Se connecterSuara alarm masih meraung di seluruh mansion, langkah kaki para penjaga terdengar bersahutan di lorong. Dari luar, beberapa suara tembakan terdengar memecah malam yang sebelumnya sunyi. Damian berdiri di depan Aurel dengan pistol terangkat, wajahnya tegang. Namun bukan suara tembakan yang membuatnya khawatir, melainkan pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
"Aku sudah menunggumu selama dua puluh tahun, Damian." Ja
Gelap, itu hal pertama yang Aurel rasakan ketika kesadarannya perlahan kembali. Kepalanya berdenyut hebat. Tubuhnya terasa berat, sementara kedua tangannya dingin seperti baru saja direndam air es. Dia mencoba bergerak tidak bisa.Pergelangan tangannya terikat. “Apa ?”Napas Aurel memburu, ingatan terakhir kembali sedikit demi sedikit mobil, Damian benturan kaca pecah, Seseorang menariknya keluar.Kemudian semuanya gelap. “Damian...”Tidak ada jawaban, Aurel membuka mata lebih lebar, ruangan itu remang-remang. Hanya sebuah lampu menggantung di langit-langit. Dindingnya terbuat dari beton tua, dengan noda lembab di beberapa bagian.Dia mencoba menarik tangannya. Krek. Rantai di pergelangan tangannya bergerak.Aurel menahan panik. “Tenang... tenang...”Dia mengatur napas, kalau orang-orang yang menculiknya ingin membunuhnya, mereka pasti tidak akan membawanya ke tempat seperti ini. Berarti mereka menginginkannya hidup pertanyaannya untuk apa? Pintu besi di depannya tiba-tiba terbuka. KRE
“Orang yang berdiri di balik kehancuran keluarga Hartwell...” Kata-kata Elias masih menggantung di udara.Aurel berdiri membeku di belakangnya. Di balik pintu, suara langkah kaki semakin dekat satu, dua, tiga kemudian BRAK! Pintu ruangan dihantam begitu keras sampai dinding di sekitarnya bergetar, Aurel tersentak.Elias segera mengangkat senjatanya. “Di belakangku.”“Aku tidak mau bersembunyi lagi.”“Aureliana, ini bukan waktunya keras kepala.”“Aku sudah terlalu lama tidak tahu apa-apa!”Elias menatapnya untuk sesaat, ekspresi pria itu melunak. “Kau akan tahu semuanya.”“Kalau aku tetap hidup.”“Ya.”Aurel menarik napas. “Kalau begitu aku akan tetap hidup.”Hantaman kedua terdengar. BRAK! Kayu pintu mulai retak, Elias mengarahkan senjatanya. “Begitu pintunya terbuka, kau lari ke lorong belakang.”“Dan kau?”“Aku menyusul.”Aurel tahu itu kebohongan, dia bisa melihatnya dari tatapan Elias. Pria itu tidak berniat menyusul.Dia berniat menahan mereka sendirian. “Aku tidak akan meninggal
“Aureliana...” Suara pria itu kembali terdengar dari ujung tangga.Aurel berdiri kaku, jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya sendiri terasa berdenyut.“Siapa kau?”Pria itu tidak menjawab, bayangannya semakin mendekat, tetapi wajahnya tetap tertutup kegelapan. Aurel mundur perlahan, tangannya meraba permukaan meja, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk melindungi diri.“Jangan mendekat.”Pria itu berhenti, kemudian terdengar suara tawa kecil. “Masih sama seperti dulu.”Aurel mengernyit. “Dulu?”“Kau memang tidak mengingatku.” Pria itu akhirnya melangkah ke area yang terkena cahaya bulan.Seorang pria berusia sekitar lima puluhan berdiri di sana. Rambutnya mulai dipenuhi uban, wajahnya memiliki bekas luka tipis di dekat pelipis, dan matanya menatap Aurel seolah sudah mengenalnya selama bertahun-tahun.Aurel menahan napas. “Aku tidak mengenalmu.”“Aku tahu.” Pria itu tersenyum tipis.“Karena malam itu, kau masih terlalu kecil untuk mengingat.”Aurel merasakan tubuhnya l
Mobil itu terus melaju meninggalkan mansion Varez, Aurel tidak menoleh lagi setidaknya, itulah yang dia coba lakukan. Namun bayangan Damian yang berdiri sendirian di depan mansion terus memenuhi pikirannya. Wajah pria itu terlihat begitu tenang ketika membiarkannya pergi, tetapi Aurel tahu ada sesuatu yang disembunyikan di balik tatapan tersebut. Rasa sakit, takut kehilangan dan mungkin penyesalan.Aurel menyandarkan kepala ke kaca jendela. “Aku harus mulai hidup baru.”Kalimat itu keluar seperti bisikan, hidup baru, tanpa mansion, tanpa perang antar keluarga mafia, tanpa dokumen rahasia, tanpa Damian, Aurel memejamkan mata. Namun baru beberapa detik, ponselnya bergetar satu pesan dari Damian. Aku tidak akan mengganggumu, tetapi kalau kau membutuhkan aku, telepon kapanpun.Aurel membaca pesan itu berkali-kali, jarinya sempat mengetik balasan terima kasih lalu dihapus. Dia mengetik lagi, aku juga mencintaimu dihapus lagi. Pada akhirnya, Aurel hanya mematikan layar ponselnya.“Kenapa pe
“Akhirnya ... pewaris Hartwell keluar dari kandangnya.” Suara itu membuat tubuh Aurel menegang.Matanya masih tertuju pada mobil hitam di depannya. Tidak ada siapa pun yang terlihat di balik kaca gelapnya, tetapi suara tadi terdengar begitu jelas seolah seseorang berdiri tepat di samping telinganya, Aurel mundur satu langkah lalu dua langkah.Tangannya menggenggam kartu hitam bersimbol phoenix itu semakin erat. “Siapa kau?”Tidak ada jawaban hanya suara mesin mobil yang tiba-tiba menyala. Vrrrmmm… Aurel tersentak.Dari kejauhan, Damian langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres. “AUREL!”Damian berlari keluar dari pintu mansion, Aurel menoleh untuk sesaat, mata mereka kembali bertemu.Tatapan Damian berubah panik ketika melihat mobil hitam itu mulai bergerak. “Aurel, jangan dekati mobil itu!”“Aku tidak akan!”Aurel berbalik dan hendak berlari kembali. Namun DOR! Sebuah tembakan menghantam tanah tepat di samping kakinya.Aurel menjerit dan refleks menjatuhkan diri. “TIARAP!”Dami
Pesan itu masih terpampang di layar ponsel Viktor. “Biarkan Aurel pergi … Karena begitu dia meninggalkan mansion, permainan sebenarnya akan dimulai.”Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang bicara, suasana di ruangan itu terasa jauh lebih dingin daripada sebelumnya. Aurel berdiri di dekat tangga dengan sebuah tas kecil di tangannya. Matanya masih sembap, tetapi kali ini tidak ada air mata yang jatuh. Entah karena sudah terlalu lelah menangis atau karena hatinya mulai belajar mengeras.“Aku tetap akan pergi.” Suara Aurel terdengar pelan.Damian yang berdiri beberapa langkah darinya langsung menatapnya. “Aurel.”“Aku sudah memutuskan.”







