LOGINHahhhh? Kok bisa berfantasi sama adik tiri sendiri?
Anehnya, dunia seakan berhenti. Salma dan Rivan berpandangan seperti dalam sinetron, bahkan Salma mulai membayangkan adegan tatapan yang sering ditulisnya dalam novel. Seperti inikah rasanya?Serius, momen awkward sungguh tak bisa terhindarkan semenjak Salma mendarat dengan sempurna di pangkuan Rivan. Rivan masih ternganga, begitu juga dengan Salma yang tak menyangka akan ‘kebablasan’ seperti ini. Sungguh, ini memalukan. Hanya saja, meskipun begitu, rasanya sebanding saat melihat raut wajah Intan yang menunjukkan ketidaknyamanan.“Kamu kenapa?” bisik Rivan yang membuat Salma langsung tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah sekitar, hampir semua pengunjung restoran menatap ke arah mereka. Termasuk Septi dan Anjar yang bengong dengan apa yang terjadi.Detik berikutnya, tanpa diduga Rivan mendekatkan wajahnya pada wajah Salma. Hal itu membuat Salma berdebar hebat. Ya ampun!“Beberapa pengunjung merekam kita dengan ponsel mereka, jadi bersikaplah natural selayaknya kita suami-istri,”
Salma yang masih terbatuk-batuk, hanya bisa memberi isyarat menggunakan tangannya kalau dirinya memang baik-baik saja. Meski ia sebetulnya masih belum bisa mengendalikan batuknya yang seolah tak mau berhenti.“Nova kenapa? Tersedak, ya?” tanya Septi yang baru kembali dari toilet. Ia tetap tenang sambil memukul-mukul punggung Salma bagian atas.“Iya. Dia tersedak,” jawab Anjar, yang masih telihat panik.Lagi, Salma memberikan isyarat pada Septi bahwa dirinya baik-baik saja sehingga tak perlu ada yang dikhawatirkan. Perlahan batuknya pun mereda hingga akhirnya sepenuhnya berhenti.“Aku baik-baik aja,” ucap Salma, membuat Septi dan Anjar terlihat lega.“Kamu ini. Bikin aku panik aja.” Septi berkata seraya mengambil posisi duduk.“Aku, kan, udah kasih isyarat. I’m fine. Masa kamu nggak paham?”“Tetep aja, kamu batuknya nggak berhenti-berhenti.”“Hampir aja aku mau ikutan pukul-pukul punggung kamu,” timpal Anjar.“Aku seperti itu gara-gara pertanyaan kamu, Anjar!” batin Salma.Salma hanya
“Hari ini Pak Rivan sibuk sekali. Bagaimana kalau kita mampir dulu untuk makan siang?” tawar Intan, sekretaris pribadi Rivan.Memang benar hari ini kegiatan Rivan lumayan padat. Sebagai co-owner sekaligus komisaris yang mengelola perusahaan taksi online milik keluarganya bernama Silver Wing, tentu saja Rivan bukanlah orang yang senggang.Pria itu memulai hari dengan meeting online di apartemennya dan dilanjutkan berangkat ke kantor. Melakukan rapat dengan para staf, mengerjakan banyak hal di ruang kerjanya, selanjutnya bertemu orang-orang penting seperti klien dan investor di luar kantor. Seperti beberapa saat yang lalu, Rivan baru saja meeting di kantor klien-nya untuk membicarakan kontrak layanan transportasi.Di usia Rivan yang baru menginjak 32 tahun, bisa dibilang ia mencapai posisi penting di perusahaan berkat privilege orangtuanya. Jika bukan terlahir dari keluarga Antonio yang memang sudah kaya sejak dulu, belum tentu Rivan bisa menduduki kursi co-owner se-pintar apa pun itu.T
Sepuluh tahun yang lalu....“Sebelum kita berpisah dan nggak akan bertemu lagi, aku mau jujur tentang sesuatu yang selama ini kamu belum tahu. Bukannya nggak mau kasih tahu, tapi waktunya selalu nggak tepat. Ternyata sekarang adalah waktunya,” ucap Salma dengan nada serius.Saat itu, Salma dan Anjar masih memakai seragam SMA yang sama. Mereka masih sangat muda.“Dari tadi terus-terusan bilang kita nggak akan bertemu lagi, padahal belum tentu. Aku termasuk yang percaya red string theory,” balas Anjar.“Serius, An. Aku mau jujur tentang sesuatu yang aku pikir bakal bikin kamu kaget. Kaget banget. Pasti.”“Aku rasa nggak ada yang lebih mengejutkan dari tiba-tiba diputusin hanya karena orangtuamu cerai dan kamu mau pindah ke luar kota,” jawab Anjar. “Sampai detik ini pun aku masih belum sepenuhnya mencerna apa yang kamu katakan. Kita putus? Padahal kita baik-baik aja. Kita bisa menjalin hubungan jarak jauh dan—”“Aku punya saudara kembar dan kami kembar indentik. Kami sangat mirip satu sam
Salma tak menduga kalau dirinya bukan sekadar menggantikan Nova untuk sementara, tapi ada hal lain yang menjadi alasan dirinya melakukan segala kemustahilan ini. Ya, selagi Nova koma, ia berjanji akan menjaga Rivan agar jangan sampai berpaling dari adiknya. Terutama setelah melihat sang sekretaris, membuat Salma sadar kalau dirinya memang ditakdirkan untuk menjalani peran ini.“Se-jelas itu, kan? Kayaknya mulai sekarang kamu harus dengerin saranku deh, Nov. Suruh Pak Rivan ganti sekretaris.”“Aku udah mempertimbangkan itu sejak pertama melihat sekretarisnya nggak banget,” balas Salma.“Wah, serius? Biasanya kamu misuh-misuh lalu bad mood, tapi ujung-ujungnya bilang percaya kalau Pak Rivan itu tahan godaan. Enggak mungkin aneh-aneh, apalagi sekretarisnya itu bukan tipe Pak Rivan.”“Memang benar, Intan itu bukan tipenya Mas Rivan. Kamu lihat sendiri tipenya adalah Nova Aurelia. Tapi tetap aja, yang begitu memang harus disingkirkan, sih. Sekalipun Mas Rivan tahan godaan, tapi bukan berart
“Aku pikir, aku hanya perlu menunggu sampai Nova bangun. Kenyataannya, aku punya tanggung jawab yang lebih besar dari itu,” keluh Salma yang saat ini duduk di samping kursi kemudi.Sedangkan Rivan duduk diam mendengarkan. Mobil yang dikemudikannya juga sudah mulai menjauh meninggalkan kediaman orangtuanya.“Kamu yakin nggak tahu kalau Nova sama Mama Li punya kesepakatan seperti itu? Memberi cucu? Apa-apaan coba?” tambah Salma, masih dengan nada protesnya.Secara fisik, Salma dan Nova memang nyaris sulit dibedakan. Namun, dari cara mereka berbicara ... Rivan bisa membedakannya dengan sangat jelas. Salma itu cukup blak-blakan dan tanpa ragu menunjukkan kemarahannya. Berbeda dengan Nova yang tak jarang berusaha menyembunyikan segalanya.“Aku juga nggak tahu kalau mereka punya kesepakatan seperti itu. Apalagi Nova juga nggak pernah cerita,” balas Rivan.“Lagian apa-apaan, sih, bikin kesepakatan aneh gitu? Sumpah, aku nggak habis pikir sama Nova ... kenapa dia mau?”“Aku nggak bisa memastik







