperhatikannya. Jadi aku minta tolong padamu sebagai sahabatnya, tolong ajak dia bersenang-senang di Surabaya. Tidak usah memikirkan biaya, aku yang akan menanggung semuanya. Aku tidak bisa menemaninya, meski begitu aku harap dia masih bisa bersenang-senang dengan sahabatnya.” tuturnya.
Tak ada ekspresi di wajahnya saat mengatakannya, dia datar seperti biasa, meski nada bicaranya terdengar agak sedih. Dan aku tidak bisa berkata-kata lagi. Apa yang harus kukomentari? Meski mungkin barusan Sam yang adalah CEO dikantorku sedang berbicara mengenai hal pribadinya, namun aku masih merasa canggung. kita tidak dekat atau bersahabat, hanya sekadar aku tahu bahwa dia menikah dengan Nia yang adalah sahabatku. dan aku juga khawatir salah berucap.
Akhirnya aku berbalik meninggalkan ruangan Sam untuk segera merevisi pengajuan surat dinas yang disesuaikan dengan permintaannya. lalu kembali menyodorkannya kepada Sam setelah kuperbaiki dengan rapih. Dia menandatanginya meski budget untuk perjalanan dinas kali ini 4 kali lebih besar dari biasanya, Sam bahkan memberikan kartu kreditnya padaku untuk aku gunakan mengajak Nia jalan-jalan dan berbelanja di Surabaya.
Lagi aku merasa canggung, “Apa kartunya tidak sebaiknya Bapak berikan kepada Nia saja?” tanyaku tak enak hati.
Sam terdiam sesaat, dengan menopang dagunya dia menatapku. seperti tatapan yang lembut dan anehnya dadaku berdesir. aku tidak punya pikiran buruk atau niat jahat, sungguh aku sadar benar Sam adalah suami dari sahabatku, Nia. Tapi Sam memang menawan, dia tampan dan posturnya gagah, dimataku Sam memang seorang CEO laki-laki dengan penampilan yang hampir tampa cela!
Terdengan Sam mendesah berat. “Aku sudah memberikan kartu lain kepada Nia, tapi kamu tahu Nia seperti apa, dia selalu segan menggunakannya. Jadi kali ini aku mohon bantuannya. Kamu pegang kartu ini, beli apapun yang kalian mau, dan makanlah makanan apapun yang kalian mau, tolong kamu pegang kartunya, gunakan dengan sebaiknya.” mohon Sam.
Sesaat aku terdiam, “Terimakasih.” ucapku seraya menundukkan kepala, dan kemudian keluar dari ruangan Sam dengan hati riang. Perjalanan dinas kali ini akan menyenangkan, bahkan bukan seperti bekerja, lebih terasa seperti liburan. Hotel mewah dengan kartu kredit unlimited. Keberuntunganku menjadi sahabat dari istri seorang CEO!
Itu yang aku pikirkan awalnya. Aku tidak menyangka aku harus membayar mahal untuk kemewahan itu …
“Apa?! Mas ada di depan pintu kamar?!” pekik Nia kaget, yang sontak membuatku ikut terhenyak juga mendengarnya.
