Se connecterNova terbaring lemas di atas ranjang, rambutnya tergerai acak-acakan, napasnya masih tersengal. Matanya memandang langit-langit kamar dengan ekspresi campuran antara takjub, lelah, dan bahagia. Ada senyum tipis yang tidak bisa hilang dari wajahnya."Ya ampun," bisik Nova. "Itu... itu luar biasa."Beni sudah duduk di tepi ranjang, memakai kembali kemejanya. Dia menoleh sebentar. "Kamu bilang begitu karena sudah lama tidak merasakan, Bu.""Jangan panggil saya Bu. Di dalam kamar ini, panggil saya Nova. Dan kamu... kamu bukan penjaga kos biasa." Nova bangkit pelan, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Saya tidak pernah merasakan yang seperti itu. Bahkan di malam pertama pernikahan saya pun tidak."Beni tersenyum kecil. "Syukurlah kalau begitu."Nova menarik selimut hingga menutupi dadanya. "Mas Beni, saya mau kasih kamu uang. Berapa pun yang kamu minta. Anggap saja tanda terima kasih."Beni menggeleng. "Tidak usah. Saya bukan gigolo, Nova. Saya tidak mau menerima uang dari wanita
Nova mengubah gerakan menjadi memutar. Pinggul bergeser ke depan dan belakang sambil tetap menahan batang kejantanan di dalam sedalam mungkin. Setiap gesekan membuat tubuhnya bergetar lebih kuat. Keringat mulai membasahi punggung dan dada.“Enak… enak sekali,” desah Nova terus-menerus. “Saya bisa merasakan setiap denyutmu di dalam. Setiap kali saya turun, saya merasa penuh sampai ke perut.”Beni memegang pinggang Nova, membantu mendorongnya turun lebih dalam setiap kali wanita itu naik. Nova semakin bebas. Dia mencondongkan badan ke depan, wajah mendekat ke wajah Beni. Napas mereka saling bertumpuk. Sari terus menggoyangkan pinggang, naik turun, memutar, menikmati setiap inci batang kejantanan yang memenuhi liang keintimannya tanpa henti.“Lihat… seberapa dalam kamu masuk,” bisiknya. “Batangmu benar-benar besar. Kerasnya tidak berkurang sama sekali. Saya merasa seperti milikmu sekarang.”Tempo naik turunnya semakin cepat. Payudaranya bergoyang hebat. Kuku-kukunya menekan dada Beni. De
Beni membuka kemeja hingga terbuka sepenuhnya, lalu menurunkan celana dan kain dalamannya. Batang kejantanan yang besar dan sudah tegang terbebas di depan Nova. Wanita muda itu menelan ludah, mata membelalak menatap ukuran yang jauh di luar bayangannya.Nova berlutut di lantai. Kedua tangannya memegang pangkal batang kejantanan Beni dengan lembut, seolah sedang mengagumi. Dia mendekatkan wajah, mencium ujungnya pelan, lalu menjilat sepanjang sisinya dari bawah ke atas. Napasnya sudah memburu.“Besar sekali…” bisiknya, hampir tidak percaya.Dia membuka mulut dan mulai mengulum. Lidahnya berputar di kepala batang kejantanan, basah dan hangat, sebelum dia menelan lebih dalam. Pipinya mengempis setiap kali menghisap. Gerakannya penuh hasrat, tidak ragu-ragu. Air liurnya mengalir deras, membasahi sepanjang batang kejantanan hingga ke pangkal.Hasrat Nova naik dengan cepat hanya karena mengulum ukuran yang besar itu. Pahanya saling menekan. Desahan pelan keluar setiap kali dia menarik napas
Beni menatap layar ponselnya yang menunjukkan pukul sembilan malam. Seharian ini dia fokus menjaga kos karena Tari izin pulang ke kampung untuk menghadiri pernikahan saudaranya. Jadi Beni harus mengurus semuanya sendirian. Dari menerima tamu, mencatat administrasi, sampai mengawasi orang-orang yang keluar masuk.Suasana kos malam ini sebenarnya cukup tenang. Beberapa penghuni harian masih ada yang keluar, tapi kebanyakan sudah kembali ke kamar masing-masing. Beni sedang duduk di meja resepsionis sambil menyeruput kopi hitam ketika pintu depan terbuka.Sepasang suami istri masuk. Lelakinya tampak berumur di akhir empat puluhan, dengan perawakan tegap, rambut yang mulai memutih di pelipis, dan gaya bicara yang pelan tapi berwibawa. Sementara istrinya masih sangat muda, paling-paling dua puluhan awal. Kulitnya bersih, rambutnya panjang tergerai, dan penampilannya modis. Mereka berdua terlihat serasi, seperti pasangan yang sering muncul di majalah gaya hidup."Selamat malam, Pak, Bu. Mau
Pamela melangkah masuk. "Beni? Penjaga kos yang dulu ditipu Vera? Ngapain kamu di sini?""Saya mau bantu anak ini.""Bantu? Kamu? Penjaga kos?" Pamela tertawa kecil, lalu menoleh ke dokter di belakangnya. "Rangga, ini temannya Vera dulu. Cuma penjaga kos. Katanya mau bantu ngobatin pasien jantung. Lucu banget."Dokter Rangga ikut tersenyum sinis. "Penjaga kos? Suruh dia keluar. Ini ruang perawatan intensif, bukan tempat main-main."Beni menatap keduanya dengan tenang. Kebijaksanaan tingkat dua langsung bekerja. Dia bisa melihat Pamela hanya ingin menjatuhkannya karena dulu Vera sering meremehkannya di depan teman-temannya. Dan Rangga adalah dokter yang terlalu percaya diri."Saya bukan main-main, Dokter. Nyawa anak ini terancam. Kalau tidak segera ditolong, dia bisa meninggal."Rangga melangkah maju. "Kamu tahu apa soal jantung? Apa kamu bisa baca monitor itu? Bisa bedakan antara miokardium dan endokardium?""Saya tidak tahu istilah itu. Tapi saya tahu kalau anak ini butuh pertolongan
Sari masih berbaring miring dalam pelukan Beni, napasnya perlahan mereda. Batang kejantanan masih tertanam di dalam liang kewanitaannya. Setelah beberapa saat dia berbisik pelan,“Sekarang dari atas. Saya mau melihat wajahmu.”Beni menarik batang kejantanan keluar dengan hati-hati. Sari berbalik terlentang, pahanya terbuka lebar, matanya menatap Beni dengan lembut. Beni menempatkan dirinya di antara kedua kaki Sari. Dia menopang tubuh dengan kedua tangan di samping kepala wanita itu. Ujung batang kejantanan menekan liang kewanitaannya yang masih basah, lalu masuk kembali dalam satu dorongan yang dalam dan pelan.Sari mengerang panjang, tangan langsung memeluk punggung Beni. Kuku-kukunya menekan kulit. Beni mulai bergerak. Pinggulnya naik turun dengan tempo yang mantap. Setiap hentakan membuat payudara Sari bergoyang. Mereka saling menatap tanpa memalingkan wajah.“Lebih dalam…” desah Sari, suaranya serak. “Saya mau merasakan kamu sampai ke ujung sambil melihatmu.”Beni menurut. Geraka
Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel
Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain
Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak
Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya







