LOGIN"Jangan ngasal kalau ngasih saran, Fahmi," tukas Rina sembari berusaha melepaskan pelukan dari pria itu.
Namun Fahmi sepertinya enggan melepaskan Rina. Tubuhnya masih terhuyung di dalam pelukan Fahmi. Bibirnya masih merasakan sisa hangat yang barusan menyentuhnya, sebuah ciuman yang tiba-tiba, liar, tapi entah mengapa ia tidak sempat menolaknya. Malah, sebentar tadi, dirinya sempat membalas. Fahmi menatap netra Rina langsung ke dalam manik matanya. Membuat Rina malah makin gelisah. Sebelah tangan Fahmi yang melingkari pinggang Rina itu semakin erat dan menempel. Sedangkan sebelah tangan lainnya, menangkup tengkuk Rina. Mata mereka saling menatap. Begerak dari netra dan turun ke arah bibir. Fahmi kembali mendaratkan bibirnya yang mulai menggigil itu pada bibir Rina. Sekilas ia merasakan Rina sedikit membalas ciumannya. Namun belum juga semenit, Rina tersentak, buru-buru mendorong dada Fahmi dengan kedua tangannya. Air cipratan dari gerakan itu memercik lagi ke wajah mereka. Nafasnya tersengal, jantungnya berdegup tak karuan. “Cukup, Fahmi! Gila kamu!” suaranya serak, basah, dan bergetar. “Kenapa kamu ke sini? Kenapa kamu segala menolong aku sih?! Lebih baik … lebih baik kamu nggak usah ikut campur dalam urusanku. Nggak usah menolongku!” Fahmi menatapnya dalam, mata gelapnya berkilat di bawah cahaya lampu taman. Rambutnya yang basah menetes, membentuk garis air di pipinya. Dada bidangnya naik turun cepat, masih menahan emosi. “Kalau aku nggak ikut campur, kamu sudah mati, Rin!” seru Fahmi, nadanya tegas dan lebih keras. “Kamu sadar nggak apa yang baru kamu lakukan tadi? Kamu sengaja menenggelamkan diri! Kamu bisa mati beneran! Konyol banget tindakanmu ini!" “Aku nggak peduli!” balas Rina terbata. Matanya basah, bukan hanya karena air kolam, tapi juga air mata yang bercampur. Fahmi mengibaskan tangannya ke air dengan frustrasi. “Kamu pikir mati itu solusi?! Apa kamu kira dengan bunuh diri semua masalahmu selesai?! Kamu cuma lari, Rin. Kamu lari dari luka, bukan hadapi dia!” Kata-kata itu menampar hati Rina. Ia terdiam, menggigil, matanya menatap kosong. Tapi di wajahnya ada kemarahan yang bercampur malu. “Kenapa kamu cerewet sekali?!” bentaknya. “Kamu bahkan bukan siapa-siapa dalam hidupku! Kamu cuma tetangga! Jadi jangan seenaknya mengaturku! Dan … jangan sok tau!” Fahmi maju setengah langkah, menatapnya lebih dekat. “Aku mungkin cuma tetangga, tapi aku nggak sanggup lihat kamu menyakiti dirimu sendiri. Kamu butuh teman bicara, Rin. Kalau kamu nggak bisa cerita sama Ervan, kalau kamu nggak bisa cerita sama siapa pun, cerita sama aku! Jangan pakai cara bodoh kayak tadi. Kamu bisa berenang, tapi kamu memilih tenggelam, itu nggak lucu sama sekali!” Rina tercekat. Kata-kata Fahmi menusuk seperti pisau. Ia tahu pria itu benar. Tapi egonya, rasa malunya, membuatnya menoleh ke arah lain. Ia berusaha berenang ke tepi kolam, lalu naik. Tubuhnya gemetar, gaun tipisnya menempel erat di kulit, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Fahmi ikut naik, langkahnya berat, air menetes dari celana panjangnya yang kini melekat di paha dan betis. Dada bidangnya, perut six-pack yang basah, berkilau di bawah lampu taman. Nafasnya masih berat. Rina menunduk cepat, pipinya memanas. Tapi di sela-sela lirikan kecil, matanya sempat menangkap tubuh Fahmi yang tegap dan kekar. Degup jantungnya semakin tidak karuan. “Pulanglah, Fahmi,” ucap Rina akhirnya dengan suara pelan, namun tegas. “Aku nggak butuh kamu di sini. Aku … aku bisa sendiri.” Fahmi berdiri tegak, air menetes dari rambut dan dagunya. Tatapannya menusuk. “Aku nggak akan pulang.” Rina mendongak, tak percaya. “Apa?!” “Aku nggak bisa ninggalin kamu kayak gini,” tegas Fahmi. “Aku tahu kalau aku pergi, kamu akan coba nyakitin dirimu lagi. Jadi jangan harap aku bakal pergi.” “Fahmi, jangan keras kepala! Aku bilang pergi, ya pergi!” suara Rina meninggi, nyaris teriak. “Terserah kamu marah. Aku tetap di sini. Jaga kamu ….” Rina geram. Ia melangkah cepat, tubuhnya masih basah kuyup, dan menarik lengan Fahmi dengan paksa. “Kalau kamu nggak mau pergi, aku yang akan menyeretmu keluar!” Namun tubuhnya sendiri