홈 / Young Adult / Terjebak Cinta Ketua Geng / Part 03 — Gosip dan Tatapan Pertama

공유

Part 03 — Gosip dan Tatapan Pertama

작가: Senia Dea
last update 게시일: 2026-08-25 17:35:45

Sejak meninggalkan koridor tadi, Aeloria belum berhenti mengomel dalam hati. Langkahnya cepat menuju kelas, sementara satu tangannya sibuk memasukkan ponsel ke dalam tas dengan gerakan kasar. Begitu sampai di bangku, ia langsung menjatuhkan tas ke atas meja dan mengembuskan napas panjang.

Freyana yang baru saja duduk menoleh. “Kenapa muka lo kayak habis dikejar debt collector?”

Aeloria langsung menarik kursi. “Gue baru ketemu Alaric.”

Vania yang sedang membuka bungkus makanan berhenti. “Alaric?”

“Alaric Zieroun.”

Freyana menatap Vania, lalu kembali menatap Aeloria. “Yang ketua BLACK VORTEX itu?”

Aeloria mengangguk cepat. “Iya. Dan gue baru tahu setelah gue ngobrol sama dia.”

Vania perlahan meletakkan makanannya. “Lo ngobrol sama Alaric?”

“Bukan cuma ngobrol.” Aeloria menutup wajah dengan kedua tangan. “Gue nabrak dia, numpahin minuman ke sepatunya, bilang dia sombong, terus gue ancam pakai nama dia sendiri.”

Freyana terdiam, Vania juga terdiam, karena menurut mereka ini cerita serius, karena menyangkut siswa terpenting di sekolah, Alaric Zieroun.

Aeloria menurunkan kedua tangannya sedikit. “Kenapa kalian diem?”

Freyana akhirnya menutup mulut menggunakan tangan untuk menahan tawa. “Maaf, Ael. Gue bukan mau ketawa.”

“Tapi lo ketawa.”

“Karena lo lucu banget kalau panik.”

“Gue lagi nggak lucu!”

Aeloria meraih bantal kecil yang ada di kursi belakang dan melemparkannya ke arah Freyana. Bukannya takut, Freyana malah menangkap bantal itu sambil terkekeh. Vania yang sejak tadi memperhatikan Aeloria akhirnya menggeleng pelan.

“Terus dia ngapain?”

Aeloria menyandarkan punggung ke kursi. “Dia malah ngeledek gue.”

“Terus?”

“Terus dia bilang gue pacarnya.”

Freyana langsung berhenti tertawa. “Hah?”

“Gue juga nggak tahu kenapa.”

Aeloria mengusap keningnya. Sampai sekarang ia masih bisa mengingat jelas senyum tipis cowok itu ketika mengulang kalimat yang sama. Yang lebih menyebalkan, Alaric sama sekali tidak terlihat terganggu dengan kebohongan tersebut.

Vania mencondongkan tubuh. “Ael, lo tahu nggak kalau Alaric itu bukan orang yang bisa lo anggap main-main?”

“Gue tahu sekarang.”

“Bukan itu maksud gue.”

Vania menurunkan suaranya. “Gue pernah dengar cerita soal dia.”

Aeloria langsung menoleh. “Cerita apa?”

Vania memastikan keadaan sekitar sebelum mendekat sedikit. “Katanya pernah ada anak sekolah lain yang cari masalah sama anak BLACK VORTEX. Ujung-ujungnya anak itu sampai pindah sekolah.”

Aeloria mengernyit. “Serius?”

“Gue juga nggak tahu benar atau enggak.”

Freyana ikut menyela, “Tapi nama Alaric memang sering disebut kalau ada yang ngomongin BLACK VORTEX.”

Aeloria menggigit bagian dalam pipinya. Entah kenapa, mendengar cerita itu membuat kejadian di koridor tadi terasa berbeda. Tadi ia hanya melihat seorang cowok yang suka bercanda dan terlalu percaya diri, tetapi sekarang ia mulai sadar bahwa nama Alaric memang bukan nama yang bisa disebut sembarangan.

“Kenapa sih lo malah pilih nama dia kemarin?” tanya Freyana.

Aeloria menghela napas. “Karena gue pikir dia cuma nama yang kedengarannya serem.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang gue nyesel.”

Bel pulang akhirnya berbunyi beberapa jam kemudian. Aeloria memasukkan buku ke dalam tas sambil sesekali melirik ke arah pintu kelas, berharap tidak ada kejadian aneh setelah ini. Ia bahkan sudah berencana keluar lewat pintu belakang supaya tidak bertemu siapa pun, namun, rencana itu gagal ketika Freyana menarik lengannya.

“Ayo, Ael.”

“Gue mau beli minum dulu.”

“Besok aja.”

Aeloria menggeleng. “Gue haus.”

Mereka akhirnya berjalan menuju halaman depan sekolah. Matahari sore masih cukup terang, sementara suara kendaraan dan obrolan siswa memenuhi area gerbang. Aeloria baru saja meneguk air mineral ketika seorang cowok dari kelas lain berjalan menghampirinya.

