เข้าสู่ระบบ“Lepaskan dia.” Suara Damian terdengar rendah, tetapi penuh ancaman.Pria yang berdiri di ambang pintu tidak menurunkan pistolnya. Wajahnya benar-benar identik dengan Damian. Bentuk mata, rahang, hidung, bahkan bekas luka kecil di dekat alis mereka sama persis. Namun, ada sesuatu yang berbeda.Pria itu tersenyum ketika melihat Aurel ketakutan. “Jadi, ini perempuan yang membuatmu begitu mudah dikendalikan?”Aurel mengangkat pistolnya, meskipun tangan kirinya masih gemetar akibat luka di bahunya. “Kalau kau memang punya masalah dengan Damian, hadapi dia. Jangan sembunyi di belakangku.”Pria itu tertawa. “Aku suka keberanianmu.”“Sayangnya, aku tidak suka wajahmu.”Damian hampir tersenyum mendengar jawaban Aurel, tetapi situasinya terlalu berbahaya untuk bercanda.“Siapa namamu?” tanya Damian.Pria itu menoleh kepadanya.“Kau benar-benar ingin tahu?”“Aku tidak akan bertanya dua kali.” “Namaku Darius.”Ia mengucapkannya dengan tenang, kemudian mengarahkan pistol sedikit lebih tinggi ke ke
“DAMIAN, JANGAN PERCAYA MAGNUS! DIA BUKAN AYAHMU—DAN ORANG YANG ADA DIBELAKANGMU ADALAH—” Suara Aurel terputus oleh ledakan.Damian langsung berbalik, sebuah bayangan bergerak dari balik kontainer, terlalu cepat untuk dikenali. Damian mengangkat pistol, tetapi seseorang menghantam lengannya dari samping hingga senjatanya terlepas dan jatuh ke lantai beton. Sebuah laras dingin menempel di belakang kepalanya.“Jangan bergerak, Nak.” Suara itu membuat seluruh tubuh Damian menegang.Ia mengenal suara tersebut, suara yang pernah muncul dalam rekaman lama Proyek Phoenix. Suara yang memerintahkan para penjaga untuk membawa anak-anak ke ruang operasi. Suara yang selama ini hanya terdengar dari balik pengeras suara.“Lepaskan senjatamu,” lanjut pria itu.Damian mengangkat kedua tangannya perlahan, tetapi matanya tetap tertuju kepada Magnus yang berdiri beberapa meter di depannya. Magnus tidak terlihat terkejut, justru sebaliknya, pria itu tersenyum seolah kedatangan orang tersebut telah ia per
“Ayah kandungmu yang sebenarnya adalah pria yang selama ini kau sumpahi akan kau bunuh... dan dia baru saja tiba di gedung ini.”Damian menatap Elena tanpa berkedip. “Siapa?”Elena membuka mulut, tetapi suara ledakan dari lantai atas memotong jawabannya. Dinding ruang kendali bergetar. Lampu berkedip beberapa kali sebelum sebagian padam, menyisakan cahaya merah dari sistem darurat.Elias segera mengangkat senjata. “Bos, kita kedatangan tamu!”Dari pengeras suara terdengar suara langkah kaki, kemudian rentetan tembakan yang semakin mendekat. Seseorang telah menembus penjagaan luar dan bergerak langsung menuju laboratorium.Damian mencengkeram lengan Elena. “Sebutkan namanya!”“Damian, dengarkan aku—”“AKU SUDAH TERLALU LAMA MENDENGARKAN KEBOHONGANMU!”Aurel tersentak. Ia belum pernah melihat Damian kehilangan kendali seperti itu. Bahkan ketika dikhianati, diserang, atau hampir kehilangan nyawa, Damian selalu mampu menjaga wajahnya tetap dingin. Sekarang, kemarahan lelaki itu terlihat b
“Bayi yang sebenarnya dicuri dari keluarga Varez adalah—”“Cukup, Selena!” Suara Elena menggema di ruang kendali.Namun, Selena tidak menurunkan pistolnya. Matanya tetap tertuju kepada perempuan yang selama puluhan tahun menyimpan rahasia itu, sementara air mata mengalir tanpa bisa ia tahan.“Tidak. Kali ini aku akan menyelesaikannya.” Selena menggeleng. “Kau sudah terlalu lama memutuskan siapa yang berhak mengetahui kebenaran dan siapa yang harus hidup dalam kebohongan.” Aurel berdiri kaku di samping Damian.“Selena,” panggilnya lirih. “Tolong katakan kepadaku bahwa semua ini tidak benar.”Selena menoleh, tatapan mereka bertemu, dan untuk pertama kalinya Aurel tidak melihat ambisi atau kebencian di mata perempuan itu. Yang ada hanya kesedihan mendalam, seperti seseorang yang telah kehilangan sesuatu bahkan sebelum sempat memilikinya.“Aku tidak tahu kau masih hidup,” kata Selena.Aurel mengerutkan kening. “Apa?”“Pada malam kalian dilahirkan, dua bayi dibawa keluar dari fasilitas in
“...karena ibu kandungku adalah—” Suara Aurel terputus.“Aurel?” Damian langsung berdiri tegak. “Aurel, jawab aku!”Hanya suara napas tersengal yang terdengar dari seberang telepon. Disusul bunyi benda jatuh dan sebuah teriakan tertahan.“Aurel!”“Damian...” Suara perempuan itu kembali terdengar, kali ini jauh lebih lemah. “Jangan datang ke sini. Mereka sengaja ingin kau melihatnya.”“Di mana kau? Sebutkan lokasimu!”“Aku berada di laboratorium lama. Aku menemukan berkas tentang kelahiranku dan...” Aurel terdiam, seolah seseorang sedang berdiri tepat di belakangnya. “Damian, kalau kau melihat seorang perempuan bernama Elena, jangan—” Sambungan terputus.Damian menatap layar ponselnya dengan mata membara.“Elena?” Elias mengulang nama itu. “Bukankah Elena Hartwell adalah nama ibu kandungmu?”Damian perlahan menoleh, selama ini, ia hanya mengenal ibunya melalui foto-foto lama dan cerita yang tidak pernah lengkap. Elena Hartwell dikabarkan meninggal dalam kebakaran yang menghancurkan sal
“Maaf, Damian. Aku sudah memperingatkanmu agar tidak membawa dia ke sini. Sekarang, salah satu dari kalian harus mati agar Proyek Phoenix tetap menjadi rahasia. Damian mengangkat pistolnya tanpa ragu.“Turunkan senjatamu, Adrian.” Pria di ambang pintu itu tersenyum tipis.Adrian Varez, lelaki yang selama ini dianggap telah mati, yang kemunculannya kembali membawa begitu banyak rahasia tentang keluarga Hartwell. Kini ia berdiri di hadapan Damian, mengenakan setelan hitam yang masih rapi, seolah tidak ada baku tembak dan darah yang baru saja memenuhi gedung itu.“Senang melihatmu masih mengingatku,” kata Adrian.“Sayangnya, aku juga ingat semua orang yang seharusnya sudah mati tetapi terus muncul untuk menghancurkan hidupku.”“Kalau begitu, kau pasti senang bertemu dengan dirimu sendiri.”Damian mengerutkan kening. Adrian mengangkat sebuah tablet. Di layarnya terpampang foto seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun, berdiri di depan bangunan putih dengan nomor identifikasi d