terlalu lemah. Tenaganya habis, kakinya goyah. Dan dalam hitungan detik, bukannya Fahmi yang terjatuh, justru dirinya sendiri yang kehilangan keseimbangan. “Ahh—!” pekiknya. Tubuh Rina menimpa dada Fahmi. Mereka berdua jatuh bersamaan di lantai marmer yang licin, menghasilkan suara berdebam pelan dan cipratan air dari sisa tubuh yang masih basah. Rina terbaring di atas tubuh Fahmi, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajah pria itu. Nafasnya memburu, matanya membulat. Fahmi menatapnya tajam, bibirnya hanya sejengkal dari bibir Rina. Waktu terasa berhenti. Jari-jari Fahmi bergerak perlahan, menyusuri pipi Rina yang masih basah. Sentuhan itu lembut, begitu hati-hati seolah ia takut Rina hancur jika disentuh kasar. “Rin …,” suaranya parau, penuh emosi. “Aku nggak bisa lihat kamu kayak gini. Aku nggak tahan liat kamu seperti ini ….” Sebelum Rina sempat berkata apa-apa, bibir Fahmi sudah menempel lagi pada bibirnya. Kali ini lebih dalam, lebih intens, penuh gairah sekaligus kepedihan. Rina sempat kaget, ingin menolak, tapi tubuhnya lemas. Hatinya yang rapuh seperti tak mampu melawan kehangatan itu. Dan entah bagaimana, dalam sekejap, ia membalas ciuman itu. Tangannya tanpa sadar mencengkeram baju Fahmi yang basah, tubuhnya bergetar di pelukan pria itu. Sakit hatinya pada Ervan, rasa sepinya, semuanya melebur dalam satu kehangatan yang Fahmi tawarkan. Detik demi detik mereka larut dalam ciuman yang panjang dan dalam. Dunia serasa hanya milik mereka berdua. Namun tiba-tiba— Brummm… Suara mesin mobil terdengar dari depan rumah. Lampu sorot menembus halaman. Rina tersentak, matanya membesar. Dengan cepat ia melepaskan diri dari pelukan Fahmi, tubuhnya gemetar. “Itu … itu mobil Ervan! bisiknya dengan panik. “Padahal katanya, dia akan pulang terlambat lagi seperti biasanya!” Fahmi menoleh ke arah depan rumah. Jantungnya ikut berdegup keras. Ia tahu, dalam hitungan detik, keadaan akan berubah drastis. Rina buru-buru berdiri, mencoba menata gaun tidurnya yang basah kuyup, sementara Fahmi bangkit perlahan, matanya tak lepas dari Rina. Keduanya tahu, apa yang baru saja terjadi … bukan sesuatu yang bisa dengan mudah dijelaskan jika dilihat oleh Ervan. Dan mobil Ervan kini sudah berhenti di halaman depan rumah Rina! Bersambung"Rina menunduk!!!"Pshhhhhhhh!Asap putih pekat menyembur dari tabung pemadam, membutakan pandangan Ervan dan Toni. Di tengah kepulan asap itu, Fahmi menarik sebuah flare darurat dari kantong pintu mobil dan menyalakannya. Cahaya merah menyala yang sangat silau memenuhi area sempit itu, membuat semua orang menutup mata.Sambil terus menyemprotkan asap, Fahmi berteriak sekuat tenaga agar suaranya terdengar oleh Toni dan anak buahnya."Toni! Dengar aku! Ervan tidak akan membayar kalian!" seru Fahmi dengan nada penuh wibawa. "Dia sedang dalam penyelidikan audit rumah sakit! Semua rekeningnya akan dibekukan besok pagi karena kasus penggelapan dana alat kesehatan. Kalian hanya akan menjadi kambing hitam atas kekerasan ini, sementara dia melarikan diri ke luar negeri!"Toni terbatuk-batuk di tengah asap, mencoba mencari pegangan. "Apa?!""Bram sudah tahu semuanya!" lanjut Fahmi. "Itulah kenapa Bram berani melawan kakaknya sendiri! Dia tahu Ervan hanyalah kapal karam yang akan menyeret siapa
Suara besi yang bergesekan dengan aspal itu terdengar seperti lonceng kematian yang ditarik pelan. “Srak ... srak ... srak ….” Ervan menyeret tongkat besinya dengan langkah santai, namun auranya begitu mengintimidasi. Di bawah temaram lampu sorot mobil, wajah Ervan tampak seperti porselen putih yang retak, pucat, dan mengerikan dengan senyum yang tidak sampai ke mata.Senyuman yang mengintimidasi."Turun, Rina," suara Ervan terdengar tenang, namun ada getaran kemarahan yang tertahan di sana. "Atau aku benar-benar akan menghancurkan kepala penulis ini di depan matamu."Di dalam mobil, napas Rina terasa sesak. Ia mencengkeram lengan jaket Fahmi. Ia sungguh ketakutan. Bukan hanya takut untuk dirinya sendiri. Namun ia takut nyawa Fahmi terancam.Di samping mereka, Bram yang tadi keluar dari mobil masih berdiri mematung setelah membisikkan sesuatu ke telinga Toni.Toni, si pria bertangan besi itu, tampak tertegun. Matanya menyipit, menatap Bram dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia m