“Ael, pulang bareng gue, yuk.”

Aeloria menurunkan botolnya. “Nggak.”

“Kenapa?”

“Gue mau pulang sendiri.”

Cowok itu tersenyum dan berdiri lebih dekat. “Gue anterin. Sekalian ngobrol.”

Aeloria mundur setengah langkah. “Nggak usah. Gue bisa pulang sendiri.”

“Jangan jual mahal terus.”

Aeloria mulai mengerutkan kening. Tangannya menggenggam tali tas lebih erat, tetapi sebelum sempat menjawab, suara berat terdengar dari belakangnya.

“Dia bilang nggak.”

Aeloria langsung menoleh.

Alaric berdiri beberapa langkah dari mereka. Kali ini tidak ada senyum jahil di wajahnya. Tangannya masih berada di saku celana, sementara pandangannya tertuju pada cowok yang sejak tadi berdiri di depan Aeloria.

Cowok itu terlihat ragu. “Gue cuma mau ngajak pulang.”

Alaric melangkah mendekat. “Dia udah bilang nggak.”

“Gue nggak tahu kalau dia—”

“Pacar gue.”

Aeloria langsung membeku.

Freyana di sampingnya ikut diam, sedangkan Vania hanya mengangkat alis. Alaric berhenti di samping Aeloria dan menatap cowok tersebut tanpa perlu menaikkan suara.

“Masih mau ngajak?”

Cowok itu menggeleng cepat. “Nggak.”

“Bagus.”

Cowok itu langsung pergi.

Aeloria menatap punggungnya sampai menghilang di balik gerbang, lalu perlahan menoleh ke arah Alaric. Cowok itu malah berjalan santai melewatinya, seolah barusan tidak melakukan apa-apa.

“Heh.”

Alaric berhenti.

Aeloria menunjuk ke arah gerbang. “Lo ngapain?”

“Jemput lo.”

Aeloria berkedip. “Siapa yang nyuruh?”

“Pacar lo.”

“Gue bukan pacar lo!”

Alaric menoleh dan sudut bibirnya kembali terangkat. “Kan lo sendiri yang bilang begitu.”

Aeloria membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban, Freyana dan Vania yang berdiri beberapa langkah di belakangnya langsung menahan tawa. Aeloria hanya bisa memejamkan mata sebentar sambil mengusap wajah.

Sepertinya masalahnya bukan lagi bagaimana cara membuat semua cowok berhenti mendekatinya.

Masalah sebenarnya adalah bagaimana cara membuat Alaric Zieroun berhenti menganggap kebohongannya sebagai sesuatu yang serius.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 104

    Aeloria baru saja tiba di sekolah ketika Freyana menyodorkan setumpuk kertas ke hadapannya. Gadis itu bahkan belum sempat meletakkan tas, tetapi sudah disambut tugas tambahan yang membuat dahinya langsung berkerut. “Apaan lagi, Frey?” “Daftar pembagian tugas buat acara kelas. Ketua kelas minta kita bantu beresin sebelum istirahat kedua.” Aeloria mengambil kertas itu, membaca beberapa baris, lalu mengangkat wajah dengan ekspresi tidak percaya. “Kenapa nama gue ada di bagian dekorasi, konsumsi, sama perlengkapan? Gue ini murid atau pegawai serabutan?” Vania yang sedang mengeluarkan buku dari tasnya buru-buru menahan tawa. “Katanya elo paling bisa diandalkan.” “Siapa yang bilang? Sini, suruh tanggung jawab di depan gue!” Freyana menarik kursi, lalu duduk sambil mengabaikan tatapan tajam sahabatnya. “Udah, Ael. Kita bagi tugas lagi nanti. Elo nggak harus ngerjain semuanya sendiri.” “Bagus. Karena kalau ada yang berani nyuruh gue mengangkat meja sendirian, gue angkat orangnya sekali

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 103

    Aeloria sudah memutuskan satu hal sejak pagi: hari ini dia ingin pulang tanpa mendengar satu pun panggilan “Sayang” dari mulut Alaric. Keputusan itu terdengar sederhana sampai cowok tersebut muncul di depan kelasnya saat bel pulang berbunyi, bersandar di dinding dengan wajah santai yang langsung membuat emosinya naik. “Akhirnya keluar juga. Ayo, gue anter pulang.” Aeloria memasukkan buku terakhir ke dalam tas, lalu meliriknya dari ujung mata. “Elo pikir gue nggak punya kaki?” “Punya. Dua, malah.” “Kalau tahu, minggir. Gue bisa jalan sendiri.” Alaric menahan tawa ketika Aeloria melewatinya begitu saja. Dia akhirnya mengikuti dari belakang, sementara Freyana dan Vania yang berjalan di samping Aeloria saling bertukar pandang. Keduanya sudah terbiasa melihat pasangan itu berdebat untuk hal-hal sepele, tetapi tetap saja tingkah mereka selalu berhasil menjadi hiburan gratis. “Gue heran, deh,” ujar Freyana. “Kalian tuh kalau ketemu selalu ribut. Nggak capek apa?” “Gue capek,” jawab Ae

