LOGIN“Tidak mungkin…” Aurel mencengkeram lengan Damian semakin kuat.Wajah yang muncul di layar tablet itu membuat seluruh tubuhnya mendadak dingin. Ia mengenal perempuan tersebut. Bahkan terlalu mengenalnya untuk menganggap kemunculannya sebagai kebetulan.“Selena?” bisik Aurel.Perempuan di layar tersenyum. “Lama tidak bertemu, Sayang.”Damian langsung merebut tablet dari tangan anak buahnya. “Apa yang kau lakukan di sana?”Selena tidak terlihat terganggu oleh pertanyaan itu. Ia justru mengalihkan pandangannya kepada Aurel, seolah-olah Damian tidak lebih dari gangguan kecil. “Aku sedang mengambil kembali sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.”“Lepaskan Elias!” bentak Aurel.“Elias?” Selena tertawa pelan. “Kau masih mengkhawatirkan orang-orang yang bahkan tidak pernah mengatakan seluruh kebenaran kepadamu?”Kamera bergeser, Elias terlihat terbaring dengan pisau di dekat lehernya. Di belakangnya berdiri seorang pria yang mengenakan jas hitam. Wajah pria itu tidak terlihat jelas karena
“Dan malam ini, salah satu dari kalian akan membuktikan bahwa eksperimen kami berhasil—” Suara perempuan itu menggema dari pengeras suara di seluruh ruangan.Aurel tidak bergerak, tatapannya terpaku pada sosok di balik kaca tebal. Perempuan itu memiliki wajah yang nyaris identik dengannya. Bentuk mata, garis rahang, bahkan cara perempuan itu memiringkan kepala terasa begitu familiar. Seolah-olah Aurel sedang menatap bayangan dirinya sendiri yang telah hidup puluhan tahun lebih lama. Namun, ada sesuatu yang membuatnya muak, perempuan itu tersenyum. Bukan senyum seorang ibu yang akhirnya bertemu anaknya. Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan mainan lamanya.“Jadi, selama ini kalian menganggap hidup manusia sebagai permainan?” Damian melangkah maju. Pistol di tangannya terangkat, mengarah tepat ke kaca. “Kau pikir aku akan mengikuti aturanmu?”“Damian,” Aurel memperingatkan.“Jangan halangi aku.”“Kalau kau menembak kaca itu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi.”Perempua
“Lepaskan dia.” Suara Damian terdengar rendah, tetapi penuh ancaman.Pria yang berdiri di ambang pintu tidak menurunkan pistolnya. Wajahnya benar-benar identik dengan Damian. Bentuk mata, rahang, hidung, bahkan bekas luka kecil di dekat alis mereka sama persis. Namun, ada sesuatu yang berbeda.Pria itu tersenyum ketika melihat Aurel ketakutan. “Jadi, ini perempuan yang membuatmu begitu mudah dikendalikan?”Aurel mengangkat pistolnya, meskipun tangan kirinya masih gemetar akibat luka di bahunya. “Kalau kau memang punya masalah dengan Damian, hadapi dia. Jangan sembunyi di belakangku.”Pria itu tertawa. “Aku suka keberanianmu.”“Sayangnya, aku tidak suka wajahmu.”Damian hampir tersenyum mendengar jawaban Aurel, tetapi situasinya terlalu berbahaya untuk bercanda.“Siapa namamu?” tanya Damian.Pria itu menoleh kepadanya.“Kau benar-benar ingin tahu?”“Aku tidak akan bertanya dua kali.” “Namaku Darius.”Ia mengucapkannya dengan tenang, kemudian mengarahkan pistol sedikit lebih tinggi ke ke
“DAMIAN, JANGAN PERCAYA MAGNUS! DIA BUKAN AYAHMU—DAN ORANG YANG ADA DIBELAKANGMU ADALAH—” Suara Aurel terputus oleh ledakan.Damian langsung berbalik, sebuah bayangan bergerak dari balik kontainer, terlalu cepat untuk dikenali. Damian mengangkat pistol, tetapi seseorang menghantam lengannya dari samping hingga senjatanya terlepas dan jatuh ke lantai beton. Sebuah laras dingin menempel di belakang kepalanya.“Jangan bergerak, Nak.” Suara itu membuat seluruh tubuh Damian menegang.Ia mengenal suara tersebut, suara yang pernah muncul dalam rekaman lama Proyek Phoenix. Suara yang memerintahkan para penjaga untuk membawa anak-anak ke ruang operasi. Suara yang selama ini hanya terdengar dari balik pengeras suara.“Lepaskan senjatamu,” lanjut pria itu.Damian mengangkat kedua tangannya perlahan, tetapi matanya tetap tertuju kepada Magnus yang berdiri beberapa meter di depannya. Magnus tidak terlihat terkejut, justru sebaliknya, pria itu tersenyum seolah kedatangan orang tersebut telah ia per
“Ayah kandungmu yang sebenarnya adalah pria yang selama ini kau sumpahi akan kau bunuh... dan dia baru saja tiba di gedung ini.”Damian menatap Elena tanpa berkedip. “Siapa?”Elena membuka mulut, tetapi suara ledakan dari lantai atas memotong jawabannya. Dinding ruang kendali bergetar. Lampu berkedip beberapa kali sebelum sebagian padam, menyisakan cahaya merah dari sistem darurat.Elias segera mengangkat senjata. “Bos, kita kedatangan tamu!”Dari pengeras suara terdengar suara langkah kaki, kemudian rentetan tembakan yang semakin mendekat. Seseorang telah menembus penjagaan luar dan bergerak langsung menuju laboratorium.Damian mencengkeram lengan Elena. “Sebutkan namanya!”“Damian, dengarkan aku—”“AKU SUDAH TERLALU LAMA MENDENGARKAN KEBOHONGANMU!”Aurel tersentak. Ia belum pernah melihat Damian kehilangan kendali seperti itu. Bahkan ketika dikhianati, diserang, atau hampir kehilangan nyawa, Damian selalu mampu menjaga wajahnya tetap dingin. Sekarang, kemarahan lelaki itu terlihat b
“Bayi yang sebenarnya dicuri dari keluarga Varez adalah—”“Cukup, Selena!” Suara Elena menggema di ruang kendali.Namun, Selena tidak menurunkan pistolnya. Matanya tetap tertuju kepada perempuan yang selama puluhan tahun menyimpan rahasia itu, sementara air mata mengalir tanpa bisa ia tahan.“Tidak. Kali ini aku akan menyelesaikannya.” Selena menggeleng. “Kau sudah terlalu lama memutuskan siapa yang berhak mengetahui kebenaran dan siapa yang harus hidup dalam kebohongan.” Aurel berdiri kaku di samping Damian.“Selena,” panggilnya lirih. “Tolong katakan kepadaku bahwa semua ini tidak benar.”Selena menoleh, tatapan mereka bertemu, dan untuk pertama kalinya Aurel tidak melihat ambisi atau kebencian di mata perempuan itu. Yang ada hanya kesedihan mendalam, seperti seseorang yang telah kehilangan sesuatu bahkan sebelum sempat memilikinya.“Aku tidak tahu kau masih hidup,” kata Selena.Aurel mengerutkan kening. “Apa?”“Pada malam kalian dilahirkan, dua bayi dibawa keluar dari fasilitas in







