LOGIN“Pilih, Damian. Sahabatmu atau perempuan yang kau cintai. Karena malam ini, kau hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka.” Suara pria itu masih terngiang di telinga Damian setelah sambungan telepon terputus.Damian menatap layar ponselnya. Tangannya mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. “Aku akan membunuh kalian semua.”Dia segera menghubungi nomor terakhir yang digunakan untuk meneleponnya. Tidak aktif. “Brengsek!”Ponselnya dilempar ke atas meja, Viktor menghilang. Aurel berada di tangan musuh. Organisasi Varez terpecah. Dan sekarang seseorang sengaja memainkan kelemahannya seolah-olah hidup manusia hanyalah bidak di atas papan catur. Damian berjalan mondar-mandir di ruang kerja.“Cari lokasi panggilan tadi,” perintahnya kepada anak buah yang berdiri di dekat komputer.“Kami sedang mencoba, Tuan. Nomornya menggunakan beberapa pengalihan.”“Kalau begitu lacak perangkat yang digunakan.”“Sudah, tetapi sinyalnya hanya aktif selama beberapa detik.”Damian berhent
“Jawab aku, Viktor. Apa yang kau lakukan di rumah Hartwell dua puluh tahun lalu?” Suara Damian terdengar rendah, tetapi justru itulah yang membuatnya mengerikan.Di layar komputer, rekaman lama itu masih terhenti pada gambar seorang pria yang menggendong anak perempuan kecil. Wajah pria itu terlihat jelas. Tidak ada kemungkinan salah mengenali, Viktor.Sahabat yang selama bertahun-tahun berdiri di sisi Damian. Orang yang mengetahui rahasia-rahasianya, mengatur pasukannya, dan berkali-kali mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya, sekarang, pria itu menjadi bagian dari misteri terbesar keluarga Hartwell. Viktor tidak segera menjawab, dia hanya menatap layar dengan rahang mengeras.“Matikan rekamannya,” katanya akhirnya.Damian tertawa pendek tanpa humor. “Kau pikir kau masih bisa menyuruhku melakukan sesuatu?”“Damian, dengarkan aku dulu.”“Dua puluh tahun, Viktor.” Damian menunjuk layar. “Selama dua puluh tahun kau berada di sampingku. Kau tahu aku mencari kebenaran tentang kebakar
“Kalau kau benar-benar menyelamatkanku malam itu, kenapa kau membiarkanku hidup dalam kebohongan selama dua puluh tahun?” Aurel menatap pria di hadapannya tanpa berkedip.Pria itu tidak langsung menjawab. Dia justru menarik kursi, duduk dengan tenang, lalu memberi isyarat kepada para penjaga agar meninggalkan ruangan, pintu besi tertutup, kini hanya mereka berdua.“Aku tidak membiarkanmu hidup dalam kebohongan,” katanya. “Aku memastikan kau tetap hidup sampai waktunya tiba.”Aurel tertawa hambar.“Semua orang selalu punya alasan yang terdengar bagus. Magnus ingin melindungiku. Damian ingin menjagaku. Elias menjalankan perintah seseorang. Sekarang kau datang dan mengatakan hal yang sama.” Dia mencondongkan tubuh ke depan.
“Dia...” Aurel menatap sosok di hadapannya dengan napas tertahan.Ruangan itu terasa semakin sempit. Namun sebelum Aurel sempat bertanya, pria tersebut justru tersenyum dan melangkah mundur.“Tidak perlu tahu sekarang.”“Kalau begitu kenapa membawaku ke sini?”“Karena sebentar lagi kau akan melihat sendiri bagaimana sebuah kerajaan runtuh dari dalam.”Pintu besi kembali tertutup. Brak! Aurel berdiri terpaku, organisasi Varez sedang terpecah. Damian kehilangan sebagian kekuasaannya, Selena bergerak dan dirinya masih berada di tangan musuh. Semuanya terasa seperti kepingan puzzle yang perlahan menemukan tempatnya, tetapi ada satu hal yang tidak bisa Aurel abaikan.
“Mulai malam ini, Damian Varez bukan lagi pemimpin.” Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.Viktor menatap Selena dengan wajah tidak percaya. “Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?”Selena tersenyum. “Sangat sadar.”Di hadapan mereka berdiri beberapa anggota senior organisasi Varez. Orang-orang yang selama bertahun-tahun tunduk kepada keluarga Varez kini saling bertukar pandang. Tidak ada yang berani bicara lebih dulu.Sampai seorang pria tua di ujung meja mengangkat suara. “Damian masih hidup.”“Benar.”“Dan selama dia hidup, tidak ada alasan untuk menggantikannya.”
Malam semakin larut, tetapi bagi Selena, malam baru saja dimulai, di sebuah ruangan gelap yang jauh dari mansion Varez, Selena berdiri di depan jendela besar sambil memegang segelas minuman. Kota terlihat berkilauan dari ketinggian, tetapi tatapannya sama sekali tidak menikmati pemandangan itu. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama. Aurel dan satu nama lain yang jauh lebih mengganggunya Damian, Selena tersenyum tipis ketika sebuah ponsel di atas meja bergetar, dia mengambilnya“Bicara.” Suara pria di seberang terdengar rendah.“Pewaris Hartwell sudah diamankan.” Senyum Selena semakin lebar.“Bagus.”“Lucien sudah bergerak.”Selena terdiam. “Dan Damian?”“Dia mengerahkan seluruh orangnya.”Selena berjalan perlahan menuju meja. “Seperti yang kuduga.”“Apakah kita tetap menjalankan rencana?”Selena meletakkan gelasnya. “Tidak.”Pria itu terdiam.“Kita percepat.”“Selena, kalau kau mempercepat—”“Aku tidak peduli.” Nada suaranya berubah dingin.“Sudah terlalu lama aku menunggu.”Dia memb