Ruang kantor pagi itu terasa terlalu sunyi untuk ukuran hari Selasa. Sam masuk ke kantor agak terlambat dari biasanya. Lengan kirinya tersangga sling arm biru tua, kemeja hitamnya digulung setengah di sisi yang sehat. Langkahnya tetap tegak, suara sepatunya menggema di lantai. Tidak ada yang berani komentar tentang sling arm yang tampak menjadi pusat perhatian seantero kantor. Semua karyawan yang terlewati, hanya memberi salam biasa seperti hari-hari sebelumnya, seraya menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Sam berjalan tegak seperti bisanya, seolah cedera itu cuma hiasan. Prioritas Sam saat itu hanya satu : memastikan Mala tidak kenapa-napa. Rasa sakit akibat cidera di bahu dan lengannya akan ditelannya mentah-mentah, asalkan Mala baik tak kurang suatu apapun.Sam tidak bisa menelepon, dia tahu Mala jelas tengah bersama Ben, suaminya. Ia sendiri juga belum tahu bagaimana nanti harus bersikap jika sudah berhadapan dengan Mala. Satu hal yang pasti, dia harus melihat Mala baik-baik sa
POV : SAMAku merasakan sakit dari bahu yang menjalar ke lengan, namun rasa sakit itu terkubur oleh kelegaan saat kudapati Mala tidak kenapa-napa. Tadi aku terlalu panik, segala pikiran buruk berseliweran dikepala, membayangkan Mala yang tidak mengangkat telepon serta tidak juga membuka pintu, pikiranku kemana-mana. Aku berpikir buruk bahwa terjadi sesuatu dengan Mala di dalam sana. Rasanya aku mau gila. Aku menghantam pintu baja rumah Mala dengan bahu dan lenganku, lalu menjadikannya bantalan untuk menumpu jatuhnya Mala agar tidak membentur lantai. Andai sesuatu yang buruk terjadi pada Mala, rasanya aku tak lagi bisa hidup dengan tenang.Sampai tiba-tiba Mala bangkit dengan tergesa, dia bahkan terlihat limbung. Dan,"Aaaaaa!!!" tiba-tiba saja dia berteriak histeris seraya mengacak-acak rambutnya, terlihat amat kalut. Kelegaanku musnah, berganti dengan kekhawatiran yang kuat. Sepertinya Mala amat sangat kesakitan. Mengabaikan rasa sakit di bahu dan lengan, segera aku berdiri dan menar
POV : MalaAku terbangun, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden yang langsung mengenai mata. "Silau." gumamku, seraya menarik bantal dan menutupi wajahku dengan itu. Tapi aku tidak berniat untuk melanjutkan tidur. Hanya tengah mengumpulkan kesadaran. Sampai tiba-tiba ingatanku berkelebat kembali ke masa-masa saat di hotel. Saat aku sakit, saat Sam memanggil dokter, saat aku diminta ganti baju."Kamu demam, sayang. Tenanglah, ini dokter yang sengaja kupanggil untuk memeriksa keadaanmu." terngiang kembali perkataan Sam saat itu ditelingaku.Lalu aku ingat saat Sam memaksaku untuk ganti baju, dan dengan tak tahu malu dia mengambil bra dan celana dalamku. Meski untuk kupakai, tetap saja itu memalukan untuk diingat. Mengingatnya sekarang bahkan aku masih merasa malu dan kesal. Meski hal itu memang bukan pertama kalinya. Sepertinya bahkan Sam sudah tahu betul ukuran bra dan celana dalamku. "Memalukan." grutuku kesal pada diri sendiri. seraya menyingkirkan bantal yang menutupi
POV : SAMAku menghentikan mobilku tepat di depan gerbang rumah Mala. Kulihat di sebelahku Mala tertidur lelap, dia tampak cantik, amat cantik dimataku meski kondisinya sedang tidak terlalu baik."Bolehkah kucium dia?" tanyaku dalam hati."Tidak!" tegas kepalaku yang ternyata masih tersisa kewarasan disana.Haruskah kubawa saja dia ke rumahku? Dengan begitu aku bisa membopongnya ke kamarku tanpa harus membangunkannya. Tak tega rasanya jika aku harus membangunkan Mala dari tidur lelapnya. Dengan begitu setidaknya aku bisa menjaganya, memastikan dia beristirahat dengan baik, makan dengan benar, dan hidup dengan nyaman.Tapi aku tidak bisa melakukan itu sekarang, belum waktunya. Dan mendadak aku merasa kesal, tapi yang bisa kulakukan hanya menghembuskan napas berat.Kulihat keadaan rumah Mala, sepertinya suami Mala bahkan tidak pulang sejak aku melihatnya pergi waktu itu, tak lama setelah Mala naik taksi di hari keberangkatannya ke Bali."Apa sekarang aku bangunkan saja Mala dan memaksan