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 102

    Aeloria baru saja keluar dari kelas ketika Freyana tiba-tiba menarik lengannya menuju tangga. Gadis itu langsung mengernyit, lalu menatap tangan Freyana yang masih mencengkeram pergelangannya seolah-olah temannya sedang berusaha menyeret tahanan kabur. “Apaan, sih? Gue bisa jalan sendiri!” “Bisa, tapi kalau nggak gue tarik, elo bakal sibuk baca novel sampai kantin tutup.” “Terus? Kantin juga nggak bakal pindah ke luar negeri.” Vania yang berjalan di belakang mereka langsung terkekeh. “Gue heran, ya. Alaric bisa tahan pacaran sama elo setiap hari.” Aeloria berhenti mendadak sampai Freyana hampir menabrak punggungnya. “Mau gue kasih tahu rahasianya?” “Apa?” tanya Vania penasaran. “Karena dia belum sadar kalau pacarnya punya potensi membahayakan keselamatan orang lain.” Freyana tertawa keras, sementara Vania menggeleng sambil melanjutkan langkah. Aeloria mendengus puas, lalu kembali berjalan dengan dagu terangkat. Setidaknya, pagi ini dia masih bisa mengancam orang tanpa harus be

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 101

    Pagi itu, Aeloria baru saja duduk di bangkunya ketika Freyana meletakkan sekotak roti di atas meja. Vania yang duduk di sampingnya langsung melirik gantungan kunci berbentuk bulan sabit yang tergantung di tas Alaric, yang kebetulan sedang menunggu Aeloria di depan kelas. “Gue baru sadar, ya. Alaric sekarang bawa gantungan kunci lucu begitu,” celetuk Vania sambil menahan senyum. “Biasanya barang-barang dia serem semua. Ini kayak aksesori punya cewek.” Aeloria menutup bukunya dengan keras. “Terus masalah buat elo apa?” “Lah, gue cuma ngomong.” “Ya, ngomong yang ada manfaatnya.” Freyana terkekeh, sementara Vania mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Aeloria kembali membuka bukunya, berusaha terlihat tidak peduli meskipun sudut bibirnya hampir terangkat saat melihat gantungan bulan sabit itu masih terpasang di tas Alaric. Belum sempat ia membaca satu halaman penuh, bayangan seseorang muncul di depan pintu kelas. Alaric berdiri sambil menyandarkan bahu ke kusen, kemudian mengangkat

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 100

    Aeloria berdiri di depan gerbang sekolah sambil berkali-kali melirik jam tangannya. Hari ini ia sengaja datang lebih awal karena punya rencana setelah pulang sekolah, tetapi ada satu hal yang lebih penting: memastikan Alaric tidak terlambat menjemputnya lagi. Gadis itu merapikan tali tasnya, lalu mengembuskan napas kesal ketika melihat beberapa siswa sudah berjalan melewatinya. “Kalau dia telat lagi, gue sumpahin kunci mobilnya hilang,” gumamnya. “Nyumpahin siapa, Sayang?” Aeloria langsung menoleh. Alaric berdiri beberapa langkah darinya dengan dua gelas minuman di tangan, sementara senyum jahil sudah menghiasi wajahnya. Gadis itu memeriksa jam tangannya, lalu kembali menatap Alaric dengan ekspresi curiga. “Elo datang tepat waktu?” Alaric mengangkat pergelangan tangannya. “Lima menit lebih awal, malah.” Aeloria menyipitkan mata. “Tumben. Elo habis kesambet apa?” “Gue cuma nggak mau ditinggal pacar sendiri.” “Bagus. Berarti otak elo masih bisa dipakai.” Alaric menyerahkan sala

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 99

    Aeloria menatap layar jam di dinding kelas dengan alis berkerut. Bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit lalu, tetapi Alaric belum juga muncul di depan kelas seperti yang dijanjikannya pagi tadi. Gadis itu memasukkan buku ke dalam tas dengan gerakan kasar, sementara Freyana dan Vania berdiri di dekat pintu sambil memperhatikannya. “Elo nggak pulang duluan?” tanya Vania. “Nunggu siapa lagi kalau bukan cowok nggak tahu waktu itu?” gerutu Aeloria. Freyana menyeringai. “Katanya kalau Alaric telat, elo bakal pulang naik ojek.” “Gue bisa berubah pikiran!” “Ya udah, pulang aja.” Aeloria menyambar tasnya, lalu berjalan keluar kelas. “Memangnya gue takut?” Namun, langkahnya melambat begitu tiba di koridor. Ia melirik ke arah tangga, berharap melihat sosok Alaric yang biasanya muncul dengan senyum menyebalkan dan sapaan manisnya. Tidak ada siapa-siapa selain beberapa siswa yang sedang bergegas menuju gerbang. Aeloria mengeluarkan ponselnya, kemudian memasukkannya kembali ke tas ta

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status