Mereka sampai di lantai bawah, namun langkah mereka terhenti di ruang tamu. Toni, si pria dingin bertangan besi, sudah berdiri di sana dengan dua orang anak buahnya. Ia sedang menyesap sebatang rokok, menatap Fahmi dan Rina dengan pandangan meremehkan."Mau ke mana, Tuan Penulis?" tanya Toni tenang. "Dokter Ervan sudah membayar mahal untuk memastikan Nyonya Rina pulang malam ini.""Minggir!" Fahmi memasang posisi pasang, meski ia tahu ia bukan tandingan pria di depannya."Fahmi, di belakangmu!" teriak Rina.Salah satu anak buah Toni menerjang dari arah dapur. Fahmi menghindar, namun ia terkena pukulan telak di perutnya yang membuatnya tersungkur. Rina berteriak, hendak menolong, namun lengannya ditarik kasar oleh Toni."Lepaskan aku! Dasar binatang!" Rina meronta, mencoba mencakar wajah Toni.Tepat saat keadaan terasa buntu, sebuah lampu sorot mobil tiba-tiba menyala dari arah pintu samping yang tembus ke garasi. Suara deru mesin mobil off-road milik Bram menggelegar. Mobil itu mundur
Dung! Dung! Dung!Suara hantaman tongkat besi Ervan pada pintu kamar kayu itu terdengar seperti lonceng kematian. Setiap dentuman membuat debu-debu halus jatuh dari langit-langit villa, seiring dengan jantung Rina yang serasa ingin melompat keluar dari dadanya. Ia meringkuk di sudut tempat tidur, mendekap erat kaos oversize yang dikenakannya, seolah kain itu bisa melindunginya dari murka suaminya."Fahmi, buka pintunya!" raung Ervan dari luar. Suaranya tidak lagi terdengar seperti manusia, melainkan seperti binatang buas yang sedang kelaparan. "Kamu pikir bisa bersembunyi di balik pintu ini selamanya? Aku tahu apa yang kalian lakukan di dalam sana! Aku akan menghancurkan tangan yang sudah berani menyentuh istriku!"Fahmi berdiri di depan pintu, kedua tangannya menahan lemari kecil yang ia geser untuk membarikade jalan masuk. Napasnya memburu, peluh dingin membasahi keningnya. Ia menoleh ke arah Rina, mencoba memberikan tatapan menenangkan meski tangannya sendiri gemetar hebat."Rin,
Bibir Fahmi mendarat di atas permukaan bibir Rina dengan lembut, dan perlahan tapi pasti melumatnya.Gerakannya pelan, lembut namun pasti. Setiap sentuhan Fahmi terasa seperti obat bagi luka batinnya, bukan hanya sekedar nafsu. Di saat momen mulai memanas, di saat mereka benar-benar berada di ambang penyerahan diri yang paling intim.BZZZT ... BZZZT ... BZZZT ....Sebuah getaran kuat terasa dari saku celana jogger yang dikenakan Rina. Saku itu terjepit di antara tubuh mereka, membuat getarannya terasa begitu nyata dan mengganggu.Rina tersentak. Sensasi panas yang tadi menyelimutinya seolah disiram air es seketika. Fahmi pun menghentikan gerakannya, wajahnya yang penuh gairah kini berubah menjadi bingung."Ponselmu?" tanya Fahmi dengan napas yang masih berat.Rina mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang tiba-tiba muncul kembali. Dengan tangan gemetar, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel yang tadi sempat ia matikan namun tampaknya menyala kembali ka
Kayu bakar di dalam perapian meletup pelan, mengeluarkan percikan api kecil yang menari-nari di balik jeruji besi. Cahaya jingga dari api itu memantul di wajah Rina, memberikan rona hangat pada kulitnya yang saat ini terlingat sangat pucat. Di luar, angin Puncak menderu, menggoyangkan dahan-dahan pohon pinus yang menghasilkan suara desis seperti bisikan alam. Namun, di dalam ruangan itu, waktu seolah-olah dipaksa berhenti demi memberikan ruang bagi dua jiwa yang sedang dahaga akan ketenangan.Fahmi berjalan kembali dari arah dapur membawa dua cangkir teh melati yang uapnya masih mengepul tipis. Ia meletakkan cangkir-cangkir itu di meja rendah, lalu duduk kembali di samping Rina di atas karpet bulu yang tebal."Minumlah, Rin. Ini akan sedikit menghangatkanmu," ucap Fahmi lembut.Rina meraih cangkir itu dengan kedua tangannya, mencari kehangatan dari keramik yang panas. Ia menghirup aroma melati yang menenangkan, mencoba mengusir sisa-sisa trauma dari cengkeraman Ervan yang seolah masi