Aku terduduk lemas di jok mobil di samping Sam yang tengah mengemudi. Kita sudah tiba dengan selamat di Jakarta. Dan selama itu aku tidak mengatakan apapun. Tidak bertanya, tidak juga memprotes atau apapun prihal sikap Sam terhadapku. Aku sungguh memilih hanya diam. Saat Sam memapahku turun dari pesawat, mendudukkanku di kursi roda dan membawaku naik ke mobilnya. Dia mengurus semuanya dengan baik. Koper dan barang bawaan juga sepertinya Sam sudah mengurus semuanya. Entah kapan dia berkoordinasi untuk mengurus semuanya, aku tak tau, dan aku rasa aku tidak perlu tahu. Cukup menjadi perempuan yang patuh saja saat ini.Sampai tiba-tiba Sam menepikan mobilnya. Aku masih tetap diam, tidak menoleh atau sekadar bertanya kenapa."Kamu baik-baik saja?" tanya Sam terdengar cemas."Hmm." jawabku pelan tanpa menoleh, pandanganku menatap nanar jalanan dengan lalu-lalang kendaraan."Ada yang sakit?""Tidak.""Kamu terus diam, aku khawatir kamu menahan rasa sakit sendiri. Katakan padaku jika ada sesu
POV : Mala.Dinas ke Bali kali ini, kacau! Aku tidak tahu pekerjaan apa yang sesungguhnya harus dilakukan. Dan Nia, aku tak melihatnya lagi sejak dia keluar dari kamar hotel. Sam bahkan tidak menjelaskan apapun, meski berulang kali kutanya prihal keberadaan Nia. Dia yang selalu ada bersamaku baik itu di kamar hotel sejak hari pertama, bahkan sampai di rumah sakitpun Sam terus bersamaku, tanpa membahas Nia ataupun pekerjaan!Dan aku yang jatuh sakit sesampainya di Bali, benar-benar merasa hanya menjadi beban Sam tanpa mengerjakan pekerjaan apapun. Dan Sam sendiri memang tidak memberiku kesempatan untuk melakukannya.Lalu sekarang aku terduduk lemas di kursi pesawat dalam penerbangan untuk kembali ke Jakarta, bersama Sam yang duduk di sebelahku dengan sikap protektifnya yang terasa aneh. Aku tak punya energi untuk mendebatnya, memprotesnya, atau mempertanyakan sikapnya. Aku benar-benar tidak lagi mengatakan apapun setelah beberapa kali pertanyaanku tentang Nia tidak dijawab Sama sekali
Langkah kami terhenti di pintu masuk store, saat seorang Beauty Advisor yang terlihat rapih dan cantik menyambut kami dengan senyum ramah seraya memberi salam dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada."Ada yang bisa dibantu?""Tolong tunjukkan produk make up terbaru yang bagus dan cocok." jaw
Aku kelu, tidak tahu harus bicara apa. Tapi hatiku terasa hangat dan tenang. Meski aku masih belum bisa mencerna dengan benar perkataan Ben prihal sepatu dan pacar Ben, yang ternyata ujungnya adalah aku!“Atau kamu sudah punya pacar?”“Tidak.” jawabku cepat, Ben tampak lega.“Jadi bagaimana?” tanya
Aku membungkukkan badan, berpamitan pada Sam yang masih menelpon lalu berlari ke sebrang dan segera menyetop taxi yang kebetulan lewat. Aku tidak berani menoleh lagi ke belakang atau melihat Sam lagi. Paras Sam saja cukup membuatku gugup, apalagi tawarannya untuk mengantarku yang sebenarnya biasa s
Postingan Sam terasa agak ambigu di kepalaku. Kulihat Nia dan beberapa orang lainnya me-like postingan Sam. Kemudian ada Camelia berkomentar. "Wait 3 days more, forever we will be together.”Sam tidak bereaksi. Tidak membalas komentar Camelia atau me-like komentarnya. Bisa jadi mereka lanjut bertel







