Home / Mafia / Terjebak Dengan Mafia Obsesif / Bab 76 — Musuh Lama Kembali

Share

Bab 76 — Musuh Lama Kembali

Author: Hime_Hikari
last update publish date: 2026-10-24 21:10:44

“Maaf, Damian. Aku sudah memperingatkanmu agar tidak membawa dia ke sini. Sekarang, salah satu dari kalian harus mati agar Proyek Phoenix tetap menjadi rahasia. Damian mengangkat pistolnya tanpa ragu.

“Turunkan senjatamu, Adrian.” Pria di ambang pintu itu tersenyum tipis.

Adrian Varez, lelaki yang selama ini dianggap telah mati, yang kemunculannya kembali membawa begitu banyak rahasia tentang keluarga Hartwell. Kini ia berdiri di hadapan Damian, mengenakan setelan hitam yang masih rapi, seolah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Dengan Mafia Obsesif   Bab 79 — Kota dalam Kekacauan

    “Ayah kandungmu yang sebenarnya adalah pria yang selama ini kau sumpahi akan kau bunuh... dan dia baru saja tiba di gedung ini.”Damian menatap Elena tanpa berkedip. “Siapa?”Elena membuka mulut, tetapi suara ledakan dari lantai atas memotong jawabannya. Dinding ruang kendali bergetar. Lampu berkedip beberapa kali sebelum sebagian padam, menyisakan cahaya merah dari sistem darurat.Elias segera mengangkat senjata. “Bos, kita kedatangan tamu!”Dari pengeras suara terdengar suara langkah kaki, kemudian rentetan tembakan yang semakin mendekat. Seseorang telah menembus penjagaan luar dan bergerak langsung menuju laboratorium.Damian mencengkeram lengan Elena. “Sebutkan namanya!”“Damian, dengarkan aku—”“AKU SUDAH TERLALU LAMA MENDENGARKAN KEBOHONGANMU!”Aurel tersentak. Ia belum pernah melihat Damian kehilangan kendali seperti itu. Bahkan ketika dikhianati, diserang, atau hampir kehilangan nyawa, Damian selalu mampu menjaga wajahnya tetap dingin. Sekarang, kemarahan lelaki itu terlihat b

  • Terjebak Dengan Mafia Obsesif   Bab 78 — Janji untuk Bertahan

    “Bayi yang sebenarnya dicuri dari keluarga Varez adalah—”“Cukup, Selena!” Suara Elena menggema di ruang kendali.Namun, Selena tidak menurunkan pistolnya. Matanya tetap tertuju kepada perempuan yang selama puluhan tahun menyimpan rahasia itu, sementara air mata mengalir tanpa bisa ia tahan.“Tidak. Kali ini aku akan menyelesaikannya.” Selena menggeleng. “Kau sudah terlalu lama memutuskan siapa yang berhak mengetahui kebenaran dan siapa yang harus hidup dalam kebohongan.” Aurel berdiri kaku di samping Damian.“Selena,” panggilnya lirih. “Tolong katakan kepadaku bahwa semua ini tidak benar.”Selena menoleh, tatapan mereka bertemu, dan untuk pertama kalinya Aurel tidak melihat ambisi atau kebencian di mata perempuan itu. Yang ada hanya kesedihan mendalam, seperti seseorang yang telah kehilangan sesuatu bahkan sebelum sempat memilikinya.“Aku tidak tahu kau masih hidup,” kata Selena.Aurel mengerutkan kening. “Apa?”“Pada malam kalian dilahirkan, dua bayi dibawa keluar dari fasilitas in

  • Terjebak Dengan Mafia Obsesif   Bab 77 — Luka yang Mendalam

    “...karena ibu kandungku adalah—” Suara Aurel terputus.“Aurel?” Damian langsung berdiri tegak. “Aurel, jawab aku!”Hanya suara napas tersengal yang terdengar dari seberang telepon. Disusul bunyi benda jatuh dan sebuah teriakan tertahan.“Aurel!”“Damian...” Suara perempuan itu kembali terdengar, kali ini jauh lebih lemah. “Jangan datang ke sini. Mereka sengaja ingin kau melihatnya.”“Di mana kau? Sebutkan lokasimu!”“Aku berada di laboratorium lama. Aku menemukan berkas tentang kelahiranku dan...” Aurel terdiam, seolah seseorang sedang berdiri tepat di belakangnya. “Damian, kalau kau melihat seorang perempuan bernama Elena, jangan—” Sambungan terputus.Damian menatap layar ponselnya dengan mata membara.“Elena?” Elias mengulang nama itu. “Bukankah Elena Hartwell adalah nama ibu kandungmu?”Damian perlahan menoleh, selama ini, ia hanya mengenal ibunya melalui foto-foto lama dan cerita yang tidak pernah lengkap. Elena Hartwell dikabarkan meninggal dalam kebakaran yang menghancurkan sal

  • Terjebak Dengan Mafia Obsesif   Bab 76 — Musuh Lama Kembali

    “Maaf, Damian. Aku sudah memperingatkanmu agar tidak membawa dia ke sini. Sekarang, salah satu dari kalian harus mati agar Proyek Phoenix tetap menjadi rahasia. Damian mengangkat pistolnya tanpa ragu.“Turunkan senjatamu, Adrian.” Pria di ambang pintu itu tersenyum tipis.Adrian Varez, lelaki yang selama ini dianggap telah mati, yang kemunculannya kembali membawa begitu banyak rahasia tentang keluarga Hartwell. Kini ia berdiri di hadapan Damian, mengenakan setelan hitam yang masih rapi, seolah tidak ada baku tembak dan darah yang baru saja memenuhi gedung itu.“Senang melihatmu masih mengingatku,” kata Adrian.“Sayangnya, aku juga ingat semua orang yang seharusnya sudah mati tetapi terus muncul untuk menghancurkan hidupku.”“Kalau begitu, kau pasti senang bertemu dengan dirimu sendiri.”Damian mengerutkan kening. Adrian mengangkat sebuah tablet. Di layarnya terpampang foto seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun, berdiri di depan bangunan putih dengan nomor identifikasi d

  • Terjebak Dengan Mafia Obsesif   Bab 75 — Baku Tembak

    “Karena orang yang membunuh ibu Aurel berdiri tepat di sampingnya.” Damian langsung mengangkat pistol.“Keluar dari bayanganmu dan ulangi kalimat itu sekali lagi,” geramnya.Pria di ujung lorong tidak bergerak. Wajahnya tertutup sebagian oleh bayangan, tetapi senjata di tangannya mengarah tepat ke dada Damian. Di belakang pria itu, beberapa orang bersenjata mulai bermunculan dari pintu-pintu samping. Aurel merasakan genggaman Damian mengencang.“Jangan percaya omongannya,” bisik Damian tanpa mengalihkan pandangan. “Dia sedang berusaha membuatmu meragukanku.”“Kalau memang bohong, kenapa kau tidak langsung membantahnya?” Pertanyaan itu membuat Damian terdiam sepersekian detik.Dan bagi Aurel, sepersekian detik itu terasa seperti jawaban. “Damian?”“Aurel, sekarang bukan waktunya.”“Lalu kapan? Setelah kita keluar dari sini? Setelah kau kembali menyimpan semuanya dariku?” Suara Aurel bergetar, tetapi ia tidak melepaskan tangannya. “Aku sudah terlalu sering kehilangan orang yang kucintai

  • Terjebak Dengan Mafia Obsesif   Bab 74 — Operasi Penyelamatan

    “Maafkan aku, Nak. Tapi demi menyelamatkan Aurel, malam ini kau harus mati—”Damian membeku, bukan karena pistol yang diarahkan tepat ke dadanya. Bukan juga karena suara tembakan yang mungkin bisa meledak kapan saja. Namun, karena wajah di hadapannya adalah wajah yang selama bertahun-tahun menghantui mimpi buruknya.Wajah seseorang yang seharusnya sudah mati. “...Ayah?”Pria itu tidak menjawab, jari telunjuknya tetap berada di pelatuk, sementara matanya menatap Damian dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Ada rasa bersalah di sana, tetapi juga sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kebencian. Keputusan, Damian mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, menahan begitu banyak pertanyaan yang mendadak berebut keluar dari mulutnya.“Tidak mungkin.” Damian menggeleng pelan.“Aku melihat laporan kematianmu. Aku melihat peti matimu. Aku bahkan—”“Kau melihat apa yang mereka ingin kau lihat.” Kalimat itu menghantam Damian lebih keras daripada peluru.“Siapa mereka?” bentak Damian. “P

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status